Carousel

Kamis, 17 November 2022

Praktik Pengalaman Lapangan

Rangkang Belajar| Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh mahasiswa semester 7 pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Lhokseumawe yang telah menyelesaikan tidak kurang dari 142 SKS beban Mata Kuliah. Mata Kuliah ini dimaksudkan untuk melatih mahasiswa, menguatkan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki dalam proses pembelajaran sesuai jurusan/program studi masing-masing, sehingga mahasiswa mendapatkan pengalaman yang nyata dan dapat digunakan sebagai penguat kompetensi yang mereka miliki.
Kegiatan PPL, sederhananya adalah kegiatan praktik mandiri yang dilakukan oleh mahasiswa dengan cara menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya telah dipelajari selama kuliah ke dalam praktik mengajar di lembaga-lembaga pendidikan yang telah melakukan perjanjian kerja sama dengan pihak kampus, dalam hal ini adalah kereja sama satuan-satuan pendidikan di wilayah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe sekitarnya dengan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe.


PPL juga menjadi momen implementasi sebuah kalimat bijak yang sering didengar “Sebaik-baiknya belajar adalah dengan mengajar. Ungkapan ini, jika disandingkan dengan makna yang senada, maka akan didapati kalimat indah dalam kitab adabul ‘ālim wal muta’allim yang berbunyi: “al-‘ilmu bilā ‘amalin kasy-syajari bilā ṡamarin”, Ilmu yang tidak dimalkan bagaikan pohon yang tak berbuah. Dan jika disandingkan lagi dengan kalimat yang lebih agung, maka akan didapati Sabda Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari, bahwa Rasulullah bersabda: “Khairukum man ta’allma al’Qur’āna wa ‘allamahu”, sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Qur’an dan kemudian mengajarkannya.
Untuk itu pulalah kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Tahun Akademik 2022/2023 dengan tema “Mewujudkan Calon Tenaga Pendidik dan Kependidikan Profesional, Islami, dan Berwawasan Global” dilaksanakan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan, sejak tanggal 15 September 2022 dan berakhir pada tanggal 15 November 2022. 


Tujuan PPL adalah untuk melatih mahasiswa FTIK yang yang memiliki profil sebagai calon guru agar memiliki kemampuan memperagakan kinerja dalam keadaan nyata, yaitu kegiatan belajar mengajar maupun tugas-tugas keguruan lainnya di ruang kelas yang sesungguhnya. Sementara pengalaman sebelumnya yang didapat mahasiswa hanya dari kegiatan micro teaching di ruang belajar kampus, dan pada PPL-lah mereka diterjunkan langsung di lingkungan sekolah yang sesungguhnya.


Praktik Pengalaman Lapangan tahun 2022 ini melibatkan semua mahasiswa semester 7 dari 8 Jurusan/Program Studi di lingkungan FTIK dengan beberapa aktivitas, antara lain adalah: 1) melaksanakan kegiatan pembelajaran terjadwal (praktik terbimbing dan praktik mandiri), 2) melakukan konsultasi dan refleksi praktik pembelajaran yang telah dilakukan, 3) membuat jurnal aktivitas, 4) mengoreksi pekerjaan siswa, dan 5) mendiagnosis kesulitan-kesulitan proses belajar mengajar.
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Senin, 17 Oktober 2022

Membangun Komitmen melalui Rapat Kerja FTIK IAIN Lhokseumawe

Rangkang Belajar. Dalam rangka penguatan, penyamaan persepsi terhadap program kerja yang telah disusun sebelumnya, Pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Lhokseumawe mengadakan kegiatan rapat kerja yang berlokasi di Grand Renggali Hotel Takengon, dengan mengangkat tema “Arah Pengembangan FTIK IAIN Lhokseumawe Menuju Established University”. 
Dekan FTIK, Dr. Jumat Barus, M.S. mengundang jajarannya yang terdiri dari para Wakil Dekan, Ketua Jurusan, Sekretaris Jurusan, Koordinator Gugus Kendali Mutu (GKM) Jurusan, Ketua GKM FTIK, Pengawas Jurnal di lingkungan FTIK, dan Kabag./Kasubbag. Akademik FTIK beserta para stafnya. Turut hadir dalam kegiatan rapat kerja ini Rektor, Wakil Rektor III, dan baberapa tenaga kependidikan di lingkungan rektorat IAIN Lhokseumawe. 


Dalam laporan kegiatan yang berlangsung dari tanggal 14 s.d 16 Oktober 2022, Dr. Agus Salim Salabi, M.A. selaku Koordinator acara menyampaikan, “Rapat kerja FTIK menuntut para peserta yang dibagi ke dalam empat komisi untuk berdiskusi, mengevaluasi kegiatan yang telah berjalan, mengurai secara mendalam dan konkret kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan ke depannya dengan menentukan luaran, lokasi, pelaksana, pembiayaan, serta memberikan rekomendasi yang dipaparkan oleh masing-masing perwakilan komisi." Hal ini sebagai usaha nyata dalam menapaki tangga pertama (fase penataan/meusanet) untuk menuju IAIN sebagai Established University di tahun 2025 sebagaimana roadmap yang tercantum dalam Rencana Induk Pengembangan IAIN Lhokseumawe.


Dalam paparan materi tentang “Arah dan Tujuan FTIK dalam Pengembangan Fakultas pada Tahap Penataan (Meusanet) 2021-2025”, Dr. Jumat Barus, M.S. menyatakan, bahwa visi FTIK adalah "FTIK Unggul di Tingkat ASEAN, Berbasis Digital dan Kearifan Lokal Tahun 2040". Karenanya, untuk menggapai mimpi itu, FTIK memilik sasaran sebagai berikut:
  1. Lebih dari 50% lulusannya harus memiliki IPK  di atas 3.50, memiliki skor TOEFL atau TOAFL lebih besar 500, berkarakter islami dan kearifan lokal, memiliki kemampuan IT yang baik, dan bekerja sesuai bidang keilmuan. 
  2. Lebih dari 50% dosen berkualifikasi doktor, dan lebih dari 50% menduduki jabatan Lektor Kepala atau Guru Besar.
  3. Proses pembelajaran berbasis IT dan riset didukung oleh sarana dan prasarana yang lengkap.
  4. 60% dari kegiatan di laboratorium dan ekstrakurikuler berorientasi pada pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, spritual, sosial, minat dan bakat, serta edupreneur mahasiswa. 
  5. 40% penelitian sebagai basis pengembangan keilmuan, pembelajaran, dan transformasi sosial.
  6. Mencapai  lebih dari 50 kerja sama dengan instansi pemerintah/swasta berskala lokal, lebih dari 50 kerja sama berskala nasional, dan lebih dari 10 kerja sama berskala internasional.
  7. Minimal 40% Program Studi terakreditasi Unggul. 
  8. Minimal 80% Jurnal Ilmiah terakreditasi Sinta 4, 3, dan 2.

Untuk dapat mewujudkan cita-cita institusi sebagaimana yang tersimpul dalam visi IAIN, yaitu: "Menjadikan IAIN Lhokseumawe unggul di tingkat ASEAN dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan kelembagaan berbasis digital dan kearifan lokal pada 2040”, Rektor IAIN Lhokseumawe, Dr. Danial, M.Ag. mengingatkan kepada peserta rapat kerja FTIK akan pentingnya knowledge management; yaitu bagaimana pengetahuan dikelola oleh individu kemudian menjadi sebuah kekuatan kolektif untuk pengembangan Fakultas”. Rektor juga menguatkan: “Kumpulkan semua potensi dan kurangi semua kelemahan yang ada di masing-masing unit kerja”.


Rapat Kerja FTIK IAIN Lhokseumawe juga diisi dengan outboud dalam rangka membangun tim (team building) di hari terakhir, Ahad, 16/10/2022. Selain kecerian, keakraban, dan kesetaraan, para peserta juga dapat mengambil banyak pembelajaran terkait nilai-nilai komitmen, komunikasi, trust, kesiap-siagaan, fokus kerja, dan teamwork dari permainan-permainan yang disajikan. (Admin).
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Jumat, 07 Oktober 2022

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Lhokseumawe

Buku 1
Judul Buku: Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Lhokseumawe
Penulis:  Tim Penyusun FTIK IAIN Lhokseumawe 
Jumlah Halaman: 83 hlm
Diterbitkan oleh: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Lhokseumawe, Lt. 2 Gedung FTIK IAIN Lhokseumawe Jl. Medan-B. Aceh, Km. 275 No. 1 Alue Awe, Kota Lhoksesumawe, Aceh 

Download di sini!

Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (edisi ke-2) ini menjadi panduan mahasiswa di lingkungan FTIK IAIN Lhokseumawe terkait format, cara  penulisan, rambu-rambu atau batasan dalam penulisan skripsi yang dilandasi dengan kode penulisan ilmiah yang lazim digunakan dalam dunia akademik  dan  berlaku. Panduan ini memuat 8 (delapan) BAB pembahasan, antara lain: 
BAB I KARYA ILMIAH (Penulisan Skripsi di FTIK IAIN Lhokseumawe, Prinsip-Prinsip Penulisan, Keaslian, Kemutakhiran, Manfaat), BAB II PENGETIKAN (Jenis dan Ukuran Huruf/Font, Batas Tepi/Margin dan Kertas, Warna Sampul, Modus Huruf, Jarak Baris Ketikan/Spasi, Alinea Baru dan Penomoran Halaman, Bullet), BAB III SISTEMATIKA PENULISAN (Isi Bagian Awal, Isi Bagian Inti, Isi Bagian Akhir), BAB IV PENATAAN ISI KARYA ILMIAH (Penataan Isi, Penataan Tabel, Penataan Gambar), 
BAB V RUJUKAN (Catatan Kaki, Penulisan Sumber Kutipan, Cara Penulisan Dua Sumber, Cara Pengutipan dari Berbagai Sumber), BAB VI PENULISAN DAFTAR PUSTAKA (Penggunaan Huruf dan Spasi, Penulisan Sumber), BAB VII REFERENCE MANAGER (Instalasi Zotero, Document Preferences, Penggunaan Zotero melalui Web Connector, Penggunaan Zotero secara Manual, Pengaplikasian Zotero pada Tulisan), BAB VIII BAB BAHASA ARAB.


Buku 2
Judul Buku: Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Lhokseumawe
Penulis:  Tim Penyusun Pascasarjana IAIN Lhokseumawe
Diterbitkan oleh: Pascasarjana IAIN Lhokseumawe Jl. Cempaka, No. 2 Lancang Garam, Kec. Banda Sakti, Kota Lhoksesumawe, Aceh

Download di sini!

Di tahun yang sama Pascasasrjana IAIN Lhokseumawe juga telah menerbitkan buku Panduan Penulisan Karya Ilmiah (edisi revisi) untuk mahasiswa strata dua (S2). Buku Panduan Penulisan Karya Ilmiah ini iharapkan bisa membantu mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah. 
Pada sisi lain, buku ini juga bertujuan menyeragamkan teknik dan standar penulisan di lingkungan Pascasarjana IAIN Lhokseumawe sehingga ada kesamaan pandangan di kalangan mahasiswa Pascasarjana S-2, para dosen pembimbing, dan para pengambil keputusan akademik dapat terwujud.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 28 September 2022

Yudisium Sarjana Pendidikan Strata-1 FTIK IAIN Lhokseumawe Angkatan X

Rangkang Belajar| Yudisium sarjana pendidikan strata-1 FTIK IAIN Lhokseumawe yang dilaksanakan pada hari Selasa (27/09/2022) menyertakan para yudisia dari delapan (8) jurusan di lingkungan FTIK, hal ini sebagaimana yang dilaporankan Dr. Nurlaila, M.Pd. selaku Wakil Dekan 1 FTIK IAIN Lhokseumawe.


Dekan FTIK IAIN Lhokseumawe, Dr. Jumat Barus, M.S. dalam pesannya menyampaikan: "Untuk keberkahan ilmu yang telah diperoleh selama lebih kurang 4 tahun para yudisia patut berterima kasih kepada orang tua, para guru di setiap jenjang pendidikan yang telah dilalui, dan para dosen. Dekan berharap agar seluruh mahasiswa bangga menjadi lulusan IAIN Lhokseumawe dan selalu menjaga nama baik almamater.
Sementara Rektor IAIN Lhokseumawe, Dr. Danial, M.Ag. menyampaikan beberapa pesan, antara lain adalah: "Pendidikan itu penting bagi setiap orang, sementara ijazah perlu bagi yang membutuhkan". Setiap manusia pasti tidak terlepas dari masalah, maka hadapilah masalah, jangan lari dari masalah", tandas Rektor.


Pada sesi orasi ilmiah, Dr. Anggung Manumanoso Prasetyo, M.Pd.I. menjelaskan, bahwa hakikat pendidikan adalah nilai-nilai kehidupan. Tanggung jawab mahasiswa setelah menamatkan pendidikannya belum berakhir. Justru para lulusan akan dihadapkan dengan tantangan kehidupan yang lebih pelik di era digital saat ini. 
Pada zaman yang sarat dengan budaya digital trasformatif, para lulusan harus mampu beradaptasi dengan: 1) proses akulturasi; tuntutan untuk mampu menyesuaikan diri, 2) proses asimilasi; bagaimana menikmati dan memfilter percampuran budaya, 3) proses difusi; mampu menyerap informasi secara prioritas, dan 4) proses akulturasi; kepiawaian mencampur budaya sehingga melahirkan budaya baru yang lebih positif.
Noval Fuadi, M.Pd. mewakili panitia penyelenggara Yudisium X FTIK menyampaikan, ada delapan yudisia terbaik dari masing-masing Program Studi yang mendapatkan penghargaan dari Dekan FTIK, begitu juga dengan mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di bidang non-akademik, mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang disampaikan Rektor.


Dr. Anggung juga menegaskan, "Hadapi konsekuensi logis dari perkembangan zaman, untuk itu para lulusan FTIK IAIN Lhokseumawe harus memliki modal: 1)  keterampilan berkomunikasi, 2) keterampilan berkolaborasi, 3) berpikir kritis, dan 4) kreativitas yang tinggi".

 
Yudisium tahun ini dipandu oleh dua Master of Ceremony dengan menggunakan tiga bahasa (Arab-Inggris-Indonesia) dengan rentetan acara yang diawali dengan: pembukaan, pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an, selawat Nabi, menyanyikan lagu Indonesia raya, menyanyikan Mars dan Hymne IAIN Lhokseumawe. 
Dilanjutkan dengan laporan panitia, kata sambutan dari Dekan FTIK, kata sambutan dari Rektor IAIN Lhkoseumawe, penghargaan kepada 8 yudisia terbaik dari masing-masing jurusan, penghargaan kepada mahasiswa berprestasi bidang non-akademik. Kemudian, diakhiri dengan pemberian sertifikat kelulusan kepada para peserta yudisium. Acara ditutup dengan doa dan foto bersama.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Senin, 12 September 2022

Studi Banding Pengelola Rumah Jurnal IAIN Lhokseumawe

Rangkangbelajar.com| Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Lhokseumawe melalui Kapus Penelitian dan Rumah Jurnal sebagai unit kerja yang mengkoordinasikan proses diseminasi hasil-hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat berikhtiar untuk menargetkan peningkatan akreditasi sejumlah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh LPPM/Fakultas di lingkungan IAIN Lhokseumawe pada rentang tahun 2021-2025. 

Jurnal yang diterbitkan oleh LPPM/Fakultas berjumlah 26 jurnal. Empat jurnal di antaranya baru terakreditasi dan secara bertahap, ke depannya ditargetkan 15 jurnal akan terakreditasi pada tahun 2025. Sementara 4 jurnal yang telah terakreditasi dapat terus meningkat akreditasinya. Sebagai upaya transformasi di bidang publikasi ilmiah dan Jurnal ilmiah, Plt. LPPM Dr. Said Alwi, M.A. menugaskan Tim Rumah Jurnal untuk melakukan studi banding ke Sekolah Vokasional UGM Yogyakarta, Relawan Jurnal Indonesia Yogyakarta, dan UIN Raden Mas Said Surakarta pada 6 s/d 8 September 2022. Program ini tentunya terlaksana setelah mendapat dukungan penuh dari Dr. Danial, M.Ag. selaku Rektor IAIN Lhokseumawe.

Pelaksanaan kegiatan studi banding dalam rangka penguatan, pengembangan, dan peningkatan kompetensi pengelola rumah jurnal yang diwakili oleh para Editor in Chief jurnal terakreditasi, yaitu: 1) Dr. Muhammad Anggung, M.Pd.I., Editor in Chief Jurnal Idarah (Sinta 4), 2) Dr. Agus Salim Salabi, M.A., Editor in Chief Jurnal ITQAN (Sinta 5), 3) Angga Syahputra, M.E.I., Editor in Chief Jurnal JESKape (Sinta 5), 4) Trie Nadilla, M.Si, Ak,CA., Editor in Chief Jurnal JIScan (Sinta 5), dan Muhammad Ilham, M.I.T., Penanggung Jawab IT OJS Rumah Jurnal.



Hari pertama (6/09/2022) Tim Jurnal berkunjung ke Sekolah Vokasional UGM yang membawahi 22 Jurnal Ilmiah. Tim Rumah Jurnal disambut hangat oleh tuan rumah dan dilayani dengan sangat baik pada sesi sharing dan diskusi. Banyak informasi yang didapat terkait kiat-kiat pengelolaan jurnal, antara lain: konsistensi dalam pelembagaan dan strukturalisasi yang jelas, perlunya lembaga pengawas jurnal sebagai tim teknis, pengelola (editorial team) jurnal yang fokus pada workflow dan substansi artikel. Adapun Badan Pengawas berperan sebagai controller, supervisor, dan remainder.
 


Kantor Relawan Jurnal Indonesia yang beralamat di Gang Masjid Al Huda II, RT 01 RW 18, Gamping Kidul, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi destinasi di hari kedua (7/09/2022). Tim Rumah jurnal IAIN Lhokseumawe mendapat banyak masukan setelah dilakukannya bedah jurnal dan evaluasi diri jurnal pada aspek komponen editorial board. Terkait konsistensi, baik template, jenis, ukuran font, dll. juga menjadi catatan penting untuk diperhatikan.
 


Selanjutnya Tim Rumah Jurnal berkunjung ke Omah Jurnal UIN Raden Mas Said Surakarta (8/09/2022). Di sini, Tim jurnal Lhokseumawe diajak berdiskusi sekaligus mendapatkan arahan dalam mengevaluasi jurnal dari Tim Jurnal UIN Surakarta. Adanya Dewan Pengawas sistem jurnal lagi-lagi menjadi catatan penting untuk segera dibentuk. Sementara unit Fakultas bertanggung jawab terhadap jurnal masing-masing program studi. Sistem pendampingan dan targetting dapat membangkitkan semangat para pengelola jurnal untuk berlomba-lomba dalam meningkatkan akreditasi (Istibāqul khairāt).

Aggung selaku ketua Tim studi banding menyampaikan, "Dengan kegiatan studi banding diharapkan adanya optimalisasi pengelolaan jurnal di lingkungan IAIN Lhokseumawe. Dengan program-program pendampingan, terutama pada jurnal-jurnal yang belum terakreditasi tentunya akan ada peningkatan kualitas publikasi artikel." Adapun fokus kegiatan Tim Jurnal pasca studi banding adalah perbaikan dan pengembangan terhadap beberapa hal, antara lain: penamaan jurnal, kelembagaan penerbit, penyuntingan manajemen jurnal, substansi artikel, gaya penulisan, penampilan, keberkalaan, dll." (Admin)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 28 Juli 2022

Audit Mutu Internal Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

rangkangbelajar.com| Dalam rangka pelaksanaan pengujian secara sistematik, mandiri, dan terdokumentasi di lingkungan Pascasarjana IAIN Lhokseumawe, maka dilakukan Audit Mutu Internal (AMI). Hal ini  untuk memastikan, bahwa pelaksanaan semua program dan kegiatan di Pascasarjana telah sesuai prosedur dan hasilnya juga telah sesuai dengan standar untuk mencapai tujuan institusi. 


Pascasarjana IAIN Lhokseumawe memiliki empat Program Studi (Prodi), yaitu: Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) yang dipimpin oleh Dr. Kamaruzzaman, M.A, Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dipimpin oleh Dr. Nurhayati, M.A., Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yang dipimpin oleh Dr. Susi Yusrianti, M.Pd., dan Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) yang dipimpin oleh Dr. Usamah, M.A. 


Kegiatan Audit Mutu Internal (AMI) di lingkungan Pascasarjana tahun ini dilaksanakan pada Rabu 27/07/2022, di mana Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Lhokseumawe mengutus Tim Asesor Internal yang terdiri dari: Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A. sebagai pengawas eksekutif, Dwi sebagai sekretaris, Dr. Zainuddin, M.S. sebagai Ketua Tim Asesor, beserta 3 orang asesor anggota. 



Selain didampingi oleh masing-masing sekretaris Program Studi di lingkungan Pascasarjana para Ketua Program Studi juga didampingi oleh Tim Gugus Kendali Mutu Pascasarjana (Dr. Agus Salim Salabi, M.A, Dr. Jafar, M.A, Dr, Mannan, M.A, Dr. Faizin, M.A., dan Dr. Nia Wardhani, M.A.).


Adapun aspek-aspek yang diaudit, meliputi: 1) Dokumen (sebelumnya) Bukti Hasil Rapat Tinjauan Manajamen dan Bukti Verifikasi Tindakan Perbaikan, 2) Dokumen Mutu Program Studi yang terdiri dari 13 item, 3) Dokumen Data Pendukung Laporan Kegiatan Program Studi yang terdiri dari 32 item, 4) Dokumen Data Pendukung Instrumen Pemantauan dan Evaluasi Peringkat Akreditasi (IPEPA) yang terdiri dari 8 item, 5) Dokumen Mutu Unit Pengelola Program Studi (UPPS) yang terdiri dari 8 item, 6) Capaian Kinerja Program Studi berupa tabel Indikator Kinerja Utama (IKU) yang terdiri dari 8 IKU, dan 7) Hasil Laporan  Survei CPL (Capaian Pembelajaran) yang mencakup Instrumen Survei, Responden, Analisis Hasil Survei, Hasil Laporan Survei, Tindak Lanjut, dan Rekomendasi. (Admin)


Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 13 Juli 2022

Pesantren Darularafah Raya Menggelar Workshop Manajemen Asrama Santri

Sebagian besar pesantren belum intensif memfungsikan asrama sebagai sarana pembentukan sikap, pendukung aktualisasi diri, serta pendukung pembelajaran. Tidak jarang asrama santri hanya difungsikan sebagai tempat menginap dan tempat tinggal para santri. Asrama santri juga disinyalir menjadi tempat terjadinya tindak kenakalan penghuninya, seperti perilaku gaṣb, pencurian, perundungan verbal dan non-verbal (pemerasan, intimidasi, penyiksaan yang berakibat cacat, bahkan kematian), perilaku asusila, dan kenakalan lainnya jika luput dari pengawasan para guru/pengasuh asrama.


Padahal, asrama sebagai tempat tinggal para santri berfungsi sangat efektif dan potensial untuk mendukung suksesnya Proses Belajar Mengajar dan penguatan pendidikan akhlak. Karenanya, menjadikan asrama sebagai sarana yang benar-benar mampu menghadirkan nuansa pendidikan yang baik, tentunya akan dapat terwujud bila pemberdayaan ustaz/ustazah pengasuh asrama dilakukan dengan baik pula. Sehingga, keberadaan asrama bukan lagi sekadar menjadi tempat untuk tidur, istirahat, menjadi tempat untuk bermain atau lain sebagainya dengan mengabaikan aktivitas pembentukan kognitif, afektif dan psikomotorik para penghuninya. Atas dasar ini pulalah pimpinan Pesantren Darularafah Raya (PDAR) Deli Serdang, Ustaz Harun Lubis, M.Psi. mendukung penuh sekaligus membuka kegiatan “Workshop Pengembangan Manajerial Guru/Pengasuh Asrama” dalam rangkaian kegiatan "Peningkatan Profesionalisme Guru dan Tenaga Kependidikan dalam Menghadapi Kurikulum Merdeka Belajar".

Di bawah arahan Ustaz Ardian Ginting, S.Ag. selaku Kabid. Pengasuhan, para peserta yang terdiri dari 17 ustazah/pengasuh asrama putri (Dyah) dan 23 ustaz/pengasuh asrama putra (santri) didampingi secara intensif oleh Ustaz Fauzan Azhari, M.Psi. selaku Ketua Pengasuhan Santri, Ustaz Mismaruddin, M.S. selaku sekretaris bidang pengasuhan, dan Ustaz Putut Imam Syafi’i, S.Pd.I selaku Kepala Pengasuhan Dyah.


Ustaz Fauzan menyampaikan, bahwa kegiatan workshop terlaksana sesuai perencanaan dengan menghadirkan narasumber Dr. Agus Salim Salabi, M.A., dosen Manajemen Pendidikan Islam IAIN Lhokseumawe. Beliau adalah alumni program doktoral IAIN Jember tahun 2020 yang penelitiannya fokus pada budaya organisasi pesantren, sehingga materi ini sangat cocok diampu oleh beliau. Selain itu, narasumber juga sudah kami kenal sebagai alumni ke-3 yang pernah mengabdikan dirinya selama 10 tahun di PDAR, dan juga pernah menjadi Pengasuh (Kepala Asrama) di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Aceh”. Ustaz Fauzan juga menambahkan, "Dari kegiatan ini nantinya akan ada produk-produk administrasi dalam bentuk portofolio santri asrama, rapor asrama, hingga kurikulum asrama.


Para peserta terlihat antusias merespon kegiatan ini yang membahas materi-materi manajemen dan administrasi asrama santri, yang antara lain: 1) memahami fungsi asrama santri, 2) keterampilan mengidentifikasi permasalahan di asrama, 3) merencanakan kegiatan santri dalam mendukung visi/misi pengasuhan santri, 4) manajemen santri yang mencakup penerimaan/seleksi, sosialisasi, pembinaan, pengelompokan santri, 5) administrasi asrama santri dengan merancang portofolio santri di asrama (data santri, achievement, reward and punishment, rapor, catatan evaluasi, dan pelaporan).

Pada akhir sesi kegiatan workshop, Ustazah Hawa Maidani, S.H., selaku pengasuh asrama Dyah mengatakan: “Dengan kegiatan workshop ini kami menjadi lebih mengerti tentang peran wali/pengasuh asrama sebagai pengawas, pelindung, pembimbing, pengarah, dan pengganti orang tua. Semua kegiatan asrama berbasis nilai. Karenanya, wali asrama bertugas untuk memahamkan nilai-nilai itu kepada semua penghuni asrama".


Hal senada juga disampaikan Ustazah Halima Tusa’adah Nst: “Selain memahami fungsi asrama, wali asrama sebagai pendidik dan pengasuh dituntut untuk mengetahui value dari setiap program dan kegiatan yang dirancang. Wali asrama hendaknya mampu menjadi role model dalam kehidupan berasrama, yang mana para penghuni asrama cenderung meniru dari apa yang diperankan orang dewasa (wali/pengasuh asrama). Sementara Ustaz Rizki menyampaikan, “Kegiatan ini memberi asupan positif dan menambah wawasan kami sebagai guru/pengasuh asrama santri, terutama dalam beberapa hal, antara lain: pola berkomunikasi dan berinteraksi dengan para santri dan wali santri, merancang kegiatan yang terukur dalam pembentukan karakter, dan memecahkan permasalahan-permasalahan di asrama. (Admin)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 22 Juni 2022

Self Management dalam Menghadapi Era Society 5.0

Hari ini diibaratkan sebagai hari kelahiran bagi FTIK IAIN Lhokseumawe yang jika boleh dianalogikan sebagai ibu yang mengandung selama lebih kurang 9 bulan, kemudian tibalah hari yang membahagiakan atas lahirnya seorang anak, maka kebahagiaan seorang ibu tidaklah cukup sampai ia dapat melihat anaknya meraih kebahagian dengan mendapat jodohnya untuk membina rumah tangga.

Begitu juga dengan kampus, wa bil khusus FTIK IAIN Lhoskeumawe, setelah mengandung mahasiswa lebih kurang 4 tahun atau 8 semester, maka hari ini adalah hari kelahiran yang tentunya sangat membahagiakan. Tapi kebahagiaan itu belumlah cukup sehingga FTIK dapat menyaksikan anak-anaknya menemukan jodoh masing-masing, yang dalam hal ini adalah, anak-anaknya mendapatkan jodoh yaitu positioning mereka sebagaimana yang dicita-citakan atau sebagaimana profil lulusan yang telah ‘diramal’ oleh masing-masing jurusan di lingkungan FTIK. 

    

Hasil mini research yang dilakukan terkait profil lulusan FTIK, ditemukan bahwa mahasiswa FTIK, setelah mereka lulus dari perkuliahan, mereka yang cenderung memilih profil guru sebanyak 68%. Pilihan kedua adalah menjadi tenaga kependidikan sebanyak 12%. Selanjutnya, mahasiswa memilih profil lulusan sebagai enterpreuner sebanyak 8%. Berikutnya ada yang memilih profil lulusan sebagai peneliti sebanyak 6%, dan sedikit sekali yang memilih profil lulusan sebagai peneliti, yaitu sebesar 4%. Namun ada juga mahasiswa yang memilih profil lainnya sebesar 2% yaitu menjadi TNI, POLRI, politikus dll. Sekiranya pilihan profil lainnya (TNI, POLRI, Politikus) ini terjadi, maka sesungguhnya lulusan FTIK tersebut sudah tersesat. Tapi tidak mengapa, karena ia tersesat di jalan yang benar.

Jika profil FTIK hanya dimaknai sebagai terget lulusan yang di kemudian hari akan menjadi guru, maka para lulusan harus siap dalam menghadapi tantangan era industri saat ini, antara lain adalah: (1) peran manusia berkurang, karena banyak peran diganti dengan online system, (2) pendidikan dan pembelajaran tidak banyak menggunakan ruang karena dapat menggunakan online system, sudah beradaptasi dengan revolusi industri 4.0. (3) kesempatan menjadi guru dan perannya juga berkurang karena akan ada revolusi Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan; ke depan seorang guru tidak harus dari Fakultas Keguruan, tetapi bisa dari fakultas lain dengan cara mereka mengikuti Pendidikan Profesi Guru untuk penguatan pedagogik. Sehingga persaingan semakin ketat dan begitu luas untuk pilihan profesi guru. Boleh jadi pesaing para peserta yudisium nantinya adalah orang-orang yang sekarang berada di samping kiri, kanan atau depan, dan belakang Anda.

Pernyataan ini penting disampaikan khusunya kepada para peserta yudisium, bukan untuk menakut-nakuti, tapi berharap hal ini bisa dijadikan renungan dan bahan pertanyaan “Apakah dengan kompetensi yang sekarang saya miliki, saya mampu bersaing?” Atau kompetensi dan bekal apa lagi yang harus saya miliki? Pernyataan ini tentunya juga akan menjadi renungan bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di FTIK, apakah konsep-konsep penyusunan profil lulusan, penguatannya hanya berfokus pada profil guru?

Di dunia ini hanya ada satu yang pasti, yaitu “perubahan”. Sebagaimana diketahui, bahwa era selalu berubah yang turut menuntut perubahan dari kompetensi manusia. Dimulai dari era industri 1.0 pada abad ke 18, di mana pertama kali ditemukan mesin uap. Mesin uap tersebut digunakan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Setelah revolusi 1.0, masuklah ke era industri kedua 2.0 di akhir abad ke-19. Revolusi ini ditandai dengan ditemukannya energi listrik. Lalu dilanjutkan dengan penemuan pesawat telepon, mobil, dan juga pesawat terbang yang memberikan perubahan yang cukup besar terhadap dunia. Berikutnya ada era industri 3.0 yang terjadi pada akhir abad ke-20, ditandai dengan perkembangan semi-konduktor dan proses otomatisasi industri. Kemunculan teknologi digital dan internet menandai dimulainya revolusi industri 3.0.

Saat ini (abad ke-21) atau setidaknya, sejak 4-5 tahun lalu, kita telah memasuki era industri 4.0. yang ditandai dengan pemanfaatan internet of things (setiap benda bisa berpikir), sehingga memungkinkannya interkoneksi antar-mesin, big data yang mengarah ke machine learning, smart factory, artificial intelegent, dll. 

Tanpa disadari, pendidikan sejak 3-4 tahun ke belakang dan sampai hari ini masih dihadapkan pada era perubahan besar revolusi industri 4.0. di mana revolusi industri 4.0 menuntut konsekuensi logis perubahan di semua sektor dunia kerja. Era revolusi industri 4.0 yang telah dan masih kita rasakan hari ini, ditandai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi yang cukup pesat membawa kita ke era komunikasi yang praktis dan dinamis. Maka Tidak heran apabila teknologi komunikasi telah menjadi kebutuhan utama masyarakat dunia, di mana hampir setiap orang saat ini tidak bisa terlepas dari teknologi komunikasi yang merupakan wadah atau sumber informasi yang dianggap sangat penting. Perkembangan teknologi ini tentu memiliki dampak dua sisi, yaitu positif dan negatif.

Belum lagi berakhir era revolusi industri 4.0 dan di saat kita masih merasakan hiruk pikuk akibat revolusi industri 4.0 yang dibarengi era disrupsi dengan tanda-tanda dunia penuh gejolak, ketidak-pastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Ternyata, sejak tahun 2019 Jepang justru sudah meninggalkan era 4.0 dan sekarang sedang menikmati era society 5.0. Konsep Society 5.0 sebenarnya muncul dalam “Basic Policy on Economic and Fiscal Management and Reform 2016,” merupakan bagian inti dari rencana strategis yang diadopsi kabinet Jepang. Konsep ini diadopsi sebagai antisipasi terhadap tren global akibat dari munculnya revolusi industri 4.0.

Society 5.0 dibuat sebagai solusi dari revolusi industry 4.0 yang ditakutkan akan mendegradasi umat manusia dan karakter manusia. Society 5.0 bertujuan untuk mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik menjadi satu sehingga semua hal menjadi mudah dengan dilengkapi artificial intelegent (kecerdasan buatan)Pada era Society 5.0 pekerjaan dan aktivitas manusia akan difokuskan pada human center yang berbasis pada teknologi. Karenanya, jika manusia tidak mengikuti perkembangan teknologi dan pengetahuan, maka Society 5.0 masih sama saja dengan era disrupsi yang seperti pisau bermata dua. Pada satu sisi dapat menghilangkan lapangan kerja yang telah ada, namun juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Masyarakat 5.0 adalah masyarakat yang diharapkan dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0 seperti internet of thingbig dataartificial intelegent, robot, dan berbagai mesin canggih. Karena berbagai kemampuan inilah masyarakat 5.0 juga disebut sebagai smart society, atau masyarakat yang cerdas.

Para peserta yudisium sebagai lulusan perguruan tinggi, harus selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi di era revolusi industri 4.0 saat ini dan era society 5.0 ke depannya. Para lulusan harus mampu menguasai teknologi digital dan bahasa asing yang menjadi penting dalam merespon perubahan tersebut. Para peserta yudisium hari ini harus memiliki mindset yang terbuka akan perubahan, mindset yang adaptive atau growth mindset (pola pikir berkembang). Karena dengan pola pikir yang adaptif atau pola pikir yang berkembang, manusia akan selalu memandang pencapaian sebagai hasil usaha dan hasil belajar, bukan semata-mata karena adanya bakat dan takdir. Manusia dengan pola pikir berkembang memandang dirinya dapat mencapai apa pun sepanjang dia mau berusaha dan belajar. Sikap semacam inilah yang dapat menumbuhkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan mampu belajar serta mencapai apa pun yang dikehendaki.

Society (masyarakat) 5.0 merupakan masyarakat baru yang mampu menawarkan model baru untuk pemecahan persoalan sosial dalam mencapai sustainable development goals (tujuan pembangunan berkelanjutan). Era Society 5.0 juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk bisa bertahan, sehingga pemerintah memunculkan berbagai strategi dan metode sebagai respon atas kondisi itu.

Di dunia pendidikan, saat ini ada 5 kelompok tantangan yang harus diketahui dan dihadapi, terutama bagi para peserta yudisium yang sangat bercita-cita untuk menggapai profil utamanya, yaitu guru:

  1. EkosistemKeadaan saat ini, di mana lembaga pendidikan hanya dijadikan tugas, pemimpin sebagai pengatur, dan manajemen lembaga pendidikan terlalu administratif. Sementara arahan dan tantangan di masa depan lembaga pendidikan harus sebagai kegiatan yang menyenangkan, pimpinan harus memberikan pelayanan, dan manajemen sekolah yang kolaboratif dan kompeten.
  2. GuruSaat ini guru hanya sebagai pelaksana kurikulum, guru dijadikan sumber belajar satu-satunya, pelatihan guru berdasarkan teori. Ke depannya, guru sebagai pemilik dan pembuat kurikulum, guru sebagai fasilitator dari berbagai sumber pengetahuan, dan pelatihan guru berdasarkan praktik.
  3. Pedagogi; Keadaan saat ini, siswa hanya sebagai penerima pengetahuan, fokus pada kegiatan tatap muka, pendekatan pembelajaran adalah bermain vs calistung. Ke depannya pembelajaran berorientasi pada siswa, pembelajaran berbasis teknologi, pendekatan pembelajaran bermain adalah belajar, bermakna, dan sesuai konteks.
  4. Kurikulum; Keadaan saat ini, pengembangan kurikulum linear, kurikulum berdasarkan konten, fokus kurikulum pada kegiatan akademik. Adapun arahan dan tantangan di masa depan adalah pengembangan kurikulum yang fleksibel, kurikulum berdasarkan kompetensi, fokus kepada soft skill dan pengembangan karakter. Sistem penilian saat ini masih bersifat sumatif/menghukum. Adapun arahan di masa depan penilian bersifat formatif/mendukung.

Menyikapi tantangan-tantangan di era 4.0 saat ini dan era 5.0 ke depan, maka manajemen diri (self management) sangat diperlukan dengan cara meningkatkan kompetensi dan menutupi kekurangan kompetensi yang saat ini dimiliki. Manajemen diri dapat dimulai dengan: 1) ber-muhasabah/mengevaluasi diri, yaitu mengenal kekuatan atau kelebihan diri, 2) mengenal dan mengetahui kelemahan diri yang dimiliki, 3) mendata kemungkinan peluang yang kiranya dapat diraih, 4) dan mendata kemungkinan-kemungkinan hambatan yang akan dihadapi dengan bekal pendidikan yang diperoleh dari kampus.


Berdasarkan riset World Economic Forum (WEF) 2020, terdapat 10 kemampuan utama yang paling dibutuhkan untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 dan menyambut era society 5.0, yaitu: 1) bisa memecahkan masalah yang komplek, 2) berpikir kritis, 3) kreatif, 4) kemampuan memanajemen manusia, 5) bisa berkoordinasi dengan orang lain, 6) kecerdasan emosional, 7) kemampuan menilai dan mengambil keputusan, 8) berorientasi mengedepankan pelayanan, 9) kemampuan negosiasi, serta 10) fleksibilitas kognitif.


Para lulusan juga harus meningkatkan kualitas diri untuk melakukan inovasi-inovasi sehingga melahirkan berbagai kreasi yang memberikan kontribusi bagi kemajuan lingkungan pendidikan dan masyarakat. Saat ini inovasi adalah sebuah keniscayaan, sehingga sering dikumandangkan adagium “innovate or die”, berinovasi atau mati.


Selain 10 kemampuan utama yang disebut di atas, kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh para lulusan adalah kemampuan 6 Literasi Dasar, yaitu: 1) literasi numerasi, 2) literasi sains, 3) literasi informasi, 4) literasi finansial, 5) literasi budaya, dan 6) literasi kewarganegaraan. 


Tidak hanya literasi dasar, para lulusan juga harus membekali dirinya, jika bekal untuk menuju kebahagiaan akhirat adalah takwa (wa khairu az-zadi taqwa), maka bekal para lulusan untuk dapat bersaing di era 4.0 dan kelak beradaptasi di era society 5.0 dalam dunia pendidikan adalah bekal kecakapan 5C (bekal kecakapan hidup abad 21), yaitu: creativity (kretatif), critical thingking (bernalar dan berpikir kritis), communication (komunikasi), collaboration (mampu berkolaborasi). Adapun ‘C’ yang terpenting dan harus digarisbawahi adalah bekal bangunan character (perilaku/karakter/moral). Bekal bangunan diri inilah yang menjadi proyeksi pendidikan abad ke-21 dan diakui dunia.


Ada dua jenis karakter yang harus dijadikan bekal, yaitu karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral antara lain, iman, takwa, rendah hati, jujur, dll. Sedangkan karakter kinerja, antara lain: tangguh, tidak mudah menyerah, kerja keras, kerja tuntas, rajin, dll. Sehingga dengan membangun dua jenis karakter ini dan menempatkannya dalam diri, kita akan terhindar dari perilaku jujur tapi malas, rajin tapi sombong, kerja keras tapi tidak tuntas atau kerja tuntas tapi culas.


Mengakhiri orasi ilmiah ini, kembali saya mengingatkan diri pribadi dan kalau boleh juga mengingatkan kita semua, bahwa perubahan itu pasti datang, menghindarinya bukanlah pilihan tepat, menghadapinya tentulah harus dengan bekal yang cukup.


Bagi para perserta yudisium, kelahiran hari ini bukanlah hari terakhir Anda belajar. Tapi justru setelah hari ini Anda dan kita semua memasuki pembelajaran baru. Belajar untuk mengelola diri (self management) dengan: 1) muhasabah/evaluasi diri, 2) mengembangkan pola pikir, 3) meningkatkan kompetensi, yakitu 10 kompetensi sebagaimana yang telah diurai berdasarkan riset World Economic Forum ditambah 6 kompetensi literasi, dan 4) memperkokoh bangunan karakter (karakter moral dan karakter kinerja).


Sementara bagi sivitas akademika kampus, wa bil khusus sivitas akademika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Lhokseumawe, maka tugas kita adalah mampu menjadi futurolog-futurolog yang bertugas membaca masa depan; artinya para mahasiswa yang kita ajar dan kita didik 4 tahun lalu seyogyanya memang dipersiapkan untuk mampu menghadapi tantangan dan perkembangan zaman hari ini. Mahasiswa yang kita ajar dan didik pada hari ini adalah generasi yang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan dan perkembagnan zaman 3-4 tahun ke depan yang penuh dengan multi-possibilities, dan tentunya akan ada perubahan-perubahan yang bisa saja tidak sanggup dihadapi para lulusan jika kita tidak mempersiapkannya sesuai dengan ramalan 3 tahun ke depan.


Kampus harus mampu “meramal” multi-kemungkinan yang akan dihadapai para mahasiswa. Karenanya perlu peninjauan ulang profil-profil lulusan masing-masing jurusan di lingkungan FTIK. Apakah hari ini atau 3 tahun akan datang para mahasiswa hanya akan menjadi guru saja misalnya, atau akan menjadi konsultan, menjadi penyelia, menjadi pengawas, peneliti, atau lainnya?


Baca Juga: Profil Lulusan Manajemen Pendidikan Islam


Semoga dari FTIK akan lahir futurolog-futurolog yang kiranya mampu meramal dan mampu membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Sebagaimana Nabi Yusuf yang bukan saja mampu mentakwil mimpi, Beliau juga mampu menawarkan solusi terbaik dalam menghadapi ramalan musim paceklik pada zamannya.


Orasi ilmiah ini pada hakikatnya bukanlah untuk mengajari para cendikiawan dan para peserta yudisium di hadapan saya. Tidaklah mungkin mengajari ikan berenang atau mengajari burung tebang. Tapi ini saya jadikan cermin yang kiranya dapat memantulkan cahaya muhasabah bagi diri sendiri. Kalau pun terpancar untuk orang lain, semoga saja pantulannya menjadi manfaat dan barokah.


Sekali lagi, “Selamat atas kelahiran generasi baru yang ditandai dengan Yudisium Mahasiswa FTIK IAIN Lhokseumawe”. Kerja keras seluruh sivitas akademika dalam mempersiapkan generasi masa depan semoga menjadi amal jariah. “Selamat” juga kepada seluruh peserta yudisium, semoga kebahagiaan hari ini bertambah kuat dengan bertemunya seluruh peserta yudisium dengan jodoh yang diidam-idamkan, yaitu mendapatkan positioning yang sakinah, wawaddah, dan rahmah.


Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesilapan...

wallāhu musta’ān ilā aqwami aṭ-ṭarīq, wa billāhi at-taufīq wal hidāyah

Wassalamualaikum wr.wb.


** Disampaikan oleh Agus Salim Salabi dalam Orasi Ilmiah pada Yudisium Mahasiswa FTIK  IAIN  Lhokseumawe 22 Juni 2021.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect