Sabtu, 07 Juni 2025

Semangat Kurban UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe: Momentum Berbagi dan Merawat Spirit Keikhlasan


Rangkang Belajar |
Lhokseumawe, 7 Juni 2025 – Dalam semangat Idul Adha 1446 H., Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe melaksanakan penyembelihan hewan kurban yang berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini menjadi momen istimewa, mengingat tahun ini merupakan tahun keenam pelaksanaan kurban di bawah nama kelembagaan baru pasca alih bentuk dari IAIN Lhokseumawe menjadi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Perubahan bentuk institusi ini berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 56 Tahun 2025 tertanggal 8 Mei 2025, yang secara resmi diterima oleh Rektor, Prof. Dr. Danial, M.Ag., pada 26 Mei 2025 di Gedung Utama Kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta. Momentum kurban pun menjadi refleksi syukur atas capaian besar ini.

Penyembelihan hewan kurban dilaksanakan pada hari kedua Idul Adha, Sabtu, 7 Juni 2025, mulai pukul 07.00 WIB di halaman Gedung Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD). Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Panitia, Nur Anwar, M.Pd., dengan Dr. Tgk. Sufian Suri, M.A. sebagai penyembelih hewan kurban, dan Amrullah sebagai anggota tim pelaksana.

Tahun ini, panitia menerima kurban dari para shahibul qurban yang terdiri dari kalangan dosen dan tenaga kependidikan kampus. Sebanyak 3 ekor sapi dan 5 ekor kambing/domba disembelih, menghasilkan 245 paket daging kurban.

Paket-paket tersebut dibagikan tidak hanya kepada shahibul qurban, tetapi juga kepada para pegawai kampus dan masyarakat sekitar, antara lain: Cleaning service (37 orang), Supir (6 orang), Security (33 orang), PPPK yang baru dilantik (24 orang), Warga Dusun Bukit Rata (10 orang), Warga Dusun Cot Rheu (10 orang), Warga Alue Awe (10 orang), Warga pedalaman Acut (15 orang), Pekerja lepas lainnya (13 orang). Penyaluran daging kurban dilaksanakan pada pukul 13.30–15.30 WIB dengan sistem tertib dan teratur.


Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah, Prof. Dr. Danial, M.Ag., yang juga merupakan salah satu shahibul qurban turut hadir dalam kegiatan tersebut. Beliau mengapresiasi semangat dan partisipasi keluarga besar kampus serta menekankan bahwa kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan media untuk mengasah kepekaan sosial dan memperkuat ukhuwah islamiyah.

Ketua Panitia, Nur Anwar, M.Pd., menambahkan harapannya agar semangat berkurban terus meningkat di tahun-tahun mendatang. “Dengan semangat kurban, kita belajar untuk ikhlas, berbagi, dan menebar manfaat bagi sesama. Kami optimis, dengan meningkatnya kesadaran dan kebersamaan, jumlah shahibul qurban akan terus bertambah. Semoga kegiatan ini menjadi ladang amal dan memperkuat nilai-nilai sosial keislaman di lingkungan UIN Sultanah Nahrasiyah,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada penyaluran daging, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang solidaritas, kepedulian sosial, dan keikhlasan dalam memberi. Di awal transformasi kampus menjadi UIN, kegiatan kurban menjadi simbol bahwa perubahan kelembagaan sejalan dengan peningkatan nilai spiritual dan sosial warga kampus.

Kurban mengajarkan bahwa kepemilikan sejati bukanlah soal harta, melainkan sejauh mana kita mampu mengurbankan sesuatu yang kita cintai untuk kemaslahatan umat. Semangat ini pula yang menggerakkan para dosen, pegawai, hingga pimpinan untuk terus menjadikan kurban sebagai tradisi bermakna yang memperkuat hubungan antarwarga kampus dan masyarakat sekitar. (Deas-Lhoks)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Senin, 10 Maret 2025

Ramadan Bulan Ilmu: Menggali Ilmu dengan Tadarrus Al-Qur’an

Oleh: Buya Mas Rahim Salaby


أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(البقرة: ١٨٤)

“Hanya dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu di hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka berpuasa) wajib membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu (dibanding dengan fidyah) jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Ramadan tidak hanya dikenal sebagai bulan penuh berkah dan ampunan, tetapi juga sebagai syahrut tarbiyah (bulan pendidikan). Selama bulan ini, umat Islam tidak hanya meningkatkan ibadah fisik seperti puasa dan salat tarawih, tetapi juga didorong untuk memperdalam ilmu dan memahami ajaran Islam lebih baik. Sejarah Islam menunjukkan bahwa beberapa peristiwa besar terkait ilmu terjadi di bulan Ramadan, seperti turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. yang menekankan "Iqra" (bacalah), yang merupakan perintah untuk belajar dan mencari ilmu.

Keutamaan Ilmu dalam Islam 
Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang menekankan pentingnya ilmu. Ramadan, sebagai bulan penuh berkah, juga menjadi momentum untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur'an. Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin sukses di dunia, hendaklah berilmu. Barang siapa yang ingin sukses di akhirat, hendaklah berilmu. Dan barang siapa yang ingin sukses di keduanya, hendaklah berilmu.” Rasulullah saw. juga bersabda: "Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Al-Qur'an membagi ilmu ke dalam tiga tingkatan utama: 1) pengetahuan yang diperoleh dari hasil nalar yang bisa disebut dengan ‘ilmul yaqīn (QS. 102: 5), 2) ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil penglihatan, penelitian, observasi yang disebut dengan ‘ainul yaqīn (QS. 102: 7), dan 3) ilmu yang diperoleh dari pengalaman pribadi yang tumbuh dari intuisi disebut haqqul yaqīn (QS. 69: 51). Di sisi lain, ada kesalahan dalam berpikir yang dapat menghambat pencarian ilmu, yaitu: 1) kesalahan mengambil dalil, 2) kesalahan pengamatan, dan 3) kesalahan intuisi.

Metode dalam Mempelajari Ilmu
Terdapat tiga metode utama dalam memperoleh ilmu: 
  1. Penalaran Deduktif dan Induktif – Mengambil kesimpulan dari hal umum ke khusus atau sebaliknya. Contohnya, dalam ilmu fikih, metode deduktif digunakan untuk menerapkan prinsip umum syariat ke dalam kasus-kasus khusus, seperti hukum jual beli. Sebaliknya, metode induktif digunakan dalam ilmu ushul fiqh dengan mengumpulkan berbagai kasus untuk menemukan prinsip umumnya.
  2. Observasi dan Eksperimen – Ilmu yang didasarkan pada pengalaman nyata dan penelitian. Contohnya, dalam ilmu hadis, semua catatan hadis diperiksa berdasarkan perawi yang meriwayatkannya. Para ulama hadis seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim menggunakan metode kritik sanad untuk memastikan apakah narasumber benar-benar seorang sahabat yang mendengar langsung dari Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, dapat dibedakan mana hadis yang sahih dan mana yang daif.
  3. Studi terhadap Gejala Alam – Memahami ayat-ayat kauniyah yang merupakan tanda kebesaran Allah dalam penciptaan. Misalnya, dalam sains, penelitian tentang air sebagai sumber kehidupan sesuai dengan firman Allah dalam QS. 21: 30: "Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air". Penelitian ilmiah tentang siklus air, hujan, dan ekosistem mendukung kebenaran ayat ini. 
Karenanya, jadikan Ramadan sebagai "bulan pendidikan" (syahru at-tarbiyah), sebagai "Pesantren Kilat" bagi remaja-remaja Islam agar mereka berkesempatan menimba ilmu-ilmu Al-Qur'an.


Pentingnya Tadarrus Al-Qur'an: Lebih dari Sekadar Membaca
Tadarrus Al-Qur’an di bulan Ramadan tidak boleh hanya sebatas membaca, tetapi juga harus mencakup pemahaman dan penerapan. Al-Qur’an mengandung berbagai ilmu yang mencakup berbagai disiplin, di antaranya:
  1. Kosmologi, tentang keajaiban ciptaan Allah: QS. 2: 255, QS. 57: 4-5, QS. 4: 11, 12, QS. 65: 12, QS. 71: 15-16, QS. 23: 17, QS. 7: 54, QS. 13: 2, QS. 13: 15, QS. 50: 38, QS. 10: 5, QS. 6: 97, QS. 71: 15-16.
  2. Astronomi, ilmu pengetahuan mengenai benda-benda langit tentang gerak, pengembangan, dan sifat-sifatnya: QS. 50: 6, QS. 13: 2, QS. 79: 28, QS. 31: 10, QS. 55: 7, QS. 6: 97, QS. 36: 38-40, QS. 10: 5-6, QS. 37: 6, QS. 82: 1-2.
  3. Fisika/Metafisika, ilmu pengetahuan tentang alam yang konkret atau pun yang abstrak. Tentang cahaya: QS. 24: 35, QS. 25: 61, QS. 66: 8, QS. 2: 17, QS. 2: 20. Tentang keajaiban penglihatan: QS. 33: 19, QS. 8: 44, QS. 5: 83, QS. 9: 92. Tentang jarak dengan perhitungn tahun cahaya: QS. 32: 5, QS. 22: 47. Tentang periodisasi alam yang jutaan tahun disebut dengan hari: QS. 32: 4-5, QS. 50: 38. Tentang perubahan perasaan tentang ukuran waktu di akhirat: QS. 2: 259, QS. 23: 112-114, QS. 18: 19. Tentang dimensi mikroskopis dalam waktu: QS. 16: 77, QS. 54: 50, QS. 50: 16, QS. 56: 85, QS. 27: 38-40. Tentang bayang-bayang: QS. 16: 48, QS. 25: 45, QS. 13: 15, 35. Tentang panas, pelajari: QS. 56: 71-73, QS. 20: 10, QS. 36: 80, QS. 27: 7, QS. 35: 21. Tentang listrik: QS. 2: 19,20, QS. 13: 12,13. Tentang suara: QS. 18: 26, QS. 34: 50. Tentang makhluk yang berasal dari api: QS. 15: 27, QS. 55: 15.
  4. Ilmu Hitung/Matematika: QS. 18: 11, 12, 19, 22, QS. 19: 84, QS. 4: 7, 11, 12, 176.
  5. Sejarah/Anthropologi: QS. 7: 100-102, QS. 3: 137, QS. 6: 6, QS. 9: 70, QS. 14: 9, QS.  25: 37-38, QS. 4: 1, QS. 30: 22. 
  6. Geografi/Geologi: QS. 27: 61, QS. 16: 15, QS. 50: 7-11, QS. 27: 61, QS. 79: 30-33, QS. 16: 15, QS. 51: 48, QS. 71: 19, 20.
  7. Biologi:  QS. 27: 60, QS. 16: 10, QS. 6: 99, QS. 35: 28, QS. 36: 71-72.
  8. Embriologi:  QS. 23: 12-14, QS. 35: 11, QS. 56: 57-65, QS. 71: 14, QS. 86: 6-7.
  9. Zoologi: QS. 24: 45, QS. 53: 45-46, QS. 6: 142-144, QS. 16: 5-9, 66, QS. 67: 19.
  10. Kelautan/Pelayaran: QS. 16: 4, QS. 10: 22, QS. 22: 65, QS. 30: 46.
  11. Mineralogi: QS. 34: 11, QS. 57: 25, QS. 76: 15-16, QS. 55: 58-59, QS. 9: 34. 
  12. Pertanian: QS. 20: 53, QS. 6: 99, QS. 22: 5, QS. 6: 141, QS. 16: 10-11, QS. 13: 4, QS. 22: 5, QS. 26: 7-8.
  13. Ekonomi/Perdagangan: QS. 28: 77, QS. 2: 198, 261, 265, QS. 24: 37, QS. 62: 10, QS. 67: 15, QS. 71: 19-20.
  14. Arkeologi: QS. 7: 74, QS. 22: 45, QS. 26: 128-138, QS. 27: 51, 52, QS. 32: 26,  40: 82. 
  15. Sosiologi: QS.4: 1, QS. 7: 189, QS. 49: 13.
  16. Seksiologi/Perkawinan: QS. 2: 223, 231, QS. 5: 5, QS. 4: 3, 25, 34, 128, 129, QS. 30: 21.
  17. Kimia: QS. 15: 19, QS. 41: 11, QS. 51: 49, QS. 36: 36, 24: 43. 
Sebagai contoh konkret, dalam QS. Al-Mu’minun: 12-14, Allah menjelaskan secara detail tahapan penciptaan manusia dalam rahim ibu, yang kini telah terbukti secara ilmiah dalam embriologi modern. Ini menunjukkan bahwa Islam telah memberikan pengetahuan jauh sebelum sains Barat menemukannya.
Pendidikan di Bulan Ramadan: Tidak Perlu Libur
Sering kali, sekolah dan madrasah diliburkan selama bulan Ramadan. Padahal, justru di bulan ini seharusnya pendidikan semakin ditingkatkan. Beberapa negara, seperti Mesir, Turki, dan Arab Saudi, tetap menjalankan kegiatan belajar-mengajar selama Ramadan, bahkan dengan kurikulum khusus yang menyesuaikan dengan keistimewaan bulan ini.

Tidak seharusnya belajar formal di sekolah/madrasah dan perguruan tinggi harus diliburkan. Bukankah ṭalabul ‘ilmi farīḍah ‘alā kulli muslimin wa muslimah (menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimat)?, dan bukankah setiap amal kebaikan di bulan Ramadan akan mendapat ganjaran berlipat ganda?

Selain itu, dalam sejarah Islam, para ulama terdahulu memanfaatkan Ramadan sebagai waktu untuk belajar dan menulis kitab-kitab ilmiah. Imam Asy-Syafi’i, misalnya, dalam bulan Ramadan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an puluhan kali, sekaligus tetap menulis dan mengajarkan ilmunya.

Kesimpulan
Dari ayat-ayat yang tertera tentang berbagai macam ilmu pengetahuan yang dititipkan Allah melalui Al-Qur’an, mari kita mengisi waktu pada bulan Ramadan ini dengan banyak bertadarrus. Tadarrusul Qur’ān yang dimaksud bukan sekadar membacanya (qirā’ah atau tilāwah) saja sehingga ayat-ayat Allah tetap melangit (meskipun diketahui, bahwa setiap huruf yang dibaca akan diganjar sepuluh kebaikan). Sudah saatnya, kita memaknai tadarusul Qur’ān sebagai kegiatan belajar/mengkaji, menelaah, dan mendiskusikan ayat-ayat Allah yang agung sehingga ayat-ayat Allah dapat diimplementasikan dalam kehidupan (dibumikan). 

Ramadan adalah bulan penuh berkah yang tidak hanya menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga menjadi bulan pendidikan dan pencarian ilmu. Dengan meneladani para ulama dan memanfaatkan Ramadan sebagai bulan ilmu, umat Islam dapat meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam secara lebih baik.

Wallahu a'lam
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Sabtu, 01 Maret 2025

Marhaban Ya Ramadan

Oleh: Salabi, A. S.


Terlepas dari adanya perbedaan mengawali puasa Ramadan bagi umat Islam Indonesia, sepatutnya kita menyambut ṣiyām dengan suka cita. Menyambut dengan gembira penuh rasa syukur akan datangnya bulan Ramadan adalah dengan men-tarḥīb Ramadan yang biasanya diucapkan dengan: "Marhaban Ya Ramadan".

Kata tarḥīb dalam bahasa Arab berasal dari kata raḥḥaba, yuraḥḥibu, tarḥīban yang berarti 'melapangkan dada', 'menyambut dengan mesra’, ‘senang hati dan suka cita.' Dalam konteks ini, tarḥīb adalah menyambut bahagia atas datangnya bulan suci Ramadan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, marhaban mempunyai arti "selamat datang", di mana marhaban diucapkan kepada tamu untuk menggambarkan, bahwa tamu disambut dengan hati lapang penuh kegembiraan. Ra-ḥa-ba juga dapat berarti tempat perhentian musafir untuk memperbaiki kendaraan dan mengambil bekal perjalanan. Dari kedua makna tersebut dapat disimpulkan, kata marhaban mengandung nilai, bahwa bulan Ramadan adalah tamu agung yang disambut dengan kegembiraan dan lapang dada didasarkan oleh kesadaran bahwa melalui bulan ini kita dapat memperbaiki kesalahan sikap serta mengambil bekal perjalanan menuju akhirat dengan memperbanyak kesalehan.

Rasulullah saw. men-tarḥīb Ramadan, bahkan dua bulan sebelumnya. Sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik ra., ketika memasuki bulan Rajab Nabi saw. berdoa, Beliau bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadan." (HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Hal ini menjadi penting guna menanamkan kerinduan kita kepada Ramadan sekaligus sebagai upaya persiapan mental, spiritual, dan intelektual. Tanpa persiapan mental, spiritual, dan intelektual, puasa Ramadan hanya akan menjadi kegiatan ritual keagamaan tahunan tanpa makna, sebagaimana sabda Nabi saw.:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلَّا السَّهَرُ

"Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja. Berapa banyak orang yang bangun malam (Qiyām Ramadān), tidak mendapat pahala kecuali hanya begadang/bangun malam" (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Mājah). 

Dengan persiapan dan bekal yang maksimal disertai dengan hati yang gembira, akan mampu meraih sukses Ramadan secara optimal. Untuk itu, Rasulullah saw. mengkondisikan umatnya agar gembira menyambut Ramadan dengan menyampaikan keutamaan-keutamaannya, di mana Nabi saw. pernah bersabda:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

"Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Barangsiapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi (mendapatkan kebaikan di waktu lain)" (HR. Ahmad, no. 8979 dan An-Nasai, no. 2106 dan dishahihkan Syekh Albani dalam Shahih At-Targhib, IV/129).

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengomentari hadis ini dengan mengatakan: "Sebagian ulama berkata, bahwa hadis ini adalah dasar pijakan mengucapkan tahni’ah (ucapan selamat) dengan datangnya bulan Ramadan" (Lathaif Al-Ma'arif, I/490) dan saling mendoakan, seperti dengan mengucapkan: "Ramadan Mubārak atau Ramadan Karīm, semoga Allah menerima amal ibadah kita" dan yang sejenisnya.

Saat perintah puasa diturunkan (al-Baqarah: 183), hal pertama yang disampaikan Nabi saw. kepada para sahabat kala itu yang berlanjut sampai kepada kita saat ini, bahwa di dalam bulan Ramadan banyak keutamaan. Hal tersebut yang menjadikan puasa kita menjadi spesial dibanding puasa-puasa yang dilakukan orang-orang sebelum kita atau kaum lainnya. Kata aṣ-ṣiyām disebutkan sembilan kali di dalam Al-Qur’an yang memiliki arti spesifik (ada aturan, ada ketentuan yang harus diikuti). Di dalam pelaksanaan aṣ-ṣiyām yang istimewa ini terkandung hal-hal berikut:
  1. Aṣ-ṣiyāmu junnah (puasa adalah perisai) yang mampu membentengi kita dari setan. Jika puasa dilakukan dengan benar, maka akan berdampak pada terjauhnya ṣāim (orang yang berpuasa) dari godaan setan. Sehingga ia terdorong untuk melakukan amal yang saleh dan menahan diri dari amal yang salah. Kalau datang Ramadan, maka bagi “orang-orang yang berpuasa dengan benar” akan mendapatkan fadilahnya, yaitu: a) dibukakan pintu-pintu surga, b) pintu-pintu neraka ditutup, dan c) setan dibelenggu.
  2. Aṣ-ṣiyāmu lī, wa ana ajzī bihi (Allah langsung memberikan takaran pahalanya). Setiap kebaikan yang berpotensi mendatangkan pahala dilipatgandakan Allah dalam bulan Ramadan minimal sepuluh kali lipat.
  3. Hanya Ramadan yang siang dan malamnya penuh ampunan Allah. Kapan pun setiap muslim bisa meminta ampunan Allah, namun ada waktu-waktu yang strategis (seperti, 1/3 malam, di antara azan dan iqamah, dll.) dan tempat-tempat yang efektif (seperti: mihrab, masjid, dll.), yang mana setiap doa seorang muslim sangat cepat dikabulkan. Dan Ramadan menggabungkan kedua dimensi tersebut (siang dan malamnya).
Begitu agungnya bulan Ramadan sehingga banyak ungkapan-ungkapan yang mampu merepresentasikan rasa kegembiraan dan kerinduan dalam menyambutnya. Termasuk ungkapan di dalam beberapa bait lirik lagu-lagu yang indah menggugah jiwa berikut:

“Kumenantimu saban waktu, bangkit jiwaku. Kau suluh hatiku dengan sinar kudus kasihmu. Kuharapkan terus bersamamu, selamanya. Ramadan... Ramadan... Ramadan di hati”
Ramadan... Ramadan kumohon usah pergi” (Maher zain, http://smarturl.it/MaherZainChannel).

“Ramadan datang alam pun riang menyambut bulan yang berkah. Umat berdendang kumandang azan pertanda hati yang senang” (Tompi, https://www.youtube.com/watch?v=cgJTpIAzBt0). 

“Ramadan tiba semua bahagia. Tua dan muda bersuka cita. Bulan ampunan, bulan yang berkah, bulan terbebas api neraka. Andaikan saja Ramadan semua bulan yang tiba, bulan yang ada, karena besarnya setiap pahala yang dijanjikan kepada kita” (Opik, https://www.youtube.com/watch?v=pWn1lz4qvH0). 

Lirik yang terdapat di dalam lagu pun bukan sekadar menjadi karya tapi mampu menjadi nasihat, yang menginspirasi dan memiliki nilai tambah bagi yang mendengar. Di dalam musik/nada ada rasa, maka lirik yang sarat dengan nasihat dan hikmah kemudian disampaikan sehingga menyentuh rasa, membuka ruang muhasabah bagi si pendengar untuk merenung mengambil hikmah, akan menjadi berkah dan pahala bagi penciptanya. "Marhaban ya Ramadan". 

Wallāhu a’lam biṣṣawāb

Referensi:
  1. Widya Lisfianti. Arti Marhaban Ya Ramadhan. https://www.tribunnews.com/nasional/2022/03/29/arti-marhaban-ya-ramadhan-lebih-dari-sekedar-selamat-datang.
  2. Ahmad Kusyairi Suhail. Sambut Ramadhan dengan Suka Cita; Marhaban ya Ramadhan. https://news.detik.com/kolom/d-6013010/sambut-ramadhan-dengan-suka-cita-marhaban-ya-ramadhan.
  3. https://www.youtube.com/watch?v=GU59no0BBrw.
  4. http://smarturl.it/MaherZainChannel.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=cgJTpIAzBt0.
  6. https://www.youtube.com/watch?v=pWn1lz4qvH0.
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Sabtu, 11 Januari 2025

Fungsi Iḥtiyāṭ dalam Penyusunan Jadwal Salat Digital

(Ketua Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe)
 

Pendahuluan 

Jadwal salat adalah kebutuhan primer umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat tepat waktu. Mengetahui waktu masuk salat menjadi syarat sahnya ibadah tersebut, dan salat yang dilakukan tanpa memastikan waktunya tidak sah menurut syariat. Salah satu cara praktis untuk mengetahui waktu salat adalah dengan menggunakan jadwal salat yang tersedia. 

Saat ini, terdapat dua jenis jadwal salat yang umum digunakan, yaitu manual dan digital. Jadwal salat manual berupa jadwal salat yang biasanya disusun sepanjang masa, dicetak dan ditempel di dinding masjid, musala, dan tempat ibadah lainnya. Sedangkan jadwal salat digital disusun berbasis pemograman digital kemudian ditampilkan dalam bentuk media digital, baik dalam bentuk aplikasi maupun dalam bentuk media digital lainnya seperti papan media running text dan televisi.   Keduanya memiliki peran penting, tetapi era digital membawa tantangan baru dalam penyusunan jadwal salat, terutama terkait akurasi dan penerapan konsep iḥtiyāṭ (kehati-hatian). 

Jadwal Salat Digital

Di era revolusi industri 4.0, jadwal salat digital semakin marak seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses data dalam bentuk digital. Jadwal salat digital adalah jadwal waktu salat yang dirancang untuk rentang waktu tertentu, bahkan berlaku sepanjang masa, yang disajikan melalui media digital seperti aplikasi, website, atau perangkat elektronik lainnya. Saat ini, banyak masjid dan musala telah beralih menggunakan jadwal salat digital, meskipun sebagian tetap mempertahankan jadwal manual. 

Penggunaan aplikasi jadwal salat pada smartphone semakin populer di kalangan masyarakat. Dengan aplikasi tersebut, pengguna dapat mengetahui jadwal salat di mana pun berada. Bahkan tanpa aplikasi khusus, jadwal salat dapat diakses dengan mudah melalui mesin pencari seperti Google, cukup dengan mengetikkan lokasi dan waktu yang diinginkan. Kemudahan ini membuat jadwal salat digital menjadi alat yang praktis bagi umat Islam.

Namun, metode penyusunan jadwal salat digital dapat bervariasi tergantung pada kombinasi antara komponen astronomi dan teknologi digital. Sebagian platform menggunakan titik koordinat geografis manual, sementara lainnya mengandalkan titik koordinat perangkat keras yang diperoleh melalui aplikasi seperti Google Maps. Perbedaan ini dapat menyebabkan variasi jadwal salat, meskipun berada di wilayah yang sama, karena faktor koordinat memengaruhi akurasi hasil perhitungan.

Selain itu, jadwal salat digital juga berbeda dalam metode pengaturan waktu. Ada yang menggunakan jam manual, dan ada pula yang otomatis terhubung dengan internet atau sistem Global Positioning System (GPS). Perbedaan hasil jadwal salat sering kali dipengaruhi oleh penerapan konsep iḥtiyāṭ. Beberapa platform tidak secara otomatis menambahkan nilai iḥtiyāṭ, sehingga pengguna perlu menyesuaikannya secara manual. Sebaliknya, ada juga platform yang sudah menerapkan nilai iḥtiyāṭ sebesar dua menit sebagai standar.

Variasi dalam metode penyusunan ini dapat terlihat pada hasil akhir jadwal salat yang ditampilkan. Ketika beberapa jadwal salat digital dibandingkan, perbedaan waktu biasanya hanya berkisar antara satu hingga dua menit. Hal ini menuntut pengguna untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan jadwal salat digital agar sesuai dengan kebutuhan dan standar yang berlaku. 

Iḥtiyāṭ dalam Penyusunan Jadwal Salat

Konsep iḥtiyāṭ tidak dapat diabaikan dalam penyusunan jadwal salat, baik manual maupun digital. Iḥtiyāṭ berfungsi sebagai pengaman dan penentu radius pemberlakuan jadwal salat. Setiap jadwal salat disusun berdasarkan titik koordinat tertentu dan diberlakukan dalam radius tertentu yang ditentukan oleh nilai iḥtiyāṭ yang digunakan. Secara sederhana, iḥtiyāṭ adalah tindakan menambahkan atau mengurangi beberapa menit dari hasil perhitungan waktu salat untuk memastikan keakuratan waktu. Dalam buku Saku Hisab Rukyat yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, dijelaskan bahwa nilai iḥtiyāṭ dilakukan setelah pembulatan detik menjadi satu menit, lalu ditambahkan: untuk salat Zuhur 3 menit, dan untuk salat Asar, Magrib, Isya, serta Subuh 2 menit. 

Khusus untuk Zuhur, nilai iḥtiyāṭ tiga menit mencakup satu menit untuk pergeseran pusat piringan matahari dari garis kulminasi ke zawal, sehingga nilai dua menit berlaku seragam untuk semua waktu salat lainnya. Sebagai contoh, jika waktu Zuhur di Lhokseumawe berdasarkan perhitungan adalah pukul 12.30.27 WIB, maka setelah pembulatan detik dan penambahan iḥtiyāṭ, waktu tersebut menjadi pukul 12.34 WIB. Begitu pula dengan Magrib, yang misalnya pukul 18.30.27 WIB, akan menjadi pukul 18.33 WIB setelah pembulatan dan penambahan iḥtiyāṭ.

Tujuan utama dari pemberian nilai iḥtiyāṭ ada dua hal: 1) Pengamanan: agar hasil perhitungan dapat digunakan dalam jangka waktu lama meskipun terjadi perubahan data astronomis, seperti deklinasi matahari dan equation of time, dalam siklus empat tahun. 2) Radius pemberlakuan, di mana nilai iḥtiyāṭ menentukan seberapa luas jadwal salat berlaku di wilayah sekitar titik koordinat perhitungan.

Sebagai ilustrasi, jika jadwal salat disusun berdasarkan Masjid Islamic Center Kota Lhokseumawe, maka nilai iḥtiyāṭ dua menit memungkinkan jadwal tersebut berlaku dalam radius 54 kilometer. Namun, sebagian dari nilai ini digunakan untuk pengamanan, sehingga radius efektifnya adalah sekitar 50 kilometer.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Penggunaan iḥtiyāṭ dalam penyusunan jadwal salat, baik manual maupun digital, sangat penting untuk memastikan akurasi dan keamanan waktu ibadah. Berikut adalah beberapa rekomendasi:

  1. Pilih platform terpercaya: Gunakan aplikasi jadwal salat yang sudah menerapkan nilai iḥtiyāṭ, seperti aplikasi resmi Kementerian Agama.
  2. Konsultasikan dengan ahli falak: Untuk keperluan publik seperti masjid atau siaran radio, pastikan jadwal salat digital disusun berdasarkan standar yang berlaku.
  3. Pahami konsep iḥtiyāṭ: Masyarakat perlu memahami pentingnya tambahan waktu ini untuk memastikan ibadah yang sesuai syariat.

Dengan memahami dan menerapkan konsep iḥtiyāṭ, umat Islam dapat lebih yakin dan aman dalam menggunakan jadwal salat digital serta memanfaatkan teknologi secara optimal untuk mendukung pelaksanaan ibadah.


Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 26 April 2024

Merekat Silaturahmi melalui Balai Pengajian Perum. Firya Lientas

Rangkang Belajar | Setiap malam Jumat, kaum Bapak warga perumahan Firya lientas Jl. Elak, Alue Awe, Muara Dua, Lhokseumawe berkumpul untuk mengadakan pengajian kitab rutin. Pengajian ini tidak hanya menjadi sarana untuk mencari berkah ilmu, tetapi juga menjadi wadah penting untuk merekat silaturahmi di antara warga kompleks.

Pengajian rutin dengan pendalaman permasalahan fikih dari Kitab "Sabīlul Muhtadīn" karangan Muhammad Rasyid Abdullah Al-Banjari dipandu oleh Tengku Dr. Munadi, M.A. Dosen IAIN Lhokseumawe yang juga merupakan warga Perum. Firya Lientas. Ini menunjukkan bahwa kegiatan pengajian benar-benar menjadi milik bersama bagi seluruh warga kompleks. 

Semangat kajian kitab menjadi semakin kuat karena mayoritas warga kompleks memiliki kesibukan sendiri-sendiri, sehingga momen pertemuan seminggu sekali ini menjadi sangat berarti untuk menjaga dan mempererat tali persaudaraan di antara warga komplek perumahan.

Dalam suasana yang penuh kehangatan, selain berdiskusi terkait permasalahan fikih, kaum bapak peserta pengajian dapat saling bertukar informasi, berbagi cerita, dan saling memberikan dukungan moral. Dalam konteks yang lebih luas, pengajian kitab rutin ini juga memiliki dampak yang positif dalam memperkuat identitas keislaman warga kompleks. Mereka tidak hanya belajar tentang agama, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Pengajian ini juga menjadi ajang untuk menjaga tradisi dan budaya lokal yang kental dalam kehidupan masyarakat Aceh. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi media yang kuat untuk membangun hubungan sosial yang harmonis dan erat di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan modern. (Deas-Lhoks)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 19 Maret 2024

Ramadan Bulan Sehat

Oleh: Buya Mas Rahim Salaby (Allah Yarham)

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“. Atas dasar Firman ini, maka hukum puasa adalah wajib bagi setiap muslim, kecuali perempuan yang sedang berhalangan (haid) atau orang sakit, dan musafir (orang yang dalam perjalanan). 

Bagi mereka yang berhalangan berpuasa karena sakit atau musafir, maka wajib mengganti di hari yang lain di luar bulan Ramadan dan bagi yang tak sanggup berpuasa karena terlalu tua atau sakit berkepanjangan, Allah memberi keringanan dengan “membayar fidyah”. وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ, puasanya tak perlu diganti.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasul bersabda: “Berpuasalah kalian, kalian akan sehat” (hadis diriwayatkan Aṭ-Ṭabrani dalam Mu’jam al-Awsaṭ), begitulah setidaknya terjemahan bebas dari hadis Rasul berikut: 

قال رسول الله صلعم : صوموا تصحوا   
Secara zahir, puasa itu menahan diri dari makan dan minum dan dari segala yang membatalkan puasa. Memang tubuh kita butuh dengan makanan dan minuman. Kalau kita merujuk kepada Rasulullah tentang makan dan minum, beliau bersabda:

حسب ابن ادم لقيمات يقمن صلبه فان كان ولا بد فثلث للطعام وثلث للماء وثلث للتنفس

“Cukuplah untuk anak Adam (Manusia) beberapa suap makanan untuk mengkuatkan tulang sulbinya (mengkuatkan tubuhnya). Maka dari itu jangan congok (rakus). (Isilah perut) sepertiga untuk makanan, sepertiganya untuk minuman dan sepertiganya untuk bernafas”

Terkait makanan, menegaskan hadis di atas, Allah telah berfirman dalam QS. 16/An-Nahl: 114: ”Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah." Pada surah lainnya (QS. 7/Al-A’raf: 31) Allah berfirman: ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Hadis dan ayat di atas mengandung amar yang menyuruh kita untuk mengkonsumsi makanan atau minuman sebagai berikut: 
  1. Makanan atau minuman yang halal dan baik (ṭayyib), karena tidak semua makanan yang halal itu pasti ṭayyib. Daging kambing adalah makanan halal tapi, pada bagian-bagian tertentu tidak ṭayyib bagi pengidap darah tinggi. Bumbu penyedap dan pengawet halal dimakan, tapi tidak ṭayyib bagi kebanyakan orang walaupun dia dalam keadaan sehat. 
  2. Tubuh memerlukan keseimbangan nutrisi, tapi kebanyakan kita malah mengutamakan selera, enak, sedap, nikmat, sehingga dapat merusak keseimbangan nutrisi tubuh yang menyebabkan munculnya penyakit. Karenanya, Nabi berpesan: “Berpuasalah supaya sehat.”
  3. Makan dan minum secukup kebutuhan tubuh, tidak boleh berlebihan. Karenanya, kita perlu memperhatikan bahwa tubuh kita membutuhkan nutrisi yang seimbang, yaitu:
  • air: 57% (mengatur panas dan suhu badan serta merupakan sumber makanan),
  • protein: 20% (materi penyusun organ tubuh, otot, darah dan rambut),
  • lemak: 15% (sumber energi tertinggi),
  • karbohidrat: 2% (tenaga, membantu pencernaan, mengasimilasi makanan),
  • vitamin: 1% (penting untuk metabolisme dan makanan secara normal), dan
  • mineral: 5% (mitra vitamin merupakan listrik tubuh).
Pada surah lainnya (QS.2/al-Baqarah: 60), Allah kembali menegaskan: ”... Makan dan minumlah kamu dengan rezeki (yang diberikan) Allah, dan  janganlah kamu berkeliaran di muka bumi untuk berbuat kerusakan.

Makan dan minumlah yang halal dan ṭayyib, jangan dimakan atau diminum makanan/minuman yang membuat orang menjadi fasad (rusak) seperti minuman keras, ganja, morfin, dan yang sejenis lainnya. Makanan yang mengandung kimia juga tidak ṭayyib dan semestinya harus dihindari juga.

Baca juga: "Ramadan Bulan Ilmu"

Adanya informasi tentang berkah Ramadan, salah satunya adalah berkah sehat tidak diragukan lagi oleh para ahli medis. Dengan berpuasa kadar gula di dalam darah menurun, itulah sebabnya kalau orang berpuasa merasa agak lemas, kurang bertenaga, dan setelah berbuka baru terasa energi bertambah. Kaum muslimin yang mengidap diabetes akan bertambah sehat dengan berpuasa, yang tensinya tinggi dengan puasa akan turun tensinya. Tapi kalau berbuka dengan cara yang tidak mengikut sunah, bukannnya bertambah tenaga atau bertambah sehat, malah bertambah sesak karena makanan terlalu padat dalam lambung sampai naik ke rongga dada. Kalau sudah begini, mau rukuk pun terasa sesak, apalagi sujud. Maka Nabi kita menasihatkan: ”Makanlah sekadar cukup menguatkan fisik, karena itu isilah perut sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya kosongkan untuk nafas.” Namun fakta yang terjadi dan tidak dapat dipungkiri, sepanjang Ramadan banyak tersedia menu berbuka baik yang diolah sendiri maupun yang dijual bebas dan dengan mudah didapat di sepanjang jalan menjelang waktu berbuka yang tak mampu membendung selera. 

Banyaknya varian jajanan tak mampu membendung selera dan hasrat ingin “membalas dendam” saat berbuka nantinya. Sehingga banyak jajanan yang di luar standar sehat pun juga dilahap. Mulai dari jenis gorengan, kue-kue dan makanan ringan lain, serta berbagai jenis minuman mulai dari air sirup, teh manis, minuman besoda, jus manis, minuman berkarbonasi, dan kopi pun siap memanjakan dahaga yang tertahan sepanjang hari. Alhasil kebutuhan tubuh untuk makan dan minum diasup melebihi kuota kemampuan yang bisa saja mendatangkan dampak negatif bagi tubuh. Bukan sehat yang didapat, tapi malah sakit karena tak mampu menahan selera makan. Maka sungguh sangat menyedihkan, umat Islam yang mengamalkan perintah puasa malah lebih banyak sakit-sakitan akibat pola makan yang tak menentu atau karena makanan dan minuman yang tidak ṭayyib.

Wallahu a'lam
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 05 Mei 2022

Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Oleh: Salabi, A. S.

Ucapan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn" telah menjadi budaya bahasa yang kerap disampaikan, baik secara tulisan maupun lisan pada akhir Ramadan hingga masuk bulan Syawal (Idul Fitri) setiap tahunnya. Meskipun kalimat tersebut sudah membudaya, ternyata masih banyak yang tidak memahami makna kalimat yang disampaikan tersebut secara pasti.


Sebagai tenaga pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi, mengawali pertemuan pertama pasca libur Idul Fitri, saya selalu menyampaikan: “Minal ‘ā'idīn wal Fā’izīn, Taqabbalallāh Minnā wa Minkum, Mohon Maaf Lahir dan Batin”, yang langsung dijawab oleh peserta didik dengan: “sama-sama Pak, dan seterusnya.

Saat saya menggali sejauh mana pemahaman para peserta didik dengan ungkapan tersebut dengan mengajukan pertanyaan: “Siapa yang tahu arti “Minal ‘ā'idīn wal Fā’izīn"Tidak sedikit yang langsung menyambar pertanyaan mudah ini dengan jawaban "Mohon maaf lahir dan batin". OK, jawab saya sambil tersenyum.

Secara acak saya menunjuk dua sampai tiga orang mahasiswa untuk kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Dan jawaban yang saya terima tidak berbeda dengan jawaban yang dilontarkan secara berjamaah sebelumnya. Begitu juga saat pertanyaan tersebut saya ajukan di unit/kelas lainnya, maka hasil jawaban tetap sama, bahwa minal ‘ā'idīn wal fā’izīn artinya adalah mohon maaf lahir dan batin. Demikianlah setiap tahun survey kecil-kecilan tersebut saya lakukan dalam mengawali pembelajaran pasca Idul Fitri.

Berikutnya saya mengajak para peserta didik untuk mengartikan satu per satu kata yang diadaptasi dari bahasa Arab tersebut:

من  (min)                = dari, termasuk, tergolong.

العائدين (al-‘ā'idīn)  = orang-orang yang kembali

و (wa)                    = dan

الفائزين (al-fā’izīn)  = orang-orang yang menang

Saya juga menyampaikan pendapat-pendapat dari para Ustaz populer tanah air sebagai berikut:

  1. Ustaz Hadi Hidayat [1]; Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan dan dibudayakan, maka saat masuk hari ‘īd para sahabat, ulama, salafu-ṣāli saling menyelamati dalam kebaikan dengan ucapan “Taqabballāh minnā wa minkum", semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian semua ibadah yang telah ditunaikan (diterima Allah ibadah puasa dan amalan selama Ramadan). Adapun kalimat “Minal ‘ā'idīn wal fā’izīnmuncul pada masa-masa belakangan, khususnya orang-orang Indonesia, yang berarti ‘semoga kita termasuk orang yang kembali (kepada fitrah) dan beruntung’. Dari sisi makna, keduanya mengandung doa kebaikan, maka dalam hal ini tidaklah menjadi permasalahan yang harus diperdebatkan apatah ucapan ini tergolong bid’ah atau makruh.
  2. Ustaz Abdul Somad [2]; Ungkapan ‘mohon maaf lahir dan batin adalah tradisi kita. Di beberapa negara, seperti Sudan, Maroko tidak ada tradisi meminta maaf pada hari raya Idul Fitri. Namun tradisi ini adalah tradisi yang baik, karenanya ucapan yang dianjurkan dalam Islam adalah berbentuk doa ‘Taqabballāh minnā wa minkum ṣālial a’māl’, semoga Allah menerima amal salih kita/kami dan amal salih kalian semua (terutama amal-amal yang dikerjakan saat Ramadan). Adapun kalimat ‘minal ‘ā'idīn diambil dari kata Idul Fitri yang berarti kembali ke fitrah (kata Abu Hurairah, yaitu firatul Islām) sedangkan ‘wal fā’izīn’ berarti semoga kita menang (diambil dari ayat "Inna lilmuttaqīna mafāzan/sesungguhnya orang yang takwa itu menang). Jadi, ungkapan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn” jangan sampai di-bid’ah-kan, meskipun Nabi tidak melakukan itu. 
  3. Buya Arrazi Hasyim [3]; Dalam riwayat Imam Albaihaqi, persoalan ini dikumpulkan dalam ragam lafal. Ditemukan ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah setelah menyelesaikan suatu ibadah:taqabballāh minnā wa minkum". Lantas Rasul menyatakan bahwa itu adalah amalan ahlul kitab, wa karihahu (maka Nabi tidak menyukainya). Berdasarkan ini, ulama kita memakruhkan taqabbalallāh minnā wa minkum. Namun ditemukan lagi dalam riwayat yang sama (Imam al-Baihaqi dalam Kitab Sunan al-Kubrā), ternyata Beliau punya riwayat lain dari amalan ulama salafu-ṣāli, yaitu khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau pernah didatangi oleh seorang mantan budaknya yang bernama Adham dan berkata:taqabballāh minnā wa minkum yā Amīral Muminīn. Amīral Muminīn merespon dengan: "na’am, taqabballāh minnā wa minkum", semoga Allah menerima dari kami (amalan kami) dan dari kalian (amalan kalian). Doa ini sangat bagus, maka berdasarkan itu Umar bin Abdul Aziz tidak mempermasalahkan kalimat itu.
  4. Ustaz Khalid Basalamah [4]; Hukum mengucapkan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn" tidak masuk dalam kategori bid’ah. Kecuali orang yang mengucapkan menganggap kalimat tersebut adalah bagian yang harus diucapkan (bagian dari ibadah di Idul Fitri). Kalau diucapkan sebagai bentuk doa umumnya, maka boleh saja.

Dari penjelasan keempat tokoh agama masyhur di atas teranglah, bahwa ucapan "Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn" merupakan budaya bahasa yang baik untuk diucapkan dan disampaikan sebagai doa serta pengharapan antar-sesama muslim yang telah melaksanakan ibadah puasa dengan benar selama Ramadan.

Minal ‘ā'idīn wal fā’izīn (semoga kita tergolong orang-orang yang kembali kepada fitrah dan orang-orang meraih kemengan). Taqabballāh minnā wa minkum (berharap semoga Allah mengabulkan dan menerima amalan kami/kita dan amalan kalian semua). Dan selanjutnya saya memohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. Wallāhu a’lam biṣ ṣawāb

==========

  1. Simak penjelasan UAH pada: https://youtu.be/I6kRoKg3Wwo
  2. Simak penjelasan UAS pada: https://youtu.be/3mmULxRtXOU
  3. Simak penjelasan Buya Arrazi pada: https://youtu.be/yaRH04fnoAo
  4. Simak penjelasan Dr. Khalid Basalamh pada: https://youtu.be/syJulzi_YrA
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect