Jumat, 12 Juni 2026
Kamis, 12 Februari 2026
Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah–Dinas Pendidikan Aceh Utara Gelar Pelatihan Analisis Mutu Sekolah Berbasis Data
Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe kembali menegaskan peran strategisnya dalam penguatan mutu pendidikan di Aceh melalui kolaborasi epik bersama Dinas Pendidikan Aceh Utara. Sinergi ini diwujudkan dalam kegiatan bertajuk “Analisis Mutu Sekolah Berdasarkan Perencanaan Berbasis Data” yang dilaksanakan pada 9–11 Februari 2026 di Aula Lantai III Gedung Pascasarjana UINSUNA Lhokseumawe.
Kegiatan ini diikuti oleh 100 kepala sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Aceh Utara. Para peserta mendapatkan penguatan kapasitas dalam menganalisis mutu sekolah secara komprehensif dan menyusun perencanaan berbasis data sebagai fondasi peningkatan kualitas pendidikan. Acara dibuka secara resmi pada Senin (9/2) dengan rangkaian pembukaan yang diawali registrasi peserta, pembacaan Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta sambutan dari Dr. Maya Safitri, M.A., selaku Ketua Panitia, Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A., selaku Direktur Pascasarjana, dan Razali, S.Pd.I, M.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kabudayaan Kabupaten Aceh Utara, yang mewakili Dinas Pendidikan Aceh Utara. Momentum ini menjadi simbol kuat komitmen bersama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih berkualitas.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pemaparan mendalam mengenai Eksistensi dan Peran Pimpinan dalam Merancang Program Pengembangan Sekolah oleh Prof. Dr. Danial, M.Ag., Rektor UINSUNA yang menekankan pentingnya kepemimpinan transformatif dalam mendorong perubahan berbasis visi dan data. Sesi dilanjutkan dengan materi Analisis SWOT Pengembangan Sekolah oleh Dr. Zulkhairi, M.Pd., yang membimbing peserta mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan sekolah secara sistematis.
Memasuki hari kedua, fokus pembahasan beralih pada penguatan kolaborasi internal sekolah melalui materi Kolaborasi Warga Sekolah dalam Mengembangkan Program oleh Dr. Iskandar, M.Si. Sesi berikutnya yang tak kalah penting adalah Analisis Rapor Mutu Pendidikan dan Perencanaan Berbasis Data oleh Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, M.A. Materi ini menjadi jantung kegiatan karena mengarahkan peserta untuk mampu membaca rapor mutu sebagai instrumen strategis dalam penyusunan rencana kerja sekolah.
Pada hari ketiga, peserta mendapatkan penguatan tentang Relevansi Kegiatan Sekolah terhadap Instrumen Akreditasi BAN-PDM yang disampaikan Dr. Harjoni, M.Si. Puncak kegiatan ditutup dengan materi Implementasi dan Tindak Lanjut Peningkatan Mutu Berbasis Data oleh Dr. Agus Salim Salabi, M.A., yang memberikan panduan praktis agar seluruh konsep yang diperoleh dapat diimplementasikan secara berkelanjutan di sekolah masing-masing.
Mewakili Dinas Pendidikan Aceh Utara, Dr. (Cand.) Dahliana, S.Si., M.S.M., Kasubbag. Keuangan dan Perlengkapan turut mendampingi peserta selama tiga hari kegiatan. Ia menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah mampu menghadirkan narasumber dengan materi-materi yang sangat penting dan relevan dengan kebutuhan sekolah saat ini. “Kami sangat mengapresiasi Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah karena telah memfasilitasi 100 kepala sekolah dari jenjang SD dan SMP di Aceh Utara dengan materi yang benar-benar aplikatif. Dari seluruh rangkaian kegiatan ini, para kepala sekolah semakin jelas melihat indikator mana yang masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Dr. (Cand.) Dahliana menambahkan bahwa kebermanfaatan kegiatan ini dirasakan langsung oleh para kepala sekolah, khususnya dalam membaca data rapor mutu dan mengaitkannya dengan instrumen akreditasi. Dengan pemetaan yang semakin terstruktur, sekolah dapat menyusun program prioritas secara lebih tepat sasaran. Ia juga berharap kerja sama ini tidak berhenti di sini, melainkan berlanjut pada penguatan kapasitas sekolah di berbagai aspek lainnya. “Kami melihat ini sebagai penguatan sinergi antara kampus UIN Sultanah Nahrasiyah dengan Dinas Pendidikan kabupaten/kota. Ke depan, kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut untuk mendukung transformasi mutu pendidikan di Aceh Utara,” tambahnya.
Direktur Pascasarjana, Prof. Zulfikar dalam sesi penutupan menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari tanggung jawab akademik UIN Sultanah Nahrasiyah dalam mendampingi sekolah-sekolah di wilayah sekitar agar mampu bertransformasi menuju tata kelola yang profesional dan berbasis data.
Kerja sama strategis ini sekaligus menunjukkan bahwa keberadaan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai pusat pengembangan keilmuan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sinergi dengan Dinas Pendidikan Aceh Utara, Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah mempertegas komitmennya dalam memperkuat mutu pendidikan daerah secara nyata, sistematis, dan berkelanjutan. (sal-aby)
Kamis, 29 Januari 2026
Enam Mahasiswa S3 UIN Sultanah Nahrasiyah Tampil dalam Seminar Proposal Perdana: Program Doktor Studi Islam Tegaskan Tradisi Akademik Unggul
Rabu, 26 November 2025
Sembilan Mahasiswa Magister MPI UINSUNA Tampilkan Riset Pendidikan Dayah di Forum Internasional
Rangkang Belajar | Lhokseumawe – The 3rd International Conference on Islamic and Al Washliyah Studies 2025 resmi dibuka pada Selasa (25/11) melalui platform Zoom Meeting. Konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Pengurus Besar (PB) Al Jam’iyatul Washliyah bekerja sama dengan LKSA PB Al Washliyah ini kembali menjadi ruang temu bagi para akademisi, peneliti, dan ulama dari berbagai negara. Kegiatan ini turut didukung oleh Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA), UMN Al Washliyah, dan UNIVA Medan, dengan mengangkat tema “Islamic Organizations and the Transformation of Ulama Authority in Contemporary Indonesia.”
Salah satu sorotan utama dalam rangkaian konferensi tahun ini adalah tampilnya sembilan mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana UINSUNA sebagai pemakalah. Mereka membawakan berbagai riset terkait manajemen dan tradisi pendidikan dayah, yang menjadi kekhasan intelektual Aceh dan identitas keilmuan program studi MPI. Partisipasi para mahasiswa ini mencerminkan semakin kuatnya budaya riset di lingkungan Pascasarjana UINSUNA sekaligus menunjukkan kesiapan mereka bersaing dalam forum akademik internasional. Kesembilan pemakalah tersebut dibimbing oleh Dr. Ja’far, M.A., dosen Filsafat Ilmu MPI sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Syariah UINSUNA.
Sesi panel Room D dimulai pukul 13.45 WIB dan dipandu oleh Safwan, M.S.I., bersama Raisa Salsabila. Presentasi pertama disampaikan oleh Aris Munandar dengan judul Management of Qur’an Memorization Education Program Development at An-Nur Integrated Islamic Elementary School, Pidie Jaya. Aris membahas strategi pengembangan program tahfiz di jenjang pendidikan dasar.
Berikutnya, I.S. Asroza memaparkan penelitian berjudul Management of Classical Islamic Text (Kitab Kuning) Learning at the Darul Iman Modern Islamic Boarding School, Southeast Aceh, yang menyoroti integrasi manajemen modern dalam pembelajaran kitab kuning. Kajian serupa juga dipresentasikan oleh Zawatun Nida melalui penelitian tentang pengelolaan pembelajaran kitab klasik di Dayah Subulussalam Al-Waliyyah.
Riset mengenai penguatan kurikulum kitab kuning diulas oleh Muhammad Sariyulis melalui paparannya Curriculum Management in Improving the Quality of Classical Islamic Text Learning at Dayah Babussalam Al-Hanafiyyah. Sementara itu, Tajul Fazari membahas penerapan metode sorogan dan bandongan dalam manajemen pembelajaran kitab kuning di Dayah Darussa’adah Cot Puuk.
Presentasi berikutnya disampaikan oleh Ayadi tentang manajemen kitab klasik di Dayah Almuslimun Terpadu Lhoksukon. M. Yunus kemudian menguraikan penelitian mengenai manajemen kurikulum di Dayah Salafi Malikussaleh yang mempertahankan karakter tradisional namun tetap adaptif. Selanjutnya, Rahmiyati memaparkan kajian pembelajaran tingkat tajhizi di Dayah Riyadhatul Qulub. Sesi panel ditutup oleh Sahdan melalui presentasi tentang manajemen kelas takhassus di Dayah Terpadu Bustanul Arifin, Bener Meriah.
Keterlibatan sembilan mahasiswa Magister MPI UINSUNA dalam forum internasional ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Riset-riset mereka dinilai tidak hanya memperkenalkan praktik dan tradisi pendidikan dayah Aceh ke tingkat global, tetapi juga memperkuat posisi UINSUNA sebagai salah satu pusat kajian manajemen pendidikan Islam berbasis kearifan lokal. (Sahdan)
Mahasiswa Magister KPI Pascasarjana UINSUNA Mengangkat Isu Komunikasi Islam di Konferensi Internasional 2025
Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe tampil menonjol dalam The 3rd International Conference on Islamic and Al Washliyah Studies 2025 yang digelar secara daring pada Selasa (25/11). Melalui serangkaian presentasi, mereka menghadirkan beragam perspektif baru tentang komunikasi Islam, dinamika sosial keagamaan, dan perubahan budaya yang sedang berlangsung di Aceh.
Dalam sesi paralel, sepuluh mahasiswa KPI mempresentasikan hasil penelitian yang telah mereka kembangkan selama mengikuti perkuliahan. Sesi dimulai oleh Akbar Miswari yang menyoroti inovasi gerakan dakwah profesional di kalangan dai milenial Aceh. Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Febi Yushari, yang mengulas bagaimana majelis taklim dapat menjadi ruang pemberdayaan perempuan.
Khayranil Ula melanjutkan dengan bahasan mengenai dinamika gerakan sosial berbasis penguatan pendidikan masyarakat. Sementara itu, Firdausi Nuzula menampilkan kajian tentang peran ulama dayah dalam menjaga tradisi keilmuan Aceh. Muhammad Fauzal Ahdaa kemudian memaparkan perkembangan model dakwah di lingkungan dayah, disusul Ratna Dewi yang meneliti hubungan antara tata kelola keagamaan dan praktik sosial masyarakat.Topik mengenai penguatan tradisi ilmiah turut dibahas oleh Muhammad Yasir, sedangkan Muhammad Fairuz Asra Hafit mengulas transformasi pendidikan di salah satu lembaga tradisional Aceh. Kajian mengenai dinamika politik lokal di Aceh dipresentasikan oleh Adnan, dan sesi ditutup oleh Putri Zuhra Furna dengan analisis mengenai peran media lokal dalam membentuk wacana publik terkait isu-isu keislaman.
Seluruh karya tersebut merupakan hasil riset lapangan yang dibimbing intensif oleh Dr. Ja’far, M.A., dosen pengampu MK. Filsafat Ilmu selama semester ganjil Tahun Akademik 2025/2026. Penelitian mereka mencerminkan beragam dinamika komunikasi keagamaan di Aceh—mulai dari gerakan dakwah, peran lembaga pendidikan Islam, hingga relasi media dan pembentukan wacana publik. Riset-riset ini direncanakan akan dikembangkan lebih lanjut dan diterbitkan dalam bentuk buku.
Partisipasi mahasiswa magister KPI Pascasarjana UINSUNA ini mendapat apresiasi dari peserta konferensi karena menghadirkan perspektif komunikasi Islam yang dekat dengan realitas sosial Aceh. Keterlibatan mereka juga menunjukkan kesiapan akademisi muda Aceh untuk ikut serta dalam percakapan global mengenai isu keumatan, kebudayaan, dan komunikasi keagamaan. (Khayranil Ula)
Penguatan Tradisi Riset: Mahasiswa Magister HKI Pascasarjana UINSUNA Tampil di Konferensi Internasional
Rankang Belajar | Lhokseumawe – Sebanyak 14 mahasiswa Magister Hukum Keluarga Islam (HKI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe berhasil menunjukkan kiprah akademiknya dalam ajang The 3rd International Conference on Islamic and Al Washliyah Studies 2025, Selasa (25/11). Partisipasi mereka menjadi bukti bahwa tradisi ilmiah di Pascasarjana semakin hidup dan produktif, sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Aceh untuk berkontribusi dalam wacana ilmiah internasional
Ke-14 mahasiswa ini mempresentasikan hasil penelitian lapangan yang telah mereka kerjakan selama beberapa bulan terakhir di bawah bimbingan Dr. Ja’far, M.A., Dosen pengampu MK. Filsafat Ilmu yang juga Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Syariah UIN SUNA. Tema yang mereka angkat mencerminkan kekayaan intelektual Aceh—mulai dari kiprah ulama, dinamika dayah, hingga kajian terhadap putusan Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon. Seluruh penelitian tersebut rencananya akan diterbitkan dalam bentuk buku.
Sesi presentasi dibuka oleh Zumairi dengan kajian tentang warisan intelektual Abu Panton dan peranannya menjaga marwah dayah di Aceh. Presentasi berikutnya disampaikan oleh Muhammad Arif Maulana, yang mengulas pemikiran fikih Waled Sirajuddin dari Babussalam. Kajian tentang kontribusi ulama Aceh juga disampaikan oleh Rahmad Sanusi, serta Ghujdawan yang menyoroti peran Ayah Cot Trueng dalam penguatan dakwah TASTAFI.Isu tentang dayah juga banyak mendapat perhatian. Nurzakiyah membahas Dayah Darul Ulum, Zulfahmi mengkaji Ma’had Aly Malikussaleh, sedangkan Ifkar Hidayatullah meneliti Dayah Malikussaleh. Sementara itu, Cut Nazar Mutia Hanum menggali tradisi keilmuan turath di Dayah MATAQU.
Pada bidang hukum keluarga, enam mahasiswa menyoroti berbagai problematika hukum yang diputuskan di Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon. Zurriatina mengulas persoalan dispensasi nikah, Nova Arina membahas penetapan nasab anak, dan Devi Rahmayani mengkaji itsbat nikah pada kasus pernikahan lintas negara. Kajian lain turut disampaikan oleh Maulina mengenai hukum waris, Lilis Diatna tentang sengketa hibah, serta Susi Rahmayanti yang menyoroti putusan terkait kekerasan seksual berbasis inses.
Penampilan para mahasiswa ini mendapat banyak apresiasi dari peserta konferensi. Mereka dinilai mampu menyajikan kajian yang rapi, relevan, dan memperkaya diskursus syariah maupun khazanah Aceh. Kehadiran mereka sekaligus memperkokoh posisi Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe dalam peta penelitian syariah, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Jumairi)
Selasa, 25 November 2025
Program Doktor Studi Islam UINSUNA Menguatkan Wacana Ulama dan Pendidikan Islam Kontemporer dalam The Third International Conference on Islamic Studies 2025
Selasa, 28 Oktober 2025
Kontribusi Santri dalam Menjaga Nilai-Nilai Luhur dan Memajukan Peradaban
Oleh: Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I.
"Santri berperan penting dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa, memajukan peradaban melalui pendidikan karakter, pelestarian budaya, moderasi beragama, penguatan ekonomi umat"
Santri, sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia, memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa sekaligus memajukan peradaban. Kontribusi mereka tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan, tetapi juga menjangkau berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, dan intelektual. Peran penting santri dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.
1. Pendidikan Karakter: Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat. Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan gotong royong ditanamkan sejak dini. Santri diajarkan untuk menghormati orang tua, guru, dan sesama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Melalui pendidikan karakter inilah, pesantren melahirkan generasi yang berakhlak mulia, tangguh, dan berintegritas.
2. Pelestarian Tradisi dan Budaya: Santri juga berperan dalam melestarikan tradisi dan budaya lokal yang bernafaskan Islam. Berbagai kegiatan seperti seni hadrah, marawis, bela diri pagar nusa, dan kesenian tradisional lainnya menjadi bagian dari kehidupan pesantren sehari-hari. Selain itu, pesantren menjadi pusat pengembangan bahasa Arab dan kajian kitab-kitab klasik (turats) yang merupakan warisan intelektual Islam. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi benteng keagamaan, tetapi juga penjaga budaya dan identitas bangsa.
3. Moderasi Beragama: Santri merupakan garda terdepan dalam menyebarkan Islam yang moderat, toleran, dan inklusif. Dengan jumlah pesantren yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, para santri terbiasa hidup berdampingan dengan keragaman, berdialog lintas budaya, serta membangun kerukunan dan harmoni sosial. Pesantren mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan pendapat dan menjauhi segala bentuk kekerasan serta ekstremisme. Dalam konteks global, santri juga dapat berperan sebagai agen perdamaian dunia, duta Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebarkan semangat kasih sayang dan persaudaraan universal.
Santri dan Peradaban di Era Globalisasi
Memasuki era globalisasi, santri dituntut untuk mengambil peran strategis dalam memajukan peradaban. Agar dapat menjawab tantangan zaman, ada beberapa hal mendesak yang perlu dikembangkan di lingkungan pesantren dan santri masa kini.
1. Pengembangan Ilmu Pengetahuan: Santri tidak hanya perlu mendalami ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan umum dan bahasa asing sebagai bekal menghadapi dunia global. Pesantren harus mampu menghadirkan program pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Santri didorong untuk berpikir kritis, kreatif, dan solutif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.
2. Kontribusi di Berbagai Bidang: Lulusan pesantren kini terbukti mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan — pendidikan, ekonomi, politik, hingga pemerintahan. Banyak di antara mereka yang menjadi tokoh nasional, pejabat publik, akademisi, pengusaha, bahkan presiden. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga pemimpin berkarakter yang mampu membawa nilai-nilai luhur pesantren ke ranah publik. Selain itu, santri juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta memberikan advokasi bagi kelompok-kelompok termarginalkan.
3. Penguatan Ekonomi Umat: Santri juga perlu didorong untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan produktif. Kemandirian ekonomi akan memperkuat posisi tawar umat Islam dalam dinamika ekonomi global. Banyak pesantren kini telah mengembangkan koperasi dan unit usaha produktif untuk meningkatkan kesejahteraan santri dan masyarakat sekitar. Contohnya dapat dilihat pada Pesantren Sidogiri, Pesantren Tebu Ireng, dan Pesantren Al-Amien, yang sukses mengembangkan usaha mandiri berbasis nilai-nilai Islam. Model ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Penutup
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kontribusi santri dalam menjaga nilai-nilai luhur dan memajukan peradaban sangatlah besar dan beragam. Dengan pendidikan karakter yang kuat, pemahaman agama yang mendalam, serta semangat pengabdian yang tinggi, santri menjadi aset berharga bagi bangsa dan negara.
Mari kita terus mendukung, mempercayai, dan memberi ruang bagi santri untuk berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan peradaban Indonesia dan dunia.
Kamis, 23 Oktober 2025
Dialog Nasional Program Doktor UINSUNA Lhokseumawe Kupas Kiat dan Tantangan dalam Akselerasi Studi Doktoral
Rangkang Belajar | Lhokseumawe, 22 Oktober 2025 — Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik unggul melalui kegiatan Dialog Nasional Program Doktor (S3) Studi Islam bertajuk “Akselerasi Studi Doktoral: Kiat, Tantangan, dan Solusi dalam Penyelesaian Tugas Akhir.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu malam (22/10/2025) pukul 20.00 WIB hingga selesai, dan berlangsung secara interaktif serta inspiratif.
Acara dipandu oleh Zanjibar, M.Sos., mahasiswa Program Doktor Studi Islam UINSUNA Lhokseumawe, dan menghadirkan tiga narasumber nasional yang dikenal sukses menempuh studi doktoral dalam waktu relatif singkat, yaitu: 1) Dr. Istifadah, M.Pd.I. dari UIN KH. Achmad Shiddiq Jember, Jawa Timur, yang menuntaskan studi doktoralnya di IAIN Jember hanya dalam waktu 25 bulan pada usia 51 tahun, tanpa beasiswa dan tanpa meninggalkan profesinya sebagai dosen. 2) Dr. Akhmad Muadin, M.Pd. dari UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Kalimantan Timur, penerima beasiswa 5000 Doktor Kemenag, yang menyelesaikan studi dalam 32 bulan pada usia 35 tahun, dengan perjuangan meninggalkan keluarga di Kalimantan Timur demi fokus menyelesaikan perkuliahan di IAIN Jember (kini UIN KHAS Jember). 3) Dr. Muhammad Fadhli, M.Pd. dari UIN Sumatera Utara Medan, juga penerima beasiswa 5000 Doktor Kemenag, yang menyelesaikan studi selama 30 bulan pada usia 33 tahun, dengan tetap membawa serta keluarga selama proses penulisan disertasi.
Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Pascasarjana UINSUNA Lhokseumawe, Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A., yang pada hari pelaksanaan kegiatan juga baru saja memperoleh gelar Guru Besar (Profesor kedua di lingkungan UINSUNA). Dalam sambutannya, Prof. Zulfikar menegaskan pentingnya membangun spirit akademik dan disiplin riset di kalangan mahasiswa doktoral. “Akselerasi studi bukan berarti tergesa-gesa, tetapi kemampuan menjaga ritme kerja akademik, disiplin, dan komunikasi efektif dengan pembimbing. Inilah semangat yang ingin kita tularkan melalui forum ini,” ujar Prof. Zulfikar.
Dialog nasional ini membedah empat aspek utama yang menjadi kunci percepatan studi doktoral, yakni latar akademik dan waktu studi, hubungan dengan pembimbing, tantangan dan krisis umum, serta dukungan sosial dan spiritualitas akademik. Para narasumber berbagi pengalaman konkret tentang strategi manajemen waktu dan disiplin riset yang berperan penting dalam mempercepat penyusunan disertasi.
Dr. Fadhli menegaskan, “Kritik atau koreksi dari promotor adalah bagian dari perjalanan ilmiah, bukan penghalang. Saat menempuh S3, kita harus memposisikan diri sebagai mahasiswa, bukan membawa jabatan profesional kita di dunia kerja.” Sementara itu, Dr. Istifadah menambahkan pentingnya keteguhan hati dalam menghadapi proses bimbingan: “Bolak-balik bimbingan dengan promotor terkadang membuat kita jenuh, tetapi jangan mudah menyerah. Ketekunan dan kesabaran memang harus terus dilatih, karena keduanya adalah kunci penyelesaian studi. Dukungan keluarga juga menjadi penopang utama dalam menjaga semangat selama proses bimbingan dan penyelesaian studi."
Di lain pihak, Dr. Muadin juga menyoroti aspek spiritual dan dukungan sosial yang sering kali menjadi penentu keberhasilan studi doktoral. “Saya selalu berusaha menjaga etika komunikasi dengan promotor/co. promotor, terutama saat merasa diabaikan atau ketika hasil riset dianggap belum sesuai. Dalam situasi seperti itu pendekatan spiritual sangat penting. Salat malam dan doa di sepertiga malam menjadi ruang refleksi, sementara dukungan teman seangkatan juga sangat berarti,” ungkapnya.
Pada akhir sesi dialog, para narasumber sepakat bahwa dukungan keluarga, komunitas riset, teman seangkatan, komunikasi yang baik dengan pembimbing, serta kekuatan spiritualitas pribadi merupakan faktor penting dalam menjaga motivasi hingga akhir perjalanan akademik.
Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, serta sejumlah akademisi dari berbagai kampus mitra, di antaranya IAI Miftahul Ulum Pamekasan (Madura), Universitas Islam Aceh, dan beberapa perguruan tinggi Islam lainnya di Indonesia. Antusiasme peserta tampak dari keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan produktif. Banyak peserta mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan pandangan realistis tentang perjuangan akademik di jenjang doktoral.
Ketua Program Doktor (S3) Studi Islam UINSUNA Lhokseumawe, Dr. Agus Salim Salabi, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini merupakan bagian dari agenda rutin Pascasarjana dalam rangka memperkuat ekosistem akademik dan mengembangkan kompetensi mahasiswa. “Kegiatan seperti ini adalah ruang belajar di luar kelas yang sangat penting untuk memperkaya perspektif mahasiswa doktoral, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan antarperguruan tinggi Islam di Indonesia,” jelas Dr. Salabi.
Dengan semangat kolaborasi dan berbagi pengalaman, kegiatan ini menegaskan posisi UINSUNA Lhokseumawe sebagai pusat pengembangan studi Islam yang progresif, reflektif, dan berorientasi pada mutu riset doktoral.
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Jumat, 26 September 2025
Kuliah Umum Internasional Pascasarjana UIN SUNA: Mempersiapkan SDM Unggul dan Kompetitif di Era Global
Di lain pihak, Drektur Pascasarjana UIN-SUNA, Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A., menyatakan bahwa kuliah perdana ini sebagai momentum strategis untuk menyiapkan generasi akademik yang berdaya saing global. “Kami mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat, solutif, dan mampu menjawab berbagai persoalan umat,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Panitia, Dr. Zulkhairi, M.Pd., memberikan apresiasi atas dukungan semua pihak. “Kami berharap kegiatan ini menjadi energi positif bagi mahasiswa baru dan mahasiswa aktif lainnya di jenjang magister dan doktor untuk memulai studi pascasarjana semester ganjil ini dengan semangat tinggi,” katanya.





















