Carousel

Jumat, 19 Januari 2024

Rekrutmen Reviewer dan Penulis Instrumen Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia

Rangkang Belajar | Dalam rangka mendukung implementasi kegiatan Komponen 2 Realizing Education’s Promise-Madrasah Education Quality Reform (REP-MEQR) yang bersumber dari Pinjaman Luar Negeri, Project Management Unit REP-MEQR Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia akan melaksanakan proses seleksi guru dan pengawas madrasah untuk bergabung pada Tim Penyusun dan Reviewer Instrumen Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI).

Penyelenggaraan rekrutmen didasarkan atas perencanaan kebutuhan program tersebut, selanjutnya memerlukan reviewer dan penulis instrumen tangguh dan berpengalaman yang terdiri atas guru dan pengawas madrasah di seluruh Indonesia. Pengembangan dan penulisan instrumen AKMI 2024 meliputi Literasi Membaca, Numerasi, Literasi Sains, dan Literasi Sosial Budaya untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.

Persyaratan Peserta:
  1. Berbadan sehat dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari dokter.
  2. Status  sebagai  guru  madrasah  negeri  atau  swasta  atau  pengawas  madrasah dibuktikan oleh Surat Rekomendasi dari Kepala Madrasah atau Kepala Kantor Kankemenag Kabupaten/Kota.
  3. Memenuhi persyaratan administrasi sbb: a) Memiliki pengalaman terlibat dalam kegiatan pengembangan instrumen penilaian tingkat nasional, dibuktikan melalui sertifikat atau surat keterangan pengalaman dalam pengembangan instrumen penilaian. b) Salinan ijazah terakhir dari perguruan tinggi.
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukan, meliputi: kecakapan tata tulis bahasa Indonesia yang baik, kecakapan bekerja secara daring/online, serta komitmen yang tinggi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dan bekerja sama dengan tim.
  5. Guru  atau  pengawas  diutamakan  memiliki  kompetensi  sesuai  jenjang  dan  latar belakang pendidikan.
  • Literasi Membaca: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris atau Bahasa Asing lainnya.
  • Numerasi: Matematika (untuk MI dan MTs); Matematika, Fisika, Ekonomi Akuntansi (untuk MA).
  • Literasi Sains: IPA (MI kelas atas & MTs), Biologi, Fisika, dan Kimia (MA).
  • Literasi Sosial Budaya: IPS, PKn, Keagamaan (Alquran Hadis, Fikih, Akidah Akhlak, SKI), dan Bimbingan Konseling (BK). 

Prosedur Pendaftaran:
  1. Setiap guru dan pengawas madrasah dapat mengajukan lamaran secara mandiri sesuai persyaratan yang ditetapkan. 
  2. Rekrutmen dilakukan secara online dengan rincian petunjuk pada https://appmadrasah.kemenag.go.id/seleksi
  3. Berkas-berkas yang diperlukan sesuai butir (2) sebagai penunjang dapat di-upload ke aplikasi paling lambat 02 Februari 2024 pukul 24.00 WIB.
  4. Keputusan hasil rekrutmen tidak dapat diganggu gugat dan mutlak menjadi kewenangan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. 
Tahapan Seleksi
  1. Sosialisasi pelaksanaan rekrutmen reviewer dan instrument AKMI akan dilaksanakan pada hari Selasa, 23 Januari 2024 Pukul 10:00 WIB Link YouTube: @madrasahreform2218
  2. Tahap-tahap seleksi melalui proses sebagaimana berikut yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI:
Sumber: 

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 05 Desember 2023

Aksi Bersih-Bersih Mahasiswa KPM IAIN Lhokseumawe: Lingkungan Berseri

Rangkang Belajar | Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) kelompok 58 dari IAIN Lhokseumawe tidak hanya menyapu jalanan, tetapi juga membawa suasana segar bagi Kelurahan Tanjung Langkat. Bertempat di Gang Durian, Kecamatan Salapian Kabupaten Langkat, dua belas mahasiswa dari berbagai jurusan bergotong-royong membersihkan lingkungan sekitar, termasuk rumah warga, saluran air, dan selokan.

Ketua kelompok, Ahmad Riadi, menjelaskan bahwa aksi bersih-bersih ini bukan hanya rutinitas semata, tetapi juga menjadi wujud nyata gaya hidup ramah lingkungan. Menurut Riadi, kebersihan lingkungan tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi warga, tetapi juga mencerminkan komitmen kelompok dalam menjaga kelestarian lingkungan. "Aksi ini merupakan suatu program kerja yang ada di kelompok kami," ungkap Riadi dengan semangat.
Masyarakat sekitar, termasuk Lurah Tanjung Langkat, Ferry Karo Karo, memberikan sambutan positif terhadap aksi tersebut. Menurut Ferry, aksi bersih-bersih kelompok 58 Mahasiswa KPM IAIN Lhokseumawe merupakan langkah mulia yang membuat lingkungan kembali asri dan bersih. "Saya mengucapkan terima kasih kepada kelompok 58 KPM IAIN Lhokseumawe," ucapnya. Kegiatan ini tidak hanya sekadar aksi membersihkan, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam membangun keterampilan sosial dan adaptasi di tengah masyarakat. 

Dengan semangat gotong-royong, kelompok 58 menciptakan keberlanjutan aksi positif, menjadikan Gang Durian sebagai contoh lingkungan yang bersih, hijau, dan berseri. Dengan latar belakang ini, kelompok 58 mendorong para mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan dan kesejahteraan masyarakat, menciptakan perubahan positif di masa yang akan datang. (Sheyin Manurung)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Minggu, 03 Desember 2023

Mahasiswa KPM IAIN Lhokseumawe Bersihkan Tempat Ibadah: Menjalin Toleransi dan Kebersihan Bersama

Rangkang Belajar | Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 58 dari IAIN Lhokseumawe berhasil menciptakan kilau kebaikan di Kelurahan Tanjung Langkat Kecamatan Salapian Langkat. Kelompok KPM ini tidak hanya mengabdi pada lingkungan sekitar, tetapi juga memberikan sentuhan kebersihan dan toleransi pada tempat ibadah. Sejak pagi 2/12/2023, para mahasiswa dengan semangat menyambut kegiatan bakti sosial ini, membawa alat kebersihan untuk memberikan wajah baru bagi Masjid Raya Salapian dan Gereja Sidang Rohulkudus Indonesia (GSRI). 

Ketua KPM, Ahmad Riadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari program kerja kelompok 58 yang diinisiasi oleh tema Moderasi Beragama. Dengan gotong royong membersihkan rumah ibadah, mereka merasa terpanggil untuk berkontribusi pada masyarakat. Ahmad Riadi menekankan bahwa bersihnya tempat ibadah bukan hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan saling menghargai antar-umat beragama. 

Pengurus Masjid Raya Salapian, Andi, menyambut baik kehadiran mahasiswa KPM dan mengungkapkan rasa senang karena kontribusi mereka telah membantu kelurahan. Tidak hanya masjid, Gereja GSRI juga turut dibersihkan pada Sabtu lalu, menciptakan harmoni dan toleransi lintas agama. Pendeta Junior Andrianta Bangun menyampaikan apresiasi terhadap kegigihan mahasiswa KPM. Ia menyatakan kegiatan ini membawa semangat baru dan energi positif bagi masyarakat, tidak hanya dalam menjaga kebersihan rumah ibadah, tetapi juga membangun toleransi di antara mereka. 
Kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh kelompok 58 ini diharapkan menjadi contoh bagi mahasiswa dan masyarakat lainnya. Semangat berbakti dan gotong royong dalam menjaga tempat ibadah merupakan langkah awal menuju lingkungan yang lebih baik, harmonis, dan berdaya. Aksi positif ini tidak hanya membawa perubahan fisik, tetapi juga memupuk hubungan yang erat antarumat beragama di Kelurahan Tanjung Langkat. (Nur Fitriani)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Sabtu, 02 Desember 2023

Membangun Budaya Mutu Bersama: Wakil Dekan 2 FITK dan Ketua LPM UINSU Sambut Tim GKM dan Asesor BKD IAIN Lhokseumawe

Rangkang Belajar | Medan - Wakil Dekan 2 Dr. Muhammad Dalimunte, M.Hum. bersama Ketua dan Sekretaris Prodi di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sumatera Medan menyambut baik kunjungan tamu dari IAIN Lhokseumawe yang terdiri dari 10 orang dosen yang ditugaskan pada Gugus Kendali Mutu (GKM) dan lima orang asesor penilai Beban Kerja Dosen (BKD). Kegiatan benchmarking dengan tema “Membangun Budaya Mutu Bersama" dipenuhi dengan diskusi berbasis best practice dan inspiratif yang dapat diambil dari pengalaman UINSU Medan.

Acara yang digelar pada Jumat 1/122023 ini bukan sekadar pertemuan ramah tamah, tapi lebih sebagai momen saling memperkaya budaya mutu di kedua institusi. Dalam suasana yang hangat, Tim GKM dikoordinir oleh Dr. Agus Salim Salabi, M.A., Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Lhokseumawe, disambut dengan antusias oleh Wakil Dekan 2 FITK UINSU beserta jajaran pimpinan prodi di ruang rapat utama FITK.

Dipandu oleh Dr. Muhammad Fadhli, M.Pd., diskusi diarahkan untuk saling belajar dari pengalaman berharga tim GKM FITK UINSU dalam menangani tantangan penjaminan mutu dan memperkuat budaya mutu di lingkungan fakultas. Menurut Dr. Muhammad Dalimunte, kehadiran Tim GKM IAIN Lhokseumawe menjadi kesempatan emas untuk berbagi pengalaman dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan fakultas. Dalam sambutannya, Dalimunte menekankan pentingnya mengadopsi praktik terbaik dari institusi lain dengan fleksibilitas tinggi, "Apa yang baik, Ambil, Tiru, dan Modifikasi sesuai kebutuhan, “ATM-kan saja!” sahut Beliau.

Dari beberapa pernyataan peserta, kegiatan benchmarking ini memberikan manfaat signifikan bagi Tim GKM sebagai jembatan dari Lembaga Penjaminan Mutu Institusi, yang antara lain adalah: pemahaman mendalam terhadap praktik terbaik yang diterapkan di FITK UINSU Medan, membuka peluang untuk perbaikan dan kerja sama lebih lanjut dalam berbagai bidang, termasuk penelitian dan pengembangan kurikulum.

Sementara itu, di ruang LPM UINSU Medan, Ketua LPM UINSU, Dr. Muhammad Yafiz, M.Ag., bersama seluruh pengelola LPM lainnya juga menyambut antusias kunjungan lima asesor BKD yang sejalan dengan kegiatan benchmarking IAIN Lhoskeumawe. Rombongan asesor BKD dikoordinir oleh Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, M.A., selaku Ketua LPM IAIN Lhokseumawe sekaligus juga asesor BKD (Beban Kerja Dosen). Turut hadir dalam penyambutan, Prof. Dr. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag. selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik UINSU.

Dalam ruang LPM UINSU Medan, mereka mendalami praktik terbaik terkait pelaksanaan dan penilaian BKD, menemukan catatan penting yang mungkin menjadi landasan untuk perbaikan kinerja dosen di institusi mereka.

Kegiatan benchmarking ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara kedua fakultas dan Lembaga Penjaminan Mutu, membangun kualitas pendidikan serta budaya mutu yang lebih baik. Tim GKM dan Asesor BKD IAIN Lhokseumawe berambisi membawa pulang wawasan berharga untuk diterapkan dalam konteks lokal demi peningkatan mutu pendidikan di institusi mereka yang berkelanjutan. (Admin)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kelompok 54 KPM IAIN Lhokseumawe Gelar Seminar Peringatan Bahaya Narkoba dan Rokok

Rangkang Belajar | Kelompok 54 Mahasiswa KPM IAIN Lhokseumawe yang bertugas di Desa Naman Jahe berhasil mengdakan momen edukatif dengan sukses menggelar seminar kenakalan remaja, menyoroti bahaya narkoba dan rokok. Acara ini digelar di Yayasan Perguruan Swasta Swakarya Langkat pada Jum'at, (01/12/2023). 

Seminar ini diikuti oleh siswa/i kelas 7 Yayasan Perguruan Swasta Swakarya, dengan menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti ibu Kristina Br. Sitepu dari puskesmas Tanjung Langkat, Bapak Agus Ginting dari Koramil 05 Tanjung Langkat, Bapak Nobdi Nanda Ginting Suka selaku Kepala Desa Namanjahe, dan para guru di Yayasan Perguruan Swasta Swakarya. 
Inisiatif ini merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pendidikan yang dilakukan mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) kelompok 54 IAIN Lhokseumawe. Syahroni, S.Pd, guru di Yayasan Perguruan Swasta Swakarya, menyampaikan, "Kegiatan ini sangat penting agar anak-anak, dapat memahami risiko dari konsumsi narkoba dan rokok, sehingga mereka dapat menghindari kedua zat tersebut." 

Dengan penyelenggaraan seminar kenakalan remaja, diharapkan para remaja, khususnya siswa SMP Yayasan Perguruan Swasta Swakarya sebagai generasi penerus bangsa, dapat lebih sadar dan mampu menjaga diri dari perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Ini adalah sebuah langkah positif untuk membentuk masa depan remaja yang lebih baik. 

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 01 Desember 2023

Mahasiswa KPM IAIN Lhokseumawe Gelar Seminar Anti-Kenakalan Remaja

Rangkang Belajar | "Berantas Narkoba, Pelecehan Seksual, dan Bullying" menjadi topik yag tidak pernah habis untuk terus dibahas dan diharapkan terus menjadi imbauan bagi remaja yang rentan terpengaruh dengan pergaulan lingkungan sekitarnya, terutama pengaruh dan dampak dari media sosial. 

Kelompok 58 Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) IAIN Lhokseumawe sukses menyelenggarakan seminar menarik dengan tema "Stop Narkoba, Pelecehan Seksual, dan Bullying" di Yayasan Perguruan SMK Swasta Swakarya, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat. Acara berlangsung pada Kamis (30/11/2023) di ruang kelas dan dihadiri oleh siswa/i kelas 12, di mana nantinya seminar dengan tema yang senada "Kenakalan Remaja: Bahaya Narkoba dan Rokok" akan dilaksanakan pada tanggal 1/12/2023 oleh Kelompok 54 mahasiswa KPM yang bertugas di Desa Naman Jahe dengan sasaran para siswa SMP Yayasan Perguruan Swakarya.

Kegiatan ini berkolaborasi dengan melibatkan Polsek Salapian, dihadiri oleh Kadiv BINMAS Polsek Salapian Aiptu Hartoyo yang memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif mahasiswa/i KPM IAIN Lhokseumawe Kelompok 58 yang bertugas di Kelurahan Tanjung Langkat. Menurut Hartoyo, seminar ini memberikan inspirasi bagi remaja, khususnya mereka yang berada di Yayasan Perguruan Swasta Swakarya untuk memberikan gambaran bagaimana sebaiknya remaja membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang ada di sekitar mereka, termasuk pengaruh yang ada di genggaman, yaitu 'hape'.
Program kerja KPM Kelompok 58 ini diinisiasi untuk merespons maraknya kenakalan remaja.. Dukungan penuh juga datang dari pihak sekolah, terutama kepala sekolah SMK Swakarya, Rela Nasaruddin."Saya sangat setuju dengan diadakannya seminar ini, karena dapat memberikan dampak yang baik kepada anak remaja zaman sekarang. Saya sangat mengapresiasi Mahasiswa KPM IAIN Lhokseumawe Kelompok 58 ini, karena jarang sekali mahasiswa KPM yang mau membuat seminar seperti ini. Dengan senang hati saya memberi ruang dan waktu kepada mahasiswa/i ini, agar siswa/i saya tidak terjerumus dengan kenakalan remaja yang saat ini lagi marak-maraknya," ujar Rela Nasaruddin.

Semoga seminar ini memberikan dampak positif pada remaja, mencegah mereka terjerumus dalam perilaku negatif. Remaja saat ini merupakan penerus bangsa yang akan membentuk masa depan yang lebih baik. Remaja menjadi tulang punggung suatu bangsa, karenanya jika remaja rusak, maka bangsa pun akan rusak pula (Lickona). (Nur Fitrian)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 10 November 2023

KPM IAIN Lhokseumawe: Kontribusi Mahasiswa di Delapan Desa Kecamatan Salapian, Langkat

Rangkang Belajar | Langkat, 10 November 2023 - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Lhokseumawe telah menginisiasi kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) yang melibatkan mahasiswa dalam pengembangan delapan desa di Kecamatan Salapian Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. KPM dengan mengambil sasaran di luar provinsi ini menjadi kegiatan perdana yang bertujuan untuk mengenalkan pengabdian masyarakat bagi mahasiswa IAIN. 

KPM ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara IAIN Lhokseumawe dengan pemerintahan Kabupaten Langkat. Plt. Bupati, melalui Asisten Administrasi Umum, Musti, S.E., M.Si. memberikan sambutan hangat saat apel pelepasan peserta KPM di depan kantor Bupati Langkat. Penghargaan atas pemilihan delapan desa di Kecamatan Salapian sebagai sasaran kegiatan KPM turut disampaikan sebagai ungkapan terima kasih. Harapan umum Plt. Bupati terhadap kegiatan KPM mencakup dampak positif yang signifikan bagi masyarakat, kontinuitas kerja sama yang berkelanjutan antara lembaga pendidikan dan pemerintah daerah, serta pemberdayaan masyarakat setempat. 

Acara pelepasan peserta KPM dengan mengikutsertakan 100 mahasiswa, juga dihadiri oleh Kepala Biro IAIN Lokseumawe, Dr, Tohar Bayoangin, M.Ag., Ketua LPPM, Dr. Said Alwi, M.A. beserta jajarannya, serta 4 Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Hal ini menandai komitmen kuat terhadap terlaksananya kuliah pengabdian masyarakat secara baik. 

Dalam rangkaian acara berikutnya, dilaksanakan penyerahan peserta KPM oleh Ketua LPPM IAIN Lhokseumawe yang disambut oleh Camat Salapian beserta jajarannya dan delapan perangkat desa sasaran. Dalam sambutannya, Dr. Said Alwi, M.A. selaku Ketua LPPM menyampaikan bahwa KPM memberikan kesempatan kepada mahasiswa IAIN Lhokseumawe untuk mendapatkan pengalaman praktis dalam menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh di kampus. Hal ini akan membantu mereka mengaplikasikan teori dalam konteks kehidupan nyata. Di sisi lain, harapan terkait peningkatan toleransi, harmonisasi keberagamaan, dan adaptasi mahasiswa dengan masyarakat setempat turut ditekankan oleh M. Saleh, S.Sos. dalam sambutannya selaku Camat Salapian. 

Diketahui bahwa penduduk kecamatan Salapian termasuk heterogen dengan mayoritas bersuku bangsa Jawa. Disusul dengan suku Karo, Batak Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing, Angkola, Melayu, Minang, Aceh, Nias, Tionghoa, dan suku lainnya. Sedangkan dari aspek agama yang dianut penduduk Kecamatan Salapian, berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2021, bahwa mayoritas warga memeluk agama Islam. Selebihnya menganut agama Kristen, Protestan dan Katolik. Sebagian lainnya menganut agama Buddha, kemudian Hindu dan kepercayaan.
Dalam kegiatan yang akan berlangsung sejak tanggal 10 November sampai dengan 12 Desember 2023, peserta KPM di delapan desa, yaitu: 1. Desa Ponco Warno, 2. Desa Ujug Teran, 3. Desa Naman Jahe, 4. Kelurahan Tanjung Langkat, 5. Desa Minta Kasih, 6. Perkebunan Kampung Keliling, 7. Desa Lau Tepu, dan 8. Desa Turangi akan dievaluasi serta mendapat bimbingan empat Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu:  Dr. Agus Salim Salabi, M.A., Dr. Fauzan Ahmad Siregar, M.Pd., Zainal Abidin Lubis, M.T.H., dan Muhammad Syafril Nasution, M.Si.

Dr. Muhammad Anggung MP, M.Pd. selaku Sekretaris LPPM menekankan, selain memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat, KPM perdana luar provinsi Aceh ini akan menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dan membantu mereka menjadi pemimpin yang lebih berpengetahuan dan peduli terhadap masalah sosial di masyarakat. (Admin)

Minggu, 22 Oktober 2023

Semangat Hari Santri: Expo Kemandirian Pesantren di IAIN Lhokseumawe Berlangsung Meriah

Rangkang Belajar | Guna memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2023, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe telah menyelenggarakan Expo Kemandirian Pesantren selama tiga hari, dimulai dari tanggal 21 hingga 23 Oktober 2023. Event ini berlangsung meriah di Gedung Serbaguna kampus IAIN Lhokseumawe Buket Rata-Alue Awe, dengan memperkenalkan potensi produk-produk yang dimiliki pesantren kepada masyarakat.

Acara pembukaan yang dilaksanakan pada tanggal 21/10/2023 ini juga bertujuan untuk mempromosikan semangat kemandirian yang melekat dalam prinsip pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan “dayah” untuk wilayah Aceh. Pameran Expo Kemandirian Pesantren mencakup berbagai kegiatan, seperti bazar produk UMKM Pesantren Istighasah dan zikir maulid, upacara Hari Santri yang dilaksanakan pada tanggal 22/10/2023, bedah buku, lomba karya tulis ilmiah, lomba menulis caption tentang Hari Santri, dan pengamatan bulan internasional.

Semangat peringatan Hari Santri ini juga ditularkan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah yang menggelar kegiatan “Syariah Fair” dengan menghadirkan berbagai macam perlombaan tingkat SMA sederajat, seperti lomba Syarhil Quran, Tahfidz, dan pidato Bahasa Indonesia.

Dr. Darmadi, M.Si, Wakil Rektor III IAIN Lhokseumawe yang mewakili Rektor, dalam sambutannya menjelaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional tahun 2023 bertujuan untuk merayakan dan menghormati peran penting dayah dan para santri dalam memajukan pendidikan dan nilai-nilai keagamaan di Indonesia. Darmadi juga menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan yang tepat untuk mendukung semangat kemandirian dan inovasi yang sejak lama menjadi ciri khas Pondok Pesantren di seluruh negeri.

Dengan keterlibatan sebelas dayah dan lima belas sekolah dari wilayah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, acara ini akan memperkuat kerja sama antarlembaga pendidikan di daerah tersebut serta mempromosikan keberagaman dan keunggulan yang dimiliki oleh masyarakat setempat dalam memajukan pendidikan dan ekonomi. (Admin)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 13 Oktober 2023

SISTER Versi Cloud: Platform Data Dosen IAIN Lhokseumawe untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Rangkang Belajar | Lhokseumawe, 13 Oktober 2023 - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe menunjukkan komitmennya terhadap akurasi data dosen dengan menjalankan edaran Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan melalui aplikasi Sistem Informasi Sumbar Daya Terintegrasi (SISTER). Kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh Tim Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dan Unit Pelayanan Teknis Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD) berlangsung pada 6 Oktober 2023.

Kolaborasi antara Tim (LPM) IAIN Lhokseumawe, yang diwakili oleh Dr. Agus Salim Salabi, M.A., dan Mukhlis, M.Ed., dengan Tim TIPD yang diwakili Muhammad Ilham, M.I.T., bertujuan untuk memastikan bahwa setiap dosen yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) telah terdaftar dan memahami pentingnya memperbarui data diri mereka. Aplikasi SISTER menjadi alat penting dalam pengelolaan data dosen yang akurat dan efisien, memudahkan pengelolaan informasi dan meningkatkan mutu akademik serta administrasi para dosen di IAIN Lhokseumawe.

Kegiatan pendampingan ini dilakukan dengan mengunjungi fakultas-fakultas, di mana tim LPM dan TIPD memberikan panduan langsung kepada dosen. Inisiatif ini diharapkan meningkatkan kesadaran dosen tentang pentingnya memperbarui data diri mereka secara berkala, yang akan membantu dalam menghadapi berbagai kebutuhan pendidikan tinggi.

Selanjutnya, pada tanggal 12 Oktober 2023, Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Lhokseumawe sukses menyelenggarakan "Sosialisasi Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi (SISTER) versi Cloud." Acara ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang SISTER versi Cloud kepada seluruh dosen di IAIN Lhokseumawe.
SISTER versi Cloud, sebagai fokus utama, membawa solusi dalam pengelolaan sumber daya pendidikan tinggi. Melalui platform Zoom Meeting, narasumber utama, Rizky Tito Prasetyo, S.Si., M.T.I., menjelaskan bagaimana teknologi ini dapat memberikan kepada para dosen dalam pendataan kependidikan, Penilaian Angka Kredit, Laporan Beban Kerja Dosen, dan dokumentasi pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi.

Kegiatan ini dimulai dengan kata sambutan dari Ketua LPM IAIN Lhokseumawe, Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, M.A., dan pandangan dari Wakil Rektor 3, Dr. Al Husaini M. Daud, M.A. Setelah itu, Rizky yang ditugaskan oleh Pimpinan di lingkungan Sekretariat Direktorat Jenderal pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi memberikan paparan tentang SISTER versi Cloud, dan peserta berkesempatan untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan.

Hasil evaluasi menunjukkan respons positif dari peserta, dengan 95,58% peserta merasa kegiatan ini efektif memberikan pemahaman yang mendalam tentang SISTER versi Cloud. Saran untuk pelatihan lanjutan, dukungan teknis yang lebih kuat, pemantauan dan evaluasi yang efisien, serta perlunya hotline konsultasi menjadi rekomendasi yang akan membantu dalam efektivitas penggunaan yang berkelanjutan terhadap aplikasi SISTER versi Cloud di IAIN Lhokseumawe.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 22 September 2023

IAIN Lhokseumawe Sukses Menggelar Dua Acara Akbar: Membentuk Masa Depan Pendidikan yang Berkualitas dan Berkualifikasi Internasional

Rangkang Belajar | Lhokseumawe, 22 September 2023 - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe baru-baru ini sukses menyelenggarakan dua acara besar. Kedua kegiatan ini menjadi sorotan utama di kalangan akademisi dan pihak terkait. Penyelenggaraannya yang berkesinambungan selama beberapa hari, menciptakan dampak positif yang signifikan di lembaga ini.

Pada tanggal 11-12 September 2023, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Lhokseumawe menginisiasi kegiatan "Juknis Pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)" dengan tujuan memberikan pemahaman dan mendorong para dosen dalam implementasi MBKM secara efektif. Konsep MBKM didasarkan pada Permendikbud No. 3 tahun 2020 dan Kepdirjen Pendis No. 1591 tahun 2022, yang mengubah paradigma pendidikan tinggi dengan memberikan mahasiswa peran sentral dalam pembelajaran mereka.

Rektor IAIN Lhokseumawe, Dr. Danial, M.Ag., secara resmi membuka acara ini yang dihadiri oleh para peserta dari berbagai fakultas, wakil dekan, ketua jurusan, dan admin aplikasi Merpati, termasuk peserta undangan perwakilan dari LPM IAIN Langsa. Dr. Irham Falahudin, M.Si. dari UIN Raden Fatah Palembang menjadi narasumber utama, membahas isu-isu seputar MBKM dan berbagi pengalaman dalam pelaksanaannya. Disampaikannya, MBKM bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memberikan mahasiswa otonomi dalam pembelajaran, dan mengembangkan soft skill.

Kegiatan ini diharapkan menciptakan mahasiswa yang lebih mandiri dalam pengelolaan pembelajaran, meningkatkan daya saing lulusan IAIN Lhokseumawe di pasar kerja, dan mengembangkan karier mahasiswa. Ketua LPM, Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A., berharap kerja sama erat antara semua pihak dapat mengoptimalkan pelaksanaan MBKM.

Selanjutnya, pada tanggal 19-21 September 2023, IAIN Lhokseumawe menggelar kegiatan Sosialisasi Instrumen Akreditasi Internasional dan Program Studi Baru, dengan tema "Peningkatan Standar Akademik dan Pengembangan Sumber Daya Menuju Akreditasi Internasional." Acara ini dihadiri oleh para Dekan, Direktur Pascasarjana, Wakil Dekan, Wakil Direktur Pascasarjana, dan Ketua Program Studi, serta peserta undangan perwakilan dari Universitas Malikussaleh Lhoksemawe.
Dr. Helmi Syaifuddin, M.Fil.I. dari UIN Malang yang menjadi narasumber utama membahas ISO 21001:2018, pentingnya akreditasi internasional, dan konsep Kurikulum Outcome-Based Education (OBE). Kegiatan ini memberikan pemahaman mendalam tentang instrumen akreditasi internasional dan persyaratan ISO 21001:2018, yang meningkatkan kualitas pendidikan dan persiapan lulusan untuk pasar kerja global.
Ketua LPM IAIN Lhokseumawe, Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A., menyatakan bahwa akreditasi internasional memberikan pengakuan yang lebih luas dan meningkatkan citra global lembaga. Lebih lanjut, pengembangan program studi baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pasar kerja diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam memenuhi tuntutan zaman. 

Kedua kegiatan ini memperlihatkan komitmen IAIN Lhokseumawe untuk terus meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk meraih kesuksesan dalam pendidikan dan karier mereka. (Admin)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Sabtu, 26 Agustus 2023

Benchmarking LPM IAIN Lhokseumawe dengan LPM UIN Ar-Raniry

(Tim LPM IAIN Lhokseumawe bersama beberapa dosen Auditor Audit Mutu Internal melakukan diskusi dalam kegiatan benchmarking di kantor LPM UIN Ar-Raniry Banda Aceh) 

Rangkang Belajar | Dalam upaya peningkatan mutu dan kualitas lembaga pendidikan tinggi, IAIN Lhokseumawe telah mengadakan kegiatan benchmarking ke LPM UIN Ar-Raniry pada Jumat, 25 Agustus 2023. Dalam pertukaran pengalaman ini, kedua institusi saling berbagi wawasan untuk merancang sistem tata kelola yang lebih baik. Benchmarking ini ditujukan untuk menggali best practice dalam penyusunan ulang Ortaker serta memperkuat Budaya Mutu di lingkungan kampus.

Beberapa poin penting menjadi fokus utama dalam kegiatan benchmarking, antara lain:

  1. Penyusunan Ulang Ortaker untuk Peningkatan Mutu; hal ini penting untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas tata kelola akademik, IAIN Lhokseumawe menyadari perlunya melakukan penyusunan ulang Ortaker.
  2. Pendekatan yang Mengedepankan Peran Kajur; hal ini akan memastikan bahwa tim auditor memiliki pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan persiapan yang diperlukan dalam proses audit. Selain itu, perspektif dari auditee juga diakomodasi untuk mendapatkan perbandingan yang lebih komprehensif.
  3. Memperkuat Peran LPM dalam Penjaminan Budaya Mutu; IAIN Lhokseumawe memiliki komitmen untuk mengadopsi praktik terbaik dari LPM UIN Ar-Raniry dalam membentuk budaya akademik yang berkualitas.
  4. Pentingnya Peran Gugus Kendali Mutu (GKM); pentingnya penanggung jawab mutu di tingkat fakultas diakui oleh IAIN Lhokseumawe. GKM sebagai struktur penanggung jawab mutu akan tetap berkoordinasi dengan LPM, memastikan sinergi yang optimal dalam menjalankan tanggung jawabnya. Penguatan kedudukan Auditor di bawah LPM diharapkan dapat meningkatkan independensi dan integritas proses audit yang dilakukan. Karenanya, penting bagi IAIN Lhokseumawe mempertimbangkan pemberian apresiasi yang lebih kepada personal GKM sebagai struktur yang memiliki peran vital dalam menjaga mutu akademik di masing-masing fakultas/Pascasarajana dan Program studi.
  5. Mekanisme PPEPP untuk Tindak Lanjut dan Perbaikan; dalam menghadapi temuan yang dihasilkan oleh tim auditor, IAIN Lhokseumawe merencanakan untuk mengadopsi mekanisme PPEPP (Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Penyempurnaan) yang melibatkan unsur-unsur pimpinan, seperti Rektor, Dekan/Kaprodi, LPM, dan auditor. Mekanisme ini akan memastikan tindak lanjut yang efektif dan perbaikan berkelanjutan.

(Ketua LPM IAIN Lhokseumawe menerima plakat sebagai cendera mata dari Ketua LPM UIN Ar-Raniry)

Melalui kegiatan benchmarking, Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A. selaku Ketua LPM IAIN Lhokseumawe berharap dapat mengimplementasikan praktik-praktik terbaik yang telah ditemukan dari LPM UIN Ar-Raniry untuk terus meningkatkan mutu dan prestasi dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Dengan pertukaran wawasan dan pengalaman ini, IAIN Lhokseumawe siap menghadapi masa depan dengan sistem tata kelola dan budaya mutu yang lebih kuat. (Admin)


Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 28 Juni 2023

Audit Mutu Internal untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan IAIN Lhokseumawe

(Kiri atas: AMI di lingkungan FEBI, Kiri bawah: AMI di lingkungan FUAD, Kanan atas: Ami di lingkungan FTIK, Kanan bawah: AMI di lingkungan FASYA)

Rangkang Belajar | Untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Lhokseumawe telah melaksanakan program Audit Mutu Internal (AMI). Kegiatan ini dilakukan mulai tanggal 19 hingga 22 Juni 2023 di empat fakultas dan Pascasarjana di kampus tersebut. AMI adalah bagian dari program rutin tahunan yang bertujuan untuk memastikan bahwa IAIN Lhokseumawe mempertahankan standar kualitas pendidikan yang tinggi dan memenuhi persyaratan akademik. Audit ini melibatkan tim auditor yang terdiri dari dosen-dosen lintas fakultas. Mereka melakukan pemeriksaan mendalam terhadap dokumen pendukung berbagai aspek pendidikan di setiap fakultas dan program studi.

Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A., Ketua LPM IAIN Lhokseumawe menjelaskan bahwa AMI bertujuan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan dan sejauh mana capaian budaya mutu telah dijalankan. Selama empat hari berlangsungnya audit mutu internal, tim auditor dan koordinator dari LPM IAIN Lhokseumawe melakukan peninjauan terhadap dokumen capaian kinerja Fakultas dan Pascasarjana serta masing-masing Prodi berdasarkan daftar tilik.

Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Dr. Bastiar, M.A. menjadi Ketua tim auditor. Sementara itu, di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Nurul Khansa Fauziyah, M.Si. memimpin tim auditor. Fakultas Syariah diawasi oleh Dr. Nurul Fadhilah, S.Pd.I., M.Hum., dan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah oleh Dr. Yusnaini, S.Ag., M.Pd. Selanjutnya, pelaksanaan AMI berlangsung di lingkungan Pascasarjana dengan Dr. Nurlaila, M.Pd. sebagai Ketua tim auditor.

Lisa, M.Pd, Kapus. Audit dan Pengendalian Mutu yang bertanggung jawab atas pelaksanaan AMI tahun 2023, menjelaskan bahwa LPM IAIN Lhokseumawe sangat berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memenuhi harapan mahasiswa dan masyarakat. AMI menjadi program penting dalam menganalisis dan mengevaluasi kegiatan internal berjalan sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan. Program AMI yang teratur dan komprehensif merupakan bukti komitmen IAIN Lhokseumawe dalam memberikan pendidikan berkualitas kepada mahasiswanya, menjaga reputasi institusi, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan yang diberikan oleh IAIN Lhokseumawe.

(Dr. Zainuddin Hasibuan, M.S. Ketua Lembaga Bahasa dan Nurul Akmal, M.Pd.Sekretaris Prodi PPG melakukan audit pada Lembaga Penjaminan Mutu)

Upaya peningkatan mutu pendidikan di IAIN Lhokseumawe tidak berhenti di sini. Seminggu setelah pelaksanaan AMI di lingkungan Fakultas, Pascasarjana dan program studi, LPM IAIN Lhokseumawe kembali menggelar program AMI kepada unit-unit kerja layanan pendidikan pada tanggal 26-27 Juni 2023. AMI kepada unit-unit kerja layanan pendidikan bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dan efektivitas unit-unit layanan pendidikan. Tim auditor yang melaksanakan AMI dipilih melalui proses pendaftaran bagi para dosen yang telah mengikuti pelatihan terkait.

Untuk menghasilkan pelaksanaan AMI yang Profesional, Penyajian yang wajar, Ketelitian, Independen, dan berdasar bukti, tim Auditor disusun melalui proses pendaftaran bagi para dosen yang  telah mengikuti pelatihan terkait. Berikut adalah tim auditor yang bertugas: 1) Almira Keumala Ulfa, M.Si., Ak., CA. dan Linur Ficca Agustina, M.Kes. pada UPT Perpustakaan, 2) Dr. Bastiar, M.A. dan Dr. Bukhari, M.H. pada Satuan Pengawas Internal, 3) Dr. Nurlaila, M.Pd. dan Nurul Hikmah, M.Pd. pada UPT Ma’had Al-Jami’ah, 4) Dr. Yusnaini, M.Pd. dan Hidayatina, M.A. pada Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, 5) Dr. Rahmy Zulmaulida, M.Pd. dan Muhammad Ihsan, M.H. pada Subbagian Organisasi Kepegawaian dan Penyusunan Peraturan, 6) Nurul Khansa Fauziyah, M.Si. dan Dr. Bukhari, M.H. pada Bagian Perencanaan dan Bagian Keuangan, 7) Dr. Nurul Fadhilah, M.Hum. dan Rizka Rivensky, M.A. pada UPT Teknologi Informasi dan Pangkalan Data, 8) Muhammad Ilham, M.I.T. dan Dr. Bukhari, M.H. pada UPT Pengembangan Bahasa, 9) Dr. Ismail, M.A. dan Dwhy Dinda, Sari, M.Pd. pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 10) Dr. Zainuddin Hasibuan, M.S. dan Nurul Akmal, M.Pd. pada Lembaga Penjaminan Mutu.

Diharapkan hasil dari AMI ini akan menjadi dasar bagi pengambilan keputusan dan perencanaan strategis dalam upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan di IAIN Lhokseumawe. Pelaksanaan AMI diharapkan dapat membantu mengidentifikasi best practice dan memperkuat sistem manajemen dan pengendalian mutu di kampus ini. Melalui upaya yang komprehensif ini, IAIN Lhokseumawe berkomitmen untuk terus meningkatkan standar mutu pendidikan dan layanan pendidikan kepada mahasiswa dan seluruh tenaga pendidik dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat mencapai perubahan positif dan berkelanjutan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Senin, 15 Mei 2023

Internalisasi Nilai-nilai Karakter dalam Budaya Banjaran Pesantren Musthafawiyah Purbabaru (Bagian 2)

Bagian 2: Internalisasi Nilai-nilai dalam Pembentukan Sikap dan Perilaku


Kurikulum dan Sistem Pembelajaran Klasik

Eksplorasi lain terhadap keunggulan Pesantren Musthafawiyah adalah budaya dan pembelajaran kutual-turâth. Budaya Pesantren Musthafawiyah adalah pembelajaran dengan materi bahasa Arab terdiri dari pelajaran al-nawual-sharfal-mafûzhât, dan kitab-kitab klasik berbahasa Arab.

Kegiatan mudhâkarah membentuk keunggulan santri dalam hal komunikasi terutama penguasaan kutub al-turâth. Analisis terhadap kelemahan sistem banjaran adalah disiplin berbahasa, alasannya dalam kehidupan banjar sehari-hari tidak ada pembiasaan terhadap percakapan bahasa Arab. Bahkan, santri yang berasal dari luar Kota Mandailing Natal mampu berbahasa Mandailing setelah dua tahun tinggal di Musthafawiyah.

Kelemahan lain adalah metode pengajaran kitab oleh beberapa komunitas banjar masih menggunakan bahasa daerah. Padahal, mayoritas pondok pesantren sudah mengarah kepada peningkatan bahasa Arab. Idealnya, keterampilan berbahasa Arab akan memudahkan santri dalam penguasaan kitab berbahasa Arab, tidak hanya kutub al-turâth, apabila dilaksanakan, maka nilai-nilai budaya banjaran dapat diimplementasikan dengan sempurna.

Membentuk Sikap dan Perilaku

Pesantren Musthafawiyah menerapkan sistem pembelajaran klasik, sedangkan untuk sistem pengelolaan bersifat integratif. Pola hubungan manusiawi yang terjadi berdampak pada santri memiliki perencanaan yang baik dalam pengelolaan kebutuhan makan mereka. Secara mandiri para santri juga membeli, membangun, merenovasi, dan memperbaiki pondok sendiri. Nilai karakter lain yang dibangun dari hasil identifikasi terhadap kehidupan budaya banjaran adalah santri memiliki motivasi, wirausaha kemandirian, dan daya kreatif. 

Penampakan dari cara berpakaian santri Musthafawiyah adalah sarung, jubah putih, berlobe (berpeci), dan memakai selop/sandal. Sedangkan bagi santri senior dengan pola berpakaian yang sama ditambah jas dan sorban di kepala sebagai penutup lobeBaju koko berwarna putih sebagai lambang sikap kesederhanaan dan kesucian hati, sarung merupakan identitas lokal/tanah air. Lobe putih dan sorban menjaga pikiran agar bersih. Sorban juga berarti penjagaan atas pengetahuan. Sedangkan sandal melambangkan fleksibilitas. Bentuk pakaian tersebut mencirikan santri Musthafawiyah dengan santri lainnya. Analisis terhadap perilaku berpakaian juga membuktikan identitas santri Musthafawiyah yang sederhana dan ikhlas hati.

Interaksi kemasyarakatan yang muncul, di mana penghuni pondok satu dengan lainnya saling berbagi bahan pokok dan bahan makanan. Pelajaran sosial dari interaksi tersebut mengasah empati dan rasa tanggung jawab. Realitas sosial tersebut menjadi gambaran nilai karakter sosial, tanggung jawab, dan empati.

Tempat ibadah merupakan komponen utama sebuah lembaga pendidikan agar disebut pesantren. Selain masjid, dalam budaya banjaran terdapat musala sebagai tempat ibadah, dan pelaksanaan kegiatan lain seperti pengajian, serta pengenalan ritual keagamaan. Aktivitas yang berpusat di tempat ibadah baik masjid maupun musala memberikan nilai karakter religiositas.

Pesantren memiliki alasan terkait kebijakan prasarana. Fasilitas kamar mandi umum belum dipenuhi untuk proses pembelajaran yang sarat akan nilai. Mandi dan mencuci di sungai, mencari di air bersih sela bukit di belakang banjar menjadi fenomena dalam pembentukan karakter keberanian serta ketahanan fisik dan mental.

Pesantren Musthafawiyah tidak menerapkan sistem dapur umum di mana pesantren lain menjadikan dapur umum sebagai salah satu income pendapatan pesantren. Alasan pesantren tidak menyediakan dapur umum adalah agar para santri memahami manajemen waktu. Santri dilatih memasak sendiri atau menanak nasi sebagai pembelajaran bertahan hidup. Selain itu kondisi santri berinteraksi dengan masyarakat membeli lauk mencerminkan karakter kewirausahaan dan kemandirian. Karakter lain yang terbentuk dari fenomena tersebut adalah karakter mandiri, komunikatif, dan pro-sosial.

Aktivitas lain menciptakan nilai kebebasan, kondisi tempat bermukim santri di banjar adalah salah satunya. Tujuannya agar bersifat opsional santri mau tinggal di asrama, pondok, atau indekos di rumah masyarakat atau rumah guru. Kebebasan lain yang diberikan adalah pemilihan guru atau memilih kegiataan mudhâkarah di mana atau kepada guru siapa santri ingin belajar. Situasi tersebut mencerminkan karakter menghargai perbedaan, sikap toleransi, sikap peduli, dan tanggung jawab.

Adapun implementasi fungsi budaya banjaran dilakukan melalui serangkaian tahap yaitu:

  1. Tahap pemahaman “al-istifhâm”, tahap di mana santri memahami perbedaan hal baik dan hal buruk serta menyadarai konsekuensi dari hal tersebut.
  2. Tahap pelaksanaan “al-‘amal”, tahap di mana santri dituntut melaksanakan perilaku baik dan menghindari perilaku buruk tersebut. Dalam hal ini santri perlu melalui tahap adaptasi terhadap peraturan yang dibuat. Pengenalan terhadap standar tertuang dalam disiplin, tata tertib, dan peraturan lainnya. Peraturan dan tata tertib yang dibuat secara formal melatih warga pesantren agar memiliki jiwa disiplin.
  3. Tahap pembiasaan “al-âdah”, tahap di mana nilai-nilai budaya banjaran yang dilaksanakan dan menjadi kebiasaan. Pola tersebut terbentuk setelah santri merasa terpaksa akibat peraturan.
  4. Tahap Kebutuhan “al-âjahtahap di mana santri melaksanaan aktivitas dengan rasa sadar dan keterpanggilan. Kebutuhan akan ilmu dan nilai pesantren yang kemudian membentuk pribadi santri dan sebagai model pengembangan karakter santri.

Hasil penelitian memaparkan identifikasi terhadap nilai budaya banjaran teraplikasi secara efektif melalui pemahaman terhadap perilaku yang terbungkus dalam operasionalisasi kegiatan. Paparan data penelitian menunjukkan beberapa karakter yang terbentuk melalui internalisasi nilai budaya banjaran, yaitu: karakter religiositas, nilai kemandirian, daya kreativitas inovatif, semangat kewirausahaan, keterampilan komunikasi, kompetensi bermasyarakat, kebebasan dan keberanian, ketahanan fisik dan mental, sikap moderat, rasa toleransi, ukhuwah Islamiyah.

Kesimpulan

Model internalisasi budaya banjaran sebagai pembentuk karakter santri Pesantren Musthafawiyah Purbabaru termanifestasikan dalam bentuk fungsionalisasi fungsi manajemen mulai dari perencanaan kegiatan, pengorganisasian program, operasionalisasi kegiatan dan kegiatan evaluasi. Konstruk hasil penelitian mengungkapkan internalisasi nilai budaya banjaran dalam membentuk karakter, pertama; sebagai fasilitator pembentukan sikap sederhana, kreatif inovatif, kemandirian sosial, tanggungjawab, dan empati. Kedua, fasilitator pendukung pembelajaran melalui program self learning dalam kegiatan muâarah (tablig) dan mudhâkarah. Implementasi pengetahuan dan pemahaman juga didapat dari jenjang pendidikan formal; Ketiga; wadah aktualisasi budaya banjaran dalam bentuk organisasi santri. Santri dilatih kepemimpinan dan administrasi; dan Keempat; budaya banjaran menjadi wadah pengembangan religiositas dan kedisiplinan.

Pengamatan terhadap karakter santri Musthafawiyah adalah internalisasi budaya banjaran, antara lain: nilai kemandirian, nilai inovasi dan kreativitas, nilai motivasi kewirausahaan, nilai religiositas, nilai komunikasi, nilai sosial kemasyarakatan, nilai ketahanan mental dan fisik, nilai moderasi yang menghargai perbedaan, nilai toleransi, nilai ukhuwah (persahabatan dan kekeluargaan). Artikulasi nilai budaya banjaran dapat dipraktikkan secara efektif dalam konteks internalisasiInternalisasi budaya banjaran memainkan peran krusial dalam membentuk karakter siswa dan mendorong perkembangan sosial. Dengan membina sikap positif, mendukung pembelajaran, menyediakan pelatihan kepemimpinan dan administrasi, serta memperkuat ketakwaan dan disiplin, budaya banjaran menjadi aset yang tak ternilai dalam membentuk individu yang berkepribadian seimbang. (Admin)


Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Senin, 08 Mei 2023

Internalisasi Nilai-nilai Karakter dalam Budaya Banjaran Pesantren Musthafawiyah Purbabaru

Bagian 1: Internalisasi Nilai-nilai Identitas Pembeda, Komitmen Bersama, dan Stabilitas Sitem Sosial

Pendahuluan
Budaya banjaran (asrama santri dalam wujud pondok/gubuk), yang terkenal dengan kekayaan pengetahuan dan tradisinya telah lama dihormati karena potensinya dalam membentuk individu santri secara positif. Studi ini menggali proses internalisasi budaya banjaran dan dampaknya terhadap perkembangan karakter santri Pesantren Musthafawiyah Purbabaru Kabupaten Mandailing Natal. Dengan memahami bagaimana nilai-nilai budaya diserap dan diintegrasikan ke dalam kehidupan santri, maka akan didapati wawasan tentang bagaimana warisan budaya ini berkontribusi pada masyarakat luas.

Pesantren Musthafawiyah, yang didirikan tahun 1912 menjadi pelopor pendidikan di Sumatera Utara. Pesantren ini berhasil melahirkan tokoh-tokoh penting seperti Syekh Mustafa Husein Nasution, Syekh Abdul Halim Khatib, dan Syekh Ali Hasan Ahmad ad-Dary yang banyak memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa. Nilai-nilai pendidikan tidak dapat dipisahkan dari budaya banjaran yang terinternalisasi di dalam sarana tempat tinggal para santri yang lazim disebut dengan banjar. Studi ini menunjukkan bahwa banjar sebagai tempat siswa laki-laki tinggal adalah salah satu karakteristik yang melekat pada Pesantren Musthafawiyah Purbabaru. Budaya banjaran bahkan menjadi faktor penentu utama dalam pendidikan karakter santri. Dalam istilah Pulungan, Pesantren Musthafawiyah Purbabaru menjadi bagian dari sistem yang berfungsi sebagai pelindung, motivator, dan inisiator untuk mewujudkan kehidupan beragama yang mengedapankan akhlakul karimah.

Budaya banjaran berfokus pada nilai-nilai yang mempengaruhi karakter siswa dalam periode tertentu, dimana sikap yang terbangun erat kaitannya dengan ketulusan, kemandirian, komunikasi, kesederhanaan, kebebasan, dan kewirausahaan. Interpretasi nilai-nilai ini dilakukan melalui tindakan observasi, analisis, pemaknaan, eksplorasi fungsi dan pelestarian budaya banjaran secara internal dan eksternal.

Banjar adalah bangunan yang berderet, merupakan bangunan berbentuk rumah yang dijadikan tempat tinggal oleh para santri ketika menuntut ilmu di pesantren. Banjar memiliki konsep bangunan rumah mini, standar tempat tinggal berukuran 3x3 m. Banjar dibuat dengan menggunakan kayu/papan dan memiliki atap seng atau rumbia. Banjar secara sederhana berbentuk rumah panggung minimalis yang memiliki banyak fungsi serta makna filosofis.

Akulturasi Nilai Budaya Banjaran dalam Pembentukan Perilaku

Budaya banjaran menjadi sebuah bagian dari karakteristik Pesantren Musthafawiyah. Pemahaman terhadap nilai budaya banjaran bersifat jangka panjang. Pengamatan terhadap karakter santri melalui internalisasi budaya banjaran antara lain mewujud dalam nilai kemandirian, nilai inovasi dan kreativitas, nilai motivasi kewirausahaan, nilai religiositas, nilai komunikasi, nilai sosial kemasyarakatan, nilai ketahanan mental dan fisik, nilai moderasi yang menghargai perbedaan, nilai toleransi, dan nilai ukhuwah (persahabatan dan kekeluargaan).

Peranan budaya banjaran dalam membentuk karakter santri diamati melalui sistem pengelolaan pesantren yang dapat diamati melalui analisis sistem-proses-output. Analisis terhadap input dimulai dari sistem penerimaan, yang dalam hal ini pesantren bertahan dengan standar lembaga, di mana santri baru yang diterima adalah semua calon santri yang mendaftar dan telah mengikuti pemetaan kemampuan membaca Al-Qur’an. Penerimaan santri lebih tepat dikatakan sebagai ajang pemetaan santri baru. Semua santri yang mempunyai niat belajar yang dibuktikan dengan mendaftar dan mengikuti proses pemetaan akan diterima sebagai peserta didik. Santri baru juga diberi kebebasan dalam menentukan tempat tinggal hingga memilih banjar. Banjar yang dijadikan tempat tinggal para santri putra dapat dibeli melalui alumni, membuat pondok baru atau indekos di rumah masyarakat dan rumah guru.

Orientasi nilai pesantren mangarah kepada pembentukan dan penanaman nilai kemandirian, kewirausahaan, dan religiositas. Aspek nilai kemandirian terbentuk secara sistematis terbentuk melalui pola kegiatan harian, antara lain: santri belajar kreatif dalam merawat dan merenovasi banjarnya masing-masing.

Santri dituntut memiliki jiwa kewirausahaan, hal ini tergambar dari interaksi santri dengan masyarakat dalam mengelola kebutuhan makan mereka dengan berbelanja kebutuhan pokok di warung-warung masyakat sekitar dan juga dalam masalah sewa tanah. Santri juga melakukan interaksi dengan santri lainnya dan alumni dalam hal jual beli banjar. Prosedur pembelian banjar dapat melalui pihak pesantren, santri senior, atau alumni yang sudah tamat. Penggambaran terhadap fenomena tersebut adalah nilai komunikasi, solidaritas, dan tolong-menolong.

Sedangkan tinjauan terhadap aspek religiositas antara lain menjadikan masjid/musala sebagai sentra kegiatan, baik kegiatan formal atau informal, kegiatan besar atau kecil. Keberadaan pesantren di tengah masyarakat juga berfungsi sebagai pelindung. 

Internalisasi dan Fungsi Budaya Banjaran

1. Identitas Pembeda

Bangunan banjar di Pondok Musthafawiyah berbentuk rumah panggung dan berbahan kayu/papan dan seng. Media untuk penerang banjar menggunakan bohlam, dan bahkan beberapa banjar diterangi lampu teplok. Aksesoris banjar menggunakan partisi yang sederhana beralaskan tikar dan lemari buku seadanya. Para santri, meskipun (terbatas) telah tersedia fasilatas Mandi-Cuci-Kakus lebih memilih sungai sebagai tempat mereka melaksanakan aktivitas mencuci dan mandi. Sementara untuk mendapatkan air bersih, tidak jarang mereka pergi ke celah bukit. Realitas tersebut menggambarkan kehidupan santri yang sederhana, mandiri, dan gigih.

Para santri Pesantren Musthafawiyah dikenal juga dengan panggilan pokir yang berarti ‘fakir’. Kata fakir mengisyaratkan orang yang miskin ilmu sehingga dengan rasa sadar dan keterpanggilan hati berusaha untuk membuat diri menjadi ‘kaya’ dengan menambah dan menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya di pesantren. Pemaknaan atas sebutan pokir tersebut menggambarkan nilai sederhana, rendah hati, suci jiwa, namun antusi dalam thalabul ‘ilmi.

Identifikasi pada atribut, para santri cenderung mengikuti mode berpakaian ulama-ulama setempat dengan memakai jubah, kemeja putih/baju koko, sarung, lobe (songkok), sorban, dan sandal dalam segala kegiatan baik yang bersifat formal dan nonformal yang dalam penelitian Daulay dkk. atribut pakaian ini dikatakan sebagai budaya fisik. Hal ini dapat menggambarkan nilai-nilai kesederhanaan, cinta dan ta’zhîm terhadap ulama, menjaga ilmu yang dimiliki, dan menjaga kesucian jiwa.

Untuk tempat tinggal, santri memiliki kebebasan dalam memilih tinggal di asrama, indekos atau membeli banjar yang kemudian dikreasikan dengan melakukan perawatan atau menambah partisi dan menjadikan kolong banjar sebagai tempat penyimpanan barang-barang bawaan santri. Santri juga memiliki kebebasan untuk mengikuti kegiatan mudhâkarah. Bebas di sini diartikan, bebas memilih kepada guru mana dan kegiatan apa dalam mudhâkarahRutinitas harian santri selain mengikuti mudhâkarah adalah pemanfaatkan waktu siang dan sore hari untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sesuai minat masing-masing. Selain itu santri juga diberi kebebasan untuk beraktivitas mandiri seperti mencuci atau istirahat. Nilai yang tergambar dari fenomena aktivitas harian santri tersebut adalah kemerdekaan, sikap tanggung jawab, dan sikap jujur.

Para santri Musthafawiyah berasal dari berbagai macam daerah dengan suku yang beragam dan dari jenjang pendidikan serta kelas yang berbeda. Data tersebut menciptakan nilai-nilai karakter toleransi, kesetaraan, dan ukhuwah. Penelitian yang dilakukan Raihani, Parker et all. mengungkapkan bahwa model kepemimpinan demokratis menjadi upaya dalam menciptakan lingkungan pesantren yang toleran dan multikultural.

2. Komitmen Bersama

Pesantren sarat akan aktivitas kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran hidup. Nilai-nilai Islam termanifestasikan dalam kegiatan sorogan, pengajian, dan aktivitas ekstrakurikuler lainnya. Bentuk kegiatan bersifat pembangkit semangat dalam bentuk: a) pemberian gaji (ujrah)  tepat waktu; b) kebijakan bermusyawarah atau melibatkan anggota dalam pembentukan keputusan strategis; c) melaksanakan fungsi delegatif; d) melaksanakan pemberian tanggung jawab/peran; dan e) optimalisasi skill dengan aktivitas yang mendayagunakan keterampilan. Nilai karekter yang dihasilkan adalah rasa memiliki yang kuat (al-Ta’ashshub) dan nilai semangat kerja.

Operasionalisasi kegiatan juga dilakukan dengan pengorganisasian yang melibatkan para ustaz dan para santri senior dalam pola pengawasan banjar: Adapun bentuk operasionalisasi tersebut adalah:

  • Pembentukan koordinator guru berasal guru-guru senior.
  • Pembentukan jadwal supervisi guru junior di malam hari.
  • Pembentukan organisasi santri yang disebut Dewan Pelajar Musthafawiyah. Organisasi santri tersebut juga merupakan perpanjangan kewenangan guru.
  • Pembentukan Persatuan Keluarga Besar Musthafawiyah, disebut juga pengurus banjar.
  • Terdapat sistem ‘abang asuh’, yaitu penempatan santri senior pada setiap banjar yang berfungsi sebagai pembimbing santri-santri junior.

3. Stabilitas Sistem Sosial

Pesantren Mushafawiyah memiliki santri yang berasal dari daerah dan asal suku yang berbeda. Kondisi heterogen tersebut menciptakan karakter dengan nilai Pancasila yaitu Bhineka Tunggal Ika, di mana perbedaan suku, bahasa, dan latar belakang justru dijadikan alat mencapai kesamaan, yaitu visi dan misi Pesantren Musthafawiyah. Pesantren menerapkan sistem pengawasan abang senior yang ditempatkan pada banjar sebagai abang asuh untuk membimbing anggotanya.

Manajemen banjar yang dilaksanakan Musthafawiyah adalah membagi pondok santri ke dalam 29 banjar yang menggambarkan miniatur perkampungan. Setiap banjar memiliki jumlah yang berbeda antara 20 hingga maksimal 150 pondok dan setiap pondok dihuni oleh 2 sampai 4 orang santri. Komunitas banjar memiliki perangkat kepengurusan terdiri dari ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris, bagian ketertiban. Kepengurusan banjar di bawah binaan dan pengawasan Dewan Pelajar (Depel) Musthafawiyah. Selain perangkat banjar dan Dewan Pelajar juga terdapat komunitas Keluarga Besar Musthafawiyah (KBM) yang beranggotakan santri-santri yang berasal dari daerah asal yang sama, seperti KBM Deli Serdang, Padang, dan lain-lain. KBM juga memiliki fungsi sebagai lembaga pengawas dan pembimbing santri.

Secara eksplisit, pola manajemen yang diterapkan Pesantren Musthafawiyah berangkat dari penggabungan dua konsep, antara konsep pesantren dengan manajemen berorientasi terhadap penanaman jiwa keikhlasan (tulus), sukarela yang dalam Islam dikenal dengan istilah “lillāhi ta’ālā. Integrasi konsep tersebut merupakan bentuk akomodatif pesantren terhadap perkembangan global saat ini. Konsep tradisional tersebut tetap menjadi modal dasar yang dilapisi dengan profesionalisme sehingga membentuk kombinasi ideal yang utuh, yaitu idealisme-profesionalisme.

Perilaku profesional ditunjukkan guru melalui tanggung jawab dalam pembinaan santri, sementara idealisme ditunjukkan melalui nilai kultur banjaran yang sudah bertahan selama kurun satu abad lebih. Sebagaimana penelitian yang dilakukan Adawiyah dan Osman Ghani et. all. menyatakan, bahwa perilaku yang mencerminkan spirit keislaman terbukti mampu membentuk perilaku profesional dan meningkatkan kinerja organisasi. (Admin)


Disadur dari:

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect