Minggu, 24 Agustus 2025

Biar Tekor Asal Kesohor: Antara Kebutuhan Menjaga Citra dan Pentingnya Bersikap Realistis


Oleh: Salabi, A.S. (Dosen Pascasarjana UIN-SUNA Lhokseumawe)

"Kesohoran sejati tidak datang dari sikap yang memaksakan diri, melainkan dari konsistensi menjaga nilai kejujuran, kesederhanaan, dan ketulusan"

Dalam masyarakat kita ada satu ungkapan yang cukup populer: “biar tekor asalkan kesohor.” Ungkapan ini lahir dari realitas sosial, di mana seseorang atau kelompok rela merugi secara materi demi menjaga citra, kebanggaan, atau agar dianggap terpandang oleh orang lain.

Jika ditarik pada sisi positif, sikap ini mencerminkan budaya luhur yang sangat menghargai tamu dan sahabat. Tuan rumah sering kali berupaya sebaik mungkin menjamu, menyediakan hidangan, bahkan terkadang memaksakan diri agar tamu merasa dihormati. Dalam konteks ini, “biar tekor asalkan kesohor” sesungguhnya adalah wujud keramahtamahan, keinginan untuk menjaga nama baik, sekaligus strategi memperluas jejaring sosial. Citra baik memang tidak ternilai, dan dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi gotong-royong serta silaturahmi, hal itu bisa menjadi investasi sosial jangka panjang.

Namun, di sisi lain, fenomena ini ibarat lilin yang rela membakar diri demi memberi cahaya pada sekitarnya. Gengsi dan citra kadang membuat seseorang mengabaikan kemampuan diri. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam sikap konsumtif, menguras tabungan, bahkan berutang, hanya demi menjaga penampilan atau status sosial. Jika dibiarkan, budaya ini bisa menjadi beban, bukan lagi kebanggaan.

Fenomena ini kian terasa nyata di era media sosial. Demi terlihat sempurna di Instagram atau TikTok, banyak orang rela mengeluarkan biaya besar: berwisata ke tempat yang sedang tren meski harus berhutang, membeli barang bermerek walau cicilannya menyesakkan, atau memesan makanan mewah semata-mata agar bisa dipamerkan dalam feed yang estetik. Di balik foto-foto indah yang penuh senyum, sering tersembunyi keresahan finansial yang nyata. Sekali lagi, tekor demi kesohor.

Padahal, jika direnungkan, kesan di media sosial bersifat semu dan sementara. Hari ini ramai dibicarakan, besok sudah tenggelam oleh unggahan baru. Sementara dampak ekonomi akibat memaksakan diri bisa berlangsung lama. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana manusia sering terjebak dalam jebakan citra, lupa bahwa yang lebih penting dari sekadar tampil hebat adalah hidup dengan tenang dan apa adanya.

“Biar tekor asalkan kesohor” mengajarkan kita tentang tarik-menarik antara kebutuhan menjaga citra dan pentingnya bersikap realistis. Kita memang diajarkan untuk berbuat baik  kepada tamu dan menghormati, serta menjaga harga diri. Tetapi kebaikan tidak harus diukur dari seberapa besar pengeluaran. Ketulusan, kehangatan, dan sikap menghargai jauh lebih bermakna ketimbang sekadar kemewahan jamuan atau unggahan "wah" di dunia maya.

Pada akhirnya, kesohoran sejati tidak datang dari sikap yang memaksakan diri, melainkan dari konsistensi menjaga nilai kejujuran, kesederhanaan, dan ketulusan. Jika tidak, kita hanya akan menjadi lilin yang habis dalam proses, tanpa menyisakan apa-apa bagi diri sendiri.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 18 Juli 2025

Blended Learning dan Identitas Islami: Menjawab Tantangan Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe

Oleh: Salabi, A. S. (Dosen Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

"Blended learning di Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe adalah fleksibilitas yang bukan berarti menurunkan kualitas, tetapi justru membuka akses pada pengalaman belajar yang lebih luas 
dan mendalam"

Dunia pendidikan tinggi, khususnya di tingkat pascasarjana, kini berada dalam titik persimpangan: antara tradisi akademik yang mapan dan tuntutan fleksibilitas zaman. Kita dihadapkan pada perubahan gaya hidup mahasiswa pascasarjana yang mayoritas sudah bekerja, pesatnya transformasi digital, dan kebutuhan akan model pembelajaran yang tidak hanya efisien, tetapi juga tetap bermakna.

Sebagai bagian dari Universitass Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, sebuah kampus Islam negeri di Aceh, saya menyaksikan sendiri bagaimana Pascasarjana merespons tantangan tersebut secara progresif. Salah satu langkah visioner yang akan dikembangkan - "walau pun sedikt terlambat" - adalah penerapan sistem blended learning dengan komposisi 50% daring dan 50% luring pada TA. 2025/2026, sebuah pendekatan yang menurut saya sangat relevan untuk konteks pendidikan pascasarjana masa kini.

Mengapa Blended Learning?
Pertama, blended learning adalah jawaban paling nyata atas kebutuhan fleksibilitas mahasiswa pascasarjana. Sebagian besar mahasiswa kami adalah ASN, dosen, guru, Polri, Teungku Dayah, serta profesional dari berbagai sektor. Mereka ingin melanjutkan studi tanpa harus mengorbankan profesi atau peran sosial mereka. Sistem blended learning menjembatani kebutuhan itu, dengan tetap menjaga intensitas dan kualitas akademik.

Kedua, blended learning bukan sekadar solusi teknis, melainkan bentuk adaptasi kampus terhadap perubahan zaman. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa dunia digital telah mengubah cara kita bekerja, belajar, bahkan berpikir. Namun, pendidikan tetap membutuhkan ruang-ruang tatap muka untuk diskusi ilmiah, pembangunan karakter, dan transfer nilai yang lebih dalam. Kombinasi antara daring dan luring memungkinkan keduanya berjalan beriringan.

Ketiga, yang tidak kalah penting, identitas keislaman kampus tetap menjadi ruh dalam sistem ini. Blended learning di Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe bukan semata soal efisiensi, melainkan juga medium untuk membentuk kepribadian islami, menanamkan nilai-nilai integritas, dan membangun kepekaan sosial.

Dari Aspirasi Mahasiswa ke Arah Kebijakan Inovatif
Gagasan ini bukan hadir secara tiba-tiba. Ia lahir dari berbagai diskusi hangat bersama mahasiswa aktif dan alumni, yang sebagian besar mengungkapkan kebutuhan akan fleksibilitas yang lebih baik. Sebelumnya, model perkuliahan yang diterapkan adalah 60% tatap muka dan 40% non-tatap muka. Namun, sistem itu belum sepenuhnya menjawab dinamika waktu mahasiswa, karena penjadwalan sesi daring cenderung tidak serentak dan sering menyulitkan penyesuaian.

Kini, dengan mencanangkan skema perkuliahan daring sebesar 50% secara lebih terstruktur dan terencana, diharapkan kualitas tidak dikorbankan, namun justru diperkuat. Model ini adalah bentuk keberpihakan kampus terhadap mahasiswa yang ingin terus belajar tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional mereka.

Dukungan Fasilitas dan Citra Kampus Islam Modern
Sebagai dosen di lingkungan Pascasarjana, saya menyaksikan sendiri bahwa sistem ini akan berjalan efektif karena didukung oleh fasilitas digital yang memadai. Ruang kuliah telah berbasis multimedia, sistem informasi akademik terintegrasi secara online, dan lokasi kampus yang strategis di pinggir jalan lintas nasional, membuatnya mudah diakses dari berbagai arah.

Soal pembiayaan? Sangat rasional. Biaya kuliah berkisar Rp 5 juta untuk program Magister dan Rp 8 juta untuk program Doktor per semester, menjadikannya pilihan yang sangat terjangkau bagi kalangan profesional.

Menghadirkan Dosen Nasional dan Internasional Lewat Perkuliahan Daring
Blended learning semakin istimewa karena Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe mampu menghadirkan dosen-dosen tamu berskala nasional dan internasional melalui perkuliahan daring. Mahasiswa Pascasarjana kini dapat berdialog langsung dengan para pakar dari dalam dan luar negeri, tanpa harus meninggalkan kota tempat tinggal atau tempat kerja mereka.

Beberapa di antaranya termasuk: Prof. Dr. Alparslan Açikgenç dari Ibn Haldun University Turki, Prof. Dr. Irwan Abdullah dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Imam Fuadi dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Lailatul Usriyah dari UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Azharsyah dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Ismail Fahmi Arrauf Nasution - Rektor IAIN Langsa, dan tentu masih banyak tokoh akademik lainnya yang telah mengisi kuliah di berbagai program studi seperti Magister Komunikasi Penyiaran Islam, Magister Manajemen Pendidikan Islam, Magister Pendidikan Agama Islam, Magister Hukum Keluarga Islam, Magister Ekonomi Syariah, hingga Program Doktor Studi Islam. Ini adalah bukti nyata bahwa fleksibilitas bukan berarti menurunkan kualitas, tetapi justru membuka akses pada pengalaman belajar yang lebih luas dan mendalam.

Penutup: Belajar Fleksibel, Tetap Berkhidmat
Bagi saya pribadi, kampus pascasarjana ideal adalah yang tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, efektif, dan relevan. Blended learning menjadi kunci agar mahasiswa tidak hanya “menyelesaikan SKS”, tetapi tumbuh sebagai pembelajar seumur hidup yang terhubung secara aktif dengan dunia akademik.

Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe tidak hanya menawarkan gelar, tapi juga komitmen untuk mendampingi mahasiswa menjadi insan akademik yang unggul dan beretika. Inilah wajah baru pascasarjana: fleksibel, digital, dan tetap kokoh berkhidmat pada nilai-nilai Islam.

#Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe – Fleksibel Belajar, Kokoh Berkhidmat.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Sabtu, 05 April 2025

Dari Swafoto ke Sitasi: Saatnya Mahasiswa Membangun Branding Akademik di Era Digital

"Dunia digital bukan hanya tempat untuk dilihat—tetapi untuk memberi dampak. Mahasiswa dan pelajar lainnya bukan hanya pengguna, tapi bisa menjadi pencipta arus. Kelak, bukan wajah kita yang dikenang publik, melainkan karya kita yang berbicara panjang setelah kita diam"

Di era digital yang semakin tak terelakkan, media sosial dan dunia maya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari para pembelajar. Namun sayangnya, ruang digital yang begitu luas itu justru lebih banyak dipenuhi oleh aktivitas personal dan ekspresi narsistik, seperti swafoto dan unggahan yang cenderung minim nilai edukatif. Tak sedikit mahasiswa yang menguasai algoritma media sosial, tetapi belum menguasai ruang-ruang sitasi akademik.

Pertanyaannya, mengapa ruang digital yang begitu besar tidak kita manfaatkan untuk membangun citra akademik kita sebagai pembelajar? Sudah saatnya kita menggeser arah: dari sekadar eksis menjadi produktif, dari hanya membagikan aktivitas harian menjadi membagikan pencapaian ilmiah. Dari hanya memikat “likes”, menuju meraih pengakuan ilmiah dan kolaborasi intelektual.

Pembelajar dan Branding Akademik: Sebuah Keniscayaan

Era digital tidak hanya menuntut mahasiswa untuk cerdas, tetapi juga mampu membangun identitas dan eksistensi akademik secara daring. Dunia sedang berubah. Portofolio ilmiah digital kini lebih berbobot dibanding sekadar CV yang diketik rapi. Dunia akademik kini menilai bukan hanya dari ijazah, tapi dari jejak digital—termasuk publikasi, kolaborasi, dan keterlibatan dalam diskusi ilmiah daring.

Branding akademik bukan berarti pamer, melainkan memperlihatkan karya agar bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah cara untuk menyebarkan ilmu, menunjukkan kompetensi, dan membuka peluang kolaborasi lintas kampus bahkan negara.

Platform Akademik: Panggung Baru Pembelajar

Beruntung, dunia digital menyediakan banyak ruang dan alat untuk membangun jejak akademik. Beberapa platform yang bisa digunakan antara lain:

1. Google Scholar; Platform ini memungkinkan mahasiswa mempublikasikan makalah, skripsi, hingga jurnal yang dapat diakses secara luas dan gratis. Tak hanya itu, Google Scholar menyediakan data sitasi dan indeks pengaruh dari karya yang dipublikasikan.

2. ResearchGate; Dengan nuansa mirip jejaring sosial, ResearchGate cocok untuk mahasiswa yang ingin aktif dalam diskusi dan interaksi dengan akademisi global. Fitur unggah karya, statistik pembaca, serta forum tanya-jawab membuat platform ini sangat hidup.

3. Academia.edu; Platform ini cocok untuk menjangkau khalayak luas. Mudah digunakan, sering muncul di hasil pencarian Google, serta menyajikan statistik pembaca dan penyebaran karya.

Tampil Beda, Karena Ilmu Butuh Disuarakan

Dalam Islam, menyampaikan ilmu bukan hanya anjuran, tetapi kewajiban moral dan spiritual. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." (HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi dasar penting bahwa setiap insan berilmu, tak terkecuali mahasiswa, memiliki kewajiban menyampaikan ilmu yang dimiliki, sekecil apapun. Di era digital, menyuarakan ilmu di platform daring menjadi cara paling efektif untuk menyebarkannya kepada khalayak luas.

Lebih dari itu, Islam memuliakan orang-orang yang berilmu. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Tampil beda dengan menyuarakan ilmu bukan hanya upaya membangun citra akademik, tapi juga bentuk ibadah dan kontribusi nyata kepada umat. Ini adalah bentuk dakwah intelektual, yang tak kalah penting dari dakwah lisan maupun perbuatan.

Mengunggah pencapaian akademik bukan soal kesombongan, melainkan bentuk keberanian intelektual di tengah arus besar konten yang lebih sering menampilkan gaya hidup, hiburan, dan hiburan visual semata. Ketika media sosial didominasi oleh hal-hal yang kurang bernilai edukatif, justru di situlah ruang kosong yang bisa diisi oleh para pembelajar. Inilah saatnya mahasiswa dan pelajar hadir sebagai suara alternatif; suara yang menyampaikan pengetahuan, pengalaman riset, refleksi akademik, bahkan ide-ide segar yang lahir dari ruang-ruang diskusi ilmiah.

Mereka yang berani tampil beda dengan memperlihatkan proses belajar, kutipan buku yang mencerahkan, bahkan potongan hasil penelitian yang dikemas menarik, sedang menanam jejak kontribusi dalam ekosistem digital yang lebih sehat. Ingat, dunia digital bukan hanya tempat untuk dilihat—tetapi untuk memberi dampak. Mahasiswa bukan hanya pengguna, tapi bisa menjadi pencipta arus. Saat kita mem-posting karya akademik, kita sedang memutus rantai pasifisme digital dan mengajak audiens berpikir, berdiskusi, dan—pada akhirnya—berubah. Maka dari itu, tampilkan ilmu, bukan hanya karena itu milik kita, tapi karena ilmu butuh disuarakan.

Penutup: Dunia Butuh Pembelajar yang Berani Tampil

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, dunia tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang cerdas secara akademik, tapi juga pembelajar yang berani menampilkan kecerdasannya ke ruang publik. Ini bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi relevan. Ketika seorang mahasiswa mulai menunjukkan karya tulisnya, merekam refleksi belajarnya, atau membagikan pemikiran kritisnya di media sosial atau platform ilmiah, maka ia sedang menunaikan tugas moral sebagai insan akademik—menyebarkan cahaya ilmu.

Ketika seorang mahasiswa berani menunjukkan karya ilmiahnya ke ruang publik, sejatinya ia sedang menunaikan amanah keilmuan yang telah Allah titipkan padanya. Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah amanah yang harus ditunaikan, bukan disimpan untuk kepentingan pribadi.

Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang dengan kekangan dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)

Hadis tersebut menegaskan bahwa menyampaikan ilmu adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang pembelajar. Dunia digital menjadi salah satu wasilah (media) untuk menunaikan tanggung jawab ini dengan lebih luas dan berdampak.

Mahasiswa hebat bukan hanya yang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga yang berani membuka percakapan ilmiah, menanggapi isu dengan perspektif akademik, serta menginspirasi pembelajar lainnya untuk berkembang. Dunia digital adalah panggung besar, dan pembelajar harus tampil bukan sebagai pengikut tren, tetapi sebagai pemantik arah. Mari ubah cara kita tampil—bukan hanya untuk eksistensi, tapi untuk kontribusi. Karena kelak, bukan wajah kita yang dikenang publik, melainkan karya kita yang berbicara panjang setelah kita diam.

** Agus Salim Salabi, Dosen IAIN Lhokseumawe (Google Scholar - ResearchGate - SINTA)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Sabtu, 01 Maret 2025

Marhaban Ya Ramadan

Oleh: Salabi, A. S.


Terlepas dari adanya perbedaan mengawali puasa Ramadan bagi umat Islam Indonesia, sepatutnya kita menyambut ṣiyām dengan suka cita. Menyambut dengan gembira penuh rasa syukur akan datangnya bulan Ramadan adalah dengan men-tarḥīb Ramadan yang biasanya diucapkan dengan: "Marhaban Ya Ramadan".

Kata tarḥīb dalam bahasa Arab berasal dari kata raḥḥaba, yuraḥḥibu, tarḥīban yang berarti 'melapangkan dada', 'menyambut dengan mesra’, ‘senang hati dan suka cita.' Dalam konteks ini, tarḥīb adalah menyambut bahagia atas datangnya bulan suci Ramadan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, marhaban mempunyai arti "selamat datang", di mana marhaban diucapkan kepada tamu untuk menggambarkan, bahwa tamu disambut dengan hati lapang penuh kegembiraan. Ra-ḥa-ba juga dapat berarti tempat perhentian musafir untuk memperbaiki kendaraan dan mengambil bekal perjalanan. Dari kedua makna tersebut dapat disimpulkan, kata marhaban mengandung nilai, bahwa bulan Ramadan adalah tamu agung yang disambut dengan kegembiraan dan lapang dada didasarkan oleh kesadaran bahwa melalui bulan ini kita dapat memperbaiki kesalahan sikap serta mengambil bekal perjalanan menuju akhirat dengan memperbanyak kesalehan.

Rasulullah saw. men-tarḥīb Ramadan, bahkan dua bulan sebelumnya. Sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik ra., ketika memasuki bulan Rajab Nabi saw. berdoa, Beliau bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadan." (HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Hal ini menjadi penting guna menanamkan kerinduan kita kepada Ramadan sekaligus sebagai upaya persiapan mental, spiritual, dan intelektual. Tanpa persiapan mental, spiritual, dan intelektual, puasa Ramadan hanya akan menjadi kegiatan ritual keagamaan tahunan tanpa makna, sebagaimana sabda Nabi saw.:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلَّا السَّهَرُ

"Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja. Berapa banyak orang yang bangun malam (Qiyām Ramadān), tidak mendapat pahala kecuali hanya begadang/bangun malam" (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Mājah). 

Dengan persiapan dan bekal yang maksimal disertai dengan hati yang gembira, akan mampu meraih sukses Ramadan secara optimal. Untuk itu, Rasulullah saw. mengkondisikan umatnya agar gembira menyambut Ramadan dengan menyampaikan keutamaan-keutamaannya, di mana Nabi saw. pernah bersabda:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

"Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Barangsiapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi (mendapatkan kebaikan di waktu lain)" (HR. Ahmad, no. 8979 dan An-Nasai, no. 2106 dan dishahihkan Syekh Albani dalam Shahih At-Targhib, IV/129).

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengomentari hadis ini dengan mengatakan: "Sebagian ulama berkata, bahwa hadis ini adalah dasar pijakan mengucapkan tahni’ah (ucapan selamat) dengan datangnya bulan Ramadan" (Lathaif Al-Ma'arif, I/490) dan saling mendoakan, seperti dengan mengucapkan: "Ramadan Mubārak atau Ramadan Karīm, semoga Allah menerima amal ibadah kita" dan yang sejenisnya.

Saat perintah puasa diturunkan (al-Baqarah: 183), hal pertama yang disampaikan Nabi saw. kepada para sahabat kala itu yang berlanjut sampai kepada kita saat ini, bahwa di dalam bulan Ramadan banyak keutamaan. Hal tersebut yang menjadikan puasa kita menjadi spesial dibanding puasa-puasa yang dilakukan orang-orang sebelum kita atau kaum lainnya. Kata aṣ-ṣiyām disebutkan sembilan kali di dalam Al-Qur’an yang memiliki arti spesifik (ada aturan, ada ketentuan yang harus diikuti). Di dalam pelaksanaan aṣ-ṣiyām yang istimewa ini terkandung hal-hal berikut:
  1. Aṣ-ṣiyāmu junnah (puasa adalah perisai) yang mampu membentengi kita dari setan. Jika puasa dilakukan dengan benar, maka akan berdampak pada terjauhnya ṣāim (orang yang berpuasa) dari godaan setan. Sehingga ia terdorong untuk melakukan amal yang saleh dan menahan diri dari amal yang salah. Kalau datang Ramadan, maka bagi “orang-orang yang berpuasa dengan benar” akan mendapatkan fadilahnya, yaitu: a) dibukakan pintu-pintu surga, b) pintu-pintu neraka ditutup, dan c) setan dibelenggu.
  2. Aṣ-ṣiyāmu lī, wa ana ajzī bihi (Allah langsung memberikan takaran pahalanya). Setiap kebaikan yang berpotensi mendatangkan pahala dilipatgandakan Allah dalam bulan Ramadan minimal sepuluh kali lipat.
  3. Hanya Ramadan yang siang dan malamnya penuh ampunan Allah. Kapan pun setiap muslim bisa meminta ampunan Allah, namun ada waktu-waktu yang strategis (seperti, 1/3 malam, di antara azan dan iqamah, dll.) dan tempat-tempat yang efektif (seperti: mihrab, masjid, dll.), yang mana setiap doa seorang muslim sangat cepat dikabulkan. Dan Ramadan menggabungkan kedua dimensi tersebut (siang dan malamnya).
Begitu agungnya bulan Ramadan sehingga banyak ungkapan-ungkapan yang mampu merepresentasikan rasa kegembiraan dan kerinduan dalam menyambutnya. Termasuk ungkapan di dalam beberapa bait lirik lagu-lagu yang indah menggugah jiwa berikut:

“Kumenantimu saban waktu, bangkit jiwaku. Kau suluh hatiku dengan sinar kudus kasihmu. Kuharapkan terus bersamamu, selamanya. Ramadan... Ramadan... Ramadan di hati”
Ramadan... Ramadan kumohon usah pergi” (Maher zain, http://smarturl.it/MaherZainChannel).

“Ramadan datang alam pun riang menyambut bulan yang berkah. Umat berdendang kumandang azan pertanda hati yang senang” (Tompi, https://www.youtube.com/watch?v=cgJTpIAzBt0). 

“Ramadan tiba semua bahagia. Tua dan muda bersuka cita. Bulan ampunan, bulan yang berkah, bulan terbebas api neraka. Andaikan saja Ramadan semua bulan yang tiba, bulan yang ada, karena besarnya setiap pahala yang dijanjikan kepada kita” (Opik, https://www.youtube.com/watch?v=pWn1lz4qvH0). 

Lirik yang terdapat di dalam lagu pun bukan sekadar menjadi karya tapi mampu menjadi nasihat, yang menginspirasi dan memiliki nilai tambah bagi yang mendengar. Di dalam musik/nada ada rasa, maka lirik yang sarat dengan nasihat dan hikmah kemudian disampaikan sehingga menyentuh rasa, membuka ruang muhasabah bagi si pendengar untuk merenung mengambil hikmah, akan menjadi berkah dan pahala bagi penciptanya. "Marhaban ya Ramadan". 

Wallāhu a’lam biṣṣawāb

Referensi:
  1. Widya Lisfianti. Arti Marhaban Ya Ramadhan. https://www.tribunnews.com/nasional/2022/03/29/arti-marhaban-ya-ramadhan-lebih-dari-sekedar-selamat-datang.
  2. Ahmad Kusyairi Suhail. Sambut Ramadhan dengan Suka Cita; Marhaban ya Ramadhan. https://news.detik.com/kolom/d-6013010/sambut-ramadhan-dengan-suka-cita-marhaban-ya-ramadhan.
  3. https://www.youtube.com/watch?v=GU59no0BBrw.
  4. http://smarturl.it/MaherZainChannel.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=cgJTpIAzBt0.
  6. https://www.youtube.com/watch?v=pWn1lz4qvH0.
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 07 Februari 2025

Warkop Pinggir Kampus: Dari Tempat Nongkrong Jadi Ruang Diskusi Kreatif


Oleh: Salabi, A. S. 

"Tak jarang ide-ide bernas justru dihasilkan dari obrolan santai penuh tawa canda dan tentunya ditemani dengan segelas kopi/sanger pancung seharga 5000-an"

Warung kopi (Warkop) di Aceh, Lhokseumawe telah lama menjadi tempat yang identik dengan kegiatan santai, seperti nongkrong bersama teman, bercanda, atau sekadar memanfaatkan WiFi gratis dengan segelas kopi. Pemandangan pengunjung yang sibuk dengan obrolan tak tentu arah, perdebatan politik tanpa ujung, atau sekadar menghabiskan waktu, telah menjadi bagian dari budaya warkop. 

Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan yang signifikan mulai tampak di warkop-warkop pinggiran kampus. Kehadiran dosen dan profesional lainnya yang memanfaatkan Warkop sebagai tempat menyusun Rencana Perkuliahan Semester (RPS), bimbingan skripsi/tesis, serta mengerjakan tugas-tugas kantor lainnya, telah mengubah wajah Warkop menjadi lebih produktif. 

Aura akademis yang tercipta di Warkop mulai menarik perhatian mahasiswa yang tak ingin ketinggalan, hingga akhirnya Warkop kini menjadi ruang diskusi ilmiah dan tempat berkumpulnya ide-ide kreatif. Tak hanya gelas kopi atau sanger pancung yang kini menghiasi meja-meja Warkop, tetapi juga laptop, makalah, dan riuhnya suara akademisi yang sedang berdiskusi tentang tugas-tugas kampus. Transformasi ini memberikan warna baru pada kehidupan mahasiswa, yang mungkin sebelumnya hanya menganggap Warkop sebagai tempat bersantai, kini melihatnya sebagai tempat untuk mengasah pikiran dan produktivitas. 

Tak jarang ide-ide bernas justru dihasilkan dari obrolan santai penuh tawa canda dan tentunya ditemani dengan segelas kopi/sanger pancung seharga 5000-an. Bagi para dosen, pikiran-pikiran terus mengalir untuk menuntaskan artikel-artikel yang siap submit pada jurnal terakreditasi SINTA sampai dengan Scopus. Mahasiswa juga tak mau kalah, dari makalah, Skripsi sampai dengan Tesis juga didiskusikan di meja warkop. 

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa masih ada segelintir penikmat warkop yang mempertahankan kebiasaan lama mereka—nongkrong dengan tujuan semata-mata untuk bersosialisasi atau melarikan diri dari tekanan akademis. Meskipun begitu, kehadiran kelompok akademis di Warkop turut memberi pengaruh positif, mendorong mereka yang tadinya hanya sekadar nongkrong, untuk perlahan-lahan terinspirasi dan mulai mengikuti jejak para akademisi dan profesional. 

Transformasi Warkop pinggiran kampus adalah cerminan dari perubahan budaya dan kebutuhan mahasiswa serta akademisi di era digital. Warkop tidak lagi sekadar tempat untuk menghabiskan waktu, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang multifungsi, di mana kopi diseruput sambil berdiskusi tentang masa depan, merancang strategi, dan menciptakan inovasi. 

Di tengah perubahan ini, penting bagi kita untuk terus mendorong agar Warkop-Warkop ini menjadi ruang yang inklusif bagi semua kalangan, tanpa menghilangkan esensi tempat berkumpul dan bersantai yang telah menjadi bagian dari identitasnya. Dengan demikian, Warkop dapat terus menjadi bagian integral dari kehidupan kampus, yang tidak hanya mengisi perut dan menghilangkan dahaga, tetapi juga mengisi pikiran dan memupuk kreativitas.

** Nama Lengkap Penulis; Dr. Agus Salim Salabi, M.A. Dosen Pada Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 01 Oktober 2024

MAN 1 Plus Keterampilan Langsa: Madrasah dengan Visi Besar untuk Mencetak Generasi Mandiri dan Terampil

*Oleh: Salabi, A. S.

"MAN 1 Plus Keterampilan Langsa adalah contoh nyata bagaimana pendidikan vokasi di madrasah dapat membekali generasi muda dengan keahlian yang siap pakai, sambil tetap menanamkan nilai-nilai agama yang kuat."

MAN 1 Plus Keterampilan Langsa, yang berlokasi di Sungai Lhueng, Langsa Timur, di bawah kepemimpinan Teuku Juliadi, ST., MT., telah mencapai prestasi yang luar biasa dengan menyandingkan pendidikan agama dan keterampilan vokasi dalam kurikulumnya. Madrasah ini menjadi pionir dalam mengintegrasikan keterampilan praktis ke dalam pendidikan agama, sebuah langkah inovatif yang membekali para siswa dengan pengetahuan keagamaan serta keterampilan hidup yang relevan di era modern.

Madrasah ini berkomitmen pada visinya: “Menyiapkan generasi muda muslim yang bertakwa kepada Allah swt., terampil, mandiri, dan visioner”. Visi ini tercermin jelas dalam setiap program yang dijalankan, termasuk keterampilan vokasi yang dilaksanakan pada sore hari setelah jam pembelajaran formal. Program keterampilan tersebut mencakup tata busana, pengelasan, dan elektronik, memberi siswa bekal yang sangat berharga untuk masa depan mereka.

Salah satu pencapaian menonjol dari program ini adalah kemampuan madrasah dalam memproduksi seragam sekolah sendiri, yang juga melibatkan para lulusan yang telah mendirikan usaha menjahit. Ini bukan hanya sekadar proyek keterampilan, tetapi merupakan bagian dari visi besar madrasah untuk mencetak generasi mandiri yang mampu berkontribusi langsung dalam perekonomian keluarga maupun masyarakat. Para siswa dilatih agar memiliki keterampilan yang tidak hanya membantu mereka melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi modal berharga dalam dunia kerja.
Selain itu, keterampilan pengelasan menjadi salah satu keunggulan lainnya yang ditawarkan oleh madrasah ini. Para siswa diajarkan untuk menguasai teknik pengelasan yang dapat diterapkan dalam industri konstruksi dan manufaktur. Keterampilan ini sangat dibutuhkan di pasar tenaga kerja, baik di sektor lokal maupun nasional. Dengan keterampilan pengelasan yang dikuasai, siswa tidak hanya memiliki peluang kerja yang lebih luas tetapi juga mampu membuka usaha sendiri di bidang tersebut. Pelatihan pengelasan yang diberikan diharapkan dapat membekali siswa dengan kemampuan teknis yang kuat, menjadikan mereka individu mandiri dan kompetitif di dunia kerja.

Namun, untuk mencapai potensi penuh dari visi tersebut, tantangan berupa keterbatasan sarana dan prasarana harus segera diatasi. Mesin jahit yang digunakan masih terbatas, begitu pula dengan peralatan elektronik dan pengelasan yang tersedia. Tanpa dukungan yang memadai dari pemerintah daerah dan pusat, potensi besar ini dapat terhambat.

Dukungan nyata dalam bentuk penyediaan fasilitas tambahan dan modernisasi peralatan sangat diperlukan agar madrasah ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat maksimal bagi para siswa. Selain itu, perhatian juga harus diberikan terhadap pengembangan sumber daya manusia, khususnya para pengajar keterampilan. Pelatihan dan kegiatan peningkatan keahlian sangat diperlukan bagi pengajar seperti Humaira Zamzami, S.Pd. pada unit keterampilan tata busana, Drs. Kadarman pada unit keterampilan pengelasan, dan Rosadi, S.Pd. pada unit keterampilan elektronik. Dukungan berupa pelatihan tambahan atau penambahan personil juga menjadi kebutuhan penting agar kegiatan keterampilan para siswa dapat terlaksana dengan lebih optimal.

MAN 1 Plus Keterampilan Langsa adalah contoh nyata bagaimana pendidikan vokasi di madrasah dapat membekali generasi muda dengan keahlian yang siap pakai, sambil tetap menanamkan nilai-nilai agama yang kuat. Madrasah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang bagi siswa untuk bertransformasi menjadi individu yang produktif dan mandiri.

Jika pemerintah serius ingin melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan generasi muda yang lebih siap menghadapi masa depan, sudah saatnya program seperti ini mendapat perhatian lebih. Peningkatan fasilitas dan sumber daya bukan hanya merupakan investasi dalam pendidikan, tetapi juga investasi dalam masa depan bangsa.

Dengan visi yang kuat dan dedikasi dari para pendidik, dukungan penuh dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk memastikan program keterampilan ini terus berlanjut dan berkembang, sehingga lulusan MAN 1 Plus Keterampilan Langsa dapat terus berkontribusi bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan bangsa.

**Nama Lengkap Penulis; Dr. Agus Salim Salabi, M.A. Dosen Pada Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Hasil Karya Siswa MAN1 Plus Keterampilan Langsa dapat disimak dalam video berikut:
 
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 20 September 2024

MAN 1 Samarinda: Melirik Madrasah dengan Keunggulan Keterampilan dan Riset di Kalimantan Timur

*Oleh: Agus Salim Salabi

"Integrasi antara agama dan keterampilan praktis menjadikan para siswa lebih siap menghadapi tantangan dunia nyata."

Ketika berbicara tentang lembaga pendidikan yang berkomitmen untuk mencetak generasi berdaya saing tinggi, MAN 1 Samarinda layak mendapat sorotan khusus. Berlokasi di Jl. Pangeran Suryanata, Kelurahan Air Putih, Samarinda Ulu, madrasah ini bukan hanya sebuah institusi pendidikan agama, tetapi sebuah entitas yang memadukan nilai-nilai spiritual dengan keterampilan dan riset modern. Di bawah kepemimpinan Drs. H. Dede Rohimat, M.Pd., MAN 1 Samarinda telah mengukuhkan dirinya sebagai pionir pendidikan keterampilan di Kalimantan Timur.

Penting untuk disadari bahwa MAN 1 Samarinda lebih dari sekadar madrasah biasa. Madrasah ini adalah model keberhasilan dalam menggabungkan nilai-nilai agama dengan keterampilan hidup (life skills) yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui penetapan sebagai Madrasah Aliyah Plus Keterampilan pada tahun 2020, MAN 1 Samarinda tidak hanya membekali siswa dengan ilmu agama yang kokoh, tetapi juga membuka peluang luas bagi mereka untuk menguasai berbagai keterampilan teknis yang dibutuhkan di dunia kerja. Lima program keterampilan unggulan seperti Tata Boga, Tata Busana, Teknik Kendaraan Ringan Otomotif, Teknik Pengelasan, dan Teknik Komputer dan Jaringan adalah contoh nyata bagaimana madrasah ini melampaui ekspektasi sebagai pusat pembelajaran agama.

Namun, keunggulan MAN 1 Samarinda tidak berhenti di sini. Sebagai Madrasah Penyelenggara Riset, madrasah ini memberikan wadah bagi para siswa untuk menggali dan mengembangkan potensi intelektual mereka. Program riset yang dikembangkan di sini telah menjadi katalisator bagi tumbuhnya inovasi dan prestasi akademik siswa. Ini bukan sekadar pencapaian akademis, tetapi juga bukti nyata bahwa pendidikan di madrasah bisa sejalan dengan kebutuhan zaman modern yang menuntut kreativitas dan daya saing tinggi.

Ketika banyak orang masih terjebak dalam stereotip lama bahwa madrasah hanya mengajarkan ilmu agama, MAN 1 Samarinda membuktikan sebaliknya. Melalui keterampilan Tata Boga, siswa berhasil memproduksi makanan ringan yang selalu laris manis menjadi jajanan warga madrasah. Di bidang Tata Busana, kreativitas siswa terlihat dalam beberapa rancangan pakaian tradisional yang dipamerkan di galeri sekolah. Di bengkel madrasah, keterampilan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif yang dikuasai siswa memungkinkan mereka memberikan layanan perbaikan dan service kendaraan bermotor. Ini semua tak terlepas dari intensitas dan keikhlasan para guru pembimbing yang bahkan mereka menjadi ahli dalam bidangnya berkat pembelajaran otodidak yang mereka lakukan. Produk inovatif yang dihasilkan dari Teknik Pengelasan memperlihatkan sejauh mana madrasah ini mampu membentuk generasi produktif dan mandiri.

Pencapaian ini tentu bukan sekadar angka di atas kertas. MAN 1 Samarinda telah berhasil menunjukkan bahwa lulusan mereka tidak hanya siap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi juga siap berwirausaha atau langsung terjun ke dunia kerja dengan bekal keterampilan. Ini menjadi salah satu keunggulan nyata yang ditawarkan MAN 1 Samarinda: "Integrasi antara agama dan keterampilan praktis yang menjadikan para siswa lebih siap menghadapi tantangan dunia nyata."

Tidak bisa disangkal, citra madrasah ini sebagai lembaga yang beradaptasi dengan perubahan zaman semakin kuat dengan penerapan teknologi digital. Keberadaan platform website (https://www.man1samarinda.sch.id) interaktif yang memudahkan akses informasi menjadi bukti nyata bahwa MAN 1 Samarinda serius dalam mendukung pembelajaran di era teknologi. Ini adalah langkah penting dalam menjawab tantangan pendidikan di masa depan, di mana teknologi digital akan terus memainkan peran sentral.

Secara keseluruhan, MAN 1 Samarinda adalah contoh ideal bagaimana lembaga pendidikan agama dapat mengadopsi pendekatan modern tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang dipegang teguh. Dengan visi yang kuat, kepemimpinan yang bijaksana, dan inovasi yang terus berkembang, madrasah ini tidak hanya berhasil mendidik siswa untuk menjadi pribadi yang berkarakter, tetapi juga memberikan mereka bekal keterampilan dan pengetahuan untuk sukses di berbagai bidang kehidupan.

**Nama Lengkap Penulis; Dr. Agus Salim Salabi, M.A. Dosen Pada Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 17 September 2024

Supermoon: Menikmati Panorama Langit Sambil Mewaspadai Risiko Bencana

(Ketua Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe)

"Bulan tampak sekitar 14% lebih besar dan 30% lebih terang daripada saat berada di apogee, titik terjauh dari bumi. Peningkatan visual ini memberikan tampilan yang dramatis dan memikat bagi para pengamat langit di seluruh dunia."

Supermoon adalah fenomena ketika bulan purnama tampak lebih besar dan lebih dekat dari biasanya. Ini terjadi ketika jarak antara Bumi dan bulan kurang dari 363.104 kilometer. Pada tanggal 18 September 2024, jarak Bumi dengan bulan diperkirakan mencapai 357.486 kilometer, membuat bulan tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibandingkan dengan purnama biasa.

Fenomena ini sering menarik perhatian banyak orang untuk mengabadikan keindahan langit malam. Festival foto bulan dan observasi publik sering diselenggarakan, memberi kesempatan bagi masyarakat untuk merasakan langsung keindahan astronomi. Supermoon bukan hanya pemandangan yang luar biasa, tetapi juga mengingatkan kita akan hubungan kosmis yang erat antara Bumi dan bulan.

Puncak purnama pada bulan Rabiul Awal 1446 Hijriah akan terjadi pada hari Rabu, 18 September 2024, pukul 09.34 WIB. Saat itu, bulan akan terlihat lebih besar dibandingkan mikromoon—sekitar 14% lebih besar dari purnama ketika bulan berada pada jarak terjauh dari Bumi. Cahaya bulan juga akan terasa lebih terang, hingga 30% lebih terang dari mikromoon.

Meskipun supermoon adalah fenomena alam yang indah, ada baiknya kita juga memikirkan dampak potensialnya terhadap lingkungan, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap banjir pasang. Beberapa ahli menyarankan bahwa tarikan gravitasi bulan yang lebih kuat saat supermoon bisa memperburuk dampak dari bencana alam, seperti banjir atau erosi pantai. Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi bencana sangat penting dilakukan agar kita tetap aman sembari menikmati keindahan alam ini.

Supermoon: Fenomena Alam yang Memikat

Sebagai satelit bumi, bulan selalu mengintari bumi dengan bentuk orbit yang lonjong (elip) dengan waktu tempuh dalam satu kali orbit (sinodis) 29 hari 12 jam 44 menit 43 detik. Bentuk orbit bulan yang lonjong mengakibatkan dalam perjalanan nya ada saat dimana posisi bulan jauh dengan bumi (apoge) dengan jarak rata-rata 405.969 kilometer, bila posisi bulan saat purnama lebih jauh dari 405.969 kilometer disebut dengan mikromoon. Saat bulan dekat dengan bumi (perige) dengan jarak rata-rata 363.104 kilometer, bila posisi bulan saat purnama lebih dekat dari 363.104 kilometer disebut dengan supermoon. Sedangkan jarak rata-rata bumi ke bulan adalah 384.400 kilometer.

Supermoon terjadi ketika bulan purnama bertepatan dengan perigee-nya, yaitu titik terdekat bulan dengan bumi. Akibatnya, bulan tampak sekitar 14% lebih besar dan 30% lebih terang daripada saat berada di apogee, titik terjauh dari bumi. Peningkatan visual ini memberikan tampilan yang dramatis dan memikat bagi para pengamat langit di seluruh dunia.

Potensi Dampak Supermoon terhadap Bencana Alam

Walaupun fenomena supermoon pada dasarnya adalah fenomena visual, ada beberapa potensi dampak terhadap lingkungan, terutama dalam konteks bencana alam. Berikut adalah beberapa potensi dampak yang mungkin terjadi:

  1. Pasang Surut Air Laut yang Ekstrem: Supermoon dapat menyebabkan pasang surut air laut yang lebih ekstrem karena tarikan gravitasi bulan yang lebih kuat. Kenaikan dan penurunan air laut yang ekstrem ini dapat memperburuk dampak dari banjir atau erosi pantai. Wilayah pesisir, terutama yang sudah rentan terhadap kenaikan air laut, bisa menghadapi risiko lebih besar selama periode supermoon.
  2. Peningkatan Risiko Bencana Alam: Meskipun tidak ada bukti langsung bahwa supermoon menyebabkan bencana seperti gempa bumi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa fase bulan ekstrem dapat mempengaruhi tektonik bumi. Perubahan dalam tekanan gravitasi bisa memicu aktivitas seismik di beberapa wilayah yang sudah rawan gempa.

Langkah-Langkah untuk Mitigasi Bencana

Menghadapi dampak yang mungkin timbul dari supermoon memerlukan langkah mitigasi yang tepat. Rencana mitigasi bencana Rop (Resilience, Preparedness, and Response) dapat membantu masyarakat mengurangi risiko dan meminimalkan dampak dari potensi bencana. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diambil:

  1. Pemantauan dan Peringatan Dini: Sistem pemantauan pasang surut dan perkiraan cuaca dari BMKG perlu ditingkatkan untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat mengenai perubahan ekstrem yang mungkin terjadi selama supermoon. Dengan informasi yang cukup, masyarakat dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi kemungkinan banjir atau erosi yang diakibatkan dari pasang yang tinggi.
  2. Perencanaan dan Infrastruktur: Pemerintah dan lembaga terkait harus memastikan bahwa infrastruktur pesisir, seperti tanggul dan sistem drainase, diperkuat untuk menangani kemungkinan pasang surut ekstrem. Perencanaan tata ruang yang baik juga penting untuk mengurangi risiko terhadap daerah yang rawan bencana.
  3. Edukasi dan Kesadaran Publik: Masyarakat harus diberi edukasi mengenai risiko dan cara mitigasi selama periode supermoon. Pelatihan dan simulasi bencana dapat membantu masyarakat memahami langkah-langkah yang perlu diambil untuk melindungi diri dan properti mereka.
  4. Koordinasi dan Kerjasama: Koordinasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga bencana, dan masyarakat, sangat penting untuk respon yang efektif terhadap bencana. Kerjasama antara semua pihak dapat memastikan bahwa langkah-langkah mitigasi diterapkan dengan baik dan respons bencana berjalan lancar.

Kesimpulan

Supermoon adalah fenomena yang menakjubkan dan mempesona, tetapi penting untuk menyadari potensi dampaknya terhadap lingkungan dan bencana alam. Dengan menerapkan langkah mitigasi yang tepat melalui pendekatan Rop, masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan dampak dari fenomena ini dan melindungi diri serta lingkungan mereka. Persiapan yang baik dan pengetahuan yang memadai adalah kunci untuk mengurangi risiko dan memastikan keselamatan di tengah pesona supermoon yang memukau.

Supermoon adalah contoh menakjubkan dari keindahan alam yang dapat dinikmati oleh banyak orang di seluruh dunia. Namun, fenomena ini juga membawa tantangan yang perlu diatasi untuk meminimalkan dampak negatifnya terhadap lingkungan dan masyarakat. Dengan persiapan yang tepat dan pemahaman yang lebih baik, kita dapat menghargai keindahan supermoon sambil memitigasi risiko yang mungkin ditimbulkannya. Menggabungkan apresiasi terhadap panorama alam dengan tindakan preventif adalah kunci untuk memastikan bahwa fenomena langit ini dapat dinikmati dengan aman dan bertanggung jawab.


Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 12 September 2024

Bullying: Mimpi Buruk Dunia Pendidikan Indonesia

Oleh: Dr. Syarifah Rahmah, M.Ag. (Dosen FTIK IAIN Lhokseumawe)

"Meningkatnya kasus bullying juga menjadi indikasi rendahnya kualitas pendidikan di beberapa lembaga. Sering kali, pembelajaran lebih terfokus pada aspek kognitif tanpa memperhatikan perkembangan emosional dan moral siswa"

Kekerasan dalam dunia pendidikan bukan lagi rahasia. Kasus-kasus kekerasan yang melibatkan siswa kerap muncul di berbagai media massa nasional, menjadi cerminan kelam dunia pendidikan kita. Salah satu kasus yang sempat mengejutkan publik adalah Geng Nero di Pati, Jawa Tengah, yang beranggotakan para pelajar putri. Video penganiayaan yang mereka lakukan terhadap teman sesama pelajar viral di media sosial, menjadi sorotan media nasional, dan membuka mata banyak pihak tentang sisi gelap pergaulan remaja di Indonesia. Kasus serupa bukan hanya terjadi di Pati, tetapi juga di berbagai kota besar lainnya, menunjukkan bahwa kekerasan dalam dunia pendidikan adalah masalah yang serius dan meluas.

Perundungan (bullying) sebagai salah satu bentuk kekerasan ini tidak bisa dianggap enteng. Dalam banyak kasus, bullying tidak hanya menyebabkan luka fisik tetapi juga luka mental yang mendalam. Ada dua faktor utama yang memicu terjadinya bullying, yaitu: 1) Ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban, di mana pelaku sering kali lebih kuat secara fisik atau memiliki dukungan kelompok. 2) Rasa takut dan ketidakberdayaan korban yang membuat mereka enggan melawan, memilih pasrah pada situasi yang menekan mereka.

Bullying dapat terjadi di mana saja: sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan di dunia maya. Namun, khusus di sekolah, perilaku ini sering kali dianggap sepele dan belum berbahaya, padahal dampaknya sangat serius. Bullying bisa mengakibatkan trauma mendalam, stres berkepanjangan, bahkan hingga menyebabkan kematian.

Peran media elektronik dalam membentuk perilaku kekerasan juga tidak bisa diabaikan. Tayangan yang menampilkan kekerasan sering kali menjadi contoh buruk bagi anak-anak dan remaja, membuat mereka tergoda untuk meniru. Penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku kekerasan bisa menular melalui media. Semakin sering seseorang melihat atau menonton kekerasan di televisi, YouTube, atau media sosial lainnya, semakin besar kemungkinan mereka akan menirunya. Tidak hanya itu, lingkungan pergaulan yang tidak sehat juga berperan besar dalam menularkan perilaku buruk ini (Davidoff Ronald, et al., 1990).

Beberapa faktor lain yang dapat memicu perilaku menyimpang pada anak-anak, antara lain:
  • Lingkungan: Anak-anak yang tumbuh di lingkungan kemiskinan sering kali terpapar pada perilaku negatif. Konflik keluarga yang tidak sehat, terutama yang melibatkan kekerasan, dapat membentuk pribadi anak yang agresif atau tertutup.
  • Kehidupan di kota besar: Anonimitas dan gaya hidup individualistis di kota besar membuat ikatan sosial semakin longgar. Kehilangan rasa kebersamaan ini membuat anak-anak tidak mendapatkan dukungan emosional yang mereka butuhkan.
  • Disiplin yang salah: Penerapan disiplin yang keras sering kali justru menimbulkan efek sebaliknya. Anak bisa tumbuh menjadi penakut dan rentan dibully, atau malah menjadi pemberontak dan pelaku kekerasan.

Meningkatnya kasus bullying juga menjadi indikasi rendahnya kualitas pendidikan di beberapa lembaga. Sering kali, pembelajaran lebih terfokus pada aspek kognitif tanpa memperhatikan perkembangan emosional dan moral siswa.

Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting. Keluarga adalah tempat pertama di mana nilai-nilai akidah, adab, akhlak, dan ibadah seharusnya diajarkan dengan penuh cinta dan kesadaran. Kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga, serta keteladanan dari orang tua, akan membantu anak membentuk karakter yang kuat. Selain itu, sekolah harus berperan sebagai ruang diskusi yang memungkinkan siswa berpikir kritis terhadap realitas kehidupan yang ada. Guru, sebagai sosok yang digugu dan ditiru, harus mampu membimbing siswa menemukan jati diri mereka.

Kasus bullying harus menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa setiap individu—baik siswa, guru, orang tua, maupun masyarakat—memiliki tanggung jawab untuk menghentikan budaya kekerasan ini. Jika kita hanya diam, membiarkan bullying terjadi, maka kita menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Sudah saatnya kita bergerak untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi generasi muda kita.

Pertama-tama, sekolah harus menjadi tempat yang bebas dari kekerasan. Guru dan staf harus dilatih untuk mendeteksi tanda-tanda bullying lebih awal, meresponsnya dengan tepat, dan membangun hubungan yang penuh empati dengan siswa. Orang tua juga memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak mereka tentang pentingnya menghormati orang lain dan membela mereka yang rentan. Di luar itu, teman sebaya harus diajarkan untuk tidak berdiam diri ketika melihat bullying, tetapi berani bertindak sebagai pelindung, bukan hanya sebagai penonton.

Media sosial dan platform online juga harus lebih bertanggung jawab. Setiap orang yang menggunakan teknologi ini perlu mengerti bahwa posting atau komentar mereka bisa melukai orang lain. Kampanye edukasi yang lebih luas perlu digalakkan, baik di sekolah, keluarga, maupun komunitas, tentang pentingnya anti-bullying. Kita semua dapat memulai langkah kecil dengan bersikap lebih peduli dan bertindak tegas terhadap segala bentuk kekerasan.

Akhirnya, mari kita semua menjadi agen perubahan. Jika kita tidak mulai sekarang, mimpi buruk kekerasan akan terus menghantui dunia pendidikan kita. Masa depan bangsa ada di tangan anak-anak kita—mereka layak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, kedamaian, dan penghormatan terhadap satu sama lain.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 30 Agustus 2024

Biaya Publikasi Jurnal: Beban yang Wajar atau Kezaliman terhadap Penulis?


"Kita sudah berpikir, menulis sampai berhari-hari, mencari dan mencocokkan referensi, melakukan analisis, eh malah kita pula yang harus membayar."

Di sudut warkop pinggir kampus, sekelompok mahasiswa pascasarjana sedang terlibat dalam obrolan panas. Mereka ribut soal kebijakan kampus yang memaksa mereka mempublikasikan artikel di jurnal terindeks sebagai syarat bisa ikut sidang akhir. "Bisa-bisanya kita yang udah capek mikir, nulis berhari-hari, nyari referensi, terus harus bayar juga buat diterbitin," salah satu dari mereka menyulut api dengan nada sedikit sinis. sementara yang lain hanya bisa mengangguk, ada juga yang menggerutu, merasa beban itu terlalu berat. 

Biaya publikasi jurnal memang kerap jadi isu panas di kalangan akademisi. Bicara soal mahalnya biaya publikasi karya ilmiah di jurnal terakreditasi SINTA atau yang bereputasi, jurnal internasional, kayaknya sudah menjadi makanan sehari-hari. Bukan cuma mahasiswa, banyak dosen juga merasakan hal yang sama, terutama saat harus memenuhi Laporan Beban Kerja Dosen (LBKD). Di mana-mana, suara-suara keberatan soal biaya ini makin nyaring, mulai dari warkop kampus sampai ruang-ruang dosen. 

Perdebatan ini tentu menjadi wajar muncul, terutama bagi mereka yang belum pernah memahami bagaimana sebenarnya proses sebuah karya tulis ilmiah diperlakukan hingga menjadi bacaan yang diterbitkan secara online. Memang, sebagian jurnal ada yang menggratiskan biaya APC (Article Processing Charge), biasanya jurnal-jurnal ini dikelola oleh kampus yang memang menganggarkan dana untuk penerbitan jurnal tersebut. 

Sementara itu, kalangan penulis senior sering kali menganggap biaya ini sebagai bagian dari proses yang wajar. Lalu, apakah biaya ini benar-benar merupakan beban yang wajar, ataukah merupakan bentuk kezaliman terhadap penulis yang berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan? Artikel ini akan mengeksplorasi proses dan biaya yang terlibat dalam publikasi jurnal ilmiah serta mengevaluasi apakah biaya ini sebanding dengan kualitas dan nilai yang diberikan.

Memahami Proses Panjang di Balik Publikasi Jurnal Ilmiah
Setidaknya, ada beberapa langkah panjang yang harus dilalui dalam proses terbitnya sebuah karya tulis ilmiah. Berikut ini adalah tahapan-tahapan umum dalam proses review dan publikasi jurnal ilmiah:
  1. Pengajuan Naskah (Submission); Penulis mengirimkan artikel mereka melalui sistem manajemen jurnal, melampirkan semua file yang diperlukan, seperti naskah utama, tabel, gambar, dan surat pengantar (cover letter). Artikel tersebut kemudian diperiksa secara administratif untuk memastikan bahwa semua persyaratan pengajuan terpenuhi.
  2. Evaluasi Awal oleh Editor (Initial Screening); Editor in Chief atau Editor melakukan evaluasi awal untuk menentukan apakah naskah tersebut sesuai dengan cakupan dan standar jurnal. Pada tahap ini, editor juga memeriksa kesesuaian naskah dengan pedoman penulisan jurnal dan memverifikasi apakah ada plagiarisme. Jika naskah tidak memenuhi kriteria awal, naskah bisa langsung ditolak atau dikembalikan kepada penulis untuk revisi sebelum dilanjutkan ke proses review.
  3. Pemilihan Reviewer (Reviewer Selection); Editor atau Section Editor memilih reviewer yang ahli dalam bidang yang relevan dengan topik artikel. Biasanya, 2-3 reviewer diundang/ditunjuk untuk menilai naskah. Pemilihan reviewer didasarkan pada keahlian mereka, ketersediaan, dan rekam jejak sebagai reviewer.
  4. Proses Review (Peer Review); Reviewer menerima naskah dan melakukan penilaian kritis terhadap aspek-aspek seperti orisinalitas, metodologi, validitas data, analisis, dan relevansi hasil penelitian. Reviewer memberikan komentar rinci, saran perbaikan, dan rekomendasi kepada editor. Rekomendasi ini bisa berupa: Terima tanpa revisi, Terima dengan revisi minor, Terima dengan revisi mayor, Tolak. Reviewer biasanya diberi waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk menyelesaikan review.
  5. Keputusan Editor (Editorial Decision); Berdasarkan umpan balik dari para reviewer, editor membuat keputusan tentang naskah tersebut. Editor mengomunikasikan keputusan ini kepada penulis, bersama dengan komentar dan saran dari reviewer. Jika revisi diperlukan, penulis diberi kesempatan untuk memperbaiki naskah dan mengirimkan kembali untuk evaluasi ulang.
  6. Revisi oleh Penulis (Author Revisions); Penulis merevisi naskah sesuai dengan komentar dan saran dari reviewer. Revisi tersebut kemudian dikirimkan kembali ke jurnal. Jika revisi dianggap memadai, artikel mungkin langsung diterima. Namun, jika revisi besar diperlukan, naskah bisa dikirim kembali ke reviewer untuk penilaian ulang.
  7. Evaluasi Ulang (Re-evaluation); Jika naskah mengalami revisi mayor, editor mungkin meminta reviewer yang sama (atau reviewer baru) untuk mengevaluasi versi yang telah direvisi. Reviewer menilai apakah penulis telah menangani semua masalah yang diidentifikasi dalam review awal.
  8. Keputusan Akhir (Final Decision); Setelah proses revisi selesai dan naskah dianggap memenuhi semua persyaratan, editor membuat keputusan akhir untuk menerima naskah untuk publikasi. Jika naskah ditolak, editor memberikan penjelasan yang jelas kepada penulis tentang alasan penolakan.
  9. Proofreading dan Copy Editing; Setelah naskah diterima, dilakukan proses proofreading dan copy editing untuk memastikan tidak ada kesalahan teknis atau bahasa dalam naskah. Penulis mungkin perlu memeriksa dan menyetujui proof sebelum publikasi final.
  10. Publikasi (Publication); Naskah yang telah disetujui dan disunting kemudian diterbitkan dalam edisi jurnal yang sesuai, baik dalam bentuk cetak maupun digital.
Kesimpulan: Mengapa Biaya Publikasi Wajar?
Proses review dan publikasi adalah langkah penting dalam penerbitan jurnal ilmiah yang memastikan artikel yang diterbitkan memiliki kualitas yang tinggi dan valid secara ilmiah. Meskipun proses ini memakan waktu dan biaya, ini adalah bagian integral dari upaya untuk menjaga integritas dan kualitas ilmu pengetahuan yang dipublikasikan.

Setelah menyelami proses yang panjang dan kompleks di balik publikasi jurnal ilmiah, jelas bahwa biaya yang dibebankan kepada penulis bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Meskipun beberapa jurnal menggratiskan biaya publikasi, banyak yang memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk memastikan kualitas dan integritas artikel yang diterbitkan. 

Penting bagi kita untuk menilai apakah biaya tersebut benar-benar mencerminkan nilai tambah dan wajar atau justru merupakan kezaliman bagi penulis. Apakah sistem ini perlu reformasi untuk menjamin akses yang lebih adil dan merata? Perdebatan ini harus terus berlanjut untuk memastikan bahwa publikasi ilmiah tetap menjadi sarana yang efektif dan inklusif dalam penyebaran ilmu pengetahuan.

** Nama Lengkap Penulis; Dr. Agus Salim Salabi, M.A. Dosen Pada Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 03 Juli 2024

Pendidikan Finansial: Kunci Mencegah Kecanduan Judi Online

Oleh: **Almira Keumala Ulfah, M.Si., Ak., CA., ASEAN CPA.

Pentingnya Pendidikan Finansial di Era Digital
Pendidikan finansial yang memadai adalah fondasi penting bagi kemampuan individu untuk mengelola keuangan mereka dengan bijaksana dan menghindari perangkap yang dapat merugikan mereka secara ekonomi. Namun, di banyak tempat, pendidikan finansial sering kali diabaikan atau tidak diajarkan secara memadai, yang membuat banyak orang rentan terhadap berbagai risiko ekonomi, termasuk kecanduan judi online.

Individu yang tidak memiliki pengetahuan finansial dasar sering kali tidak menyadari risiko yang terkait dengan judi online. Mereka mungkin tidak memahami konsep probabilitas, kerugian jangka panjang, atau house edge yang menguntungkan operator perjudian. Tanpa pemahaman ini, mereka lebih cenderung terlibat dalam perjudian dengan keyakinan yang salah bahwa mereka bisa menang secara konsisten atau mengatasi kerugian mereka dengan terus bermain.

Kurangnya pendidikan finansial dapat mengarah pada keputusan keuangan yang buruk, seperti menggunakan uang yang seharusnya untuk kebutuhan penting (seperti makanan, perumahan, dan pendidikan) untuk berjudi. Individu yang tidak terdidik secara finansial mungkin juga tidak memiliki keterampilan untuk membuat anggaran atau mengelola hutang, sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap kerugian finansial yang parah akibat perjudian.

Individu yang tidak memiliki pendidikan finansial mungkin tidak tahu bagaimana cara mengelola hutang mereka dengan efektif. Ketika mereka mengalami kerugian dalam judi online, mereka mungkin beralih ke pinjaman atau kartu kredit untuk mencoba menutup kerugian tersebut, yang sering kali hanya memperburuk masalah keuangan mereka. Siklus hutang ini dapat menjadi sangat sulit untuk diputus, memperburuk ketergantungan mereka pada judi online sebagai cara yang salah untuk mencoba memulihkan kerugian mereka.

Pendidikan finansial yang baik juga mencakup kesadaran tentang tanda-tanda kecanduan judi dan di mana mencari bantuan. Tanpa pengetahuan ini, individu mungkin tidak mengenali ketika mereka atau orang-orang di sekitar mereka mulai menunjukkan tanda-tanda kecanduan judi. Kurangnya kesadaran ini dapat menyebabkan masalah kecanduan yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani hingga mereka mencapai tingkat yang berbahaya.

Individu yang tidak memiliki pendidikan finansial yang kuat lebih mudah terpengaruh oleh iklan dan promosi judi online yang menjanjikan keuntungan besar dan cepat. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa iklan ini sering kali menyesatkan dan tidak mencerminkan realitas risiko tinggi yang terlibat dalam judi online. Tanpa kemampuan kritis untuk mengevaluasi informasi ini, mereka lebih rentan untuk terjerumus dalam perjudian.

Kiat untuk Mencegah Kecanduan Judi Online di Kalangan Mahasiswa
  1. Program Edukasi Keuangan Terintegrasi: Perguruan tinggi perlu mengintegrasikan program edukasi keuangan dalam kurikulum mereka. Ini tidak hanya memberikan pengetahuan dasar tentang pengelolaan uang tetapi juga memberikan panduan praktis tentang cara menghindari risiko keuangan, termasuk judi online.
  2. Konseling dan Dukungan Psikologis: Mahasiswa yang mengalami stres atau masalah emosional mungkin lebih rentan terhadap kecanduan judi online. Layanan konseling dan dukungan psikologis di kampus dapat membantu mereka mengatasi masalah ini tanpa harus mencari pelarian melalui judi.
  3. Kegiatan Ekstrakurikuler yang Positif: Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler atau memiliki hobi cenderung memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berjudi online. Keterlibatan dalam kegiatan positif dapat mengalihkan perhatian mereka dari perjudian.
  4. Peningkatan Kesadaran Melalui Seminar dan Workshop: Perguruan tinggi dapat mengadakan seminar atau workshop tentang bahaya judi online dan cara menghindarinya. Program-program ini dapat memberikan informasi penting dan meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang risiko yang terkait dengan judi online.
  5. Pengawasan dan Bimbingan dari Dosen dan Orang Tua: Mahasiswa perlu mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari dosen dan orang tua agar mereka tetap berada pada jalur yang benar dalam mengelola keuangan dan menghindari perilaku berisiko.
  6. Akses ke Sumber Daya Edukasi Finansial: Perguruan tinggi dapat menyediakan akses ke sumber daya edukasi finansial, seperti buku, artikel, dan kursus online, yang dapat membantu mahasiswa memahami dan mengelola keuangan mereka dengan lebih baik.
Kesimpulan
Kurangnya pendidikan finansial merupakan faktor signifikan yang membuat individu lebih rentan terhadap kecanduan judi online. Pendidikan finansial yang baik tidak hanya memberikan pengetahuan tentang pengelolaan uang, tetapi juga membantu individu memahami risiko, membuat keputusan keuangan yang bijaksana, mengelola hutang, mengenali tanda-tanda kecanduan, dan mengembangkan keterampilan kritis untuk menilai informasi. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan pendidikan finansial di semua tingkat pendidikan dan menyediakan sumber daya yang memadai untuk membantu individu mengelola keuangan mereka dengan bijaksana dan menghindari risiko kecanduan judi online.


Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Senin, 09 Oktober 2023

Meningkatkan Pemahaman Dosen terhadap Platform Akademik Digital: Langkah Strategis dalam Pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi


Oleh: Dwhy Dindasari Lubis
Dosen IAIN Lhokseumawe/Editor in Chief Seulanga: Jurnal Pendidikan Anak 
FTIK IAIN Lhokseumawe

Di era digital yang serba cepat, dosen di perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang semakin kompleks dalam pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Selain mengajar, mereka juga diharapkan aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat. Salah satu cara untuk mendukung tugas ini adalah dengan memanfaatkan platform akademik digital seperti SINTA (Science and Technology Index), GARUDA (Garba Rujukan Digital), dan Google Scholar. Platform ini menjadi alat vital untuk meningkatkan visibilitas akademik, mengelola publikasi ilmiah, dan memperkuat jaringan riset.

Pandangan ini merupakan hasil refleksi saya setelah menjadi narasumber workshop bertema “Pengelolaan Akun SINTA, GARUDA, dan Google Scholar Dosen” yang diadakan di salah satu Sekolah Tinggi Keagamaan Islam Swasta Deli Serdang pada Sabtu, 7 Oktober 2023. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB ini menyajikan banyak wawasan mengenai pentingnya platform akademik digital dalam menunjang produktivitas dosen.

Mengapa Pemahaman Digital Penting?
Platform seperti SINTA, GARUDA, dan Google Scholar tidak hanya menjadi wadah untuk menyimpan karya ilmiah, tetapi juga alat strategis untuk membangun reputasi akademik dosen dan institusi. Dalam konteks SINTA, misalnya, skor dan indeks sitasi dosen menjadi salah satu indikator produktivitas penelitian yang sering menjadi rujukan dalam evaluasi perguruan tinggi. Google Scholar juga memainkan peran penting dalam memperluas jangkauan hasil penelitian, menjadikannya lebih mudah diakses oleh komunitas global.

Selain itu, pemanfaatan platform ini dapat membuka peluang kolaborasi dengan peneliti lain, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan kata lain, platform akademik digital bukan hanya alat administrasi, melainkan strategi penting dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi yang berbasis teknologi.

Tantangan yang Dihadapi Dosen di Perguruan Tinggi Swasta
Sebagai seorang dosen yang juga aktif di bidang publikasi ilmiah, saya memahami tantangan yang dihadapi para dosen, khususnya di perguruan tinggi swasta. Beberapa tantangan utama yang saya temukan dalam workshop ini meliputi:
  1. Kurangnya Pelatihan dan Pendampingan: Banyak dosen tidak mendapatkan pelatihan yang memadai untuk memahami cara kerja dan manfaat platform digital.
  2. Keterbatasan Infrastruktur: Akses internet yang terbatas atau fasilitas teknologi yang belum memadai sering menjadi hambatan dalam optimalisasi platform.
  3. Kesenjangan Kompetensi Digital: Tidak semua dosen memiliki kemampuan yang sama dalam teknologi digital, terutama dosen senior yang mungkin kurang familiar dengan sistem ini.
  4. Keterbatasan Waktu: Beban kerja yang tinggi sering kali membuat dosen kesulitan untuk fokus belajar dan mengelola akun digital mereka.
  5. Kurangnya Kesadaran Akan Manfaat Jangka Panjang: Sebagian dosen belum memahami pentingnya platform ini untuk pengembangan karier akademik dan kontribusi terhadap institusi.
Solusi untuk Mengatasi Tantangan
Berbagai diskusi yang muncul dalam workshop memberikan gagasan menarik tentang solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan ini, antara lain:
  1. Penyelenggaraan Workshop Rutin: Perguruan tinggi perlu secara berkala mengadakan pelatihan yang fokus pada pengelolaan platform akademik digital.
  2. Pendampingan Personal: Menyediakan mentor atau tim pendukung untuk membantu dosen secara personal dalam mengelola akun mereka.
  3. Investasi Infrastruktur: Institusi harus meningkatkan akses ke teknologi, seperti internet cepat dan perangkat pendukung lainnya.
  4. Peningkatan Kesadaran: Melalui diskusi atau seminar, penting untuk menjelaskan manfaat langsung dan tidak langsung dari pemanfaatan platform ini.
  5. Penghargaan dan Insentif: Memberikan apresiasi kepada dosen yang aktif mengelola platform digital sebagai motivasi tambahan.
Kesimpulan
Peningkatan pemahaman dan kemampuan dosen dalam mengelola platform akademik digital adalah langkah penting dalam pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Meskipun tantangan masih ada, solusi strategis seperti pelatihan, pendampingan, dan peningkatan infrastruktur dapat membantu dosen, terutama di perguruan tinggi swasta, untuk lebih kompeten dalam memanfaatkan teknologi ini.

Workshop di salah satu Sekolah Tinggi Agama Islam wilayah Deli Serdang memberikan saya kesadaran bahwa pemanfaatan teknologi digital bukan hanya menjadi alat bantu, tetapi juga bagian integral dari pengembangan kapasitas dosen. Dengan terus berupaya memahami dan memanfaatkan platform ini, dosen tidak hanya mampu meningkatkan visibilitas akademiknya tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih signifikan dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, selaras dengan tuntutan era digital.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect