Rabu, 26 November 2025

Sembilan Mahasiswa Magister MPI UINSUNA Tampilkan Riset Pendidikan Dayah di Forum Internasional

Sembilan Mahasiswa Magister MPI UINSUNA Tampilkan Riset Pendidikan Dayah di Forum Internasional

Rangkang Belajar | Lhokseumawe – The 3rd International Conference on Islamic and Al Washliyah Studies 2025 resmi dibuka pada Selasa (25/11) melalui platform Zoom Meeting. Konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Pengurus Besar (PB) Al Jam’iyatul Washliyah bekerja sama dengan LKSA PB Al Washliyah ini kembali menjadi ruang temu bagi para akademisi, peneliti, dan ulama dari berbagai negara. Kegiatan ini turut didukung oleh Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA), UMN Al Washliyah, dan UNIVA Medan, dengan mengangkat tema “Islamic Organizations and the Transformation of Ulama Authority in Contemporary Indonesia.”

Salah satu sorotan utama dalam rangkaian konferensi tahun ini adalah tampilnya sembilan mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana UINSUNA sebagai pemakalah. Mereka membawakan berbagai riset terkait manajemen dan tradisi pendidikan dayah, yang menjadi kekhasan intelektual Aceh dan identitas keilmuan program studi MPI. Partisipasi para mahasiswa ini mencerminkan semakin kuatnya budaya riset di lingkungan Pascasarjana UINSUNA sekaligus menunjukkan kesiapan mereka bersaing dalam forum akademik internasional. Kesembilan pemakalah tersebut dibimbing oleh Dr. Ja’far, M.A., dosen Filsafat Ilmu MPI sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Syariah UINSUNA.

Sesi panel Room D dimulai pukul 13.45 WIB dan dipandu oleh Safwan, M.S.I., bersama Raisa Salsabila. Presentasi pertama disampaikan oleh Aris Munandar dengan judul Management of Qur’an Memorization Education Program Development at An-Nur Integrated Islamic Elementary School, Pidie Jaya. Aris membahas strategi pengembangan program tahfiz di jenjang pendidikan dasar.

Berikutnya, I.S. Asroza memaparkan penelitian berjudul Management of Classical Islamic Text (Kitab Kuning) Learning at the Darul Iman Modern Islamic Boarding School, Southeast Aceh, yang menyoroti integrasi manajemen modern dalam pembelajaran kitab kuning. Kajian serupa juga dipresentasikan oleh Zawatun Nida melalui penelitian tentang pengelolaan pembelajaran kitab klasik di Dayah Subulussalam Al-Waliyyah.

Riset mengenai penguatan kurikulum kitab kuning diulas oleh Muhammad Sariyulis melalui paparannya Curriculum Management in Improving the Quality of Classical Islamic Text Learning at Dayah Babussalam Al-Hanafiyyah. Sementara itu, Tajul Fazari membahas penerapan metode sorogan dan bandongan dalam manajemen pembelajaran kitab kuning di Dayah Darussa’adah Cot Puuk.

Presentasi berikutnya disampaikan oleh Ayadi tentang manajemen kitab klasik di Dayah Almuslimun Terpadu Lhoksukon. M. Yunus kemudian menguraikan penelitian mengenai manajemen kurikulum di Dayah Salafi Malikussaleh yang mempertahankan karakter tradisional namun tetap adaptif. Selanjutnya, Rahmiyati memaparkan kajian pembelajaran tingkat tajhizi di Dayah Riyadhatul Qulub. Sesi panel ditutup oleh Sahdan melalui presentasi tentang manajemen kelas takhassus di Dayah Terpadu Bustanul Arifin, Bener Meriah.

Keterlibatan sembilan mahasiswa Magister MPI UINSUNA dalam forum internasional ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Riset-riset mereka dinilai tidak hanya memperkenalkan praktik dan tradisi pendidikan dayah Aceh ke tingkat global, tetapi juga memperkuat posisi UINSUNA sebagai salah satu pusat kajian manajemen pendidikan Islam berbasis kearifan lokal. (Sahdan)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 28 Oktober 2025

Kontribusi Santri dalam Menjaga Nilai-Nilai Luhur dan Memajukan Peradaban

Oleh: Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I.

"Santri berperan penting dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa, memajukan peradaban melalui pendidikan karakter, pelestarian budaya, moderasi beragama, penguatan ekonomi umat"

Santri, sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia, memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa sekaligus memajukan peradaban. Kontribusi mereka tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan, tetapi juga menjangkau berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, dan intelektual. Peran penting santri dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

1. Pendidikan KarakterPondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat. Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan gotong royong ditanamkan sejak dini. Santri diajarkan untuk menghormati orang tua, guru, dan sesama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Melalui pendidikan karakter inilah, pesantren melahirkan generasi yang berakhlak mulia, tangguh, dan berintegritas.

2. Pelestarian Tradisi dan BudayaSantri juga berperan dalam melestarikan tradisi dan budaya lokal yang bernafaskan Islam. Berbagai kegiatan seperti seni hadrah, marawis, bela diri pagar nusa, dan kesenian tradisional lainnya menjadi bagian dari kehidupan pesantren sehari-hari. Selain itu, pesantren menjadi pusat pengembangan bahasa Arab dan kajian kitab-kitab klasik (turats) yang merupakan warisan intelektual Islam. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi benteng keagamaan, tetapi juga penjaga budaya dan identitas bangsa.

3. Moderasi BeragamaSantri merupakan garda terdepan dalam menyebarkan Islam yang moderat, toleran, dan inklusif. Dengan jumlah pesantren yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, para santri terbiasa hidup berdampingan dengan keragaman, berdialog lintas budaya, serta membangun kerukunan dan harmoni sosial. Pesantren mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan pendapat dan menjauhi segala bentuk kekerasan serta ekstremisme. Dalam konteks global, santri juga dapat berperan sebagai agen perdamaian dunia, duta Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebarkan semangat kasih sayang dan persaudaraan universal.

Santri dan Peradaban di Era Globalisasi

Memasuki era globalisasi, santri dituntut untuk mengambil peran strategis dalam memajukan peradaban. Agar dapat menjawab tantangan zaman, ada beberapa hal mendesak yang perlu dikembangkan di lingkungan pesantren dan santri masa kini.

1. Pengembangan Ilmu PengetahuanSantri tidak hanya perlu mendalami ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan umum dan bahasa asing sebagai bekal menghadapi dunia global. Pesantren harus mampu menghadirkan program pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Santri didorong untuk berpikir kritis, kreatif, dan solutif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

2. Kontribusi di Berbagai BidangLulusan pesantren kini terbukti mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan — pendidikan, ekonomi, politik, hingga pemerintahan. Banyak di antara mereka yang menjadi tokoh nasional, pejabat publik, akademisi, pengusaha, bahkan presiden. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga pemimpin berkarakter yang mampu membawa nilai-nilai luhur pesantren ke ranah publik. Selain itu, santri juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta memberikan advokasi bagi kelompok-kelompok termarginalkan.

3. Penguatan Ekonomi UmatSantri juga perlu didorong untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan produktif. Kemandirian ekonomi akan memperkuat posisi tawar umat Islam dalam dinamika ekonomi global. Banyak pesantren kini telah mengembangkan koperasi dan unit usaha produktif untuk meningkatkan kesejahteraan santri dan masyarakat sekitar. Contohnya dapat dilihat pada Pesantren Sidogiri, Pesantren Tebu Ireng, dan Pesantren Al-Amien, yang sukses mengembangkan usaha mandiri berbasis nilai-nilai Islam. Model ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.

Penutup

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kontribusi santri dalam menjaga nilai-nilai luhur dan memajukan peradaban sangatlah besar dan beragam. Dengan pendidikan karakter yang kuat, pemahaman agama yang mendalam, serta semangat pengabdian yang tinggi, santri menjadi aset berharga bagi bangsa dan negara.

Mari kita terus mendukung, mempercayai, dan memberi ruang bagi santri untuk berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan peradaban Indonesia dan dunia.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Kamis, 26 Juni 2025

Pentas Seni Santri Darularafah Raya Ramaikan Tanah Gayo: Pagelaran Seni, Lomba Tiga Bahasa, dan Khitanan Massal Jadi Panggung Silaturahmi

Rangkang Belajar | Takengon – Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, Aceh Tengah, menjadi saksi  semarak kreativitas para santri dari Pesantren Darularafah Raya (PDAR), Deli Serdang, Sumatera Utara, dalam sebuah acara kolaboratif yang bertajuk “Dari Darularafah Raya, untuk Masyarakat Aceh”, Kamis (26/6/2025) menghadirkan momen kehangatan silaturahmi.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Darularafah (IKAPDA) Aceh ini tidak hanya menghadirkan pagelaran seni santri, tetapi juga menyelenggarakan khitanan massal gratis serta lomba pidato tiga bahasa - Arab, Inggris, dan Indonesia - untuk siswa jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama se-Kabupaten Aceh Tengah.

Pagelaran seni yang melibatkan santri putra dan putri menampilkan pertunjukan drama bernilai dakwah, grup nyanyian religi (pop song islami), serta pidato dalam tiga bahasa yang membuktikan kemampuan komunikasi dan ekspresi para santri. Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat, wali santri, dan alumni PDAR yang hadir memenuhi GOS Takengon.


Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, yang turut hadir bersama istri, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif PDAR dalam membangun jembatan ukhuwah Islamiyah antarwilayah melalui kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. “Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, melainkan bentuk nyata kontribusi pesantren terhadap masyarakat. Ini menjadi jembatan persaudaraan yang mempererat hubungan Aceh Tengah dengan Darularafah Raya,” ujarnya dalam sambutan.

Salah satu kegiatan sosial utama adalah khitanan massal yang diikuti oleh 40 anak dari keluarga prasejahtera. Pelaksanaan sunat dilakukan oleh tim relawan dari komunitas mantri sunat Bener Meriah yang dipimpin Muhammad Arif, alumni PDAR.

Sementara itu, lomba pidato tiga bahasa menyasar pelajar SD/MI dan SMP/MTs di Aceh Tengah dan sekitarnya. Ketua Panitia Pelaksana, Ansari Siregar, alumni angkatan ke-6 PDAR, menyatakan bahwa lomba ini diharapkan menjadi program tahunan pesantren sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan literasi publik. “Kami ingin menghadirkan nilai-nilai pesantren dalam wujud nyata di tengah masyarakat. Kegiatan ini dirancang untuk mendorong keberanian, kecakapan bahasa, dan nilai-nilai keislaman dalam format yang kreatif dan mendidik,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Pimpinan PDAR, Dr. Harun Lubis, M.Psi., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari misi besar pesantren dalam membina generasi melalui seni dan pengabdian sosial. Ia menyayangkan menurunnya ruang ekspresi seni yang edukatif di era digital dan berharap pesantren dapat menjadi pelopor dalam menghidupkan kembali kreativitas di dunia pendidikan. “Pagelaran ini adalah wujud program ekstrakurikuler kami. Lewat seni, kita ajarkan pesan dakwah dan nilai-nilai akhlak dengan cara yang menyenangkan dan menyentuh. Semoga ini menjadi kontribusi pesantren terhadap masyarakat luas yang berkelanjutan,” tutur Dr. Harun.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, menyisakan kesan mendalam bagi warga Aceh Tengah. Banyak pihak berharap acara seperti ini dapat menjadi agenda rutin tahunan sebagai bagian dari silaturahmi dan kontribusi pendidikan Islam yang berkelanjutan. (Irmi-Takengon)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Minggu, 04 Mei 2025

Alumni Sambut Hangat Kunjungan Pimpinan Pesantren Darul Arafah Raya: Menjalin Ukhuwah, Menguatkan Sinergi, Menebar Manfaat


Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Suasana hangat penuh keakraban menyelimuti acara temu ramah yang digelar oleh Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah (IKAPDA) wilayah Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen pada Minggu, 04/05/2025. Acara ini digelar sebagai bentuk sambutan atas kedatangan rombongan Pesantren Darul Arafah Raya (PDAR) Deli Serdang, Sumatera Utara, yang dipimpin langsung oleh Dr. H. Harun Lubis, M.Psi., selaku Mudir (Pimpinan) PDAR.

Kegiatan temu ramah ini mengusung tema "Menjalin Ukhuwah, Menguatkan Sinergi, Menebar Manfaat", sejalan dengan misi kunjungan rombongan PDAR untuk mempererat hubungan dengan para alumni serta memperkuat sinergi antara pesantren dan alumninya dalam meningkatkan citra dan daya tarik pendidikan pesantren di tengah masyarakat. Dalam kunjungannya, Pimpinan PDAR juga didampingi oleh Ust. Novi Alpan, M.Psi (bagian pendidikan dan pengajaran), Ust. Nirwansyah, M.Pd., (Kepala SMP Galih Agung), dan Ust, H. Romi Syafrizal, Lc. (Humas PDAR). 

Acara berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama dilaksanakan di Waroeng Bambu, Kreung Geukueh, Aceh Utara, mulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB. Sesi kedua berlanjut pada malam harinya, pukul 20.30 hingga 22.30 WIB, bertempat di rumah salah satu alumni di kawasan Panggoi, Lhokseumawe.

Sekira 50 alumni (Santri dan Dyah) dari lintas angkatan, mulai dari angkatan pertama hingga angkatan ke-31, hadir memeriahkan acara ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi, seperti guru, dosen, dokter, TNI, pengusaha, wirausahawan, hingga mahasiswa aktif, menunjukkan keberagaman kontribusi alumni PDAR di Tanah Rencong - Serambi Mekah. 


Salah satu alumni yang berdomisili di Lhokseumawe, Mahmud Hamzah, yang juga mewakili tuan rumah penyelenggara, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal yang sangat berarti bagi wilayah Aceh. “Kegiatan roadshow yang dihadiri langsung oleh pimpinan PDAR merupakan gebrakan perdana untuk wilayah Aceh dan menjadi langkah baik dalam meningkatkan kepercayaan serta loyalitas. Untuk itu, kami merasa penting mengundang alumni dari Aceh Utara dan Bireuen sebagai bentuk apresiasi kami terhadap langkah baik ini,” ujar Mahmud.

Tak hanya menjadi ajang silaturahmi, acara ini juga dimanfaatkan sebagai momen sosialisasi tentang perkembangan terbaru kegiatan pendidikan di Pesantren Darul Arafah Raya. Dalam suasana penuh kekeluargaan, sesi diskusi terbuka digelar untuk menampung saran dan masukan dari alumni demi kemajuan bersama.

Kunjungan ini menjadi langkah strategis PDAR dalam memperkuat jaringan alumni dan memperluas dampak positif pendidikan pesantren. “Kehadiran kami ke daerah ini bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar besar membangun koneksi yang lebih erat antara pesantren dan alumninya,” ujar Dr. Harun Lubis dalam sambutannya.

Antusiasme dan semangat alumni dalam menyambut rombongan PDAR mencerminkan kuatnya rasa memiliki terhadap almamater, serta kesiapan untuk terus bersinergi dalam misi dakwah dan pendidikan. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi Alumni di wilayah-wilayah lainnya. (Deas-Lhoks)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 06 November 2024

Study Tour Kelas Sains Unggulan Pesantren Darularafah Raya: Pembelajaran Nyata di IPAM Sunggal dan OIF UMSU


Rangkang Belajar | Deli Serdang - Madrasah Aliyah Swasta Pesantren Darularafah Raya, Deli Serdang, siap menyelenggarakan kegiatan study tour untuk kelas 5 Sains Unggulan pada Rabu, 6 November 2024. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi sebuah upaya untuk memberikan pengalaman belajar yang langsung dan mendalam, membantu para santri melihat bagaimana ilmu sains diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam study tour ini, para santri mengunjungi dua lokasi penting: Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Sunggal dan Observatorium Ilmu Falak (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Di IPAM Sunggal, para santri akan belajar langsung tentang proses pengelolaan air bersih yang vital bagi kehidupan. Mereka akan melihat bagaimana teknologi dan metode ilmiah diterapkan untuk menjaga kualitas air bersih, memperkenalkan mereka pada konsep penting bahwa sains memiliki peran besar dalam kebutuhan pokok manusia.

Selanjutnya, mereka menuju OIF UMSU untuk memperdalam ilmu astronomi. Di observatorium ini, para santri mempelajari cara kerja teleskop, mengamati benda-benda langit, serta mendapatkan wawasan tentang pentingnya ilmu falak dalam konteks kehidupan, seperti penentuan waktu ibadah dalam Islam. Dengan adanya peralatan canggih di observatorium ini, para santri dapat merasakan pengalaman langsung yang sulit didapat di ruang kelas.

Ustazah Yenni, wali kelas sekaligus pembimbing kegiatan, menyampaikan harapannya bahwa melalui study tour ini, para santri akan mendapatkan wawasan baru tentang penerapan sains dalam dunia nyata, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap ilmu pengetahuan. "Kami ingin mereka bukan hanya tahu teori, tapi juga memahami bagaimana sains bekerja dalam keseharian," ujarnya.

Agar hasil kegiatan ini lebih maksimal, kami akan melakukan lanjutan pembelajaran yang dirancang untuk memperdalam pemahaman para santri setelah study tour, imbuhnya. Pembelajaran lanjutan yang dimaksud, antara lain:  
  1. Refleksi dan Diskusi Kelompok: Sepulang dari study tour, para santri akan mengikuti sesi refleksi bersama untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Pembimbing akan memandu diskusi tentang hal-hal yang menarik atau mengesankan, serta bagaimana ilmu tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman santri dan membantu mereka menghubungkan antara teori dan praktik.
  2. Pelatihan Presentasi dan Publikasi: Para santri juga akan diberi kesempatan untuk mempersiapkan presentasi yang akan disampaikan kepada teman-teman di kelas lain. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya mempraktikkan ilmu sains, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi dan presentasi. Jika memungkinkan, hasil study tour ini bisa dituangkan dalam bentuk artikel atau laporan singkat untuk dipublikasikan di website pesantren atau di media sosial, sehingga pengalaman ini juga bisa menginspirasi santri lainnya.
Melalui pendekatan ini, Pesantren Darularafah Raya menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya kaya pengetahuan, tetapi juga mampu melihat nilai praktis sains dalam kehidupan sehari-hari. (Zhafir-Deli Serdang)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Minggu, 27 Oktober 2024

Temu Kangen Alumni Latas-Al Dyah Galih Agung: "Merajut Kenangan, Membangun Silaturrahmi" di Pesantren Darularafah Raya


Rangkang Belajar | Deli Serdang – Temu kangen alumni ke-9 Latas-Al (Ladies Tāsi’ah Alumnus) Dyah Galih Agung Pesantren Darularafah Raya berlangsung penuh kehangatan pada Sabtu, 26/10/2024, dengan mengusung tema “Merajut Kenangan, Membangun Silaturrahmi.” Acara ini mempertemukan alumni Angkatan ke-9 yang saat ini berada di berbagai daerah, bahkan Stella Nindy, S.Pd. yang menetap di Rheinland-Pfalz - Jerman turut hadir sebagai koordinator dalam kegiatan ini. Temu kangen menjadi ajang mempererat kembali tali persaudaraan dan memberikan penghargaan kepada para pendidik mereka yang telah berjasa dalam membentuk karakter dan ilmu.

Acara diawali dengan pembacaan sejarah singkat Alumni Latas-Al oleh pembawa acara dan pemutaran video kenangan, yang menghadirkan nostalgia masa-masa berharga selama di pesantren. Sambutan disampaikan oleh Pimpinan Pesantren Darularafah Raya, yang mengapresiasi kontribusi para alumni dalam membangun hubungan erat dengan pesantren. Dalam acara ini, alumni Latas-Al juga memberikan cenderamata sebagai simbol penghormatan kepada Pesantren Darul Arafah Raya. Ustaz Dr. H. Harun Lubis, M.Psi, selaku Pimpinan pesantren menerima penghargaan dari Rafni Wahyun, mewakili alumni dengan haru. 

Pesan dan kesan disampaikan oleh Ustaz Ahmad Rifa’i, S.Ag., Kepala Sekolah SMA Alumni Latas-Al, serta Ustaz Mahmud El-Qudri, M.Ag., yang mewakili para guru (asatizah). Ustaz Rifa’i berharap, alumni dapat menjadi teladan di lingkungan masing-masing dan mengaplikasikan ilmu serta pengalaman yang didapatkan di pesantren dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Ustaz Mahmud El-Qudri, menyampaikan rasa bangga dan bahagia melihat alumni yang telah berhasil dalam berbagai bidang. Beliau berpesan agar alumni tidak melupakan akar pendidikan mereka dan selalu kembali ke pesantren untuk berbagi pengalaman dan ilmu dengan generasi selanjutnya.

Motivasi inspiratif juga diberikan oleh alumni berprestasi, Hj. Ainal Mardiah, S.Km., dan dr. Hj. Silvia Dwi Asti, S.PM. kepada para dyah kelas IX dan kelas XII. Mereka menekankan pentingnya pendidikan yang telah ditempuh di pesantren sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, mendorong Dyah Galih Agung untuk menjadi pribadi mandiri, berdaya saing, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Acara temu kangen ini bukan hanya sekadar ajang reuni, tetapi juga menjadi wujud penghargaan alumni terhadap jasa para guru. Semangat kebersamaan dan apresiasi tinggi kepada para pendidik membuat kegiatan ini sangat bermakna, mempererat tali persaudaraan dan silaturrahmi yang tak lekang oleh waktu. (Nindy)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 04 Oktober 2024

Dayah Ulumuddin Melaksanakan Workshop Optimalisasi Kompetensi Guru Dayah: Mewujudkan Pendidik yang Siap Menghadapi Merdeka Belajar

Lhokseumawe, 4 Oktober 2024 – Dalam upaya meningkatkan kompetensi para pendidik, Dayah Ulumuddin yang berlokasi di Desa Uteun Kot, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe berhasil menggelar workshop bagi kalangan guru dayah di lingkungan Dayah Ulumuddin dengan tema "Optimalisasi Kompetensi Guru Dayah di Era Digital". Acara ini dihadiri oleh ustaz dan ustazah dari berbagai jenjang pendidikan yang bernaung di dayah tersebut, menunjukkan semangat tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin digital dan juga perubahan kurikulum saat ini.

Workshop ini dibuka dengan pengantar dari Ketua Pelaksana, Musdar, M.Pd., yang sering disapa dengan panggilan Abi Musdar, Dalam sambutannya, Abi Musdar, yang juga menjabat sebagai Kepala Madrasah Aliyah mengungkapkan harapannya agar workshop ini menjadi momen penting bagi guru-guru untuk meningkatkan kompetensi mereka, khususnya dalam menghadapi tantangan di era digital dan perkembangan Kurikulum Merdeka. Ia menekankan bahwa pendidikan adalah salah satu kunci untuk membangun generasi yang siap bersaing dan berkontribusi dalam masyarakat. Abi Musdar juga mendorong para pendidik untuk tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang ada, tetapi terus belajar dan berinovasi demi kemajuan pendidikan di dayah.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua sesi, pagi dan siang hari, di mana pada sesi pertama diisi dengan materi tentang “Penerapan Literasi Numerasi Modul Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila”, yang membekali peserta dengan strategi konkret dalam menerapkan profil Pancasila dalam pembelajaran. Ini merupakan langkah penting untuk mendukung program pendidikan nasional yang lebih inklusif dan relevan.

Sesi kedua, yang berlangsung setelah Salat Jumat, menghadirkan Dr. Agus Salim Salabi, M.A., Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam di FTIK IAIN Lhokseumawe, sebagai pembicara utama. Dalam sesi ini, Dr. Salabi mnyampaikan materi tentang “Optimalisasi Kompetensi Guru Dayah (Slide Materi dapat diunduh di sini)”, beliau memaparkan pentingnya mengoptimalkan kompetensi guru di era digital, terutama dalam menghadapi perubahan kurikulum dan tuntutan siswa yang semakin variatif. Pembicaraan berlangsung dalam suasana diskusi santai di musalla santriwati, di mana peserta aktif bertukar pikiran mengenai tantangan yang mereka hadapi dan strategi untuk mengatasinya.
Beberapa poin penting yang diungkapkan dalam workshop ini adalah hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 72,3% guru dayah merasa terpanggil untuk mengabdi. Namun, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya (27,7%), kebutuhan untuk melek digital (38,3%), perubahan kurikulum (57,4%), minimnya pelatihan yang relevan (68,1%), dan kurangnya minat untuk pengembangan diri (21,3%).

Menariknya, para peserta sepakat bahwa pengembangan diri melalui pelatihan berkelanjutan adalah kunci untuk tetap relevan dalam dunia pendidikan yang terus berubah. Mereka juga membahas pemanfaatan media sosial dan platform digital sebagai alat pendukung dalam proses pembelajaran.

Dari hasil refleksi kegiatan, peserta berkomitmen untuk mengoptimalkan berbagai aspek kompetensi mereka. Dalam hal kompetensi pedagogik, mereka akan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif. Untuk kompetensi sosial, mereka berencana meningkatkan komunikasi dengan wali santri dan menjalin hubungan baik dengan rekan kerja. Sementara untuk kompetensi profesional, mereka akan fokus pada pengembangan diri, pelatihan kurikulum, pemanfaatan aplikasi digital, dan pemahaman teknologi. Adapun dalam pengembangan kompetensi kepribadian, mereka akan melakukan muhasabah, eksplorasi online, dan penguatan nilai karakter guru.

Dengan antusiasme yang tinggi, peserta memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan ini dan berharap agar workshop serupa dapat diadakan secara berkala, dengan materi yang lebih spesifik terutama mengenai pengelolaan kelas dan teknologi pendidikan. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dorongan baru bagi para pendidik di dayah untuk terus meningkatkan kompetensi mereka, sekaligus menjawab tuntutan zaman yang semakin menuntut digitalisasi dalam dunia pendidikan. (Musdar)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 11 Juli 2024

Workshop Manajemen Konflik Guru Pesantren Terpadu Almuslim: Mengelola Konflik di Lingkungan Institusi dan Asrama Santri


Rangkang Belajar | Matangglumpangdua, Bireuen, Aceh - Pada tanggal 11 Juli 2024, Pesantren Terpadu Almuslim menggelar workshop bertema "Manajemen Konflik: Mengelola Konflik di Lingkungan Institusi dan Asrama Santri". Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman para pendidik mengenai jenis-jenis konflik, membekali mereka dengan strategi manajemen konflik, dan meningkatkan kemampuan menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.

Workshop ini dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari ustaz dan ustazah Pesantren Terpadu Almuslim Matangglumpangdua, dan berlangsung selama satu hari penuh. Acara dimulai pukul 08.00-16.00 dengan pembukaan oleh Wakil Direktur Holis Wahyu Prasetyo, Gr. S.Pd.I., yang menjelaskan tujuan dan agenda workshop. Ustaz Wahyu menyampaikan tentang pentingnya dan manfaat kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan  asatizah (para guru) dalam mengelola konflik serta menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif di pesantren.
Materi workshop disampaikan langsung oleh dua pakar Manajemen Pendidikan Islam, Dr. Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, M.Pd.I dan Dr. Agus Salim Salabi, M.A., yang juga merupakan dosen pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Lhokseumawe, sekaligus orang-orang yang pernah mengalami dan merasakan langsung dinamika konflik di lingkungan pesantren. Kedua narasumber tersebut pernah menjadi santri dan juga tenaga pendidik di pesantren, sehingga memiliki pengalaman langsung yang sangat relevan.

Materi awal terkait "Pengenalan Konflik, Identifikasi, dan Penyebab Konflik di Institusi" disampaikan oleh Dr. Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, M.Pd.I. Sementara materi terkait "Memahami Konflik di Asrama Santri dan Strategi Pengelolaannya" disampaikan  oleh Dr. Agus Salim Salabi, M.A. Para peserta workshop juga disajikan beberapa studi kasus mengenai konflik nyata di lingkungan institusi dan lingkungan asrama santri serta cara penanganannya oleh narasumber.
Untuk mendapatkan umpan balik dari para peserta, dilakukan pula sesi refleksi yang menghasilkan beberapa masukan, antara lain:
  1. Para peserta merasa mendapatkan banyak wawasan baru tentang manajemen konflik. Mereka belajar bahwa tidak semua konflik berdampak negatif; dengan pengelolaan yang tepat, konflik bisa menjadi hal positif. Peserta juga memahami pentingnya menyikapi konflik sebagai tantangan yang memerlukan teori dan pengalaman yang memadai.
  2. Bagian paling menarik dari workshop adalah penggunaan media pembelajaran berupa ringkasan materi (ppt) yang dapat diakses melalui website, serta strategi terbaik dalam mengidentifikasi konflik. Penyelesaian konflik dibahas mendalam, termasuk cara mendengar dan memberikan kesempatan santri menyampaikan pandangan mereka. Kesempatan belajar dari para ahli yang menyampaikan materi dengan gaya humoris, ramah, dan jelas juga menambah daya tarik workshop ini.
  3. Sejauh ini, peserta merasa tidak ada konsep atau topik yang sulit dipahami. Semua materi dapat dipahami dengan baik.
  4. Workshop ini memberikan banyak informasi baru yang mengubah pandangan peserta. Mereka belajar bahwa kegiatan orientasi dalam manajemen konflik di pesantren sangat penting. Sikap yang baik dalam penanganan masalah konflik dan contoh-contoh nyata di pesantren juga menjadi pengetahuan berharga. Pandangan peserta tentang pola asuh yang baik dan perhatian terhadap mereka yang tidak terlibat dalam konflik juga meningkat.
  5. Untuk memperdalam pemahaman, peserta berencana melakukan mini riset untuk memastikan implementasi teori manajemen konflik di pesantren. Mereka akan memahami konflik secara detail, mengoreksi diri dalam menangani konflik, mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, dan melengkapi pengetahuan dengan kajian empiris dan referensi terkait. Membaca jurnal, buku, dan mencari rujukan di media sosial juga menjadi langkah yang akan diambil.
Workshop ini berhasil membekali asatizah dengan pengetahuan dan keterampilan manajemen konflik yang diharapkan dapat diterapkan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif di pesantren. (Salabi)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect