Selasa, 28 Oktober 2025

Kontribusi Santri dalam Menjaga Nilai-Nilai Luhur dan Memajukan Peradaban

Oleh: Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I.

"Santri berperan penting dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa, memajukan peradaban melalui pendidikan karakter, pelestarian budaya, moderasi beragama, penguatan ekonomi umat"

Santri, sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia, memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa sekaligus memajukan peradaban. Kontribusi mereka tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan, tetapi juga menjangkau berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, dan intelektual. Peran penting santri dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

1. Pendidikan KarakterPondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat. Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan gotong royong ditanamkan sejak dini. Santri diajarkan untuk menghormati orang tua, guru, dan sesama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Melalui pendidikan karakter inilah, pesantren melahirkan generasi yang berakhlak mulia, tangguh, dan berintegritas.

2. Pelestarian Tradisi dan BudayaSantri juga berperan dalam melestarikan tradisi dan budaya lokal yang bernafaskan Islam. Berbagai kegiatan seperti seni hadrah, marawis, bela diri pagar nusa, dan kesenian tradisional lainnya menjadi bagian dari kehidupan pesantren sehari-hari. Selain itu, pesantren menjadi pusat pengembangan bahasa Arab dan kajian kitab-kitab klasik (turats) yang merupakan warisan intelektual Islam. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi benteng keagamaan, tetapi juga penjaga budaya dan identitas bangsa.

3. Moderasi BeragamaSantri merupakan garda terdepan dalam menyebarkan Islam yang moderat, toleran, dan inklusif. Dengan jumlah pesantren yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, para santri terbiasa hidup berdampingan dengan keragaman, berdialog lintas budaya, serta membangun kerukunan dan harmoni sosial. Pesantren mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan pendapat dan menjauhi segala bentuk kekerasan serta ekstremisme. Dalam konteks global, santri juga dapat berperan sebagai agen perdamaian dunia, duta Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebarkan semangat kasih sayang dan persaudaraan universal.

Santri dan Peradaban di Era Globalisasi

Memasuki era globalisasi, santri dituntut untuk mengambil peran strategis dalam memajukan peradaban. Agar dapat menjawab tantangan zaman, ada beberapa hal mendesak yang perlu dikembangkan di lingkungan pesantren dan santri masa kini.

1. Pengembangan Ilmu PengetahuanSantri tidak hanya perlu mendalami ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan umum dan bahasa asing sebagai bekal menghadapi dunia global. Pesantren harus mampu menghadirkan program pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Santri didorong untuk berpikir kritis, kreatif, dan solutif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

2. Kontribusi di Berbagai BidangLulusan pesantren kini terbukti mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan — pendidikan, ekonomi, politik, hingga pemerintahan. Banyak di antara mereka yang menjadi tokoh nasional, pejabat publik, akademisi, pengusaha, bahkan presiden. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga pemimpin berkarakter yang mampu membawa nilai-nilai luhur pesantren ke ranah publik. Selain itu, santri juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta memberikan advokasi bagi kelompok-kelompok termarginalkan.

3. Penguatan Ekonomi UmatSantri juga perlu didorong untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan produktif. Kemandirian ekonomi akan memperkuat posisi tawar umat Islam dalam dinamika ekonomi global. Banyak pesantren kini telah mengembangkan koperasi dan unit usaha produktif untuk meningkatkan kesejahteraan santri dan masyarakat sekitar. Contohnya dapat dilihat pada Pesantren Sidogiri, Pesantren Tebu Ireng, dan Pesantren Al-Amien, yang sukses mengembangkan usaha mandiri berbasis nilai-nilai Islam. Model ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.

Penutup

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kontribusi santri dalam menjaga nilai-nilai luhur dan memajukan peradaban sangatlah besar dan beragam. Dengan pendidikan karakter yang kuat, pemahaman agama yang mendalam, serta semangat pengabdian yang tinggi, santri menjadi aset berharga bagi bangsa dan negara.

Mari kita terus mendukung, mempercayai, dan memberi ruang bagi santri untuk berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan peradaban Indonesia dan dunia.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 22 Januari 2021

Motivasi Kehidupan: Mahfuzat Memang Unik


MAḤFŪẒĀT MEMANG UNIK*

Bagi siswa-siswa SMP dan SMA, pelajaran di pesantren memang terlalu banyak, tetapi tidak bagi kami yang dengan penuh semangat melahap semua pelajaran yang disampaikan oleh ustaz-ustaz muda penuh dedikasi. Jangankan yang disampaikan oleh ustaz, yang disampaikan oleh mudarris masā’  atau mudabbir  asrama saja harus kami lahap, paham tak paham, ikhlas tak ikhlas, yang penting harus laksanakan, dan jangan sampai tidak, karena itu bisa dipandang sebagai penyepelean dan masalah bisa membesar. Sebagai mana pasal hierarki yang sering kami istilahkan: 

Man yuhmil mudabbir bima’nā yuhmil munaẓẓamah, man yuhmil munaẓẓamah bima’nā yuhmil ustāż, man yuhmil ustāż bima’nā yuhmil kiyāhī, man yuhmil kiyāhī bimaknā yuhmil kiyāhī Gontor.” 

Belakangan aku baru tahu, bahwa jurus ini dahulunya dipakai para ulama hadis dalam justifikasi keabsahan sebuah hadis, maka terbentuklah istilah sanad di dalam literatur ilmu hadis.

Sakitnya sebagai junior ketika bertanya pelajaran kepada mudabbir, rupanya mudabbir-nya juga kebetulan kurang paham. Ketika aku minta penjelasan yang lebih mendalam dengan muka serius dia hanya bilang: “Iqra’ faqaṭ, fahimta fīmā ba’d.”  Bila jurus ini yang dipakai oleh mudabbir aku pun mundur teratur sambil mengucapkan: “Syukran bang.” Yang sakitnya, jurus ini secara turun-temurun terus dipakai sebagai alibi lambang nufūż atau haibah, termasuk penulis ketika ditugaskan menjadi mudabbir di salah satu Asrama Pesantren Darularafah Raya (Asrama Mesir).

Pelajaran di kelas tentunya sangat banyak, dan rata-rata menuntut kemampuan menulis, men-syakl,  mendengar, menghafal, menerangkan dan meng-khulāṣah.  Dan satu yang paling unik adalah Maḥfūẓāt, pelajaran yang satu ini memang sekilas mudah, tetapi karena tradisi setoran hafalan yang diterapkan oleh ustaz-ustaz pengajarnya, maka ia sering menjadi bumerang bagi yang mengalami kelemahan hafalan seperti diriku. Sesuatu yang sering membuatku kesal adalah sikap ustaznya yang kurang “demokratis” ketika menerima setoran antara hafalan dan asy-syarḥ, yang dipersiapkan hafalan malah disuruh asy-syarḥ atau sebaliknya.

Baca juga: Catatan Santri: Pendidikan di Asrama

Saat ini aku malah sering bersyukur kepada Allah Swt. karena tanpa kuminta Ia mengirmkan ustaz-ustaz alumni Gontor Ponorogo yang selalu konsisten dengan sikap seperti di atas, berkat keikhlasan mereka dalam mendidikku, aku merasakan betapa bermanfaatnya ilmu yang mereka tanamkan, termasuk pelajaran Maḥfūẓāt yang paling sering menjadi falsafah hidup (bagiku) di alam bebas ini.

Dalam setiap diskusi ringan atau debat kusir aku sering mengutip ayat Alquran yang tak tahu surat apa ayat berapa dan hadis riwayat siapa, jurus selamatnya adalah “ini Maḥfūẓāt” bukankah Maḥfūẓāt artinya “yang dihafal-hafal”, toh di dalam Maḥfūẓāt banyak ditemukan potongan hadis, dan muqarrar pelajaran Maḥfūẓāt kelas VI semuanya ayat Alquran klasifikasi ayat ahkam.

Maḥfūẓāt yang paling sering menjadi jimat bagiku adalah “man jadda wajada”  ada juga “man sāra ‘ala ad-darbi waṣala”.  Ini sungguh terbukti bagi kami yang memilih jalur hidup linier dalam berkarier. Bahkan bagi kawan-kawan yang menempuh karier zig-zag.

Bagi kawan-kawan yang menetap di kampung, mungkin MaḥfūẓātBaiḍat al-yaum khair min dajājat al-gad” (telur hari ini lebih baik dari ayam esok hari) sudah cukup. Bagi kami yang hidup di rantau Maḥfūẓāt ini sangat wah, maka dari situ aku pun berusaha memutar otak berbekal pengalaman pahit bersama kawan alumni Ngabar melahirkan Maḥfūẓāt ‘setengah telur’ berikut: “Niṣf baiḍat al-yaum khair min baiḍat al-gad” (setengah telur hari ini lebih baik dari pada satu telur besok).

Baca juga: Belajar dan Sekolah

Namanya juga perantau, pastilah sering berkumpul bersama dongan sahuta untuk saling mengetahui kabar masing-masing. Apalagi masa-masa kuliah dulu “mangan ora mangan sing penting ngumpul,” belakangan aja, setelah masing-masing terikat dengan keluarga intensitas ngumpul sudah mulai jarang “ngumpul ora ngumpul sing penting mangan”. Dan biasanya, di sela-sela menikmati hangatnya kopi Ulee Kareng atau kopi Arabica Tanah Gayo bersama teman sekampung atau kawan lainnya sering terlontar pertanyaan yang tidak terjawab oleh pelajaran Balāgah atau ad-Diyānah sekalipun, tetapi jawabannya sering ditemukan di dalam pelajaran Maḥfūẓāt. Misalnya ketika ada kawan yang bertanya mengapa kita di rantau ini (Aceh) relatif lebih jadi “orang” daripada saat kita di kampung ya? Jawaban yang cocok dengan pertanyaan itu adalah:

Wa al-usudu lau lā al-firāq al-ghābi mā iftarasat # wa as-sahmu lau lā firāq al-qausi lam yuṣib.

“Kalaulah singa-singa tidak keluar dari hutan (sarangnya), maka tidak akan mendapat mangsa. Kalaulah anak panah tidak lepas dari busurnya, maka tidak akan mengenai sasaran.”

Tampaknya bait tersebut begitu selaras dengan lagu yang dilantunkan oleh Trio Lamatama lalu didaur ulang oleh Simbolon Sister: 

Horas..., biar kambing di kampung sendiri, horas...,tapi banteng di perantauan, anak Medan do au kawan 2x.”

Ada juga kawan yang suka bertanya, “Mengapa ya..., aku di kampungku hanya dipandang sebelah mata, tapi di sini aku merasa lebih dihargai?” Dengan santai aku ingat-ingat Maḥfūẓāt kelas V yang diajarkan ustazku dulu (Ustaz Saifullah Nawawi) yang bunyi matannya seperti berikut:

Wa al-tibru ka al-turbi mulqan fī amākinihi # wa al-‘ūdu fī arḍihi naw’un min al-ḥaṭab.

Bukankah tibir (logam sebelum jadi emas) hanya seharga debu ketika masih terpendam di dalam tanah, dan kayu besar (di hutan) sama harganya dengan kayu bakar sebelum diolah menjadi beroti. Bisa jadi kau di rumah dipandang sebagai anak kecil oleh para tetanggamu karena kau lahir dan besar di lingkungan itu, tapi itu tidak di tempat barumu karena kau datang ke tengah-tengah orang itu setelah menyandang gelar alumni.

* Disadur dari tulisan Sabaruddin Simbolon, Maḥfūẓāt Memang Unik, dalam buku Antologi  Berani Hidup Tak Takut Mati; Potret Kehidupan Santri, 2018. Sampai menjelang wafatnya (Allah yarhamhu), beliau adalah guru PKn di SMAN 5 Lhokseumwe dan mahasiswa S3 Prodi Hukum Islam UINSU. Menulis buku aḍ-ḍiyā’ al-lāmi’; majmū’ah min al-khuṭbah al-‘arabiyah, Epitemologi Hukum Islam; Dari Masa Nabi Muhammad saw. Sampai Dengan Ulama Mutakallimin, Metode Kritik Hadis; Suatu Pendekatan Baru, dll. Beliau juga penggagas sekaligus editor dalam beberapa buku karya santri dan siswa, seperti: Berani Hidup Tak Takut Mati; Potret Kehidupan Santri, Logika Kemuliaan Hidup: Menjaga Tradisi Mewarisi Modernitas, karya (IKatan Alumni Pesantren Darularafah/IKAPDA), Kalung Pembawa Arti karya siswa SMPN 6 Lhokseumawe, Sang Motivator karya siswa SMAN 5 Lhokseumawe, Hijrah Together Ukhuwah Forever karya santri Damora Lhokseumawe, dll.

Cloud Hosting Indonesia

Kamis, 21 Januari 2021

Catatan Santri; Pendidikan di Asrama

Masih terngiang dengan jelas pekikan suara mudabbir (pengurus asrama dari santri senior) sambil menggedor pintu dan shunduq (Kotak untuk menyimpan pakaian) meneriakkan kata-kata bak mantra magis, "Qum..., qum..., qum...! Wahid..., istnani..., istnani wa nishf.... (Berdiri..., berdiri..., berdiri...! Satu..., dua..., dua setengah...)." Sontak aku dan sebagian penghuni kamar VIII Asrama al-Azhar bangun dan berdiri dari tidur singkat malam itu. Kebiasaan tidur para santri masa itu sekira pukul 22.30 dan harus bangun untuk persiapan salat subuh pukul 04.30.

Beberapa mudabbir kadang tak segan mengibaskan sajadah yang sengaja digulung menyerupai cemeti ke badan-badan yang saat itu masih enggan membuka matanya. Proses membangunkan para santri dari lelap tidurnya terasa begitu singkat, hanya butuh waktu 3-5 menit, seluruh penghuni kamar sudah sibuk dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. 

Para haris al-hujrah (piket kamar) juga tak tinggal diam, mereka yang biasanya terdiri dari 2-3 orang santri dengan sigap menyusun kasur-kasur yang sebelumnya terhampar memenuhi lantai kamar, menyapu kamar dengan cepat sambil mengenakan sarung lengkap dengan ikat pinggangnya, kemeja, dan peci kemudian begegas pergi ke masjid bersama anggota kamar lainnya menunaikan salat subuh berjamaah. 

Kadang terjadi juga konspirasi antara haris al-hujrah dan anggota kamar yang malas pergi ke masjid dengan cara bersembunyi di sela-sela susunan kasur yang sengaja diberi celah untuk sekadar dapat duduk dan bernafas demi melanjutkan tidurnya. Sementara haris al-hujrah menutupi kasur-kasur yang tersusun dengan kain selimut agar kelihatan rapi dan yang bersembunyi di dalamnya merasa aman.

Salat jamaah subuh selesai ditunaikan, dan para santri keluar dari masjid sambil berlarian menuju asrama untuk mengikuti kegiatan pemberian mufradat (kosakata). Aku sangat memahami, beberapa teman sengaja berlari kencang bak sprinter sedang bertanding dengan tujuan sekadar dapat memejamkan mata 3-5 lima menit menunggu para mudabbir datang dengan papan mufradat-nya. 

Sekali waktu, pernah kulihat seorang santri yang berlari dari masjid menuju asrama. Setibanya di depan asrama 17 Agustus, kulihat arah larinya tidak stabil. Ia berlari dalam keadaan miring sedikit menuju parit di sisi kanan jalan. Tak sanggup mengerem lajunya yang lepas kendali, ia pun masuk ke parit terjerembab. Dugaanku ia berlari dalam keadaan ngantuk berat.    

Pukul 07.00 para penghuni asrama sudah bersiap-siap untuk pergi ke kelas dengan pakaian rapi. Tak ada baju seragam dan tak ada tas yang disandang. Buku dan peralatan sekolah lainnya cukup dijinjing ala anak kuliahan menjadikan suasana belajar bebas, tidak kaku, dan menyenangkan. Dan delapan jam pelajaran pun dilalui penuh dengan nuansa pendidikan dan pengajaran (tarbiyah wa at-ta'lim).

Selepas salat asar berjamaah, kegiatan di asrama dilanjutkan dengan qira'ah (membaca) Alquran. Para mudabbir melakukan pengawasan dan memanggil santri-santri yang dianggap belum mampu membaca Alquran dengan baik untuk dibimbing dan diajar secara rutin. Kurasakan betapa keberadaan para mudabbir seperti abang sekaligus guru yang peduli dengan kelemahan adik-adiknya.

Saatnya olahraga dan kegiatan mandiri pada pukul 16.30 ditandai dengan dentuman 'lonceng keramat'. Para santri melampiaskan kepenatan mereka dalam belajar dengan melakukan olahraga mandiri, olahraga berkelompok yang terjadwal, bersantai, belajar, atau mencuci pakaian. Tak ada jasa binatu (laundry) apalagi strika-an. Namun aku dan santri lainnya dapat tampil rapi saat berpakaian. Cangkir nikel yang diisi air panas dijadikan setrikaan atau cukup dengan melipat pakaian yang kemudian diletakkan di bawah kasur saat hendak tidur di malam hari diyakini dapat menjadikan pakaian sedikit rapi.

Jamaah magrib selesai ditunaikan, kemudian dilanjut dengan membaca Alquran. Sebagaimana pada saat membaca Alquran di sore hari, para mudabbir melanjutkan perannya sebagai guru dalam membimbing dan mengajari adik-adiknya. Mendengar suara lonceng saat itu sama seperti menyongsong pembagian BLT atau raskin yang sangat ditunggu-tunggu. Para santri berlarian dari asrama menuju dapur umum secepat kilat agar mendapat antrean paling depan. Yang menarik adalah para santri diharuskan mencuci piring dan cangkir yang digunakan saat makan dengan sangat bersih. Jika piring yang dicuci tidak melampaui standar bersih dan mengkilap, maka petugas qism al-mathbakh (bagian dapur) akan menambah dengan sejumlah piring untuk dicuci ulang sebagai hukuman.  

Sumber: https://ctosantrix.com/budaya-santri-antrian-mengambil-nasi/

Di malam hari (ba'da al-'isya), para santri dilarang berdiam di dalam kamar. Aku dan santri lainnya sibuk melaksanakan aktivitas belajar mandiri atau belajar dengan para wali kelas (muwajahah) sampai mejelang pukul 22.00. Tepat pukul 22.30 para santri wajib kembali ke asrama dan menuju kamar bersiap untuk tidur sambil menunggu para haris al-hujrah menyusun kasur. 

Bisa dipastikan hampir setiap malam teman sebelahku berbeda dan aku tidak pernah tidur di posisi yang sama seperti malam sebelumnya. Dengan berbusana kaos dan celana panjang (tidak boleh memakai sarung, celana training, celana pendek), aku pun memejamkan mata sambil membaca, "Bismika Allahumma ahya wa amut."     

Baca juga: Catatan Harian Santri

Sekarang aku menyadari, semua pengalaman dan aktivitas yang berproses di asrama santri telah memberikan pesan dan nilai-nilai kehidupan. Itulah yang kukenal sekarang dengan nilai pendidikan karakter, berupa sifat yang mewujud dalam diri seseorang yang ditampilkan dalam bentuk perilaku terpuji dan mengandung kebajikan yang biasanya terdapat dalam kurikulum tersembunyi (hidden curriculum).  

Ternyata kesigapan para santri dalam mengganti pakaian dan menyesuaikan dengan program atau kegiatan yang dilalui adalah cerminan karakter bersih, rapi, dan proporsional. Kesadaran haris al-hujrah merapikan dan membersihkan kamar di subuh hari dan menyusun kasur untuk persiapan tidur di malam hari adalah cerminan karakter tanggung jawab dan peduli. Para mudabbir dengan usia mereka yang relatif muda/remaja, namun sanggup mengemban tugas dan amanah sebagai pengurus, abang, sekaligus guru ternyata telah mengajarkan mereka bukan saja menjadi pengayom, tapi juga menempa mereka mampu berlaku adil dan mampu mengambil putusan.

Makan di dapur umum yang selalu diiringi dengan antrean panjang dan mencuci piring nyata-nyata telah mengajarkanku kedisiplinan, kesabaran, tenggang rasa, kebersihan, dan tanggung jawab. Olahraga mandiri atau berkelompok mengajarkanku peduli akan kesehatan diri, menghargai prestasi, dan komunikatif. Mencuci, menjemur, melipat, merapikan pakaian mengajarkanku hidup mandiri dan rapi. Belajar mandiri atau ber-muwajahah dengan wali kelas mengajarkanku gemar membaca dan ta'dzim (hormat) pada guru.  

Selain nilai karakter yang tersebutkan di atas, sesungguhnya masih banyak lagi nilai-nilai pendidikan karakter yang diperoleh di asrama melalui program kegiatan dan rutinitas hariannya dalam rentang waktu dua puluh empat jam. Adapun nilai-nilai karakter dalam mewujudkan bangsa yang berbudaya dan berkarakter adalah melalui penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab (Pasal 3 Perpres Nomor: 87 Tahun 2017).

Pesantren yang biasa juga disebut dengan pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam yang sangat berpotensi dalam pengembangan pendidikan karakter para santri. Pondok dan pesantren adalah dua kata yang sering penyebutannya tidak dipisahkan menjadi 'pondok pesantren', memiliki arti bahwa terdapat pondok di dalam pesantren yang merupakan tempat tinggal (asrama) dan menjadi wadah penggemblengan, pembinaan, pendidikan serta pengajaran ilmu pengetahuan (M. Bahri Ghozali, 2003). 

Kehidupan berasrama memberikan berbagai manfaat antara lain interaksi antara asatiz (para guru) dan santri bisa berjalan secara intensif, memudahkan kontrol terhadap kegiatan santri, menimbulkan stimulasi atau rangsangan belajar dan memberi kesempatan yang baik bagi pembiasaan sesuatu. Karenanya, pengelolaan asrama santri tidak hanya mengacu pada sejumlah aturan dan tata tertib hidup berasrama, tapi bagaimana asrama dikelola sebagai bagian yang mendukung tujuan pembelajaran dalam pengembangan pendidikan karakter para santrinya.

Dalam lembaga pendidikan pesantren, menjadikan asrama santri sebagai rumah tempat mereka merasa nyaman dan betah adalah salah satu prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan asrama. Asrama santri bukan sekadar menjadi tempat untuk tidur, istirahat, menjadi tempat untuk bermain atau lain sebagainya dengan mengabaikan aktivitas belajar dan berbagai macam kegiatan pendidikan lainnya. 

Disadari ataupun tidak, asrama santri dan pengelolaannya dapat menghadirkan ragam kegiatan dan rutinitas yang memiliki nilai-nilai pengembangan pendidikan karakter bagi penghuninya. Untuk itu, pesantren dengan fasilitas asramanya harus mampu memberdayakan asatiz dalam memberikan pelayanan maksimal dan menjadikan asrama sebagai wahana yang benar-benar mampu menghadirkan proses pembelajaran dan pendidikan karakter yang baik.

**Disadur dari tulisan Agus Salim Salabi dalam buku Antologi "Berani Hidup Tak Takut Mati; Potret Kehidupan Santri”, 2018.

Catatan Harian Santri: Memoar Kecil dari Pesantren Az-Zahrah

Oleh: Ishlahul Fuadi*

Bagi Fuadi, semua itu hanyalah segelintir cobaan untuk menempa mentalitas saat hidup di masyarakat nantinya. Menjadi al-jāsūs baginya adalah peringatan untuk merubah perilaku menjadi lebih baik dan hidup dengan menjunjung peraturan dan tidak melanggarnya. Ke mana-mana selalu ada yang memata-matai, hal itu mengajarkannya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak.

Bertahan dan Berprestasi

Keputusan orang tua Ishlahul Fuadi, setelah menamatkan pendidikan enam tahun di MIN 1 Bebesen (sekarang sudah menjadi MIN 8 Aceh Tengah) adalah dengan mendaftarkannya ke pesantren. Mereka berharap agar Fuadi dapat belajar dengan baik dan hidup mandiri. Awalnya, orang tua Fuadi sepakat untuk mendaftarkannya ke Dayah Ummul Aiman di Samalanga, namun karena pendaftaran sudah ditutup, akhirnya orang tua Fuadi mendaftarkannya ke Pesantren Modern Az-Zahrah yang terletak di Desa Benyout, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. 

Pada saat mengikuti tes pendaftaran, Ibunya berkata, ”Fuadi..!, kalau ditanya nanti keinginanmu masuk pesantren, apakah karena keinginan sendiri atau atau keinginan orang tua, maka jawab aja kemauan sendiri ya..! Jangan bilang ada paksaan dari Mamak,” begitu Ibu mengajarinya. Fuadi mengangguk sambil menjawab, “Iya Mak,” meskipun hati saya sebenarnya merasa terpaksa masuk ke pesantren.

Saat pengumuman kelulusan, Ibu merasa bahagia dan bangga karena Fuadi termasuk santri yang dinyatakan lulus, sementara dia sendiri merasa heran, “Kok aku bisa lulus..?” Padahal semasa tes (ujian seleksi) dia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penguji dengan asal-asalan. Bahkan Ibu mengabarkan kalau nomor urut kelulusan Fuadi berada di peringkat ketiga dari semua peserta yang ikut tes. ”Astagfirullāh,” gumam Fuadi dalam batin, “Kenapa bisa ya..? Mungkin ini adalah petunjuk dan takdir dari Yang Maha Kuasa agar kelak saya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.”

Selasa 20 Agustus 2013, seluruh santri baru memasuki gerbang “penjara suci” Az-Zahrah, saat di mana Fuadi akan berpisah sementara dengan orang tuanya. Mulai saat itu panggilan siswa berubah menjadi santri, dan setiap santri harus bersiap untuk menghadapi semua pendidikan yang “katanya” penuh dengan rintangan dan cobaan.

Di pesantren ini, pertama sekali Fuadi mengenal istilah senior dan junior. Junior adalah santri-santri yang masih duduk di jenjang MTs, sedangkan senior adalah santri-santri pada jenjang MA. Para senior sudah mendapat tugas untuk mengurus junior, karenanya dibentuk sebuah wadah Organisasi Santri Pesantren Al-zahrah yang disingkat dengan OSPA (terdiri dari munaẓẓamah al-‘āmmah dan mudabbir al-maskan) yang mengatur para santri selama berkegiatan di pesantren. Di sisi lain ada juga istilah “mafia” (māfī al-‘amal), yaitu sebutan untuk para senior yang tidak terlibat atau tidak terpilih menjadi pengurus OSPA.

Di sini Fuadi mendapatkan pengalaman dan proses pendidikan yang mungkin tidak didapat di sekolah lain, seperti antrean panjang saat makan di dapur. Setiap santri harus rela mengantre sampai puluhan meter apabila telat datang ke dapur, dan harus besabar apabila tiba-tiba datang senior layaknya big boss yang tanpa merasa berdosa memotong barisan dan menyuruh para junior untuk antre di belakang mereka. Dan juga tidak aneh apalagi mengejutkan bila didapati fenomena unik di dapur santri, mulai dari adu mulut dengan ibu dapur karena tidak mendapat bagian ikan tongkol secara adil, main “oper-operan” ikan ke kawan agar mendapat dua potong ikan, belum lagi harus adu lari ke dapur apabila menu hari itu daging ayam. Satu piring makan berdua hingga tiga orang, satu gelas untuk semua sudah menjadi hal lazim yang ditemukan dalam kehidupan santri. Bahkan makan di atas wadah kardus pun bukan lagi menjadi hal yang eneh seperti yang dilakukan teman saya Febri dan Turaha yang makan di atas kardus mie instant karena tidak membawa piring. 

Tidak hanya di dapur, di kamar mandi pun akan ditemukan hal-hal unik, seperti senior yang datang dengan hanya bermodalkan sikat gigi di tangan kanannya. Sampai di kamar mandi, santri senior beraksi melengkapi alat mandinya dengan “men-daur” satu per satu ember atau keranjang kecil perlengkapan mandi milik juniornya. Mulai dari shampo, odol, sabun muka, hingga sabun badan pun habis diminta oleh mereka. Di sini para junior harus bersabar karena ulah para senior yang mirip pemalak. ☺

Maḥkamah, adalah tempat bagi santri yang melanggar aturan menerima hukuman dari pengurus munaẓẓamah. Setelah salat Isya, ketegangan menyelimuti setiap jamaah yang hadir manakala anggota qism al-I’lān membacakan nama-nama pelanggar. Suasana musala tiba-tiba hening dan hanya terdengar suara si pembaca yang keluar dari microphone. Satu per satu nama-nama pelanggar dan jenis pelanggaran dibacakan, mulai dari keamanan, kebersihan, ibadah, dan bahasa. Setelah nama-nama dibacakan, banyak yang berteriak, ”Yeee….” karena gembira bukan kepalang, dan mereka itulah yang terbebas dari pemanggilan ke maḥkamah, sementara yang tertunduk lemas dengan dada bedegub bisa dipastikan mereka adalah para pesakitan yang “tertangkap al-jāsūs” saat melakukan pelanggaran. Hanya kepasrahan yang ada saat turun dari musala menuju maḥkamah untuk mempertanggungjawabkan kesalahan mereka dan menerima hukuman.

Tiap-tiap bagian memiliki hukumannya masing-masing, mulai dari push-up, squat jump, mengutip sampah di sekeliling pesantren, sampai dengan dipukul pakai rotan di tangan maupun betis, bahkan terkadang ada yang dibotak dan pastinya setiap pelanggar mempunyai kenangan sendiri yang mungkin saja masih tersimpan di hati. Setelah para pelanggar diberi hukuman selanjutnya mendapat tugas untuk menjadi al-jāsūs, menjadi pengawas kesalahan santri lainnya dengan mencatat tempat, waktu, dan saksi kemudian melaporkannya ke pengurus organisasi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Keluar-masuk maḥkamah dilalui silih berganti dan menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan santri.

Hal-hal demikian tidak membuat tekad Fuadi surut untuk bertahan, meskipun beberapa santri menyerah kalah dan mundur pulang tidak tahan dengan pola kehidupan di pesantren. Bagi Fuadi, semua itu hanyalah segelintir cobaan untuk menempa mentalitas saat hidup di masyarakat nantinya. Menjadi al-jāsūs baginya adalah peringatan untuk merubah perilaku menjadi lebih baik dan hidup dengan menjunjung peraturan dan tidak melanggarnya. Ke mana-mana selalu ada yang memata-matai, hal itu mengajarkannya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak.

Di pesantren, kehidupan Fuadi berubah drastis, tidak seperti saat bersekolah MIN dulu. Di sini, Fuadi mulai aktif belajar, karena itu pula dia pernah menduduki peringkat III besar saat di kelas II dan III MTs. Fuadi juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Bersama Fadhil S. Imanda adik kelasnya, pernah mewakili pesantren dalam kegiatan dianpinru (peng-Geladian Pimpinan Regu) se-Kabupaten Bireuen yang diadakan di SMK 1 PGRI yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi kantor Kwarcab Bireuen. Dia juga pernah mewakili pesantren hingga event nasional pada MISC (Minangkabau International Scout Camp) yang diadakan oleh IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Gontor di Padang pada tahun 2015.

Dari situlah Fuadi mengembangkan bakat, hingga pada saat menjadi santri senior dia ditugaskan pada salah satu bagian dari pengurus OSPA. Fuadi diamanahkan menjabat Sekretaris Bagian Pramuka Pusat Putra periode 2016-2017, sementara temannya Satria Nosra menjadi Ketua Bagian Pramuka. Pada tahun berikutnya dia diamanahkan menjadi Ketua Bagian Pramuka Pusat Putra periode 2017-2018 dengan beranggotakan sahabat-sahabatnya yang lain (Reza Taufiq, Erbian Rahwandi, dan Zumadil).

Di Bagian Pramuka, mereka berlatih seminggu sekali kecuali saat ada event-event tertentu. Ada hal yang membuatnya terkenang, saat salah seorang ustaz marah karena pengurus bagian pramuka melanggar aturan. Saat itu pengurus pramuka diberdirikan di depan seluruh santri, dan ustaz berkata, ”Untuk apa ada bagian pramuka, bikin semak aja di OSPA. Kerja cuma seminggu sekali, dua harilah kalau dihitung dengan kegiatan pionering. Tapi hobi kalian cuma melanggar, dan itu-itu saja orangnya.” Mereka hanya bisa terdiam sambil berkata di dalam hati, ”Ustāż hāżā lam ya’rifnā,” sambil menyesali diri dan bertekad untuk berubah. Semejak kejadian yang menyakitkan hati dan membekas karena malu, akhirnya kami bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah dan tidak lalai dalam menyelesaikan tugas-tugas. Rasa malu ternyata tidak berakhir sampai di situ, menjelang LPj (Laporan Pertanggungjawaban) banyak santri yang menyoraki kami karena dianggap pengurus yang kejam. Namun menurut para ustaz, yang mendapat banyak sorakan boleh jadi dikategorikan sebagai pengurus yang berhasil menjalankan amanahnya dengan baik. Mereka rela terlihat buruk di depan santri yang lain demi menjalankan amanah yang dititipkan para ustaz kepada mereka.

Meskipun dikenal sebagai pengurus yang "kejam" dan kadang melanggara peraturan, tapi mereka berhasil membawa nama Az-Zahrah hingga tingkat provinsi dalam lomba LP3 (Lomba Perkemahan Penggalang dan Penegak) se-Aceh yang diadakan di Lhoknga Aceh besar. Mereka meraih juara umum II dalam perkemahan tersebut. Mereka juga berhasil meraih juara I Lomba Ketangkasan Baris-berbaris (LKBB), dan Yel-yel dalam kegiatan Juang Penegak yang diadakan oleh Kwarcab Bireuen yang diikuti oleh perwakilan sekolah-sekolah se-Kabupaten Bireuen. Semua prestasi itu dapat diraih karena kerja sama dan gotong-royong serta bimbingan dari para ustaz tentunya.

Semasa menjadi santri senior, Fuadi pernah mewakili pesantren menjadi anggota paskibra (pasukan pengibar bendera) di tingkat kabupaten selama dua tahun berturut-turut. Pernah juga mewakili pesantren dalam lomba KSM (Kompetensi Siswa Madrasah) di tingkat kabupaten pada bidang Geografi terakreditasi dan meraih juara I di kabupaten, meskipun gagal mendapat juara di tingkat provinsi. Maklum, karena sebenarnya Fuadi adalah pelajar jurusan IPA yang diikutsertakan dalam lomba di jurusan IPS.   

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/75826/mayoran-ajaran-rasulullah-satu-nampan-banyak-tangan

Kekonyolan Santri

Pengalaman yang tak terlupakan adalah saat kiriman berupa makanan dari orang tua datang. Apabila santri datang membawa kotak makanan, maka banyak teman yang merapat dan mendekat. Selalu saja ada yang “sok kenal, sok dekat,” ibarat magnet menarik besi, apabila makanan ada, maka dengan sendirinya banyak anak santri yang mendekat. Tidak jarang terjadi pertempuran dahsyat dalam memperebutkan makanan (ṭa’ām) itu. Masing-masing mengeluarkan jurus dan kesaktiannya demi mendapatkan ṭa’ām. Terkadang ṭa’ām yang diperebutkan tidak lagi utuh karena terlempar atau terbang sampai menyentuh plafon kamar. Terkadang juga ṭa’ām itu berhamburan di lantai akibat terjadi tarik-menarik antarkubu yang sepertinya kelaparan. Sementara si pemilik kiriman hanya bisa pasrah melihat nasib kirimannya yang tak berbentuk lagi karena diperebutkan. Seperti biasa, keusilan Fuadi muncul, sambil memegang ṭa’ām dia berkata, ”Intaẓir awwalan, ana faqaṭ uqassim bil ‘adl kai yajida kullanā.” Lalu dia mengambil jatah makanannya terlebih dahulu, selebihnya dilambungkannya ke atas dan kawan-kawan saling berebut mengambil jatah masing-masing yang sangat diragukan keutuhannya lagi. 

Bersama Fahmi, Ahmad, dan Khadafi, Fuadi pernah mengerjai teman-teman se-kamarnya. Setelah mereka jajan di kantin, mereka melihat ada kue risol sisa kemarin malam yang kelihatan masih bagus, dibuang Bang Jal ke dalam tong Sampah. Khadafi menyela kepada Fuadi, ”Hayā naḥmil ilā al-ḥujrah,” dan kami pun mengutip risol-risol tersebut kemudian membawanya ke kamar. Sampai di kamar, saya menawarkan kepada teman-teman sambil berteriak, ”Woy…, man yurīd risol hāżā?” Tanpa berpikir panjang, seisi kamar menyerbu risol itu, mereka melahap semuanya hingga habis tanpa menanyakan asal-usulnya. Setelah mereka melahap habis semua risol, salah satu dari mereka mengucapkan, “Syukron na’am.” Fuadi dan teman-teman yang menggagas ide konyol ini pun hanya bisa menahan tawa dalam hati. Nasi sudah menjadi bubur, karena risol telah melewati tenggorokan. Di dalam hati kami berdoa, semoga candaan dan kekonyolan ini tidak menjadi petaka di kemudian hari. Alhamdulillah setelah kejadian itu tidak ada satu orang pun dari pemakan risol tong sampah yang keracunan. Astagfirullāh…. "Maafkan kami ya teman, dan ampuni kami ya Allah."

Baca juga: Catatan Santri: Pendidikan di Asrama

Di masa pancaroba ini, Fuadi melihat banyak perubahan yang terjadi pada teman-teman. Sebelum berangkat ke kelas selalu saja ada yang membuat gaduh dengan teriakan bahasa Arab yang dicampur-campur (bahasa Arab ala pesantren), ”Woi…, man maujud pomade, qassim qalīl.” Datang lagi yang lainnya, ”Woi… man maujud handbody, ana qalīl na’am…,” Ada juga yang nyeletuk “Woi… aina musyṭun, amsi waḍa’tu hunā.” Di sudut kamar ada yang sedang sibuk mencari plastik kresek karena ingin mengenakan celana “pensil”. Begitulah santri, pergi sekolah ibarat pergi kondangan, sibuk setengah mati mementingkan gaya, padahal sampai di kelas banyk yang gugur tertunduk layu dalam jihad menuntut ilmu. Kebanyakan dari mereka terkalahkan dengan rayuan meja belajar yang terlihat empuk sembari meletakkan kepala di atasnya sebagai tanda bahwa mereka menyerah dan pasrah terlelap di atas kayu yang dirasa setara dengan bantal kapuk.

Itulah kehidupan santri, susah senang dihadapi bersama. Semua itu demi menuntut ilmu agar dapat membanggakan orang tua di rumah. Banyak cobaan yang dihadapi dalam perjalanan menuntut ilmu di pesantren, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Cobaan datang silih berganti, terkadang kami belum menyadari ada nilai-nilai dalam aktivitas sehari-hari yang kami lalui. Bahkan kadang kami tidak menyadari, dengan menjadi santri dan dengan segala kekonyolan kami dapat menemukan jati diri. Dengan canda tawa kami sering mengisi kekosongan waktu dan saling mengenal antarsuku dan budaya satu dengan yang lainnya di mana semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni li ṭolabi al-‘ilmi li i’lā’i kalimatillāh dan juga demi membanggakan orang tua.

Keusilan, canda, dan kekonyolan, yang dialami ternyata hanyalah sebagian kecil dari pembelajaran hidup yang ternyata dapat dijadikan modal dalam mengarungi kehidupan yang lebih luas di masyakat. Kajahilan di kalangan santri pada akhirnya tidak lagi dianggap sebagai keluhan dan alasan untuk tidak bertahan di penjara suci. Semua pengalaman yang dialami menjadi alat penempa ketahanan mental. Pada akhirnya kisah dan cerita itu menjadi materi obrolan yang tak kunjung usai diulang-ulang saat bertemu kembali dengan para alumni.

*Alumni Pesantren Az-Zahrah Bireuen Aceh

Ikuti Channel YouTube

Connect