Rabu, 22 Juli 2026

Akademisi Lima Negara Bahas Inovasi Digital pada Seminar Internasional Magister Ekonomi Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah

Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Akademisi dan pakar ekonomi Islam dari lima negara, yakni China, India, Malaysia, Palestina, dan Indonesia, berkumpul dalam International Seminar 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Seminar yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (22/7/2026) tersebut mengangkat tema "Digital Innovations & Global Trends in Islamic Economics: Shaping the Future of Islamic Economics Through Digital Innovation."

Kegiatan ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, peneliti, praktisi ekonomi syariah, serta peserta dari berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Forum tersebut menjadi ruang diskusi untuk membahas perkembangan inovasi digital yang semakin memengaruhi transformasi ekonomi dan keuangan syariah di tingkat global.

Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr. Harjoni, M.Si., mengatakan bahwa seminar internasional ini merupakan bagian dari komitmen program studi untuk memperkuat jejaring akademik sekaligus mendorong pengembangan keilmuan ekonomi syariah di era digital.  "Seminar internasional ini sangat penting dalam mendukung kemajuan digital finansial. Program Studi Magister Ekonomi Syariah ingin mengambil peran strategis dalam mendorong lahirnya gagasan, penelitian, dan kolaborasi internasional yang mampu menjawab tantangan transformasi digital di bidang ekonomi dan keuangan syariah," ujarnya.

Menurut Dr. Harjoni, perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar pada industri keuangan syariah, mulai dari sistem pembayaran digital, financial technology (fintech) syariah, teknologi blockchain, hingga pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam berbagai layanan keuangan. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga melahirkan inovasi serta sumber daya manusia yang adaptif terhadap dinamika global.

Seminar dibuka secara resmi oleh Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber internasional yang telah berpartisipasi dan berbagi pengalaman serta pengetahuan kepada para peserta. "Kami mengucapkan terima kasih kepada para pakar dari China, India, Malaysia, Palestina, dan Indonesia yang telah berbagi wawasan mengenai perkembangan ekonomi Islam dan inovasi digital. Kami berharap forum ini menjadi awal terbangunnya kolaborasi yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat," ungkap Prof. Zulfikar. Ia menambahkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya nota kesepahaman yang ditandatangani, tetapi juga dari kualitas kolaborasi akademik yang mampu menghasilkan penelitian, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.


Selama seminar, para narasumber mengulas berbagai isu strategis, antara lain digitalisasi layanan keuangan syariah, perkembangan fintech syariah, peluang kolaborasi riset lintas negara, serta tantangan membangun ekosistem ekonomi Islam yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Diskusi yang berlangsung selama hampir dua jam tersebut mendapat respons positif dari peserta. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai implementasi teknologi digital dalam industri keuangan syariah, peluang penelitian kolaboratif internasional, hingga strategi pengembangan ekonomi Islam di tengah perubahan ekonomi global.

Selain memperluas wawasan akademik, seminar ini juga menjadi momentum untuk memperkuat jejaring internasional Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dengan berbagai perguruan tinggi dan institusi luar negeri. Melalui forum ini diharapkan lahir berbagai bentuk kolaborasi, seperti penelitian bersama, publikasi ilmiah bereputasi internasional, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta penyelenggaraan konferensi akademik secara berkelanjutan.

Penyelenggaraan seminar internasional ini merupakan bagian dari upaya Program Studi Magister Ekonomi Syariah dalam memperkuat atmosfer akademik, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mendukung visi Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global. Melalui forum ilmiah seperti ini, program studi berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi internasional yang mendorong lahirnya gagasan, inovasi, dan solusi bagi pengembangan ekonomi syariah di era digital. (Joni)

Kamis, 12 Februari 2026

Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah–Dinas Pendidikan Aceh Utara Gelar Pelatihan Analisis Mutu Sekolah Berbasis Data

Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe kembali menegaskan peran strategisnya dalam penguatan mutu pendidikan di Aceh melalui kolaborasi epik bersama Dinas Pendidikan Aceh Utara. Sinergi ini diwujudkan dalam kegiatan bertajuk “Analisis Mutu Sekolah Berdasarkan Perencanaan Berbasis Data” yang dilaksanakan pada 9–11 Februari 2026 di Aula Lantai III Gedung Pascasarjana UINSUNA Lhokseumawe.

Kegiatan ini diikuti oleh 100 kepala sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Aceh Utara. Para peserta mendapatkan penguatan kapasitas dalam menganalisis mutu sekolah secara komprehensif dan menyusun perencanaan berbasis data sebagai fondasi peningkatan kualitas pendidikan. Acara dibuka secara resmi pada Senin (9/2) dengan rangkaian pembukaan yang diawali registrasi peserta, pembacaan Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta sambutan dari Dr. Maya Safitri, M.A., selaku Ketua Panitia, Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A., selaku Direktur Pascasarjana, dan Razali, S.Pd.I, M.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kabudayaan Kabupaten Aceh Utara, yang mewakili Dinas Pendidikan Aceh Utara. Momentum ini menjadi simbol kuat komitmen bersama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih berkualitas.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan pemaparan mendalam mengenai Eksistensi dan Peran Pimpinan dalam Merancang Program Pengembangan Sekolah oleh Prof. Dr. Danial, M.Ag., Rektor UINSUNA yang menekankan pentingnya kepemimpinan transformatif dalam mendorong perubahan berbasis visi dan data. Sesi dilanjutkan dengan materi Analisis SWOT Pengembangan Sekolah oleh Dr. Zulkhairi, M.Pd., yang membimbing peserta mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan sekolah secara sistematis.

Memasuki hari kedua, fokus pembahasan beralih pada penguatan kolaborasi internal sekolah melalui materi Kolaborasi Warga Sekolah dalam Mengembangkan Program oleh Dr. Iskandar, M.Si.  Sesi berikutnya yang tak kalah penting adalah Analisis Rapor Mutu Pendidikan dan Perencanaan Berbasis Data oleh Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, M.A. Materi ini menjadi jantung kegiatan karena mengarahkan peserta untuk mampu membaca rapor mutu sebagai instrumen strategis dalam penyusunan rencana kerja sekolah.

Pada hari ketiga, peserta mendapatkan penguatan tentang Relevansi Kegiatan Sekolah terhadap Instrumen Akreditasi BAN-PDM yang disampaikan Dr. Harjoni, M.Si. Puncak kegiatan ditutup dengan materi Implementasi dan Tindak Lanjut Peningkatan Mutu Berbasis Data oleh Dr. Agus Salim Salabi, M.A., yang memberikan panduan praktis agar seluruh konsep yang diperoleh dapat diimplementasikan secara berkelanjutan di sekolah masing-masing.

Mewakili Dinas Pendidikan Aceh Utara, Dr. (Cand.) Dahliana, S.Si., M.S.M., Kasubbag. Keuangan dan Perlengkapan turut mendampingi peserta selama tiga hari kegiatan. Ia menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah mampu menghadirkan narasumber dengan materi-materi yang sangat penting dan relevan dengan kebutuhan sekolah saat ini. “Kami sangat mengapresiasi Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah karena telah memfasilitasi 100 kepala sekolah dari jenjang SD dan SMP di Aceh Utara dengan materi yang benar-benar aplikatif. Dari seluruh rangkaian kegiatan ini, para kepala sekolah semakin jelas melihat indikator mana yang masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Dr. (Cand.) Dahliana menambahkan bahwa kebermanfaatan kegiatan ini dirasakan langsung oleh para kepala sekolah, khususnya dalam membaca data rapor mutu dan mengaitkannya dengan instrumen akreditasi. Dengan pemetaan yang semakin terstruktur, sekolah dapat menyusun program prioritas secara lebih tepat sasaran. Ia juga berharap kerja sama ini tidak berhenti di sini, melainkan berlanjut pada penguatan kapasitas sekolah di berbagai aspek lainnya. “Kami melihat ini sebagai penguatan sinergi antara kampus UIN Sultanah Nahrasiyah dengan Dinas Pendidikan kabupaten/kota. Ke depan, kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut untuk mendukung transformasi mutu pendidikan di Aceh Utara,” tambahnya.

Direktur Pascasarjana, Prof. Zulfikar dalam sesi penutupan menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari tanggung jawab akademik UIN Sultanah Nahrasiyah dalam mendampingi sekolah-sekolah di wilayah sekitar agar mampu bertransformasi menuju tata kelola yang profesional dan berbasis data.

Kerja sama strategis ini sekaligus menunjukkan bahwa keberadaan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai pusat pengembangan keilmuan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sinergi dengan Dinas Pendidikan Aceh Utara, Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah mempertegas komitmennya dalam memperkuat mutu pendidikan daerah secara nyata, sistematis, dan berkelanjutan. (sal-aby)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Kamis, 29 Januari 2026

Enam Mahasiswa S3 UIN Sultanah Nahrasiyah Tampil dalam Seminar Proposal Perdana: Program Doktor Studi Islam Tegaskan Tradisi Akademik Unggul


Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe melalui Program Doktor (S3) Studi Islam sukses melaksanakan Seminar Proposal Disertasi Perdana pada Selasa–Rabu, 27–28 Januari 2026, di Ruang Sidang Lantai 2 Gedung Pascasarjana. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid (luring dan daring) ini menjadi tonggak penting bagi program doktor yang relatif baru memulai kegaitan akademiknya secara formal pada tahun 2024. Seminar ini sekaligus menegaskan komitmen Prodi S3 Studi Islam dalam membangun tradisi akademik yang kuat, progresif, dan berstandar nasional.

Dari total 30 mahasiswa semester III, enam mahasiswa berhasil menembus tahapan seminar proposal sebagai bagian dari proses akademik menuju penelitian disertasi. Mereka menjadi pelopor dalam fase awal penyelesaian tugas akhir doktoral di lingkungan Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe. Seminar ini juga menghadirkan para pakar dari internal UIN SUNA serta penguji eksternal dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan UIN Sumatera Utara Medan. Keterlibatan para akademisi lintas kampus ini menjadikan diskursus ilmiah berlangsung mendalam, kritis, dan konstruktif.

Seminar hari pertama Selasa, 27 Januari 2026 diawali oleh Ismaulina, mahasiswa konsentrasi Ekonomi Syariah yang mempresentasikan proposal berjudul “Integritas Etika Islam dalam Akuntansi Syariah Manajemen Strategis di Lembaga Keuangan Syariah.” Seminar berlangsung pukul 08.30–10.00 WIB dengan tim penguji: Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, M.S.O.M. dari UIN Ar-Raniry (Promotor sekaligus Ketua Sidang), Assoc. Prof. Dr. Harjoni Deski, M.Si. (Kopromotor), dan Assoc. Prof. Dr. Iskandar, M.Si. (Penguji). Diskusi menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai etika Islam dalam praktik manajemen strategis lembaga keuangan syariah, serta penguatan kerangka filosofis dan metodologis penelitian.

Sesi kedua menghadirkan Samhudi, mahasiswa konsentrasi Pendidikan Agama Islam, dengan judul proposal “Integrasi Pendidikan Islam dan Sains di Dayah (Studi Kasus Dayah Darul Ulum Al Munawwarah Lhokseumawe).” Seminar berlangsung pukul 10.30–11.30 WIB dengan tim penguji: Prof. Dr. Warul Walidin, AK., M.A. dari UIN Ar-Raniry (Promotor), Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A. (Kopromotor sekaligus Pimpinan Sidang), dan Assoc. Prof. Dr. Ja’far, M.A. (Penguji). Pembahasan menyoroti model integrasi keilmuan Islam dan sains dalam sistem pendidikan dayah sebagai respons terhadap tantangan modernitas dan kebutuhan pendidikan berbasis integratif.

Mahasiswa ketiga pada hari pertama, Cindenia Puspasari dari konsentrasi Komunikasi dan Penyiaran Islam, memaparkan proposal berjudul “Pengembangan CAPS: Pemahaman Dakwah, Media Digital, dan Akhlak Generasi Z Aceh.” Seminar berlangsung pukul 14.30–16.00 WIB dengan tim penguji: Prof. Dr. Danial, M.Ag., Rektor UIN SUNA Lhokseumawe (Promotor sekaligus Ketua Sidang), Assoc. Prof. Dr. Darmadi, M.Si. (Kopromotor), dan Prof. Dr. Hasan Sazali, M.A. dari UIN Sumatera Utara Medan (Penguji). Diskusi akademik menitikberatkan pada inovasi pendekatan dakwah berbasis media digital serta penguatan karakter generasi Z di tengah arus disrupsi informasi.

Seminar hari kedua, Rabu, 28 Januari 2026 dibuka oleh Muhammad Ediyani dari konsentrasi Pendidikan Agama Islam dengan proposal berjudul “Kompetensi Guru Bahasa Arab dan Implikasinya terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Siswa (Analisis Pembelajaran Bahasa Arab di MTsS Ulumuddin).” Seminar berlangsung pukul 08.30–10.00 WIB dengan tim penguji: Prof. Dr. Warul Walidin, AK., M.A. dari UIN Ar-Raniry (Promotor), Assoc. Prof. Dr. Saifuddin Dhuhri, Lc., M.A. (Kopromotor sekaligus Pimpinan Sidang), dan Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A. (Penguji). Diskusi memperdalam aspek pedagogik, kompetensi profesional guru, serta ketajaman desain metodologi penelitian.

Selanjutnya, Dedy Haryadi Hasan dari konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam mempresentasikan proposal berjudul “Pengaruh Pengembangan Soft Skill Karyawan terhadap Pengembangan Karier (Studi Kasus di PT Pupuk Iskandar Muda).” Seminar yang berlangsung pukul 10.00–11.30 WIB secara daring ini menghadirkan Prof. Dr. Warul Walidin, AK., M.A. dari UIN Ar-Raniry (Promotor sekaligus Ketua Sidang), Assoc. Prof. Dr. Said Alwi, M.A. (Kopromotor), dan Assoc. Prof. Dr. M. Anggung Manumanoso Prasetyo, M.Pd.I. (Penguji). Kajian ini memperluas spektrum Manajemen Pendidikan Islam melalui pendekatan aplikatif yang bersentuhan langsung dengan dunia industri dan pengembangan sumber daya manusia.

Seminar ditutup oleh Dahliana dari konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam dengan proposal berjudul “Optimalisasi Pendayagunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar di Aceh Utara.” Seminar berlangsung pukul 11.30–13.00 WIB dengan tim penguji: Prof. Dr. Jamaluddin Idris, M.Ed. dari UIN Ar-Raniry (Promotor sekaligus Ketua Sidang), Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto, M.A. (Kopromotor), dan Assoc. Prof. Dr. Agus Salim Salabi, M.A. (Penguji). Diskusi menyoroti tata kelola pembiayaan pendidikan yang transparan, efektif, berbasis nilai Islam dan berdampak langsung terhadap peningkatan mutu sekolah dasar.

Pelaksanaan seminar proposal perdana ini menunjukkan sejumlah capaian strategis, antara lain: Terbangunnya kultur akademik doktoral yang serius dan progresif, Keterlibatan pakar internal dan eksternal dalam penguatan kualitas riset, Komitmen mahasiswa dalam penyelesaian studi secara sistematis. Seminar proposal merupakan gerbang awal menuju penelitian disertasi yang berkualitas, yaitu integrasi kajian Islam dengan isu-isu kontemporer: pendidikan, manajemen, ekonomi syariah, dakwah digital, hingga pengembangan SDM industri. Melalui tahapan ini, mahasiswa memperoleh penguatan teoritik dan metodologis sebelum memasuki fase penelitian lapangan.

Sebagai program doktor yang relatif baru, Prodi S3 Studi Islam Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe terus berbenah dalam memperkuat sistem pembimbingan dan tradisi riset. Capaian enam mahasiswa ini menjadi sinyal kuat bahwa program doktor UIN SUNA siap melahirkan doktor-doktor yang unggul, kontributif, dan relevan bagi pembangunan Aceh dan Indonesia di masa depan.

Seminar proposal perdana ini menjadi langkah konkret menuju visi jangka panjang Prodi S3 Studi Islam untuk tampil sebagai program doktor unggul berbasis riset interdisipliner, integratif antara nilai-nilai Islam dan perkembangan sains, adaptif terhadap transformasi digital, serta berakar pada kearifan lokal dengan orientasi global menuju 2045. (sal-aby)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 26 November 2025

Penguatan Tradisi Riset: Mahasiswa Magister HKI Pascasarjana UINSUNA Tampil di Konferensi Internasional

Rankang Belajar | Lhokseumawe – Sebanyak 14 mahasiswa Magister Hukum Keluarga Islam (HKI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe berhasil menunjukkan kiprah akademiknya dalam ajang The 3rd International Conference on Islamic and Al Washliyah Studies 2025, Selasa (25/11). Partisipasi mereka menjadi bukti bahwa tradisi ilmiah di Pascasarjana semakin hidup dan produktif, sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Aceh untuk berkontribusi dalam wacana ilmiah internasional

Ke-14 mahasiswa ini mempresentasikan hasil penelitian lapangan yang telah mereka kerjakan selama beberapa bulan terakhir di bawah bimbingan Dr. Ja’far, M.A., Dosen pengampu MK. Filsafat Ilmu yang juga Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Syariah UIN SUNA. Tema yang mereka angkat mencerminkan kekayaan intelektual Aceh—mulai dari kiprah ulama, dinamika dayah, hingga kajian terhadap putusan Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon. Seluruh penelitian tersebut rencananya akan diterbitkan dalam bentuk buku.

Sesi presentasi dibuka oleh Zumairi dengan kajian tentang warisan intelektual Abu Panton dan peranannya menjaga marwah dayah di Aceh. Presentasi berikutnya disampaikan oleh Muhammad Arif Maulana, yang mengulas pemikiran fikih Waled Sirajuddin dari Babussalam. Kajian tentang kontribusi ulama Aceh juga disampaikan oleh Rahmad Sanusi, serta Ghujdawan yang menyoroti peran Ayah Cot Trueng dalam penguatan dakwah TASTAFI.

Isu tentang dayah juga banyak mendapat perhatian. Nurzakiyah membahas Dayah Darul Ulum, Zulfahmi mengkaji Ma’had Aly Malikussaleh, sedangkan Ifkar Hidayatullah meneliti Dayah Malikussaleh. Sementara itu, Cut Nazar Mutia Hanum menggali tradisi keilmuan turath di Dayah MATAQU.

Pada bidang hukum keluarga, enam mahasiswa menyoroti berbagai problematika hukum yang diputuskan di Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon. Zurriatina mengulas persoalan dispensasi nikah, Nova Arina membahas penetapan nasab anak, dan Devi Rahmayani mengkaji itsbat nikah pada kasus pernikahan lintas negara. Kajian lain turut disampaikan oleh Maulina mengenai hukum waris, Lilis Diatna tentang sengketa hibah, serta Susi Rahmayanti yang menyoroti putusan terkait kekerasan seksual berbasis inses.

Penampilan para mahasiswa ini mendapat banyak apresiasi dari peserta konferensi. Mereka dinilai mampu menyajikan kajian yang rapi, relevan, dan memperkaya diskursus syariah maupun khazanah Aceh. Kehadiran mereka sekaligus memperkokoh posisi Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe dalam peta penelitian syariah, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Jumairi)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 25 November 2025

Program Doktor Studi Islam UINSUNA Menguatkan Wacana Ulama dan Pendidikan Islam Kontemporer dalam The Third International Conference on Islamic Studies 2025

Rangkang Belajar | Lhokseumawe — Kiprah akademik mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe kembali hadir di forum internasional melalui partisipasi mereka dalam The Third International Conference on Islamic Studies 2025. Konferensi yang berlangsung secara daring pada 25 November 2025 melalui Zoom Meeting Room–E ini mengangkat tema besar “Islamic Organizations and the Transformation of Ulama Authority in Contemporary Indonesia”, sebuah isu penting dalam lanskap keislaman modern.

Acara ini menghadirkan para pakar lintas negara, seperti Prof. Mohamed Sulthan Mohamed Saleem, Ph.D. (Sri Lanka), Prof. Dr. Anwar Sadat Harahap (Indonesia), Prof. Lutfullah Saqib, Ph.D. (Pakistan), Prof. Hyung-Jun Kim, Ph.D. (Korea Selatan), serta Prof. Dr. Abd. Rahman Dahlan, M.A. (Indonesia). Kegiatan diselenggarakan atas kerja sama Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah, UMN Al-Washliyah Medan, Fakultas Syariah UINSUNA, dan Program Pascasarjana UINSUNA.

Dalam forum ilmiah ini, mahasiswa program doktoral Pascasarjana UINSUNA tampil sebagai pemakalah pada dua panel utama. Pada Panel 1 yang dipandu oleh Dr. Agus Salim Salabi, M.A., diskusi berfokus pada integrasi nilai, pendidikan, dan dinamika sosial masyarakat Muslim. Empat pemakalah dari UINSUNA menghadirkan kajian yang saling melengkapi.

Adnan, M.Pd., Sekretaris Program Doktor Studi Islam UINSUNA, membuka sesi dengan presentasi “Internalization of Hadih Madja Values in Acehnese Family Counseling”, yang menegaskan pentingnya nilai budaya Aceh dalam memperkuat ketahanan keluarga. Samhudi, M.Pd., melanjutkan dengan makalah “Integration of Islamic Educational Values in Shaping Gen-Z Character in the Digital Era”, menyoroti bagaimana pendidikan Islam dapat membentuk karakter generasi digital secara lebih strategis. Beralih ke isu otoritas keagamaan, Cindenia Puspasari, M.Sc., memaparkan “Digital Transformation and the Authority of Ulama”, membahas pergeseran otoritas ulama di tengah teknologi digital. Sementara itu, Muslem Ilyas, M.Pd., menutup sesi Panel 1 dengan kajian “Meudagang-Based Dayah Management in Ensuring Sustainability”, yang mengangkat praktik meudagang sebagai fondasi keberlanjutan lembaga dayah berbasis kearifan lokal.
Dr. Salabi menyimpukan, keempat kajian tersebut tampak berbeda, tetapi sesungguhnya bertemu pada satu garis utama: bagaimana nilai-nilai Islam dan kearifan lokal diintegrasikan secara nyata dalam pendidikan, keluarga, dan kelembagaan untuk menjawab tantangan era modern. Perspektif Edgar H. Schein membantu membaca pola ini, bahwa sebuah sistem (keluarga, sekolah, pesantren) hanya akan hidup jika nilai yang dijunjung benar-benar menjadi bagian dari budaya bersama. Hadih Madja, nilai pendidikan Islam, otoritas ulama, hingga tradisi meudagang adalah contoh “asumsi budaya” yang, ketika dipraktikkan konsisten, menjadi kekuatan perubahan. Di sisi lain, gagasan Thomas Lickona tentang moral knowing, moral feeling, dan moral action juga tercermin dalam semua presentasi. Nilai yang dikenali, dirasakan, dan diamalkan, baik dalam konseling keluarga, pembentukan karakter Gen-Z, manajemen dayah, maupun otoritas ulama di era digital menegaskan bahwa pendidikan nilai tidak hanya diajarkan, tetapi harus diteladankan dan dihidupkan.

Panel 2 yang dipandu oleh Zanzibar, M.Sos., turut menghadirkan dinamika kajian Al-Qur’an dan hadis dalam konteks kekinian. Ansori Hasibuan, M.A., memaparkan konsep uswah sebagai model kepemimpinan transformasional dalam makalahnya "The Concept of Uswah in the Qur’an from a Transformational Leadership Perspective". Pada bagian akhir, Muhammad Ediyani, M.A., membahas prinsip taysir dengan makalahnya yang berjudul "The Qur’anic Concept of Taysir according to Al-Sa‘di". Zanzibar menimpulkan, panel ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menawarkan model kepemimpinan yang memadukan keteladanan moral dan kemudahan bagi umat, sehingga tetap humanis, adaptif, dan relevan dengan perubahan zaman.

Keterlibatan mahasiswa doktoral UINSUNA dalam forum internasional ini memperlihatkan komitmen kampus dalam memperkuat tradisi keilmuan yang progresif dan berakar pada nilai-nilai Islam. Selain membuka ruang kolaborasi dengan akademisi internasional, kontribusi ini juga menegaskan peran Pascasarjana UINSUNA dalam merespons isu-isu kontemporer melalui riset, pendidikan, dan pengembangan wacana keislaman yang lebih inklusif dan kontekstual. (Sal-Aby)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 28 Oktober 2025

Kontribusi Santri dalam Menjaga Nilai-Nilai Luhur dan Memajukan Peradaban

Oleh: Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I.

"Santri berperan penting dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa, memajukan peradaban melalui pendidikan karakter, pelestarian budaya, moderasi beragama, penguatan ekonomi umat"

Santri, sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia, memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa sekaligus memajukan peradaban. Kontribusi mereka tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan, tetapi juga menjangkau berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, dan intelektual. Peran penting santri dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

1. Pendidikan Karakter: Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat. Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan gotong royong ditanamkan sejak dini. Santri diajarkan untuk menghormati orang tua, guru, dan sesama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Melalui pendidikan karakter inilah, pesantren melahirkan generasi yang berakhlak mulia, tangguh, dan berintegritas.

2. Pelestarian Tradisi dan Budaya: Santri juga berperan dalam melestarikan tradisi dan budaya lokal yang bernafaskan Islam. Berbagai kegiatan seperti seni hadrah, marawis, bela diri pagar nusa, dan kesenian tradisional lainnya menjadi bagian dari kehidupan pesantren sehari-hari. Selain itu, pesantren menjadi pusat pengembangan bahasa Arab dan kajian kitab-kitab klasik (turats) yang merupakan warisan intelektual Islam. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi benteng keagamaan, tetapi juga penjaga budaya dan identitas bangsa.

3. Moderasi Beragama: Santri merupakan garda terdepan dalam menyebarkan Islam yang moderat, toleran, dan inklusif. Dengan jumlah pesantren yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, para santri terbiasa hidup berdampingan dengan keragaman, berdialog lintas budaya, serta membangun kerukunan dan harmoni sosial. Pesantren mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan pendapat dan menjauhi segala bentuk kekerasan serta ekstremisme. Dalam konteks global, santri juga dapat berperan sebagai agen perdamaian dunia, duta Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebarkan semangat kasih sayang dan persaudaraan universal.

Santri dan Peradaban di Era Globalisasi

Memasuki era globalisasi, santri dituntut untuk mengambil peran strategis dalam memajukan peradaban. Agar dapat menjawab tantangan zaman, ada beberapa hal mendesak yang perlu dikembangkan di lingkungan pesantren dan santri masa kini.

1. Pengembangan Ilmu Pengetahuan: Santri tidak hanya perlu mendalami ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan umum dan bahasa asing sebagai bekal menghadapi dunia global. Pesantren harus mampu menghadirkan program pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Santri didorong untuk berpikir kritis, kreatif, dan solutif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

2. Kontribusi di Berbagai Bidang: Lulusan pesantren kini terbukti mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan — pendidikan, ekonomi, politik, hingga pemerintahan. Banyak di antara mereka yang menjadi tokoh nasional, pejabat publik, akademisi, pengusaha, bahkan presiden. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga pemimpin berkarakter yang mampu membawa nilai-nilai luhur pesantren ke ranah publik. Selain itu, santri juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta memberikan advokasi bagi kelompok-kelompok termarginalkan.

3. Penguatan Ekonomi Umat: Santri juga perlu didorong untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan produktif. Kemandirian ekonomi akan memperkuat posisi tawar umat Islam dalam dinamika ekonomi global. Banyak pesantren kini telah mengembangkan koperasi dan unit usaha produktif untuk meningkatkan kesejahteraan santri dan masyarakat sekitar. Contohnya dapat dilihat pada Pesantren Sidogiri, Pesantren Tebu Ireng, dan Pesantren Al-Amien, yang sukses mengembangkan usaha mandiri berbasis nilai-nilai Islam. Model ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.

Penutup

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kontribusi santri dalam menjaga nilai-nilai luhur dan memajukan peradaban sangatlah besar dan beragam. Dengan pendidikan karakter yang kuat, pemahaman agama yang mendalam, serta semangat pengabdian yang tinggi, santri menjadi aset berharga bagi bangsa dan negara.

Mari kita terus mendukung, mempercayai, dan memberi ruang bagi santri untuk berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan peradaban Indonesia dan dunia.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 14 Agustus 2025

Ngobrol Santai Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe & STAI-DA Deli Serdang: Tidak Ada Kata Terlambat untuk Magister dan Doktor


Rangkang Belajar | Lhokseumawe, 13 Agustus 2025 — Banyak orang pernah punya mimpi melanjutkan studi, tapi terhenti di tengah jalan. Alasannya klasik: sibuk kerja, takut tidak sanggup, atau khawatir biaya akan membebani. Namun malam itu, dalam sebuah acara daring bertajuk “Tidak Ada Kata Terlambat: Studi Lanjut Magister/Doktor Tanpa Mengorbankan Karier”, puluhan peserta seakan mendapat suntikan motivasi baru—bahwa kuliah sambil bekerja bukan hanya mungkin, tapi bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan dan penuh manfaat.

Acara yang digelar Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN-SUNA) Lhokseumawe bersama Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Arafah (STAI-DA) Deli Serdang ini berlangsung pada pukul 20.30–22.30 WIB via Zoom. Dipandu Dr. Agus Salim Salabi, suasana dibuat santai dan interaktif, jauh dari kesan seminar formal.

Peserta terdiri dari alumni STAI-DA, para ustaz Pesantren Darularafah Raya, guru swasta, ASN, profesional, hingga masyarakat umum yang memiliki keinginan studi lanjut tetapi masih diliputi keraguan. Empat sesi diskusi menghadirkan dosen-dosen berpengalaman untuk menjawab langsung pertanyaan dan kegelisahan mereka.

Dr. Husni, M.Ag., Wakil Direktur Pascasarjana UIN-SUNA Lhokseumawe, membuka sesi pertama dengan kabar melegakan: kuliah dirancang fleksibel dengan skema 50% daring dan 50% luring. Beban tugas pun, kata beliau, lebih ditentukan oleh disiplin dan manajemen waktu mahasiswa. “Magister umumnya selesai dalam 2 tahun, doktor sekitar 3 tahun. Tingkat kelulusan kami selalu di atas 98% setiap tahun,” ungkapnya.

Sesi kedua menghadirkan Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar (Direktur Pascasarjana UIN-SUNA) dan Dr. KH. Harun Lubis (Dosen STAI-DA & Pimpinan Pesantren Darularafah Raya). Mereka menegaskan bahwa gelar magister dan doktor bukan hanya memperkaya kompetensi akademik, tetapi juga memberi dampak nyata pada kenaikan pangkat, sertifikasi, dan peluang mengajar di perguruan tinggi. “Ini adalah investasi nyata untuk pengembangan karier dan pengakuan profesional,” tegas Dr. Zulfikar.


Dr. Maya Safitri, Ketua Program Studi Magister PAI UIN-SUNA, menjelaskan bahwa studi lanjut menuntut pemikiran analitis dan riset berbasis masalah nyata. “Tesis atau disertasi tidak harus rumit. Ambillah topik dari persoalan nyata di sekitar Anda, agar hasilnya relevan dan bermanfaat langsung,” ujarnya.

Di sesi terakhir, Dr. Harjoni Deski (Ketua Prodi Magister Ekonomi Syariah UIN-SUNA) dan Dr. Usman Betawi (Ketua STAI-DA) membagikan kisah inspiratif mahasiswa yang memulai magister atau doktor di usia 40–50 tahun, lalu lulus dengan prestasi membanggakan. “Usia bukanlah penghalang. Minder itu wajar, tapi jangan sampai menghentikan langkah. Gunakan bimbingan akademik yang ada, dan Anda akan menikmati prosesnya,” kata Dr. Usman.

Sepanjang acara, pertanyaan yang dihimpun host mengalir deras: soal kendala waktu, strategi mengatur beban, hingga cara menghadapi rasa takut gagal. Semua dijawab lugas, realistis, tapi tetap memotivasi.

Menutup diskusi, Dr. Salabi mengajak peserta untuk memandang studi lanjut bukan sekadar mengejar gelar. “Ini tentang keberanian mengambil langkah pertama. Singkirkan keraguan. Dengan niat yang kuat dan lingkungan akademik yang mendukung, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe siap menjadi sahabat perjalanan studi Anda. Di sini, kuliah magister atau doktor bisa berjalan seiring dengan karier dan kehidupan pribadi.” Ia menutup dengan sebuah adagium Arab: “Jarrib wa lāhiẓ takun 'ārifan” — cobalah dan amati, maka Anda menjadi tahu (prosesnya). Karena dalam setiap langkah kecil menuju mimpi, tersimpan perubahan besar bagi masa depan. (Salabi)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 18 Juli 2025

Blended Learning dan Identitas Islami: Menjawab Tantangan Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe

Oleh: Salabi, A. S. (Dosen Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

"Blended learning di Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe adalah fleksibilitas yang bukan berarti menurunkan kualitas, tetapi justru membuka akses pada pengalaman belajar yang lebih luas 
dan mendalam"

Dunia pendidikan tinggi, khususnya di tingkat pascasarjana, kini berada dalam titik persimpangan: antara tradisi akademik yang mapan dan tuntutan fleksibilitas zaman. Kita dihadapkan pada perubahan gaya hidup mahasiswa pascasarjana yang mayoritas sudah bekerja, pesatnya transformasi digital, dan kebutuhan akan model pembelajaran yang tidak hanya efisien, tetapi juga tetap bermakna.

Sebagai bagian dari Universitass Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, sebuah kampus Islam negeri di Aceh, saya menyaksikan sendiri bagaimana Pascasarjana merespons tantangan tersebut secara progresif. Salah satu langkah visioner yang akan dikembangkan - "walau pun sedikt terlambat" - adalah penerapan sistem blended learning dengan komposisi 50% daring dan 50% luring pada TA. 2025/2026, sebuah pendekatan yang menurut saya sangat relevan untuk konteks pendidikan pascasarjana masa kini.

Mengapa Blended Learning?
Pertama, blended learning adalah jawaban paling nyata atas kebutuhan fleksibilitas mahasiswa pascasarjana. Sebagian besar mahasiswa kami adalah ASN, dosen, guru, Polri, Teungku Dayah, serta profesional dari berbagai sektor. Mereka ingin melanjutkan studi tanpa harus mengorbankan profesi atau peran sosial mereka. Sistem blended learning menjembatani kebutuhan itu, dengan tetap menjaga intensitas dan kualitas akademik.

Kedua, blended learning bukan sekadar solusi teknis, melainkan bentuk adaptasi kampus terhadap perubahan zaman. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa dunia digital telah mengubah cara kita bekerja, belajar, bahkan berpikir. Namun, pendidikan tetap membutuhkan ruang-ruang tatap muka untuk diskusi ilmiah, pembangunan karakter, dan transfer nilai yang lebih dalam. Kombinasi antara daring dan luring memungkinkan keduanya berjalan beriringan.

Ketiga, yang tidak kalah penting, identitas keislaman kampus tetap menjadi ruh dalam sistem ini. Blended learning di Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe bukan semata soal efisiensi, melainkan juga medium untuk membentuk kepribadian islami, menanamkan nilai-nilai integritas, dan membangun kepekaan sosial.

Dari Aspirasi Mahasiswa ke Arah Kebijakan Inovatif
Gagasan ini bukan hadir secara tiba-tiba. Ia lahir dari berbagai diskusi hangat bersama mahasiswa aktif dan alumni, yang sebagian besar mengungkapkan kebutuhan akan fleksibilitas yang lebih baik. Sebelumnya, model perkuliahan yang diterapkan adalah 60% tatap muka dan 40% non-tatap muka. Namun, sistem itu belum sepenuhnya menjawab dinamika waktu mahasiswa, karena penjadwalan sesi daring cenderung tidak serentak dan sering menyulitkan penyesuaian.

Kini, dengan mencanangkan skema perkuliahan daring sebesar 50% secara lebih terstruktur dan terencana, diharapkan kualitas tidak dikorbankan, namun justru diperkuat. Model ini adalah bentuk keberpihakan kampus terhadap mahasiswa yang ingin terus belajar tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional mereka.

Dukungan Fasilitas dan Citra Kampus Islam Modern
Sebagai dosen di lingkungan Pascasarjana, saya menyaksikan sendiri bahwa sistem ini akan berjalan efektif karena didukung oleh fasilitas digital yang memadai. Ruang kuliah telah berbasis multimedia, sistem informasi akademik terintegrasi secara online, dan lokasi kampus yang strategis di pinggir jalan lintas nasional, membuatnya mudah diakses dari berbagai arah.

Soal pembiayaan? Sangat rasional. Biaya kuliah berkisar Rp 5 juta untuk program Magister dan Rp 8 juta untuk program Doktor per semester, menjadikannya pilihan yang sangat terjangkau bagi kalangan profesional.

Menghadirkan Dosen Nasional dan Internasional Lewat Perkuliahan Daring
Blended learning semakin istimewa karena Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe mampu menghadirkan dosen-dosen tamu berskala nasional dan internasional melalui perkuliahan daring. Mahasiswa Pascasarjana kini dapat berdialog langsung dengan para pakar dari dalam dan luar negeri, tanpa harus meninggalkan kota tempat tinggal atau tempat kerja mereka.

Beberapa di antaranya termasuk: Prof. Dr. Alparslan Açikgenç dari Ibn Haldun University Turki, Prof. Dr. Irwan Abdullah dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Imam Fuadi dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Lailatul Usriyah dari UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Azharsyah dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Ismail Fahmi Arrauf Nasution - Rektor IAIN Langsa, dan tentu masih banyak tokoh akademik lainnya yang telah mengisi kuliah di berbagai program studi seperti Magister Komunikasi Penyiaran Islam, Magister Manajemen Pendidikan Islam, Magister Pendidikan Agama Islam, Magister Hukum Keluarga Islam, Magister Ekonomi Syariah, hingga Program Doktor Studi Islam. Ini adalah bukti nyata bahwa fleksibilitas bukan berarti menurunkan kualitas, tetapi justru membuka akses pada pengalaman belajar yang lebih luas dan mendalam.

Penutup: Belajar Fleksibel, Tetap Berkhidmat
Bagi saya pribadi, kampus pascasarjana ideal adalah yang tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, efektif, dan relevan. Blended learning menjadi kunci agar mahasiswa tidak hanya “menyelesaikan SKS”, tetapi tumbuh sebagai pembelajar seumur hidup yang terhubung secara aktif dengan dunia akademik.

Pascasarjana UIN SUNA Lhokseumawe tidak hanya menawarkan gelar, tapi juga komitmen untuk mendampingi mahasiswa menjadi insan akademik yang unggul dan beretika. Inilah wajah baru pascasarjana: fleksibel, digital, dan tetap kokoh berkhidmat pada nilai-nilai Islam.

#Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe – Fleksibel Belajar, Kokoh Berkhidmat.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Sabtu, 12 Juli 2025

Pascasarjana UIN SUNA Gelar Visiting Lecture: Diskusi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Rangkang Belajar | Lhokseumawe - Di era media sosial seperti sekarang, siapa sebenarnya yang paling kita percaya saat bicara soal agama? Apakah mereka yang punya sanad keilmuan panjang, lulusan pesantren dan kampus ternama, atau justru para ustaz populer di TikTok dan Instagram yang sering muncul di beranda kita?

Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam Visiting Lecture bertema “Isu-isu Kontemporer Komunikasi dan Penyiaran Islam” yang digelar Program Doktor (S3) Studi Islam Konsentrasi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe, Jumat, 12 Juli 2025. Digelar daring melalui Zoom, acara ini menghadirkan diskusi hangat dan kritis seputar perubahan besar otoritas keagamaan di era digital.

Assoc. Prof. Darmadi, M.Si., menjelaskan bagaimana algoritma media sosial kini memegang peranan penting dalam membentuk opini publik. Konten keagamaan yang viral sering kali lebih cepat memengaruhi pemahaman masyarakat dibanding klarifikasi ilmiah dari lembaga resmi. “Kita menghadapi krisis klarifikasi,” ujar Dr. Darmadi. Beliau juga menyoroti munculnya figur-figur dakwah baru yang mungkin tidak memiliki sanad keilmuan tradisional, tetapi justru diterima karena kedekatan emosional dan gaya komunikasi yang memikat.
Prof. Dr. Irwan Abdullah, M.A., Guru Besar Universitas Gadjah Mada sekaligus Founder IA Scholar Foundation, menambahkan pentingnya pendekatan riset yang tidak hanya terpaku pada data digital. Menurutnya, pendekatan kualitatif dan pemahaman sosiologis tetap penting untuk melihat lebih dalam bagaimana perubahan ini berdampak pada masyarakat Muslim. “Perlu ada jembatan antara riset algoritmik dan pemahaman konteks sosial,” ungkapnya.

Diskusi semakin menarik ketika Zanzibar, salah satu mahasiswa Program Doktor, menyampaikan pandangannya. Ia mengingatkan pentingnya kesadaran kritis di kalangan generasi muda agar tidak mudah terbawa arus informasi yang viral. Zanzibar menekankan, lembaga pendidikan seperti Pascasarjana UIN SUNA punya tanggung jawab penting membekali mahasiswa dengan literasi digital dan metode riset yang sesuai tantangan zaman.

Yang menarik, Visiting Lecture ini bukanlah kegiatan sekali waktu. Sejak awal semester genap, Program Doktor S3 Studi Islam sudah merancang agenda rutin menghadirkan para guru besar dan pakar dari kampus ternama, mulai dari IAIN Langsa, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, UIN Sumatera Utara, Universitas Gadjah Mada, hingga İbn Haldun University Turkey. Menurut Dr. Agus Salim Salabi, M.A., Ketua Program Doktor Studi Islam, program ini bertujuan “memperkaya wawasan mahasiswa, memperluas jejaring akademik internasional, sekaligus mengasah kepekaan kritis terhadap isu-isu kontemporer pada masing-masing konsentrasi pilihan mahasiswa.”

Pada akhirnya, diskusi ini bukan hanya soal teori komunikasi, tetapi tentang bagaimana kita—sebagai pengguna media sosial—juga berperan membangun otoritas keagamaan yang sehat, kritis, dan tetap berpijak pada ilmu. (Salabi)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Sabtu, 14 Juni 2025

Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Perkuat Kolaborasi Akademik melalui Visiting Lecturer Program Doktoral

Rangkang Belajar | Lhokseumawe, 13 Juni 2025 — Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam, sebagai salah satu peminatan dalam Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, terus menunjukkan dedikasinya dalam menciptakan ruang belajar yang kolaboratif dan bernuansa ilmiah. Hal ini tercermin dalam kegiatan Visiting Lecturer yang dilaksanakan pada Jumat malam, 13 Juni 2025 pukul 20.00 WIB secara daring.

Mengangkat tema "Transformasi Kompetensi Manajerial sebagai Kunci Keputusan di Era Pendidikan Dinamis," kegiatan ini dipresentasikan oleh Liliana, mahasiswa program doktoral UIN Sultanah Nahrasiyah, sebagai bagian dari perkuliahan mata kuliah Pengembangan Strategi Manajemen Pendidikan Islam.

Hadir sebagai dosen tamu, Dr. Sri Rahmi, M.A., akademisi dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang juga Ketua Perkumpulan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (PPMPI) Indonesia periode 2021-2025 memberikan kontribusi penting dalam memperkaya diskursus. Dalam paparannya, Dr. Sri Rahmi menekankan bahwa pemimpin pendidikan masa kini harus memiliki kompetensi manajerial yang adaptif, visioner, dan berlandaskan nilai-nilai Islami guna merespons dinamika dan kompleksitas dunia pendidikan yang terus berkembang.

Kegiatan ini tak sekadar menjadi sesi kuliah tamu, tetapi juga menjadi ajang kolaboratif lintas institusi. Kehadiran mahasiswa dari UIN Raden Intan Lampung turut memperkaya forum diskusi, menjadikannya sebagai wadah dialog ilmiah yang memperluas jejaring akademik antar-mahasiswa program doktoral dari perguruan tinggi luar Aceh.

Lebih dari sekadar pemenuhan aspek kurikuler, kegiatan visiting lecturer ini dirancang dengan tujuan strategis. Menurut Muslem, mahasiswa Konsentrasi MPI program doctoral Studi Islam UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan Kompetensi Akademik, melalui pengayaan perspektif praktis dan teoritis dari akademisi senior dalam isu-isu aktual manajemen pendidikan Islam. kegiatan in juga memfasilitasi Interaksi Akademik, baik dengan narasumber eksternal maupun mahasiswa dari kampus lain, sehingga memperluas pengalaman belajar yang bersifat interdisipliner dan interinstitusional.

Di lain pihak, Dr. Agus Salim Salabi, M.A., selaku Ketua Program Studi Doktor Studi Islam, menegaskan bahwa kegiatan ini juga berperan penting dalam membangun reputasi kelembagaan. “Kolaborasi antar-mahasiswa perguruan tinggi penyelenggara program doktoral akan memperkuat posisi UIN Sultanah Nahrasiyah sebagai institusi yang terbuka dan progresif dalam membangun ekosistem keilmuan Islam yang kuat, relevan, dan kolaboratif di tingkat nasional,” jelasnya.

Lebih jauh, Dr. Salabi menambahkan bahwa kegiatan ini mencerminkan semangat "Integrasi-Kolaborasi-Transformasi" yang menjadi pijakan pengembangan mutu akademik UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Keterlibatan lintas PTKIN menjadi penanda bahwa sinergi antar-perguruan tinggi keagamaan Islam adalah langkah strategis menuju ekosistem pendidikan tinggi Islam yang unggul dan berdaya saing. (Salabi)


Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Sabtu, 12 April 2025

Dosen IAIN Lhokseumawe dan UIM Gagas Program TEN: Mahasiswa sebagai Agen Perubahan di Madrasah


Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Kolaborasi dosen lintas institusi dari IAIN Lhokseumawe dan Universitas Islam Madura (UIM) kembali menunjukkan kiprahnya dalam pengabdian kepada masyarakat berbasis penelitian. Program yang diusung bertajuk "Mahasiswa sebagai Agen Perubahan: Implementasi Program Tutor English Network (TEN) pada Sekolah Menengah – Implikasi Pengabdian Masyarakat Berbasis Lembaga Pendidikan" berhasil menciptakan dampak transformatif, baik bagi mahasiswa maupun siswa madrasah.

Tim peneliti terdiri dari Dr. Nurul Fadhillah, M.Hum. (IAIN Lhokseumawe), Dr. Ummu Kulsum, M.Pd.I. (Universitas Islam Madura), Fadhlur Rahman, M.AppLing. (IAIN Lhokseumawe), serta Rizka Ananda (mahasiswa Prodi Bahasa Inggris IAIN Lhokeumawe), menggagas Program TEN sebagai respon atas tantangan rendahnya kualitas pembelajaran Bahasa Inggris di madrasah. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi utama: Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Aceh Utara (IAIN Lhokseumawe) dan Madrasah Aliyah Miftahul Qulub Pamekasan (UIM).

Program TEN: Jembatan antara Akademik dan Realitas Sekolah
Program Tutor English Network (TEN) dirancang dengan pendekatan Service Learning, yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pengabdian sosial. Mahasiswa tidak hanya mempraktikkan teori, tetapi juga berinteraksi langsung dengan siswa dalam lingkungan pendidikan yang nyata. Tahapan program meliputi pemetaan kebutuhan siswa, seleksi tutor mahasiswa, pelatihan intensif, penyusunan modul ajar, hingga implementasi di madrasah mitra.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mengajar dalam kelompok kecil dengan pendekatan tematik dan melakukan evaluasi pembelajaran melalui pre-test dan post-test. Interaksi yang intensif menciptakan hubungan belajar yang bermakna, serta meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berbahasa Inggris.

Dampak Program: Transformasi Ganda pada Siswa dan Mahasiswa
Hasil kegiatan menunjukkan dampak signifikan, baik pada siswa maupun mahasiswa. Siswa mengalami peningkatan minat dan partisipasi dalam pembelajaran Bahasa Inggris, sementara mahasiswa mengalami pertumbuhan dalam keterampilan pedagogis dan refleksi profesional.

“Meski hasil post-test menunjukkan tingkat penguasaan sekitar 42%, perubahan sikap belajar dan keberanian siswa dalam berbahasa sudah merupakan pencapaian penting,” jelas Dr. Nurul Fadhillah.

Sementara itu, mahasiswa yang terlibat mengakui bahwa pengalaman ini memperluas wawasan mereka tentang pengajaran dan pengabdian. Melalui sesi refleksi mingguan, para tutor muda ini dilatih untuk mengembangkan empati, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab sosial.

Kolaborasi Lintas Disiplin dan Harapan Keberlanjutan
Program TEN juga menjadi ajang sinergi antarprodi. Mahasiswa dari Prodi Pendidikan Agama Islam turut mendampingi mahasiswa Tadris Bahasa Inggris dalam mengajar, menciptakan ruang kolaborasi yang inklusif dan interdisipliner. Kegiatan ini diperkuat oleh kerja sama resmi antara prodi dan madrasah mitra melalui MoU dan MoA, membuka jalan bagi keberlanjutan program ke depan.

Pihak madrasah pun menyambut baik kegiatan ini dan bahkan mengusulkan agar Program TEN dijadikan kegiatan ekstrakurikuler resmi. Beberapa siswa menunjukkan antusiasme untuk melanjutkan pembelajaran di pusat bahasa yang dibentuk sekolah sebagai tindak lanjut dari program ini.

Menjadi Model Praktik Baik Pengabdian Berbasis Pendidikan
Program TEN menjadi bukti nyata bahwa pengabdian masyarakat dapat dilaksanakan secara kontekstual dan berdampak. Selain menyentuh aspek kognitif siswa, kegiatan ini juga memperkuat relasi emosional dan sosial dalam pendidikan. Mahasiswa sebagai agen perubahan memperoleh pengalaman belajar yang aplikatif, reflektif, dan bermakna sesuai semangat Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM).

Ke depan, tim berharap program ini dapat direplikasi di berbagai wilayah, diperluas cakupannya, serta didukung pemanfaatan teknologi digital sebagai media belajar yang efektif. “Program TEN adalah langkah kecil menuju perubahan besar. Mahasiswa bukan hanya belajar, mereka juga menginspirasi,” tutup Fadhlur Rahman, M.AppLing., salah satu inisiator program. (Luluk)



Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 13 Maret 2025

Pendaftaran SPAN-PTKIN Resmi Ditutup, IAIN Lhokseumawe Raih 4.824 Pendaftar


Rangkang Belajar | Lhokseumawe — Antusiasme calon mahasiswa baru untuk melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe melalui jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN) tahun 2025 menunjukkan tren positif. Berdasarkan data resmi dari Panitia Nasional PMB PTKIN, sebanyak 4.824 calon mahasiswa telah memilih IAIN Lhokseumawe sebagai tujuan pendidikan mereka sebelum pendaftaran ditutup pada Sabtu, 8 Maret 2025 pukul 23.59 WIB.

Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya, dan menjadi cerminan meningkatnya kepercayaan publik terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh IAIN Lhokseumawe.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr. Iskandar, M.Si., menyampaikan rasa syukur atas capaian ini. “Peningkatan jumlah pendaftar SPAN-PTKIN tahun ini menunjukkan bahwa IAIN Lhokseumawe semakin dikenal dan dipercaya sebagai destinasi pendidikan tinggi keagamaan Islam yang berkualitas. Kami akan terus berkomitmen memperkuat sinergi dan memaksimalkan seluruh platform yang dimiliki, mulai dari proses informasi awal hingga layanan pasca kelulusan,” ujarnya.

Sebanyak 20 Program Studi unggulan dibuka pada jalur SPAN-PTKIN untuk program sarjana tahun ini. Dari total pendaftar, Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) tercatat sebagai pilihan terbanyak, disusul oleh Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Ekonomi Syariah, dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Tahapan selanjutnya pasca penutupan pendaftaran adalah verifikasi nilai rapor, yang akan dilakukan oleh panitia untuk memastikan kelayakan dan kesesuaian data akademik para pendaftar dengan kriteria yang telah ditentukan. Adapun pengumuman hasil seleksi dijadwalkan pada 27 Maret 2025.

Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi IAIN Lhokseumawe, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan mutu layanan akademik dan kelembagaan dalam menyongsong generasi unggul dan berdaya saing.

"IAIN Lhokseumawe hadir sebagai pilihan tepat bagi masyarakat yang mendambakan pendidikan tinggi berbasis keislaman yang unggul, moderat, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Mari bersama membangun masa depan anak-anak kita dengan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter". (Salabi)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Senin, 10 Maret 2025

Ramadan Bulan Ilmu: Menggali Ilmu dengan Tadarrus Al-Qur’an

Oleh: Buya Mas Rahim Salaby


أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(البقرة: ١٨٤)

“Hanya dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu di hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka berpuasa) wajib membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu (dibanding dengan fidyah) jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Ramadan tidak hanya dikenal sebagai bulan penuh berkah dan ampunan, tetapi juga sebagai syahrut tarbiyah (bulan pendidikan). Selama bulan ini, umat Islam tidak hanya meningkatkan ibadah fisik seperti puasa dan salat tarawih, tetapi juga didorong untuk memperdalam ilmu dan memahami ajaran Islam lebih baik. Sejarah Islam menunjukkan bahwa beberapa peristiwa besar terkait ilmu terjadi di bulan Ramadan, seperti turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. yang menekankan "Iqra" (bacalah), yang merupakan perintah untuk belajar dan mencari ilmu.

Keutamaan Ilmu dalam Islam 
Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang menekankan pentingnya ilmu. Ramadan, sebagai bulan penuh berkah, juga menjadi momentum untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur'an. Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang ingin sukses di dunia, hendaklah berilmu. Barang siapa yang ingin sukses di akhirat, hendaklah berilmu. Dan barang siapa yang ingin sukses di keduanya, hendaklah berilmu.” Rasulullah saw. juga bersabda: "Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Al-Qur'an membagi ilmu ke dalam tiga tingkatan utama: 1) pengetahuan yang diperoleh dari hasil nalar yang bisa disebut dengan ‘ilmul yaqīn (QS. 102: 5), 2) ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil penglihatan, penelitian, observasi yang disebut dengan ‘ainul yaqīn (QS. 102: 7), dan 3) ilmu yang diperoleh dari pengalaman pribadi yang tumbuh dari intuisi disebut haqqul yaqīn (QS. 69: 51). Di sisi lain, ada kesalahan dalam berpikir yang dapat menghambat pencarian ilmu, yaitu: 1) kesalahan mengambil dalil, 2) kesalahan pengamatan, dan 3) kesalahan intuisi.

Metode dalam Mempelajari Ilmu
Terdapat tiga metode utama dalam memperoleh ilmu: 
  1. Penalaran Deduktif dan Induktif – Mengambil kesimpulan dari hal umum ke khusus atau sebaliknya. Contohnya, dalam ilmu fikih, metode deduktif digunakan untuk menerapkan prinsip umum syariat ke dalam kasus-kasus khusus, seperti hukum jual beli. Sebaliknya, metode induktif digunakan dalam ilmu ushul fiqh dengan mengumpulkan berbagai kasus untuk menemukan prinsip umumnya.
  2. Observasi dan Eksperimen – Ilmu yang didasarkan pada pengalaman nyata dan penelitian. Contohnya, dalam ilmu hadis, semua catatan hadis diperiksa berdasarkan perawi yang meriwayatkannya. Para ulama hadis seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim menggunakan metode kritik sanad untuk memastikan apakah narasumber benar-benar seorang sahabat yang mendengar langsung dari Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, dapat dibedakan mana hadis yang sahih dan mana yang daif.
  3. Studi terhadap Gejala Alam – Memahami ayat-ayat kauniyah yang merupakan tanda kebesaran Allah dalam penciptaan. Misalnya, dalam sains, penelitian tentang air sebagai sumber kehidupan sesuai dengan firman Allah dalam QS. 21: 30: "Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air". Penelitian ilmiah tentang siklus air, hujan, dan ekosistem mendukung kebenaran ayat ini. 
Karenanya, jadikan Ramadan sebagai "bulan pendidikan" (syahru at-tarbiyah), sebagai "Pesantren Kilat" bagi remaja-remaja Islam agar mereka berkesempatan menimba ilmu-ilmu Al-Qur'an.


Pentingnya Tadarrus Al-Qur'an: Lebih dari Sekadar Membaca
Tadarrus Al-Qur’an di bulan Ramadan tidak boleh hanya sebatas membaca, tetapi juga harus mencakup pemahaman dan penerapan. Al-Qur’an mengandung berbagai ilmu yang mencakup berbagai disiplin, di antaranya:
  1. Kosmologi, tentang keajaiban ciptaan Allah: QS. 2: 255, QS. 57: 4-5, QS. 4: 11, 12, QS. 65: 12, QS. 71: 15-16, QS. 23: 17, QS. 7: 54, QS. 13: 2, QS. 13: 15, QS. 50: 38, QS. 10: 5, QS. 6: 97, QS. 71: 15-16.
  2. Astronomi, ilmu pengetahuan mengenai benda-benda langit tentang gerak, pengembangan, dan sifat-sifatnya: QS. 50: 6, QS. 13: 2, QS. 79: 28, QS. 31: 10, QS. 55: 7, QS. 6: 97, QS. 36: 38-40, QS. 10: 5-6, QS. 37: 6, QS. 82: 1-2.
  3. Fisika/Metafisika, ilmu pengetahuan tentang alam yang konkret atau pun yang abstrak. Tentang cahaya: QS. 24: 35, QS. 25: 61, QS. 66: 8, QS. 2: 17, QS. 2: 20. Tentang keajaiban penglihatan: QS. 33: 19, QS. 8: 44, QS. 5: 83, QS. 9: 92. Tentang jarak dengan perhitungn tahun cahaya: QS. 32: 5, QS. 22: 47. Tentang periodisasi alam yang jutaan tahun disebut dengan hari: QS. 32: 4-5, QS. 50: 38. Tentang perubahan perasaan tentang ukuran waktu di akhirat: QS. 2: 259, QS. 23: 112-114, QS. 18: 19. Tentang dimensi mikroskopis dalam waktu: QS. 16: 77, QS. 54: 50, QS. 50: 16, QS. 56: 85, QS. 27: 38-40. Tentang bayang-bayang: QS. 16: 48, QS. 25: 45, QS. 13: 15, 35. Tentang panas, pelajari: QS. 56: 71-73, QS. 20: 10, QS. 36: 80, QS. 27: 7, QS. 35: 21. Tentang listrik: QS. 2: 19,20, QS. 13: 12,13. Tentang suara: QS. 18: 26, QS. 34: 50. Tentang makhluk yang berasal dari api: QS. 15: 27, QS. 55: 15.
  4. Ilmu Hitung/Matematika: QS. 18: 11, 12, 19, 22, QS. 19: 84, QS. 4: 7, 11, 12, 176.
  5. Sejarah/Anthropologi: QS. 7: 100-102, QS. 3: 137, QS. 6: 6, QS. 9: 70, QS. 14: 9, QS.  25: 37-38, QS. 4: 1, QS. 30: 22. 
  6. Geografi/Geologi: QS. 27: 61, QS. 16: 15, QS. 50: 7-11, QS. 27: 61, QS. 79: 30-33, QS. 16: 15, QS. 51: 48, QS. 71: 19, 20.
  7. Biologi:  QS. 27: 60, QS. 16: 10, QS. 6: 99, QS. 35: 28, QS. 36: 71-72.
  8. Embriologi:  QS. 23: 12-14, QS. 35: 11, QS. 56: 57-65, QS. 71: 14, QS. 86: 6-7.
  9. Zoologi: QS. 24: 45, QS. 53: 45-46, QS. 6: 142-144, QS. 16: 5-9, 66, QS. 67: 19.
  10. Kelautan/Pelayaran: QS. 16: 4, QS. 10: 22, QS. 22: 65, QS. 30: 46.
  11. Mineralogi: QS. 34: 11, QS. 57: 25, QS. 76: 15-16, QS. 55: 58-59, QS. 9: 34. 
  12. Pertanian: QS. 20: 53, QS. 6: 99, QS. 22: 5, QS. 6: 141, QS. 16: 10-11, QS. 13: 4, QS. 22: 5, QS. 26: 7-8.
  13. Ekonomi/Perdagangan: QS. 28: 77, QS. 2: 198, 261, 265, QS. 24: 37, QS. 62: 10, QS. 67: 15, QS. 71: 19-20.
  14. Arkeologi: QS. 7: 74, QS. 22: 45, QS. 26: 128-138, QS. 27: 51, 52, QS. 32: 26,  40: 82. 
  15. Sosiologi: QS.4: 1, QS. 7: 189, QS. 49: 13.
  16. Seksiologi/Perkawinan: QS. 2: 223, 231, QS. 5: 5, QS. 4: 3, 25, 34, 128, 129, QS. 30: 21.
  17. Kimia: QS. 15: 19, QS. 41: 11, QS. 51: 49, QS. 36: 36, 24: 43. 
Sebagai contoh konkret, dalam QS. Al-Mu’minun: 12-14, Allah menjelaskan secara detail tahapan penciptaan manusia dalam rahim ibu, yang kini telah terbukti secara ilmiah dalam embriologi modern. Ini menunjukkan bahwa Islam telah memberikan pengetahuan jauh sebelum sains Barat menemukannya.
Pendidikan di Bulan Ramadan: Tidak Perlu Libur
Sering kali, sekolah dan madrasah diliburkan selama bulan Ramadan. Padahal, justru di bulan ini seharusnya pendidikan semakin ditingkatkan. Beberapa negara, seperti Mesir, Turki, dan Arab Saudi, tetap menjalankan kegiatan belajar-mengajar selama Ramadan, bahkan dengan kurikulum khusus yang menyesuaikan dengan keistimewaan bulan ini.

Tidak seharusnya belajar formal di sekolah/madrasah dan perguruan tinggi harus diliburkan. Bukankah ṭalabul ‘ilmi farīḍah ‘alā kulli muslimin wa muslimah (menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimat)?, dan bukankah setiap amal kebaikan di bulan Ramadan akan mendapat ganjaran berlipat ganda?

Selain itu, dalam sejarah Islam, para ulama terdahulu memanfaatkan Ramadan sebagai waktu untuk belajar dan menulis kitab-kitab ilmiah. Imam Asy-Syafi’i, misalnya, dalam bulan Ramadan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an puluhan kali, sekaligus tetap menulis dan mengajarkan ilmunya.

Kesimpulan
Dari ayat-ayat yang tertera tentang berbagai macam ilmu pengetahuan yang dititipkan Allah melalui Al-Qur’an, mari kita mengisi waktu pada bulan Ramadan ini dengan banyak bertadarrus. Tadarrusul Qur’ān yang dimaksud bukan sekadar membacanya (qirā’ah atau tilāwah) saja sehingga ayat-ayat Allah tetap melangit (meskipun diketahui, bahwa setiap huruf yang dibaca akan diganjar sepuluh kebaikan). Sudah saatnya, kita memaknai tadarusul Qur’ān sebagai kegiatan belajar/mengkaji, menelaah, dan mendiskusikan ayat-ayat Allah yang agung sehingga ayat-ayat Allah dapat diimplementasikan dalam kehidupan (dibumikan). 

Ramadan adalah bulan penuh berkah yang tidak hanya menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga menjadi bulan pendidikan dan pencarian ilmu. Dengan meneladani para ulama dan memanfaatkan Ramadan sebagai bulan ilmu, umat Islam dapat meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam secara lebih baik.

Wallahu a'lam
Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 07 Februari 2025

Warkop Pinggir Kampus: Dari Tempat Nongkrong Jadi Ruang Diskusi Kreatif


Oleh: Salabi, A. S. 

"Tak jarang ide-ide bernas justru dihasilkan dari obrolan santai penuh tawa canda dan tentunya ditemani dengan segelas kopi/sanger pancung seharga 5000-an"

Warung kopi (Warkop) di Aceh, Lhokseumawe telah lama menjadi tempat yang identik dengan kegiatan santai, seperti nongkrong bersama teman, bercanda, atau sekadar memanfaatkan WiFi gratis dengan segelas kopi. Pemandangan pengunjung yang sibuk dengan obrolan tak tentu arah, perdebatan politik tanpa ujung, atau sekadar menghabiskan waktu, telah menjadi bagian dari budaya warkop. 

Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan yang signifikan mulai tampak di warkop-warkop pinggiran kampus. Kehadiran dosen dan profesional lainnya yang memanfaatkan Warkop sebagai tempat menyusun Rencana Perkuliahan Semester (RPS), bimbingan skripsi/tesis, serta mengerjakan tugas-tugas kantor lainnya, telah mengubah wajah Warkop menjadi lebih produktif. 

Aura akademis yang tercipta di Warkop mulai menarik perhatian mahasiswa yang tak ingin ketinggalan, hingga akhirnya Warkop kini menjadi ruang diskusi ilmiah dan tempat berkumpulnya ide-ide kreatif. Tak hanya gelas kopi atau sanger pancung yang kini menghiasi meja-meja Warkop, tetapi juga laptop, makalah, dan riuhnya suara akademisi yang sedang berdiskusi tentang tugas-tugas kampus. Transformasi ini memberikan warna baru pada kehidupan mahasiswa, yang mungkin sebelumnya hanya menganggap Warkop sebagai tempat bersantai, kini melihatnya sebagai tempat untuk mengasah pikiran dan produktivitas. 

Tak jarang ide-ide bernas justru dihasilkan dari obrolan santai penuh tawa canda dan tentunya ditemani dengan segelas kopi/sanger pancung seharga 5000-an. Bagi para dosen, pikiran-pikiran terus mengalir untuk menuntaskan artikel-artikel yang siap submit pada jurnal terakreditasi SINTA sampai dengan Scopus. Mahasiswa juga tak mau kalah, dari makalah, Skripsi sampai dengan Tesis juga didiskusikan di meja warkop. 

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa masih ada segelintir penikmat warkop yang mempertahankan kebiasaan lama mereka—nongkrong dengan tujuan semata-mata untuk bersosialisasi atau melarikan diri dari tekanan akademis. Meskipun begitu, kehadiran kelompok akademis di Warkop turut memberi pengaruh positif, mendorong mereka yang tadinya hanya sekadar nongkrong, untuk perlahan-lahan terinspirasi dan mulai mengikuti jejak para akademisi dan profesional. 

Transformasi Warkop pinggiran kampus adalah cerminan dari perubahan budaya dan kebutuhan mahasiswa serta akademisi di era digital. Warkop tidak lagi sekadar tempat untuk menghabiskan waktu, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang multifungsi, di mana kopi diseruput sambil berdiskusi tentang masa depan, merancang strategi, dan menciptakan inovasi. 

Di tengah perubahan ini, penting bagi kita untuk terus mendorong agar Warkop-Warkop ini menjadi ruang yang inklusif bagi semua kalangan, tanpa menghilangkan esensi tempat berkumpul dan bersantai yang telah menjadi bagian dari identitasnya. Dengan demikian, Warkop dapat terus menjadi bagian integral dari kehidupan kampus, yang tidak hanya mengisi perut dan menghilangkan dahaga, tetapi juga mengisi pikiran dan memupuk kreativitas.

** Nama Lengkap Penulis; Dr. Agus Salim Salabi, M.A. Dosen Pada Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect