Jumat, 22 Januari 2021

Motivasi Kehidupan: Mahfuzat Memang Unik


MAḤFŪẒĀT MEMANG UNIK*

Bagi siswa-siswa SMP dan SMA, pelajaran di pesantren memang terlalu banyak, tetapi tidak bagi kami yang dengan penuh semangat melahap semua pelajaran yang disampaikan oleh ustaz-ustaz muda penuh dedikasi. Jangankan yang disampaikan oleh ustaz, yang disampaikan oleh mudarris masā’  atau mudabbir  asrama saja harus kami lahap, paham tak paham, ikhlas tak ikhlas, yang penting harus laksanakan, dan jangan sampai tidak, karena itu bisa dipandang sebagai penyepelean dan masalah bisa membesar. Sebagai mana pasal hierarki yang sering kami istilahkan: 

Man yuhmil mudabbir bima’nā yuhmil munaẓẓamah, man yuhmil munaẓẓamah bima’nā yuhmil ustāż, man yuhmil ustāż bima’nā yuhmil kiyāhī, man yuhmil kiyāhī bimaknā yuhmil kiyāhī Gontor.” 

Belakangan aku baru tahu, bahwa jurus ini dahulunya dipakai para ulama hadis dalam justifikasi keabsahan sebuah hadis, maka terbentuklah istilah sanad di dalam literatur ilmu hadis.

Sakitnya sebagai junior ketika bertanya pelajaran kepada mudabbir, rupanya mudabbir-nya juga kebetulan kurang paham. Ketika aku minta penjelasan yang lebih mendalam dengan muka serius dia hanya bilang: “Iqra’ faqaṭ, fahimta fīmā ba’d.”  Bila jurus ini yang dipakai oleh mudabbir aku pun mundur teratur sambil mengucapkan: “Syukran bang.” Yang sakitnya, jurus ini secara turun-temurun terus dipakai sebagai alibi lambang nufūż atau haibah, termasuk penulis ketika ditugaskan menjadi mudabbir di salah satu Asrama Pesantren Darularafah Raya (Asrama Mesir).

Pelajaran di kelas tentunya sangat banyak, dan rata-rata menuntut kemampuan menulis, men-syakl,  mendengar, menghafal, menerangkan dan meng-khulāṣah.  Dan satu yang paling unik adalah Maḥfūẓāt, pelajaran yang satu ini memang sekilas mudah, tetapi karena tradisi setoran hafalan yang diterapkan oleh ustaz-ustaz pengajarnya, maka ia sering menjadi bumerang bagi yang mengalami kelemahan hafalan seperti diriku. Sesuatu yang sering membuatku kesal adalah sikap ustaznya yang kurang “demokratis” ketika menerima setoran antara hafalan dan asy-syarḥ, yang dipersiapkan hafalan malah disuruh asy-syarḥ atau sebaliknya.

Baca juga: Catatan Santri: Pendidikan di Asrama

Saat ini aku malah sering bersyukur kepada Allah Swt. karena tanpa kuminta Ia mengirmkan ustaz-ustaz alumni Gontor Ponorogo yang selalu konsisten dengan sikap seperti di atas, berkat keikhlasan mereka dalam mendidikku, aku merasakan betapa bermanfaatnya ilmu yang mereka tanamkan, termasuk pelajaran Maḥfūẓāt yang paling sering menjadi falsafah hidup (bagiku) di alam bebas ini.

Dalam setiap diskusi ringan atau debat kusir aku sering mengutip ayat Alquran yang tak tahu surat apa ayat berapa dan hadis riwayat siapa, jurus selamatnya adalah “ini Maḥfūẓāt” bukankah Maḥfūẓāt artinya “yang dihafal-hafal”, toh di dalam Maḥfūẓāt banyak ditemukan potongan hadis, dan muqarrar pelajaran Maḥfūẓāt kelas VI semuanya ayat Alquran klasifikasi ayat ahkam.

Maḥfūẓāt yang paling sering menjadi jimat bagiku adalah “man jadda wajada”  ada juga “man sāra ‘ala ad-darbi waṣala”.  Ini sungguh terbukti bagi kami yang memilih jalur hidup linier dalam berkarier. Bahkan bagi kawan-kawan yang menempuh karier zig-zag.

Bagi kawan-kawan yang menetap di kampung, mungkin MaḥfūẓātBaiḍat al-yaum khair min dajājat al-gad” (telur hari ini lebih baik dari ayam esok hari) sudah cukup. Bagi kami yang hidup di rantau Maḥfūẓāt ini sangat wah, maka dari situ aku pun berusaha memutar otak berbekal pengalaman pahit bersama kawan alumni Ngabar melahirkan Maḥfūẓāt ‘setengah telur’ berikut: “Niṣf baiḍat al-yaum khair min baiḍat al-gad” (setengah telur hari ini lebih baik dari pada satu telur besok).

Baca juga: Belajar dan Sekolah

Namanya juga perantau, pastilah sering berkumpul bersama dongan sahuta untuk saling mengetahui kabar masing-masing. Apalagi masa-masa kuliah dulu “mangan ora mangan sing penting ngumpul,” belakangan aja, setelah masing-masing terikat dengan keluarga intensitas ngumpul sudah mulai jarang “ngumpul ora ngumpul sing penting mangan”. Dan biasanya, di sela-sela menikmati hangatnya kopi Ulee Kareng atau kopi Arabica Tanah Gayo bersama teman sekampung atau kawan lainnya sering terlontar pertanyaan yang tidak terjawab oleh pelajaran Balāgah atau ad-Diyānah sekalipun, tetapi jawabannya sering ditemukan di dalam pelajaran Maḥfūẓāt. Misalnya ketika ada kawan yang bertanya mengapa kita di rantau ini (Aceh) relatif lebih jadi “orang” daripada saat kita di kampung ya? Jawaban yang cocok dengan pertanyaan itu adalah:

Wa al-usudu lau lā al-firāq al-ghābi mā iftarasat # wa as-sahmu lau lā firāq al-qausi lam yuṣib.

“Kalaulah singa-singa tidak keluar dari hutan (sarangnya), maka tidak akan mendapat mangsa. Kalaulah anak panah tidak lepas dari busurnya, maka tidak akan mengenai sasaran.”

Tampaknya bait tersebut begitu selaras dengan lagu yang dilantunkan oleh Trio Lamatama lalu didaur ulang oleh Simbolon Sister: 

Horas..., biar kambing di kampung sendiri, horas...,tapi banteng di perantauan, anak Medan do au kawan 2x.”

Ada juga kawan yang suka bertanya, “Mengapa ya..., aku di kampungku hanya dipandang sebelah mata, tapi di sini aku merasa lebih dihargai?” Dengan santai aku ingat-ingat Maḥfūẓāt kelas V yang diajarkan ustazku dulu (Ustaz Saifullah Nawawi) yang bunyi matannya seperti berikut:

Wa al-tibru ka al-turbi mulqan fī amākinihi # wa al-‘ūdu fī arḍihi naw’un min al-ḥaṭab.

Bukankah tibir (logam sebelum jadi emas) hanya seharga debu ketika masih terpendam di dalam tanah, dan kayu besar (di hutan) sama harganya dengan kayu bakar sebelum diolah menjadi beroti. Bisa jadi kau di rumah dipandang sebagai anak kecil oleh para tetanggamu karena kau lahir dan besar di lingkungan itu, tapi itu tidak di tempat barumu karena kau datang ke tengah-tengah orang itu setelah menyandang gelar alumni.

* Disadur dari tulisan Sabaruddin Simbolon, Maḥfūẓāt Memang Unik, dalam buku Antologi  Berani Hidup Tak Takut Mati; Potret Kehidupan Santri, 2018. Sampai menjelang wafatnya (Allah yarhamhu), beliau adalah guru PKn di SMAN 5 Lhokseumwe dan mahasiswa S3 Prodi Hukum Islam UINSU. Menulis buku aḍ-ḍiyā’ al-lāmi’; majmū’ah min al-khuṭbah al-‘arabiyah, Epitemologi Hukum Islam; Dari Masa Nabi Muhammad saw. Sampai Dengan Ulama Mutakallimin, Metode Kritik Hadis; Suatu Pendekatan Baru, dll. Beliau juga penggagas sekaligus editor dalam beberapa buku karya santri dan siswa, seperti: Berani Hidup Tak Takut Mati; Potret Kehidupan Santri, Logika Kemuliaan Hidup: Menjaga Tradisi Mewarisi Modernitas, karya (IKatan Alumni Pesantren Darularafah/IKAPDA), Kalung Pembawa Arti karya siswa SMPN 6 Lhokseumawe, Sang Motivator karya siswa SMAN 5 Lhokseumawe, Hijrah Together Ukhuwah Forever karya santri Damora Lhokseumawe, dll.

Tags :

bm
Created by: Admin

Media berbagi informasi dan pembelajaran seputar Pendidikan Islam (PEDI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan Lembaga Pendidikan Islam.

Posting Komentar

Ikuti Channel YouTube

Connect