Kamis, 10 Juli 2025
Sabtu, 05 April 2025
Dari Swafoto ke Sitasi: Saatnya Mahasiswa Membangun Branding Akademik di Era Digital
"Dunia digital bukan hanya tempat untuk dilihat—tetapi untuk memberi dampak. Mahasiswa dan pelajar lainnya bukan hanya pengguna, tapi bisa menjadi pencipta arus. Kelak, bukan wajah kita yang dikenang publik, melainkan karya kita yang berbicara panjang setelah kita diam"
Di era digital yang semakin tak terelakkan, media sosial dan dunia maya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari para pembelajar. Namun sayangnya, ruang digital yang begitu luas itu justru lebih banyak dipenuhi oleh aktivitas personal dan ekspresi narsistik, seperti swafoto dan unggahan yang cenderung minim nilai edukatif. Tak sedikit mahasiswa yang menguasai algoritma media sosial, tetapi belum menguasai ruang-ruang sitasi akademik.
Pertanyaannya, mengapa ruang digital yang begitu besar tidak kita manfaatkan untuk membangun citra akademik kita sebagai pembelajar? Sudah saatnya kita menggeser arah: dari sekadar eksis menjadi produktif, dari hanya membagikan aktivitas harian menjadi membagikan pencapaian ilmiah. Dari hanya memikat “likes”, menuju meraih pengakuan ilmiah dan kolaborasi intelektual.
Pembelajar dan Branding Akademik: Sebuah Keniscayaan
Era digital tidak hanya menuntut mahasiswa untuk cerdas, tetapi juga mampu membangun identitas dan eksistensi akademik secara daring. Dunia sedang berubah. Portofolio ilmiah digital kini lebih berbobot dibanding sekadar CV yang diketik rapi. Dunia akademik kini menilai bukan hanya dari ijazah, tapi dari jejak digital—termasuk publikasi, kolaborasi, dan keterlibatan dalam diskusi ilmiah daring.
Branding akademik bukan berarti pamer, melainkan memperlihatkan karya agar bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah cara untuk menyebarkan ilmu, menunjukkan kompetensi, dan membuka peluang kolaborasi lintas kampus bahkan negara.
Platform Akademik: Panggung Baru Pembelajar
Beruntung, dunia digital menyediakan banyak ruang dan alat untuk membangun jejak akademik. Beberapa platform yang bisa digunakan antara lain:
1. Google Scholar; Platform ini memungkinkan mahasiswa mempublikasikan makalah, skripsi, hingga jurnal yang dapat diakses secara luas dan gratis. Tak hanya itu, Google Scholar menyediakan data sitasi dan indeks pengaruh dari karya yang dipublikasikan.
2. ResearchGate; Dengan nuansa mirip jejaring sosial, ResearchGate cocok untuk mahasiswa yang ingin aktif dalam diskusi dan interaksi dengan akademisi global. Fitur unggah karya, statistik pembaca, serta forum tanya-jawab membuat platform ini sangat hidup.
3. Academia.edu; Platform ini cocok untuk menjangkau khalayak luas. Mudah digunakan, sering muncul di hasil pencarian Google, serta menyajikan statistik pembaca dan penyebaran karya.
Tampil Beda, Karena Ilmu Butuh Disuarakan
Dalam Islam, menyampaikan ilmu bukan hanya anjuran, tetapi kewajiban moral dan spiritual. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi dasar penting bahwa setiap insan berilmu, tak terkecuali mahasiswa, memiliki kewajiban menyampaikan ilmu yang dimiliki, sekecil apapun. Di era digital, menyuarakan ilmu di platform daring menjadi cara paling efektif untuk menyebarkannya kepada khalayak luas.
Lebih dari itu, Islam memuliakan orang-orang yang berilmu. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Tampil beda dengan menyuarakan ilmu bukan hanya upaya membangun citra akademik, tapi juga bentuk ibadah dan kontribusi nyata kepada umat. Ini adalah bentuk dakwah intelektual, yang tak kalah penting dari dakwah lisan maupun perbuatan.
Mengunggah pencapaian akademik bukan soal kesombongan, melainkan bentuk keberanian intelektual di tengah arus besar konten yang lebih sering menampilkan gaya hidup, hiburan, dan hiburan visual semata. Ketika media sosial didominasi oleh hal-hal yang kurang bernilai edukatif, justru di situlah ruang kosong yang bisa diisi oleh para pembelajar. Inilah saatnya mahasiswa dan pelajar hadir sebagai suara alternatif; suara yang menyampaikan pengetahuan, pengalaman riset, refleksi akademik, bahkan ide-ide segar yang lahir dari ruang-ruang diskusi ilmiah.
Mereka yang berani tampil beda dengan memperlihatkan proses belajar, kutipan buku yang mencerahkan, bahkan potongan hasil penelitian yang dikemas menarik, sedang menanam jejak kontribusi dalam ekosistem digital yang lebih sehat. Ingat, dunia digital bukan hanya tempat untuk dilihat—tetapi untuk memberi dampak. Mahasiswa bukan hanya pengguna, tapi bisa menjadi pencipta arus. Saat kita mem-posting karya akademik, kita sedang memutus rantai pasifisme digital dan mengajak audiens berpikir, berdiskusi, dan—pada akhirnya—berubah. Maka dari itu, tampilkan ilmu, bukan hanya karena itu milik kita, tapi karena ilmu butuh disuarakan.
Penutup: Dunia Butuh Pembelajar yang Berani Tampil
Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, dunia tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang cerdas secara akademik, tapi juga pembelajar yang berani menampilkan kecerdasannya ke ruang publik. Ini bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi relevan. Ketika seorang mahasiswa mulai menunjukkan karya tulisnya, merekam refleksi belajarnya, atau membagikan pemikiran kritisnya di media sosial atau platform ilmiah, maka ia sedang menunaikan tugas moral sebagai insan akademik—menyebarkan cahaya ilmu.
Ketika seorang mahasiswa berani menunjukkan karya ilmiahnya ke ruang publik, sejatinya ia sedang menunaikan amanah keilmuan yang telah Allah titipkan padanya. Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah amanah yang harus ditunaikan, bukan disimpan untuk kepentingan pribadi.
“Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang dengan kekangan dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Hadis tersebut menegaskan bahwa menyampaikan ilmu adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang pembelajar. Dunia digital menjadi salah satu wasilah (media) untuk menunaikan tanggung jawab ini dengan lebih luas dan berdampak.
Mahasiswa hebat bukan hanya yang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga yang berani membuka percakapan ilmiah, menanggapi isu dengan perspektif akademik, serta menginspirasi pembelajar lainnya untuk berkembang. Dunia digital adalah panggung besar, dan pembelajar harus tampil bukan sebagai pengikut tren, tetapi sebagai pemantik arah. Mari ubah cara kita tampil—bukan hanya untuk eksistensi, tapi untuk kontribusi. Karena kelak, bukan wajah kita yang dikenang publik, melainkan karya kita yang berbicara panjang setelah kita diam.
** Agus Salim Salabi, Dosen IAIN Lhokseumawe (Google Scholar - ResearchGate - SINTA)
Jumat, 07 Februari 2025
Warkop Pinggir Kampus: Dari Tempat Nongkrong Jadi Ruang Diskusi Kreatif
Jumat, 06 Januari 2023
Belajar dan Sekolah (Lanjutan)
Lanjutan dari... Belajar dan Sekolah
Saat membuka lembaran-lembaran buku al-Qira'ah ar-Rasyidah (al-Mutala'ah), maka saya temukan kembali tema tentang Ibnu Sina. Belajar dari Ibnu Sina[2] (Aviceina), nama lengkap beliau adalah Asy-Syaikh ar-Rais Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina yang dijuluki 'Canon of Medicine', Bapak Kedokteran. Ibnu Sina juga dikenal sebagai filosof, psikolog, pujangga, dan pendidik yang lahir di desa Ashfahan Bukhra Afganistan. Sejak umur 13 tahun ia mampu menguasai ilmu tafsir, fikih, ushuluddin, tasawuf, ilmu hukum, logika, fisika, kedokteran, filsafat, dan politik.
Ibnu Sina pernah berkata, "Setiap saya menginginkan sesuatu dan tidak mendapat batasan pengertian yang benar dalam perbandingannya, saya senantiasa ke masjid melakukan salat untuk memohon kepada Tuhan hingga terbuka bagi saya persoalan itu dan memecahkannya dengan mudah. Saya pulang ke rumah meletakkan lampu di hadapan saya lalu membaca dan mengarang. Bila rasa kantuk dan letih sekali, maka saya pun minum hingga timbul lagi kesegaran dan saya teruskan membaca, tetapi jika kantuk tak terkalahkan, saya tidur dan biasanya saya bermimpi tentang persoalan yang belum selesai terpecahkan dalam pikiran saya. Kebanyakan persoalan itu biasanya menjadi terang masalahnya. Saya tetap menjalani pengabdian yang sebaik-baiknya kepada Tuhan."
Menurut beliau belajar harus mengarah pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang seperti pengembangan fisik, intelektual, dan budi pekerti. Selain itu, dengan belajar seseorang mampu mempersiapkan dirinya agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan, dan potensi lain yang dimilikinya.
Jika membuka buku catatan al-Maḥfūẓāt kelas 2 dan 4, masih ditemukan kata-kata hikmah yang dikutip dari Imam Asy-Syafi'i di mana kita dapat banyak memetik pembelajaran yang sangat berharga. Belajar dari Imam Asy-Syafi'i atau yang dikenal dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muttalibi al-Qurasyi lahir di Gaza-Palestina tahun 150 H./767 M, di mana pada usia 13 tahun beliau dikirim ibunya ke Madinah untuk berguru pada ulama besar saat itu.
Dua tahun berikutnya ia pergi ke Irak dan juga pernah belajar di Makkah. Pernah juga belajar ke Yaman dan kemudian pindah ke Mesir (Fustat) dan di sana beliau wafat (tahun 204 H./820 M.) sebagai Syuhada' al-'Ilmi. Dalam sebuah sya'irnya beliau pernah berkata, "Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak dihidayahkan bagi pada orang-orang yang bermaksiat."[3] Belajar dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan menurut syair tersebut harus dibarengi dengan kesucian jiwa dan raga dengan tidak bermaksiat kepada Sang Pemilik Ilmu.
Belajar dari Ibnu Rusyd (Averrous), yang buku Bidayah al-Mujtahid-nya saya pelajari saat duduk di kelas 5, merupakan sosok yang lahir di Cordova pada tahun 520 H./1128 M. Di negara-negara Eropa Latin beliau dikenal dengan 'Explainer/asy-Syarih'. Beliau adalah seorang yang jenius yang memiliki banyak minat dan talenta. Beliau mendalami banyak ilmu seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat, ia juga dikenal sebagai komentator terbesar atas filsafat Aristoteles.
Disebabkan kecerdasannya, kemudian beliau diangkat menjadi Hakim Agung. Beliau tidak meninggalkan harta benda di akhir hayatnya melainkan ilmu dan tulisan dalam berbagai bidang seperti Filsafat, Ilmu Kalam, Falak, Fikih, Musik, Perbintangan, Tata Bahasa, Nahwu. Sekira 78 karya dihasilkannya, yang kini sejumlah karyanya tersimpan rapi di perpustakaan Escurial Madrid Spanyol.
Tidak banyak yang mengetahui kalau Ibnu Rusyd pernah hidup dalam pembuangan di Lecena, Spanyol, karena dianggap murtad dan menghina kepala negara. Beliau Pernah juga dibuang ke Marako karena difitnah oleh seseorang, sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 595 H./1198 M. di Kota Marakis-Maroko. Jenazahnya kemudian dibawa ke Andalusia dan dimakamkan di sana.
Baca juga: Air itu Seharusnya Mengalir
Masih segar dalam ingatan saya pada guru pengampu pelajaran hadis Bulūg al-Marām min Adillāt al-Aḥkām, 'Dr. Syakir Abdul Majid', seorang Volunteer dari Universitas Al-Azhar Cairo dengan suaranya yang lantang dan membahana membuat para santri di kelas saya bahkan kelas sebelah kehilangan rasa kantuk yang biasanya menyapa kami menjelang siang. Jelas tertulis di sampul depan buku ini nama penyusunnya, beliau adalah Ibnu Hajar al-Asqalani (773 H./1372M.-852 H./1449 M.). Nama lengkapnya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar.
Belajar dari Ibnu Hajar, di mana perjalanannya menimba ilmu, membawanya sampai ke berbagai tempat, mulai dari Mesir (tanah kelahirannya), Al-Haramain (Makkah dan Madinah), Damasskus, Baitul Maqdis dan di berbagai kota di Palestina, Shan'a dan beberapa kota di Yaman. Menurut murid utamanya Imam Asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu yang menjaga 'iffah (menjaga diri dari dosa), sangat berhati-hati, dan mandiri di bawah pengasuhan Az-Zaki Al-Kharubi (kakak tertua ibnu Hajar) yang memberikan perhatian yang luar biasa.
Pada usia 5 tahun Ibnu Hajar masuk Al-Maktab (semacam TPA sekarang) untuk menghafal Al-Qur'an, dan beliau akhirnya dapat mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an-nya ketika berumur 9 tahun. Ibnu Hajar sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga ia hafal beberapa kitab induk seperti al-'Umdah al-Ahkam karya 'Abd al-Ganiy al Maqdisiy, al-Alfiyah fī 'Ulūm al-Hadīṡ karya guru beliau al-Hafizh al-'Iraqiy, dan lainnya.
Kegemarannya diawali dengan meneliti kitab-kitab sejarah, kemudian meneliti bidang sastra Arab. Selanjutnya beliau belajar Hadis, Fikih, Tafsir, sampai akhirnya Ibnu Hajar menjadi seorang ulama yang diberi gelar dengan al-Hafizh. Ilmunya matang dalam usia muda hingga mayoritas ulama di zaman beliau mengizinkan beliau untuk berfatwa dan mengajar di Markaz 'Ilmiyah yang banyak di antaranya mengajar Tafsir di al-Madrasah al-Husainiyah dan al-Manshuriyah, mengajar Hadis di sekolah al-Babrisiyah, az-Zainiyah dan asy-Syaikhuniyah dan lainnya.
Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan kegiatan ilmiah dan berjihad menyebarkan ilmunya dengan beragam sarana yang ada, juga menyibukkan diri dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga ia sakit yang menyebabkan beliau wafat tahun 852 H. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Bani Al- Kharrubi yang berhadapan dengan masjid Ad-Dailami di antara makam Imam asy-Syafi'i dengan Syaikh Muslim As- Silmi.
Ulama lainnya yang dapat dicantumkan dalam tulisan singkat ini adalah pengarang buku dan tokoh nasional di mana beberapa bukunya menjadi mata pelajaran yang umumnya dipelajari di beberapa pesantren modern. Dugaan saya, hampir seluruh santri juga memiliki karya besar beliau 'Kamus Bahasa Arab-Indonesia' yang selalu dijinjing sebagai pelengkap kamus al-Munjid fi al-A'lam saat belajar al-Qirā'ah ar-Rasyīdah atau al-Insyā' at-Taḥrīriy.
Belajar dari Frof. Dr. Mahmoed Joenoes atau yang lebih dikenal dengan Mahmud Yunus, lahir di Tanah Datar Minang Kabau 1899. Mahmud Yunus telah memperlihatkan minat terhadap ilmu agama sejak kecil di mana ia belajar Al-Qur'an dengan kakeknya dan khatam dalam usia tujuh tahun. Ia belajar setiap hari dari pagi sampai siang. Ia melewatkan waktunya sebagai pendidik dan pengajar. Sedikitnya 75 judul buku telah disusunnya termasuk beberapa buku yang dipakai di pondok saya seperti al-Fiqh al-Wāḍiḥ, tiga jilid at-Tarbiyah wa at-Ta'līm, dan Kamus Bahasa Arab-Indonesia-nya yang menjadi kamus favorit di pesantren saya.
Mahmud Yunus memulai pengalaman belajarnya dengan mengajar di surau dan Madras School tempat di mana ia dulu mengikuti pendidikan. Pada 1923 ia mengambil kuliah di Kairo Mesir dan kembali ke kampung halamannya pada tahun 1931. Pernah menjabat sebagai pegawai Departemen Agama, menjabat sebagai Rektor pertama Akademi Dinas Ilmu Agama (AIDA) di Jakarta yang selanjutnya menjadi UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor pertama IAIN Imam Bonjol. Mahmud Yunus adalah tokoh pembaharu pendidikan Islam yang pertama kali mempelopori masuknya pendidikan agama ke dalam kurikulum pendidikan umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan Nasional. Dialah di antara tokoh yang menekankan pentingnya mewujudkan akhlak yang mulia melalui lembaga pendidikan. Mahmud Yunus juga dikenal sebagai orang pertama yang berhasil mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia.
Baca juga: Nilai-nilai Maḥfūẓāt lainnya: Gila Belum Tentu Bodoh
Penutup
Tulisan ini sedikit menyinggung tentang makna lain belajar dan ber-sekolah, namun tidak bermaksud untuk lebih mengunggulkan salah satu dari keduanya. Fokus tulisan ini adalah bagaimana kita memaknai belajar yang seyogyanya tidak dibatasi oleh usia, tempat, dan waktu tertentu. Belajar yang baik adalah dengan mengamalkannya sebagaimana yang saya ingat dalam pelajaran al-Maḥfūẓāt kelas 1 No. ke-20 dan no. ke-21, "Ta’allaman ṣagīran wa’mal bihi kabīran" (Belajarlah di saat kecil dan amalkan saat dewasa), dan "Al-‘ilmu bilā ‘amalin ka asy-syajari bilā ṡamarin" (Ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon yang tak berbuah).
Belajar dari para ulama, sungguh menggugah rasa dan membuat malu hati. Dengan keterbatasan biaya, media, fasilitas, transportasi, dan lainnya (jika dibandingkan dengan masa kini), namun semangat dan gairah belajar para ulama yang tersebut di atas tidak pernah terbatasi. Jarak tempuh yang jauh, kekurangan atau ketiadaan biaya, dan kesulitan lainnya bukanlah halangan untuk tetap belajar di mana dan dengan siapa pun.
Masih banyak lagi para tokoh muslim yang dapat dijadikan contoh teladan dalam belajar dan sangat layak untuk dikenalkan kembali kepada para pelajar sekarang, karena biografi dan autobiografi serta ketokohan mereka telah dilupakan bahkan ditinggalkan sehingga terkalahkan dengan popularitas pesepakbola dan artis-artis masa kini.
Belajar sebagaimana yang dipesankan oleh Ali ibn Abi Talib dalam catatan buku al-Maḥfūẓāt saya, kelas 1 No. 64 bermodalkan 6 syarat: (1) kecerdasan (żakā’) yang harus diyakini bahwa setiap individu adalah unik, tidak ada seorang anak pun yang dapat di-klaim 'Bodoh', (2) ketamakan (ḥirṣ) di dalam menimba ilmu apa pun dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari Al-Qur'an, (3) kesungguhan (ijtihād); siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat, (4) biaya (dirham); jangan bakhil untuk mengeluarkan biaya dalam menuntut ilmu, (5) bergaul dengan guru (ṣuḥbatu ustāż); akan memudahkan kita mendapat bimbingan, dan arahan, dan (6) waktu yang panjang (ṭūlu zamān); karena tidak ada istilah tua dalam belajar.
Keenam syarat di atas sepenuhnya dilakukan oleh para ulama kita dengan harus menyeberangi beberapa pulau bahkan negara, berguru dengan beberapa ulama, belajar siang-malam tanpa bosan dan mengamalkan apa yang telah dipelajari. Belajar, bagi para ulama adalah harus mengarah pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki dengan menekankan pentingnya mewujudkan akhlak yang mulia. Sehingga dengan belajar, seseorang mampu mempersiapkan dirinya untuk hidup di masyarakat dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan, dan potensi lain yang dimilikinya.
Para ulama mempelajari varian ilmu pengetahuan dan menjaganya dengan menulis buku dan tidak melakukan maksiat karena keyakinan, bahwa ilmu adalah cahaya Allah (nūrullāh) yang tidak dapat dikuasai oleh orang-orang yang bermaksiat. Mereka mendistribusikan dan menyebarkan ilmunya di majelis-majelis taklim dengan beragam sarana yang ada dan tidak meninggalkan harta benda di akhir hayatnya melainkan ilmu dan tulisan dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Kita dan para pelajar muslim lain patut belajar dan mengidolakan para ulama di atas dan juga beberapa ulama lainnya yang kiranya masih dapat disebutkan dalam tulisan singkat ini seperti: a) Abu Raihan Al-Biruni yang banyak menyumbang keilmuan di bidang Matematika, Filsafat, Obat-obatan, b) Al-Khawarizmi (Alghorizm) Bapak ilmu Aljabar yang diajarkan di pelbagai sekolah di dunia, c) Ar-Razi (Razhes) yang dikenal sebagai dokter pertama dalam pengobatan ilmu jiwa, yaitu pengobatan yang dilakukan dengan memberi sugesti bagi penderita psikosomatis (gangguan emosi dan mental), d) Ibnu Awwan yang ahli dalam bidang pertanian, e) Al-Jahiz yang ahli dalam bidang biologi, khususnya bidang ilmu hewan, dan lain-lain yang sepertinya sudah tidak banyak dikenal oleh para pelajar muslim dan kurang dikenalkan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam. Padahal, merekalah di antara para ulama dan tokoh-tokoh Islam lain yang juga andil memberi sumbangsih besar bagi ilmu pengetahuan.
[1] Sebuah mata pelajaran yang dihafal-hafal, biasanya dikutip dari kata-kata bijak/hikmah para ulama atau pun hadis). Muqarrar li aṣ-ṣaff al-awwal bi Kulliyāt al-Mu'allimīn al-Islāmiyah. Ponorogo. Ma'had Dar as-Salam al-hadits Gontor.
[2] Baca Husayn Fattani. (2011). Tawanan Benteng Lapis Tujuh (Novel Biografi Ibnu Sina). Jakarta. Penerbit Zaman.
[3] Pelajaran al-Mahfuzhat kelas 4 Ponpes Darularafah Raya judul pertama tentang "Fi Madh as-Safar".
*Disadur dari tulisan Agus Salim Salabi, dalam buku Antologi: Logika Kemuliaan Hidup; Menjaga Tradisi Mewarisi Budaya, 2018.
Kamis, 05 Januari 2023
Belajar dan Sekolah

'Sekolah' Versus Belajar
Sekali waktu seorang sahabat bertanya tentang tujuan saya melanjutkan kuliah pada sebuah Institut Agama Islam Negeri di Kabupaten Jember Jawa Timur. Dengan logat Medan dan sedikit bergurau dia bertanya: "Gak capek-capek kau kuliah? Tros, kau kuliah lagi mau sekolah atau mau belajar?" Pertanyaan yang sepintas remeh, namun membuat lidah tertahan untuk menjawab spontan. Ternyata, pertanyaan itu sangat mengganggu dan membuat saya berpikir keras serta berhati-hati untuk menemukan jawaban tentang 'sekolah' dan belajar yang ditanyakan sahabat saya.
'Sekolah' atau ber-sekolah (maksud sahabat saya) adalah suatu kegiatan menuntut ilmu pada sebuah lembaga pendidikan formal, di mana pada akhir kegiatan tersebut seseorang yang ber-sekolah akan memperoleh pengakuan yang biasanya dalam bentuk ijazah ataupun sertifikat dan juga gelar. Sementara belajar, di mana pun dan kapan pun bisa dilakukan oleh masing-masing individu. Belajar merupakan kegiatan seseorang dalam menuntut ilmu pengetahuan tanpa harus berada di tempat atau ruang khusus serta tanpa harus terikat dengan jadwal. Di samping itu, belajar juga tidak memerlukan pengakuan maupun gelar.
Pertanyaan tentang 'sekolah' dan belajar yang tadinya adalah sebuah kelakar membuat saya tersadar akan pentingnya belajar dan bukan sekadar 'sekolah'. Itu pula kenapa sering diungkapkan dalam hafalan-hafalan (al-mahfuzhat)[1] saat saya mondok di Pesantren Darularafah dulu, "Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke lahad (Kelas 1, No. ke-10) dan "Tuntutlah ilmu walau ke negeri China (Kelas 1, No. ke-67). Belajar tidak harus di lingkungan terdekat atau di lingkungan tertentu saja, dan karenanya setiap individu jangan ragu untuk belajar meskipun tempat dan jarak yang akan ditempuh sangat jauh, apalagi jika di sana terdapat peradaban dan ilmu pengetahuan yang lebih maju.
'Sekolah' dalam kesimpulan sederhana di atas, bisa saja dimaknai sebagai upaya belajar seseorang yang biasanya dilakukan di dalam sebuah ruang dengan jadwal dan kurikulum terencana, terstruktur serta waktu yang ditentukan. Dengan regulasi yang ada saat ber-sekolah menjadikan seseorang terbimbing dan terarah yang memudahkannya dalam pengaturan kegiatan. Ber-sekolah juga mengajarkan orang untuk fokus pada bidang pengetahuan tertentu sehingga diharapkan menjadi seorang yang ahli.
Namun terdapat pula pandangan lain dari ber-sekolah, di mana tidak semua orang mampu mengenyam pendidikan formal apalagi sampai kepada jenjang terakhir (strata tiga). Ber-sekolah dengan durasi yang telah ditetapkan lebih kurang 5-6 jam dalam sehari bagi sebagian orang akan membatasi pengetahuan dan kegiatan yang mereka inginkan, karena dianggap kurang memberi kesempatan dalam memilih apa yang ingin dipelajari dan kapan akan mempelajarinya. Dengan durasi yang sama, mungkin lebih banyak aktivitas yang dapat dilakukan seseorang untuk belajar; membaca, berdiskusi, menulis, mempraktikkan, dan lain-lain di luar ber-sekolah.
Baca juga: Nilai-nilai Maḥfūẓāt lainnya; "Motivasi Kehidupan; Maḥfūẓāt Memang Unik
Ber-sekolah kurang lebih mengikuti perintah atau menerima pembelajaran dengan tugas-tugas yang telah diatur oleh bel atau lonceng (sebagaimana pengalaman saya saat mondok dulu). Bangun tidur dibangunkan oleh lonceng, pergi ke kelas diingatkan lonceng, berolahraga, makan, belajar malam, dan tidur juga harus ikut aturan lonceng. Seseorang yang ber-sekolah biasanya belajar hal yang sama pada waktu dan cara yang sama, padahal kemampuan (skills) masing-masing orang berbeda sebagaimana yang ditegaskan dalam Alquran Surah al-Isra'/17: 84, Allah berfirman, "Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." Masing-masing orang memiliki passion, minat, ketertarikan, kebutuhan, dan keahlian yang berbeda. Setiap orang memiliki pembawaan dan bakat yang Allah ciptakan sehingga antara satu individu dengan yang lainnya tidak sama.
Sementara belajar yang tentunya tidak menuntut adanya tempat dan waktu khusus, menjadikan kegiatan ini lebih fleksibel dan dapat dilakukan oleh semua kalangan. Belajar akan menuntut seseorang bisa menjadi kreatif yang dapat mengkomunikasikan ide-ide dan bekerjasama dengan orang lain. Belajar dapat dilakukan dalam situasi dan kondisi apapun, baik di dalam kelas ataupun tidak. Di dalam kelas, seseorang dapat belajar bebagai macam ilmu pengetahuan yang terstruktur dengan bimbingan para guru. Sementara di luar kelas ia dapat banyak belajar tentang ayat-ayat kauniah ataupun peristiwa-peristiwa yang dirasakan dan dialami di sekitarnya.
Dalam keadaan suka karena sebuah keberhasilan atau kemenangan, seseorang bisa belajar arti sukur dan rendah hati. Dan dalam keadaan duka karena kehilangan sesuatu atau orang yang dicintai, ia bisa belajar sabar, tawakal, dan tegar. Bahkan, dalam menghadapi musibah atau menyaksikan musibah yang dialami orang lain, ia juga bisa belajar. Begitulah yang saya ingat dari al-mahfuzhat kelas 2, tema 'al-hikam wa al-amṡāl as-sa'īrah', "Musibah yang menimpa suatu kaum, bagi kaum yang lain adalah manfaat/dapat dijadikan pembelajaran."
Dengan ber-sekolah formal, seseorang akan dikontrol oleh sistem secara ketat dalam melaksanakan aktivitasnya, sementara dengan belajar ia dapat melakukan sesuatu dan menentukan waktunya sendiri. Setiap orang yang ber-sekolah akan diukur seberapa banyak pengetahuannya yang bertahan dengan menjawab soal ujian. Ujian menjadi satu-satunya alat ukur keberhasilan ber-sekolah yang dideskripsikan dalam bentuk nilai-nilai berupa angka. Dengan nilai itulah seseorang yang ber-sekolah akan dihargai atau tidak. Sementara belajar, ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar ia memanfaatkan umurnya untuk berbuat kebaikan dan seberapa banyak kebermanfaatannya bagi orang lain. Dua hal tersebut mengingatkan saya lagi pada al-mahfuzhat terdahulu yang dikutip dari dua hadis berikut:
Abu Hurairah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang terbaik di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Kata beliau, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling panjang umurnya dan paling baik amalnya (HR. Ahmad)" dan "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’).
Berlanjut ke... "Belajar dari Ulama"
Rabu, 22 Juni 2022
Self Management dalam Menghadapi Era Society 5.0
Hari ini diibaratkan sebagai hari kelahiran bagi FTIK IAIN Lhokseumawe yang jika boleh dianalogikan sebagai ibu yang mengandung selama lebih kurang 9 bulan, kemudian tibalah hari yang membahagiakan atas lahirnya seorang anak, maka kebahagiaan seorang ibu tidaklah cukup sampai ia dapat melihat anaknya meraih kebahagian dengan mendapat jodohnya untuk membina rumah tangga.
Begitu juga dengan kampus, wa bil khusus FTIK IAIN Lhoskeumawe, setelah mengandung mahasiswa lebih kurang 4 tahun atau 8 semester, maka hari ini adalah hari kelahiran yang tentunya sangat membahagiakan. Tapi kebahagiaan itu belumlah cukup sehingga FTIK dapat menyaksikan anak-anaknya menemukan jodoh masing-masing, yang dalam hal ini adalah, anak-anaknya mendapatkan jodoh yaitu positioning mereka sebagaimana yang dicita-citakan atau sebagaimana profil lulusan yang telah ‘diramal’ oleh masing-masing jurusan di lingkungan FTIK.
Hasil mini research yang dilakukan terkait profil lulusan FTIK, ditemukan bahwa mahasiswa FTIK, setelah mereka lulus dari perkuliahan, mereka yang cenderung memilih profil guru sebanyak 68%. Pilihan kedua adalah menjadi tenaga kependidikan sebanyak 12%. Selanjutnya, mahasiswa memilih profil lulusan sebagai enterpreuner sebanyak 8%. Berikutnya ada yang memilih profil lulusan sebagai peneliti sebanyak 6%, dan sedikit sekali yang memilih profil lulusan sebagai peneliti, yaitu sebesar 4%. Namun ada juga mahasiswa yang memilih profil lainnya sebesar 2% yaitu menjadi TNI, POLRI, politikus dll. Sekiranya pilihan profil lainnya (TNI, POLRI, Politikus) ini terjadi, maka sesungguhnya lulusan FTIK tersebut sudah tersesat. Tapi tidak mengapa, karena ia tersesat di jalan yang benar.
Jika profil FTIK hanya dimaknai sebagai terget lulusan yang di kemudian hari akan menjadi guru, maka para lulusan harus siap dalam menghadapi tantangan era industri saat ini, antara lain adalah: (1) peran manusia berkurang, karena banyak peran diganti dengan online system, (2) pendidikan dan pembelajaran tidak banyak menggunakan ruang karena dapat menggunakan online system, sudah beradaptasi dengan revolusi industri 4.0. (3) kesempatan menjadi guru dan perannya juga berkurang karena akan ada revolusi Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan; ke depan seorang guru tidak harus dari Fakultas Keguruan, tetapi bisa dari fakultas lain dengan cara mereka mengikuti Pendidikan Profesi Guru untuk penguatan pedagogik. Sehingga persaingan semakin ketat dan begitu luas untuk pilihan profesi guru. Boleh jadi pesaing para peserta yudisium nantinya adalah orang-orang yang sekarang berada di samping kiri, kanan atau depan, dan belakang Anda.
Pernyataan ini penting disampaikan khusunya kepada para peserta yudisium, bukan untuk menakut-nakuti, tapi berharap hal ini bisa dijadikan renungan dan bahan pertanyaan “Apakah dengan kompetensi yang sekarang saya miliki, saya mampu bersaing?” Atau kompetensi dan bekal apa lagi yang harus saya miliki? Pernyataan ini tentunya juga akan menjadi renungan bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di FTIK, apakah konsep-konsep penyusunan profil lulusan, penguatannya hanya berfokus pada profil guru?
Di dunia ini hanya ada satu yang pasti, yaitu “perubahan”. Sebagaimana diketahui, bahwa era selalu berubah yang turut menuntut perubahan dari kompetensi manusia. Dimulai dari era industri 1.0 pada abad ke 18, di mana pertama kali ditemukan mesin uap. Mesin uap tersebut digunakan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Setelah revolusi 1.0, masuklah ke era industri kedua 2.0 di akhir abad ke-19. Revolusi ini ditandai dengan ditemukannya energi listrik. Lalu dilanjutkan dengan penemuan pesawat telepon, mobil, dan juga pesawat terbang yang memberikan perubahan yang cukup besar terhadap dunia. Berikutnya ada era industri 3.0 yang terjadi pada akhir abad ke-20, ditandai dengan perkembangan semi-konduktor dan proses otomatisasi industri. Kemunculan teknologi digital dan internet menandai dimulainya revolusi industri 3.0.
Saat ini (abad ke-21) atau setidaknya, sejak 4-5 tahun lalu, kita telah memasuki era industri 4.0. yang ditandai dengan pemanfaatan internet of things (setiap benda bisa berpikir), sehingga memungkinkannya interkoneksi antar-mesin, big data yang mengarah ke machine learning, smart factory, artificial intelegent, dll.
Tanpa disadari, pendidikan sejak 3-4 tahun ke belakang dan sampai hari ini masih dihadapkan pada era perubahan besar revolusi industri 4.0. di mana revolusi industri 4.0 menuntut konsekuensi logis perubahan di semua sektor dunia kerja. Era revolusi industri 4.0 yang telah dan masih kita rasakan hari ini, ditandai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi yang cukup pesat membawa kita ke era komunikasi yang praktis dan dinamis. Maka Tidak heran apabila teknologi komunikasi telah menjadi kebutuhan utama masyarakat dunia, di mana hampir setiap orang saat ini tidak bisa terlepas dari teknologi komunikasi yang merupakan wadah atau sumber informasi yang dianggap sangat penting. Perkembangan teknologi ini tentu memiliki dampak dua sisi, yaitu positif dan negatif.
Belum lagi berakhir era revolusi industri 4.0 dan di saat kita masih merasakan hiruk pikuk akibat revolusi industri 4.0 yang dibarengi era disrupsi dengan tanda-tanda dunia penuh gejolak, ketidak-pastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Ternyata, sejak tahun 2019 Jepang justru sudah meninggalkan era 4.0 dan sekarang sedang menikmati era society 5.0. Konsep Society 5.0 sebenarnya muncul dalam “Basic Policy on Economic and Fiscal Management and Reform 2016,” merupakan bagian inti dari rencana strategis yang diadopsi kabinet Jepang. Konsep ini diadopsi sebagai antisipasi terhadap tren global akibat dari munculnya revolusi industri 4.0.
Society 5.0 dibuat sebagai solusi dari revolusi industry 4.0 yang ditakutkan akan mendegradasi umat manusia dan karakter manusia. Society 5.0 bertujuan untuk mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik menjadi satu sehingga semua hal menjadi mudah dengan dilengkapi artificial intelegent (kecerdasan buatan). Pada era Society 5.0 pekerjaan dan aktivitas manusia akan difokuskan pada human center yang berbasis pada teknologi. Karenanya, jika manusia tidak mengikuti perkembangan teknologi dan pengetahuan, maka Society 5.0 masih sama saja dengan era disrupsi yang seperti pisau bermata dua. Pada satu sisi dapat menghilangkan lapangan kerja yang telah ada, namun juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Masyarakat 5.0 adalah masyarakat yang diharapkan dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0 seperti internet of thing, big data, artificial intelegent, robot, dan berbagai mesin canggih. Karena berbagai kemampuan inilah masyarakat 5.0 juga disebut sebagai smart society, atau masyarakat yang cerdas.
Para peserta yudisium sebagai lulusan perguruan tinggi, harus selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi di era revolusi industri 4.0 saat ini dan era society 5.0 ke depannya. Para lulusan harus mampu menguasai teknologi digital dan bahasa asing yang menjadi penting dalam merespon perubahan tersebut. Para peserta yudisium hari ini harus memiliki mindset yang terbuka akan perubahan, mindset yang adaptive atau growth mindset (pola pikir berkembang). Karena dengan pola pikir yang adaptif atau pola pikir yang berkembang, manusia akan selalu memandang pencapaian sebagai hasil usaha dan hasil belajar, bukan semata-mata karena adanya bakat dan takdir. Manusia dengan pola pikir berkembang memandang dirinya dapat mencapai apa pun sepanjang dia mau berusaha dan belajar. Sikap semacam inilah yang dapat menumbuhkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan mampu belajar serta mencapai apa pun yang dikehendaki.
Society (masyarakat) 5.0 merupakan masyarakat baru yang mampu menawarkan model baru untuk pemecahan persoalan sosial dalam mencapai sustainable development goals (tujuan pembangunan berkelanjutan). Era Society 5.0 juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk bisa bertahan, sehingga pemerintah memunculkan berbagai strategi dan metode sebagai respon atas kondisi itu.
Di dunia pendidikan, saat ini ada 5 kelompok tantangan yang harus diketahui dan dihadapi, terutama bagi para peserta yudisium yang sangat bercita-cita untuk menggapai profil utamanya, yaitu guru:
- Ekosistem; Keadaan saat ini, di mana lembaga pendidikan hanya dijadikan tugas, pemimpin sebagai pengatur, dan manajemen lembaga pendidikan terlalu administratif. Sementara arahan dan tantangan di masa depan lembaga pendidikan harus sebagai kegiatan yang menyenangkan, pimpinan harus memberikan pelayanan, dan manajemen sekolah yang kolaboratif dan kompeten.
- Guru; Saat ini guru hanya sebagai pelaksana kurikulum, guru dijadikan sumber belajar satu-satunya, pelatihan guru berdasarkan teori. Ke depannya, guru sebagai pemilik dan pembuat kurikulum, guru sebagai fasilitator dari berbagai sumber pengetahuan, dan pelatihan guru berdasarkan praktik.
- Pedagogi; Keadaan saat ini, siswa hanya sebagai penerima pengetahuan, fokus pada kegiatan tatap muka, pendekatan pembelajaran adalah bermain vs calistung. Ke depannya pembelajaran berorientasi pada siswa, pembelajaran berbasis teknologi, pendekatan pembelajaran bermain adalah belajar, bermakna, dan sesuai konteks.
- Kurikulum; Keadaan saat ini, pengembangan kurikulum linear, kurikulum berdasarkan konten, fokus kurikulum pada kegiatan akademik. Adapun arahan dan tantangan di masa depan adalah pengembangan kurikulum yang fleksibel, kurikulum berdasarkan kompetensi, fokus kepada soft skill dan pengembangan karakter. Sistem penilian saat ini masih bersifat sumatif/menghukum. Adapun arahan di masa depan penilian bersifat formatif/mendukung.
Menyikapi tantangan-tantangan di era 4.0 saat ini dan era 5.0 ke depan, maka manajemen diri (self management) sangat diperlukan dengan cara meningkatkan kompetensi dan menutupi kekurangan kompetensi yang saat ini dimiliki. Manajemen diri dapat dimulai dengan: 1) ber-muhasabah/mengevaluasi diri, yaitu mengenal kekuatan atau kelebihan diri, 2) mengenal dan mengetahui kelemahan diri yang dimiliki, 3) mendata kemungkinan peluang yang kiranya dapat diraih, 4) dan mendata kemungkinan-kemungkinan hambatan yang akan dihadapi dengan bekal pendidikan yang diperoleh dari kampus.
Berdasarkan riset World Economic Forum (WEF) 2020, terdapat 10 kemampuan utama yang paling dibutuhkan untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 dan menyambut era society 5.0, yaitu: 1) bisa memecahkan masalah yang komplek, 2) berpikir kritis, 3) kreatif, 4) kemampuan memanajemen manusia, 5) bisa berkoordinasi dengan orang lain, 6) kecerdasan emosional, 7) kemampuan menilai dan mengambil keputusan, 8) berorientasi mengedepankan pelayanan, 9) kemampuan negosiasi, serta 10) fleksibilitas kognitif.
Para lulusan juga harus meningkatkan kualitas diri untuk melakukan inovasi-inovasi sehingga melahirkan berbagai kreasi yang memberikan kontribusi bagi kemajuan lingkungan pendidikan dan masyarakat. Saat ini inovasi adalah sebuah keniscayaan, sehingga sering dikumandangkan adagium “innovate or die”, berinovasi atau mati.
Selain 10 kemampuan utama yang disebut di atas, kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh para lulusan adalah kemampuan 6 Literasi Dasar, yaitu: 1) literasi numerasi, 2) literasi sains, 3) literasi informasi, 4) literasi finansial, 5) literasi budaya, dan 6) literasi kewarganegaraan.
Tidak hanya literasi dasar, para lulusan juga harus membekali dirinya, jika bekal untuk menuju kebahagiaan akhirat adalah takwa (wa khairu az-zadi taqwa), maka bekal para lulusan untuk dapat bersaing di era 4.0 dan kelak beradaptasi di era society 5.0 dalam dunia pendidikan adalah bekal kecakapan 5C (bekal kecakapan hidup abad 21), yaitu: creativity (kretatif), critical thingking (bernalar dan berpikir kritis), communication (komunikasi), collaboration (mampu berkolaborasi). Adapun ‘C’ yang terpenting dan harus digarisbawahi adalah bekal bangunan character (perilaku/karakter/moral). Bekal bangunan diri inilah yang menjadi proyeksi pendidikan abad ke-21 dan diakui dunia.
Ada dua jenis karakter yang harus dijadikan bekal, yaitu karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral antara lain, iman, takwa, rendah hati, jujur, dll. Sedangkan karakter kinerja, antara lain: tangguh, tidak mudah menyerah, kerja keras, kerja tuntas, rajin, dll. Sehingga dengan membangun dua jenis karakter ini dan menempatkannya dalam diri, kita akan terhindar dari perilaku jujur tapi malas, rajin tapi sombong, kerja keras tapi tidak tuntas atau kerja tuntas tapi culas.
Mengakhiri orasi ilmiah ini, kembali saya mengingatkan diri pribadi dan kalau boleh juga mengingatkan kita semua, bahwa perubahan itu pasti datang, menghindarinya bukanlah pilihan tepat, menghadapinya tentulah harus dengan bekal yang cukup.
Bagi para perserta yudisium, kelahiran hari ini bukanlah hari terakhir Anda belajar. Tapi justru setelah hari ini Anda dan kita semua memasuki pembelajaran baru. Belajar untuk mengelola diri (self management) dengan: 1) muhasabah/evaluasi diri, 2) mengembangkan pola pikir, 3) meningkatkan kompetensi, yakitu 10 kompetensi sebagaimana yang telah diurai berdasarkan riset World Economic Forum ditambah 6 kompetensi literasi, dan 4) memperkokoh bangunan karakter (karakter moral dan karakter kinerja).
Sementara bagi sivitas akademika kampus, wa bil khusus sivitas akademika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Lhokseumawe, maka tugas kita adalah mampu menjadi futurolog-futurolog yang bertugas membaca masa depan; artinya para mahasiswa yang kita ajar dan kita didik 4 tahun lalu seyogyanya memang dipersiapkan untuk mampu menghadapi tantangan dan perkembangan zaman hari ini. Mahasiswa yang kita ajar dan didik pada hari ini adalah generasi yang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan dan perkembagnan zaman 3-4 tahun ke depan yang penuh dengan multi-possibilities, dan tentunya akan ada perubahan-perubahan yang bisa saja tidak sanggup dihadapi para lulusan jika kita tidak mempersiapkannya sesuai dengan ramalan 3 tahun ke depan.
Kampus harus mampu “meramal” multi-kemungkinan yang akan dihadapai para mahasiswa. Karenanya perlu peninjauan ulang profil-profil lulusan masing-masing jurusan di lingkungan FTIK. Apakah hari ini atau 3 tahun akan datang para mahasiswa hanya akan menjadi guru saja misalnya, atau akan menjadi konsultan, menjadi penyelia, menjadi pengawas, peneliti, atau lainnya?
Baca Juga: Profil Lulusan Manajemen Pendidikan Islam
Semoga dari FTIK akan lahir futurolog-futurolog yang kiranya mampu meramal dan mampu membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Sebagaimana Nabi Yusuf yang bukan saja mampu mentakwil mimpi, Beliau juga mampu menawarkan solusi terbaik dalam menghadapi ramalan musim paceklik pada zamannya.
Orasi ilmiah ini pada hakikatnya bukanlah untuk mengajari para cendikiawan dan para peserta yudisium di hadapan saya. Tidaklah mungkin mengajari ikan berenang atau mengajari burung tebang. Tapi ini saya jadikan cermin yang kiranya dapat memantulkan cahaya muhasabah bagi diri sendiri. Kalau pun terpancar untuk orang lain, semoga saja pantulannya menjadi manfaat dan barokah.
Sekali lagi, “Selamat atas kelahiran generasi baru yang ditandai dengan Yudisium Mahasiswa FTIK IAIN Lhokseumawe”. Kerja keras seluruh sivitas akademika dalam mempersiapkan generasi masa depan semoga menjadi amal jariah. “Selamat” juga kepada seluruh peserta yudisium, semoga kebahagiaan hari ini bertambah kuat dengan bertemunya seluruh peserta yudisium dengan jodoh yang diidam-idamkan, yaitu mendapatkan positioning yang sakinah, wawaddah, dan rahmah.
Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesilapan...
wallāhu musta’ān ilā aqwami aṭ-ṭarīq, wa billāhi at-taufīq wal hidāyah…
Wassalamualaikum
wr.wb.







