Sabtu, 07 Juni 2025
Senin, 10 Maret 2025
Ramadan Bulan Ilmu: Menggali Ilmu dengan Tadarrus Al-Qur’an
- Penalaran Deduktif dan Induktif – Mengambil kesimpulan dari hal umum ke khusus atau sebaliknya. Contohnya, dalam ilmu fikih, metode deduktif digunakan untuk menerapkan prinsip umum syariat ke dalam kasus-kasus khusus, seperti hukum jual beli. Sebaliknya, metode induktif digunakan dalam ilmu ushul fiqh dengan mengumpulkan berbagai kasus untuk menemukan prinsip umumnya.
- Observasi dan Eksperimen – Ilmu yang didasarkan pada pengalaman nyata dan penelitian. Contohnya, dalam ilmu hadis, semua catatan hadis diperiksa berdasarkan perawi yang meriwayatkannya. Para ulama hadis seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim menggunakan metode kritik sanad untuk memastikan apakah narasumber benar-benar seorang sahabat yang mendengar langsung dari Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, dapat dibedakan mana hadis yang sahih dan mana yang daif.
- Studi terhadap Gejala Alam – Memahami ayat-ayat kauniyah yang merupakan tanda kebesaran Allah dalam penciptaan. Misalnya, dalam sains, penelitian tentang air sebagai sumber kehidupan sesuai dengan firman Allah dalam QS. 21: 30: "Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air". Penelitian ilmiah tentang siklus air, hujan, dan ekosistem mendukung kebenaran ayat ini.
- Kosmologi, tentang keajaiban ciptaan Allah: QS. 2: 255, QS. 57: 4-5, QS. 4: 11, 12, QS. 65: 12, QS. 71: 15-16, QS. 23: 17, QS. 7: 54, QS. 13: 2, QS. 13: 15, QS. 50: 38, QS. 10: 5, QS. 6: 97, QS. 71: 15-16.
- Astronomi, ilmu pengetahuan mengenai benda-benda langit tentang gerak, pengembangan, dan sifat-sifatnya: QS. 50: 6, QS. 13: 2, QS. 79: 28, QS. 31: 10, QS. 55: 7, QS. 6: 97, QS. 36: 38-40, QS. 10: 5-6, QS. 37: 6, QS. 82: 1-2.
- Fisika/Metafisika, ilmu pengetahuan tentang alam yang konkret atau pun yang abstrak. Tentang cahaya: QS. 24: 35, QS. 25: 61, QS. 66: 8, QS. 2: 17, QS. 2: 20. Tentang keajaiban penglihatan: QS. 33: 19, QS. 8: 44, QS. 5: 83, QS. 9: 92. Tentang jarak dengan perhitungn tahun cahaya: QS. 32: 5, QS. 22: 47. Tentang periodisasi alam yang jutaan tahun disebut dengan hari: QS. 32: 4-5, QS. 50: 38. Tentang perubahan perasaan tentang ukuran waktu di akhirat: QS. 2: 259, QS. 23: 112-114, QS. 18: 19. Tentang dimensi mikroskopis dalam waktu: QS. 16: 77, QS. 54: 50, QS. 50: 16, QS. 56: 85, QS. 27: 38-40. Tentang bayang-bayang: QS. 16: 48, QS. 25: 45, QS. 13: 15, 35. Tentang panas, pelajari: QS. 56: 71-73, QS. 20: 10, QS. 36: 80, QS. 27: 7, QS. 35: 21. Tentang listrik: QS. 2: 19,20, QS. 13: 12,13. Tentang suara: QS. 18: 26, QS. 34: 50. Tentang makhluk yang berasal dari api: QS. 15: 27, QS. 55: 15.
- Ilmu Hitung/Matematika: QS. 18: 11, 12, 19, 22, QS. 19: 84, QS. 4: 7, 11, 12, 176.
- Sejarah/Anthropologi: QS. 7: 100-102, QS. 3: 137, QS. 6: 6, QS. 9: 70, QS. 14: 9, QS. 25: 37-38, QS. 4: 1, QS. 30: 22.
- Geografi/Geologi: QS. 27: 61, QS. 16: 15, QS. 50: 7-11, QS. 27: 61, QS. 79: 30-33, QS. 16: 15, QS. 51: 48, QS. 71: 19, 20.
- Biologi: QS. 27: 60, QS. 16: 10, QS. 6: 99, QS. 35: 28, QS. 36: 71-72.
- Embriologi: QS. 23: 12-14, QS. 35: 11, QS. 56: 57-65, QS. 71: 14, QS. 86: 6-7.
- Zoologi: QS. 24: 45, QS. 53: 45-46, QS. 6: 142-144, QS. 16: 5-9, 66, QS. 67: 19.
- Kelautan/Pelayaran: QS. 16: 4, QS. 10: 22, QS. 22: 65, QS. 30: 46.
- Mineralogi: QS. 34: 11, QS. 57: 25, QS. 76: 15-16, QS. 55: 58-59, QS. 9: 34.
- Pertanian: QS. 20: 53, QS. 6: 99, QS. 22: 5, QS. 6: 141, QS. 16: 10-11, QS. 13: 4, QS. 22: 5, QS. 26: 7-8.
- Ekonomi/Perdagangan: QS. 28: 77, QS. 2: 198, 261, 265, QS. 24: 37, QS. 62: 10, QS. 67: 15, QS. 71: 19-20.
- Arkeologi: QS. 7: 74, QS. 22: 45, QS. 26: 128-138, QS. 27: 51, 52, QS. 32: 26, 40: 82.
- Sosiologi: QS.4: 1, QS. 7: 189, QS. 49: 13.
- Seksiologi/Perkawinan: QS. 2: 223, 231, QS. 5: 5, QS. 4: 3, 25, 34, 128, 129, QS. 30: 21.
- Kimia: QS. 15: 19, QS. 41: 11, QS. 51: 49, QS. 36: 36, 24: 43.
Baca juga: Ramadan Bulan Sehat
Sabtu, 01 Maret 2025
Marhaban Ya Ramadan
- Aṣ-ṣiyāmu junnah (puasa adalah perisai) yang mampu membentengi kita dari setan. Jika puasa dilakukan dengan benar, maka akan berdampak pada terjauhnya ṣāim (orang yang berpuasa) dari godaan setan. Sehingga ia terdorong untuk melakukan amal yang saleh dan menahan diri dari amal yang salah. Kalau datang Ramadan, maka bagi “orang-orang yang berpuasa dengan benar” akan mendapatkan fadilahnya, yaitu: a) dibukakan pintu-pintu surga, b) pintu-pintu neraka ditutup, dan c) setan dibelenggu.
- Aṣ-ṣiyāmu lī, wa ana ajzī bihi (Allah langsung memberikan takaran pahalanya). Setiap kebaikan yang berpotensi mendatangkan pahala dilipatgandakan Allah dalam bulan Ramadan minimal sepuluh kali lipat.
- Hanya Ramadan yang siang dan malamnya penuh ampunan Allah. Kapan pun setiap muslim bisa meminta ampunan Allah, namun ada waktu-waktu yang strategis (seperti, 1/3 malam, di antara azan dan iqamah, dll.) dan tempat-tempat yang efektif (seperti: mihrab, masjid, dll.), yang mana setiap doa seorang muslim sangat cepat dikabulkan. Dan Ramadan menggabungkan kedua dimensi tersebut (siang dan malamnya).
- Widya Lisfianti. Arti Marhaban Ya Ramadhan. https://www.tribunnews.com/nasional/2022/03/29/arti-marhaban-ya-ramadhan-lebih-dari-sekedar-selamat-datang.
- Ahmad Kusyairi Suhail. Sambut Ramadhan dengan Suka Cita; Marhaban ya Ramadhan. https://news.detik.com/kolom/d-6013010/sambut-ramadhan-dengan-suka-cita-marhaban-ya-ramadhan.
- https://www.youtube.com/watch?v=GU59no0BBrw.
- http://smarturl.it/MaherZainChannel.
- https://www.youtube.com/watch?v=cgJTpIAzBt0.
- https://www.youtube.com/watch?v=pWn1lz4qvH0.
Sabtu, 11 Januari 2025
Fungsi Iḥtiyāṭ dalam Penyusunan Jadwal Salat Digital
Pendahuluan
Jadwal salat adalah kebutuhan primer umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat tepat waktu. Mengetahui waktu masuk salat menjadi syarat sahnya ibadah tersebut, dan salat yang dilakukan tanpa memastikan waktunya tidak sah menurut syariat. Salah satu cara praktis untuk mengetahui waktu salat adalah dengan menggunakan jadwal salat yang tersedia.
Saat ini, terdapat dua jenis jadwal salat yang umum digunakan, yaitu manual dan digital. Jadwal salat manual berupa jadwal salat yang biasanya disusun sepanjang masa, dicetak dan ditempel di dinding masjid, musala, dan tempat ibadah lainnya. Sedangkan jadwal salat digital disusun berbasis pemograman digital kemudian ditampilkan dalam bentuk media digital, baik dalam bentuk aplikasi maupun dalam bentuk media digital lainnya seperti papan media running text dan televisi. Keduanya memiliki peran penting, tetapi era digital membawa tantangan baru dalam penyusunan jadwal salat, terutama terkait akurasi dan penerapan konsep iḥtiyāṭ (kehati-hatian).
Jadwal Salat Digital
Di era revolusi industri 4.0, jadwal salat digital semakin marak seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses data dalam bentuk digital. Jadwal salat digital adalah jadwal waktu salat yang dirancang untuk rentang waktu tertentu, bahkan berlaku sepanjang masa, yang disajikan melalui media digital seperti aplikasi, website, atau perangkat elektronik lainnya. Saat ini, banyak masjid dan musala telah beralih menggunakan jadwal salat digital, meskipun sebagian tetap mempertahankan jadwal manual.
Penggunaan aplikasi jadwal salat pada smartphone semakin populer di kalangan masyarakat. Dengan aplikasi tersebut, pengguna dapat mengetahui jadwal salat di mana pun berada. Bahkan tanpa aplikasi khusus, jadwal salat dapat diakses dengan mudah melalui mesin pencari seperti Google, cukup dengan mengetikkan lokasi dan waktu yang diinginkan. Kemudahan ini membuat jadwal salat digital menjadi alat yang praktis bagi umat Islam.
Namun, metode penyusunan jadwal salat digital dapat bervariasi tergantung pada kombinasi antara komponen astronomi dan teknologi digital. Sebagian platform menggunakan titik koordinat geografis manual, sementara lainnya mengandalkan titik koordinat perangkat keras yang diperoleh melalui aplikasi seperti Google Maps. Perbedaan ini dapat menyebabkan variasi jadwal salat, meskipun berada di wilayah yang sama, karena faktor koordinat memengaruhi akurasi hasil perhitungan.
Selain itu, jadwal salat digital juga berbeda dalam metode pengaturan waktu. Ada yang menggunakan jam manual, dan ada pula yang otomatis terhubung dengan internet atau sistem Global Positioning System (GPS). Perbedaan hasil jadwal salat sering kali dipengaruhi oleh penerapan konsep iḥtiyāṭ. Beberapa platform tidak secara otomatis menambahkan nilai iḥtiyāṭ, sehingga pengguna perlu menyesuaikannya secara manual. Sebaliknya, ada juga platform yang sudah menerapkan nilai iḥtiyāṭ sebesar dua menit sebagai standar.
Variasi dalam metode penyusunan ini dapat terlihat pada hasil akhir jadwal salat yang ditampilkan. Ketika beberapa jadwal salat digital dibandingkan, perbedaan waktu biasanya hanya berkisar antara satu hingga dua menit. Hal ini menuntut pengguna untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan jadwal salat digital agar sesuai dengan kebutuhan dan standar yang berlaku.
Iḥtiyāṭ dalam Penyusunan Jadwal Salat
Konsep iḥtiyāṭ tidak dapat diabaikan dalam penyusunan jadwal salat, baik manual maupun digital. Iḥtiyāṭ berfungsi sebagai pengaman dan penentu radius pemberlakuan jadwal salat. Setiap jadwal salat disusun berdasarkan titik koordinat tertentu dan diberlakukan dalam radius tertentu yang ditentukan oleh nilai iḥtiyāṭ yang digunakan. Secara sederhana, iḥtiyāṭ adalah tindakan menambahkan atau mengurangi beberapa menit dari hasil perhitungan waktu salat untuk memastikan keakuratan waktu. Dalam buku Saku Hisab Rukyat yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, dijelaskan bahwa nilai iḥtiyāṭ dilakukan setelah pembulatan detik menjadi satu menit, lalu ditambahkan: untuk salat Zuhur 3 menit, dan untuk salat Asar, Magrib, Isya, serta Subuh 2 menit.
Khusus untuk Zuhur, nilai iḥtiyāṭ tiga menit mencakup satu menit untuk pergeseran pusat piringan matahari dari garis kulminasi ke zawal, sehingga nilai dua menit berlaku seragam untuk semua waktu salat lainnya. Sebagai contoh, jika waktu Zuhur di Lhokseumawe berdasarkan perhitungan adalah pukul 12.30.27 WIB, maka setelah pembulatan detik dan penambahan iḥtiyāṭ, waktu tersebut menjadi pukul 12.34 WIB. Begitu pula dengan Magrib, yang misalnya pukul 18.30.27 WIB, akan menjadi pukul 18.33 WIB setelah pembulatan dan penambahan iḥtiyāṭ.
Tujuan utama dari pemberian nilai iḥtiyāṭ ada dua hal: 1) Pengamanan: agar hasil perhitungan dapat digunakan dalam jangka waktu lama meskipun terjadi perubahan data astronomis, seperti deklinasi matahari dan equation of time, dalam siklus empat tahun. 2) Radius pemberlakuan, di mana nilai iḥtiyāṭ menentukan seberapa luas jadwal salat berlaku di wilayah sekitar titik koordinat perhitungan.
Sebagai ilustrasi, jika jadwal salat disusun berdasarkan Masjid Islamic Center Kota Lhokseumawe, maka nilai iḥtiyāṭ dua menit memungkinkan jadwal tersebut berlaku dalam radius 54 kilometer. Namun, sebagian dari nilai ini digunakan untuk pengamanan, sehingga radius efektifnya adalah sekitar 50 kilometer.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Penggunaan iḥtiyāṭ dalam penyusunan jadwal salat, baik manual maupun digital, sangat penting untuk memastikan akurasi dan keamanan waktu ibadah. Berikut adalah beberapa rekomendasi:
- Pilih platform terpercaya: Gunakan aplikasi jadwal salat yang sudah menerapkan nilai iḥtiyāṭ, seperti aplikasi resmi Kementerian Agama.
- Konsultasikan dengan ahli falak: Untuk keperluan publik seperti masjid atau siaran radio, pastikan jadwal salat digital disusun berdasarkan standar yang berlaku.
- Pahami konsep iḥtiyāṭ: Masyarakat perlu memahami pentingnya tambahan waktu ini untuk memastikan ibadah yang sesuai syariat.
Dengan memahami dan menerapkan konsep iḥtiyāṭ, umat Islam dapat lebih yakin dan aman dalam menggunakan jadwal salat digital serta memanfaatkan teknologi secara optimal untuk mendukung pelaksanaan ibadah.
Jumat, 26 April 2024
Merekat Silaturahmi melalui Balai Pengajian Perum. Firya Lientas
Rangkang Belajar | Setiap malam Jumat, kaum Bapak warga perumahan Firya lientas Jl. Elak, Alue Awe, Muara Dua, Lhokseumawe berkumpul untuk mengadakan pengajian kitab rutin. Pengajian ini tidak hanya menjadi sarana untuk mencari berkah ilmu, tetapi juga menjadi wadah penting untuk merekat silaturahmi di antara warga kompleks.
Pengajian rutin dengan pendalaman permasalahan fikih dari Kitab "Sabīlul Muhtadīn" karangan Muhammad Rasyid Abdullah Al-Banjari dipandu oleh Tengku Dr. Munadi, M.A. Dosen IAIN Lhokseumawe yang juga merupakan warga Perum. Firya Lientas. Ini menunjukkan bahwa kegiatan pengajian benar-benar menjadi milik bersama bagi seluruh warga kompleks.
Semangat kajian kitab menjadi semakin kuat karena mayoritas warga
kompleks memiliki kesibukan sendiri-sendiri, sehingga momen pertemuan seminggu
sekali ini menjadi sangat berarti untuk menjaga dan mempererat tali
persaudaraan di antara warga komplek perumahan.
Dalam suasana yang penuh kehangatan, selain berdiskusi terkait permasalahan fikih, kaum bapak peserta pengajian dapat saling bertukar informasi, berbagi cerita, dan saling memberikan dukungan moral. Dalam konteks yang lebih luas, pengajian kitab rutin ini juga memiliki dampak yang positif dalam memperkuat identitas keislaman warga kompleks. Mereka tidak hanya belajar tentang agama, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajian ini juga menjadi ajang untuk menjaga tradisi dan budaya lokal yang kental dalam kehidupan masyarakat Aceh. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi media yang kuat untuk membangun hubungan sosial yang harmonis dan erat di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan modern. (Deas-Lhoks)
Selasa, 19 Maret 2024
Ramadan Bulan Sehat
- Makanan atau minuman yang halal dan baik (ṭayyib), karena tidak semua makanan yang halal itu pasti ṭayyib. Daging kambing adalah makanan halal tapi, pada bagian-bagian tertentu tidak ṭayyib bagi pengidap darah tinggi. Bumbu penyedap dan pengawet halal dimakan, tapi tidak ṭayyib bagi kebanyakan orang walaupun dia dalam keadaan sehat.
- Tubuh memerlukan keseimbangan nutrisi, tapi kebanyakan kita malah mengutamakan selera, enak, sedap, nikmat, sehingga dapat merusak keseimbangan nutrisi tubuh yang menyebabkan munculnya penyakit. Karenanya, Nabi berpesan: “Berpuasalah supaya sehat.”
- Makan dan minum secukup kebutuhan tubuh, tidak boleh berlebihan. Karenanya, kita perlu memperhatikan bahwa tubuh kita membutuhkan nutrisi yang seimbang, yaitu:
- air: 57% (mengatur panas dan suhu badan serta merupakan sumber makanan),
- protein: 20% (materi penyusun organ tubuh, otot, darah dan rambut),
- lemak: 15% (sumber energi tertinggi),
- karbohidrat: 2% (tenaga, membantu pencernaan, mengasimilasi makanan),
- vitamin: 1% (penting untuk metabolisme dan makanan secara normal), dan
- mineral: 5% (mitra vitamin merupakan listrik tubuh).
Baca juga: "Ramadan Bulan Ilmu"
![]() |
![]() |
Kamis, 05 Mei 2022
Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Oleh: Salabi, A. S.
Ucapan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn" telah menjadi budaya bahasa yang kerap disampaikan, baik secara tulisan maupun lisan pada akhir Ramadan hingga masuk bulan Syawal (Idul Fitri) setiap tahunnya. Meskipun kalimat tersebut sudah membudaya, ternyata masih banyak yang tidak memahami makna kalimat yang disampaikan tersebut secara pasti.
Sebagai tenaga
pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi, mengawali pertemuan pertama pasca libur
Idul Fitri, saya selalu menyampaikan: “Minal ‘ā'idīn wal Fā’izīn,
Taqabbalallāh Minnā wa Minkum, Mohon Maaf Lahir dan Batin”, yang langsung
dijawab oleh peserta didik dengan: “sama-sama Pak, dan seterusnya.
Saat saya menggali sejauh mana pemahaman para peserta didik dengan ungkapan tersebut dengan mengajukan pertanyaan: “Siapa yang tahu arti “Minal ‘ā'idīn wal Fā’izīn"? Tidak sedikit yang langsung menyambar pertanyaan mudah ini dengan jawaban "Mohon maaf lahir dan batin". OK, jawab saya sambil tersenyum.
Secara acak saya menunjuk dua sampai tiga orang mahasiswa untuk kembali menanyakan
pertanyaan yang sama. Dan jawaban yang saya terima tidak berbeda dengan jawaban
yang dilontarkan secara berjamaah sebelumnya. Begitu juga saat pertanyaan
tersebut saya ajukan di unit/kelas lainnya, maka hasil jawaban tetap sama,
bahwa minal ‘ā'idīn wal fā’izīn artinya adalah mohon maaf lahir dan batin. Demikianlah
setiap tahun survey kecil-kecilan tersebut saya lakukan dalam mengawali
pembelajaran pasca Idul Fitri.
Berikutnya saya mengajak para peserta didik untuk mengartikan satu per satu kata yang
diadaptasi dari bahasa Arab tersebut:
من (min) = dari, termasuk, tergolong.
العائدين (al-‘ā'idīn) = orang-orang yang kembali
و (wa) = dan
الفائزين (al-fā’izīn) = orang-orang yang menang
Saya juga menyampaikan pendapat-pendapat dari para Ustaz populer tanah air sebagai berikut:
- Ustaz Hadi Hidayat [1]; Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan dan dibudayakan, maka saat masuk hari ‘īd para sahabat, ulama, salafuṣ-ṣāliḥ saling menyelamati dalam kebaikan dengan ucapan “Taqabballāh minnā wa minkum", semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian semua ibadah yang telah ditunaikan (diterima Allah ibadah puasa dan amalan selama Ramadan). Adapun kalimat “Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn” muncul pada masa-masa belakangan, khususnya orang-orang Indonesia, yang berarti ‘semoga kita termasuk orang yang kembali (kepada fitrah) dan beruntung’. Dari sisi makna, keduanya mengandung doa kebaikan, maka dalam hal ini tidaklah menjadi permasalahan yang harus diperdebatkan apatah ucapan ini tergolong bid’ah atau makruh.
- Ustaz Abdul Somad [2]; Ungkapan ‘mohon maaf lahir dan batin’ adalah tradisi kita. Di beberapa negara, seperti Sudan, Maroko tidak ada tradisi meminta maaf pada hari raya Idul Fitri. Namun tradisi ini adalah tradisi yang baik, karenanya ucapan yang dianjurkan dalam Islam adalah berbentuk doa ‘Taqabballāh minnā wa minkum ṣāliḥal a’māl’, semoga Allah menerima amal salih kita/kami dan amal salih kalian semua (terutama amal-amal yang dikerjakan saat Ramadan). Adapun kalimat ‘minal ‘ā'idīn diambil dari kata Idul Fitri yang berarti kembali ke fitrah (kata Abu Hurairah, yaitu fiṭratul Islām) sedangkan ‘wal fā’izīn’ berarti semoga kita menang (diambil dari ayat "Inna lilmuttaqīna mafāzan/sesungguhnya orang yang takwa itu menang). Jadi, ungkapan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn” jangan sampai di-bid’ah-kan, meskipun Nabi tidak melakukan itu.
- Buya Arrazi Hasyim [3]; Dalam riwayat Imam Albaihaqi, persoalan ini dikumpulkan dalam ragam lafal. Ditemukan ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah setelah menyelesaikan suatu ibadah: “taqabballāh minnā wa minkum". Lantas Rasul menyatakan bahwa itu adalah amalan ahlul kitab, wa karihahu (maka Nabi tidak menyukainya). Berdasarkan ini, ulama kita memakruhkan taqabbalallāh minnā wa minkum. Namun ditemukan lagi dalam riwayat yang sama (Imam al-Baihaqi dalam Kitab Sunan al-Kubrā), ternyata Beliau punya riwayat lain dari amalan ulama salafuṣ-ṣāliḥ, yaitu khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau pernah didatangi oleh seorang mantan budaknya yang bernama Adham dan berkata: “taqabballāh minnā wa minkum yā Amīral Mu’minīn. Amīral Mu’minīn merespon dengan: "na’am, taqabballāh minnā wa minkum", semoga Allah menerima dari kami (amalan kami) dan dari kalian (amalan kalian). Doa ini sangat bagus, maka berdasarkan itu Umar bin Abdul Aziz tidak mempermasalahkan kalimat itu.
- Ustaz Khalid Basalamah [4]; Hukum mengucapkan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn" tidak masuk dalam kategori bid’ah. Kecuali orang yang mengucapkan menganggap kalimat tersebut adalah bagian yang harus diucapkan (bagian dari ibadah di Idul Fitri). Kalau diucapkan sebagai bentuk doa umumnya, maka boleh saja.
Dari penjelasan
keempat tokoh agama masyhur di atas teranglah, bahwa ucapan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn" merupakan budaya bahasa yang baik untuk diucapkan dan disampaikan sebagai doa serta pengharapan antar-sesama muslim yang telah melaksanakan ibadah
puasa dengan benar selama Ramadan.
Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn (semoga kita tergolong orang-orang yang kembali kepada fitrah dan orang-orang meraih kemengan). Taqabballāh minnā wa minkum (berharap semoga Allah mengabulkan dan menerima amalan kami/kita dan amalan kalian semua). Dan selanjutnya saya memohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. Wallāhu a’lam biṣ ṣawāb
==========
- Simak penjelasan UAH pada: https://youtu.be/I6kRoKg3Wwo
- Simak penjelasan UAS pada: https://youtu.be/3mmULxRtXOU
- Simak penjelasan Buya Arrazi pada: https://youtu.be/yaRH04fnoAo
- Simak penjelasan Dr. Khalid Basalamh pada: https://youtu.be/syJulzi_YrA











