Rabu, 26 November 2025

Sembilan Mahasiswa Magister MPI UINSUNA Tampilkan Riset Pendidikan Dayah di Forum Internasional

Sembilan Mahasiswa Magister MPI UINSUNA Tampilkan Riset Pendidikan Dayah di Forum Internasional

Rangkang Belajar | Lhokseumawe – The 3rd International Conference on Islamic and Al Washliyah Studies 2025 resmi dibuka pada Selasa (25/11) melalui platform Zoom Meeting. Konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Pengurus Besar (PB) Al Jam’iyatul Washliyah bekerja sama dengan LKSA PB Al Washliyah ini kembali menjadi ruang temu bagi para akademisi, peneliti, dan ulama dari berbagai negara. Kegiatan ini turut didukung oleh Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA), UMN Al Washliyah, dan UNIVA Medan, dengan mengangkat tema “Islamic Organizations and the Transformation of Ulama Authority in Contemporary Indonesia.”

Salah satu sorotan utama dalam rangkaian konferensi tahun ini adalah tampilnya sembilan mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana UINSUNA sebagai pemakalah. Mereka membawakan berbagai riset terkait manajemen dan tradisi pendidikan dayah, yang menjadi kekhasan intelektual Aceh dan identitas keilmuan program studi MPI. Partisipasi para mahasiswa ini mencerminkan semakin kuatnya budaya riset di lingkungan Pascasarjana UINSUNA sekaligus menunjukkan kesiapan mereka bersaing dalam forum akademik internasional. Kesembilan pemakalah tersebut dibimbing oleh Dr. Ja’far, M.A., dosen Filsafat Ilmu MPI sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Syariah UINSUNA.

Sesi panel Room D dimulai pukul 13.45 WIB dan dipandu oleh Safwan, M.S.I., bersama Raisa Salsabila. Presentasi pertama disampaikan oleh Aris Munandar dengan judul Management of Qur’an Memorization Education Program Development at An-Nur Integrated Islamic Elementary School, Pidie Jaya. Aris membahas strategi pengembangan program tahfiz di jenjang pendidikan dasar.

Berikutnya, I.S. Asroza memaparkan penelitian berjudul Management of Classical Islamic Text (Kitab Kuning) Learning at the Darul Iman Modern Islamic Boarding School, Southeast Aceh, yang menyoroti integrasi manajemen modern dalam pembelajaran kitab kuning. Kajian serupa juga dipresentasikan oleh Zawatun Nida melalui penelitian tentang pengelolaan pembelajaran kitab klasik di Dayah Subulussalam Al-Waliyyah.

Riset mengenai penguatan kurikulum kitab kuning diulas oleh Muhammad Sariyulis melalui paparannya Curriculum Management in Improving the Quality of Classical Islamic Text Learning at Dayah Babussalam Al-Hanafiyyah. Sementara itu, Tajul Fazari membahas penerapan metode sorogan dan bandongan dalam manajemen pembelajaran kitab kuning di Dayah Darussa’adah Cot Puuk.

Presentasi berikutnya disampaikan oleh Ayadi tentang manajemen kitab klasik di Dayah Almuslimun Terpadu Lhoksukon. M. Yunus kemudian menguraikan penelitian mengenai manajemen kurikulum di Dayah Salafi Malikussaleh yang mempertahankan karakter tradisional namun tetap adaptif. Selanjutnya, Rahmiyati memaparkan kajian pembelajaran tingkat tajhizi di Dayah Riyadhatul Qulub. Sesi panel ditutup oleh Sahdan melalui presentasi tentang manajemen kelas takhassus di Dayah Terpadu Bustanul Arifin, Bener Meriah.

Keterlibatan sembilan mahasiswa Magister MPI UINSUNA dalam forum internasional ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Riset-riset mereka dinilai tidak hanya memperkenalkan praktik dan tradisi pendidikan dayah Aceh ke tingkat global, tetapi juga memperkuat posisi UINSUNA sebagai salah satu pusat kajian manajemen pendidikan Islam berbasis kearifan lokal. (Sahdan)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Selasa, 28 Oktober 2025

Kontribusi Santri dalam Menjaga Nilai-Nilai Luhur dan Memajukan Peradaban

Oleh: Dr. Noer Rohmah, M.Pd.I.

"Santri berperan penting dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa, memajukan peradaban melalui pendidikan karakter, pelestarian budaya, moderasi beragama, penguatan ekonomi umat"

Santri, sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia, memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa sekaligus memajukan peradaban. Kontribusi mereka tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan, tetapi juga menjangkau berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, dan intelektual. Peran penting santri dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

1. Pendidikan KarakterPondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat. Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan gotong royong ditanamkan sejak dini. Santri diajarkan untuk menghormati orang tua, guru, dan sesama, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Melalui pendidikan karakter inilah, pesantren melahirkan generasi yang berakhlak mulia, tangguh, dan berintegritas.

2. Pelestarian Tradisi dan BudayaSantri juga berperan dalam melestarikan tradisi dan budaya lokal yang bernafaskan Islam. Berbagai kegiatan seperti seni hadrah, marawis, bela diri pagar nusa, dan kesenian tradisional lainnya menjadi bagian dari kehidupan pesantren sehari-hari. Selain itu, pesantren menjadi pusat pengembangan bahasa Arab dan kajian kitab-kitab klasik (turats) yang merupakan warisan intelektual Islam. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi benteng keagamaan, tetapi juga penjaga budaya dan identitas bangsa.

3. Moderasi BeragamaSantri merupakan garda terdepan dalam menyebarkan Islam yang moderat, toleran, dan inklusif. Dengan jumlah pesantren yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, para santri terbiasa hidup berdampingan dengan keragaman, berdialog lintas budaya, serta membangun kerukunan dan harmoni sosial. Pesantren mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan pendapat dan menjauhi segala bentuk kekerasan serta ekstremisme. Dalam konteks global, santri juga dapat berperan sebagai agen perdamaian dunia, duta Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebarkan semangat kasih sayang dan persaudaraan universal.

Santri dan Peradaban di Era Globalisasi

Memasuki era globalisasi, santri dituntut untuk mengambil peran strategis dalam memajukan peradaban. Agar dapat menjawab tantangan zaman, ada beberapa hal mendesak yang perlu dikembangkan di lingkungan pesantren dan santri masa kini.

1. Pengembangan Ilmu PengetahuanSantri tidak hanya perlu mendalami ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan umum dan bahasa asing sebagai bekal menghadapi dunia global. Pesantren harus mampu menghadirkan program pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Santri didorong untuk berpikir kritis, kreatif, dan solutif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

2. Kontribusi di Berbagai BidangLulusan pesantren kini terbukti mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan — pendidikan, ekonomi, politik, hingga pemerintahan. Banyak di antara mereka yang menjadi tokoh nasional, pejabat publik, akademisi, pengusaha, bahkan presiden. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga pemimpin berkarakter yang mampu membawa nilai-nilai luhur pesantren ke ranah publik. Selain itu, santri juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta memberikan advokasi bagi kelompok-kelompok termarginalkan.

3. Penguatan Ekonomi UmatSantri juga perlu didorong untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan produktif. Kemandirian ekonomi akan memperkuat posisi tawar umat Islam dalam dinamika ekonomi global. Banyak pesantren kini telah mengembangkan koperasi dan unit usaha produktif untuk meningkatkan kesejahteraan santri dan masyarakat sekitar. Contohnya dapat dilihat pada Pesantren Sidogiri, Pesantren Tebu Ireng, dan Pesantren Al-Amien, yang sukses mengembangkan usaha mandiri berbasis nilai-nilai Islam. Model ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.

Penutup

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kontribusi santri dalam menjaga nilai-nilai luhur dan memajukan peradaban sangatlah besar dan beragam. Dengan pendidikan karakter yang kuat, pemahaman agama yang mendalam, serta semangat pengabdian yang tinggi, santri menjadi aset berharga bagi bangsa dan negara.

Mari kita terus mendukung, mempercayai, dan memberi ruang bagi santri untuk berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan peradaban Indonesia dan dunia.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:
Cloud Hosting Indonesia

Kamis, 26 Juni 2025

Pentas Seni Santri Darularafah Raya Ramaikan Tanah Gayo: Pagelaran Seni, Lomba Tiga Bahasa, dan Khitanan Massal Jadi Panggung Silaturahmi

Rangkang Belajar | Takengon – Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, Aceh Tengah, menjadi saksi  semarak kreativitas para santri dari Pesantren Darularafah Raya (PDAR), Deli Serdang, Sumatera Utara, dalam sebuah acara kolaboratif yang bertajuk “Dari Darularafah Raya, untuk Masyarakat Aceh”, Kamis (26/6/2025) menghadirkan momen kehangatan silaturahmi.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Darularafah (IKAPDA) Aceh ini tidak hanya menghadirkan pagelaran seni santri, tetapi juga menyelenggarakan khitanan massal gratis serta lomba pidato tiga bahasa - Arab, Inggris, dan Indonesia - untuk siswa jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama se-Kabupaten Aceh Tengah.

Pagelaran seni yang melibatkan santri putra dan putri menampilkan pertunjukan drama bernilai dakwah, grup nyanyian religi (pop song islami), serta pidato dalam tiga bahasa yang membuktikan kemampuan komunikasi dan ekspresi para santri. Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat, wali santri, dan alumni PDAR yang hadir memenuhi GOS Takengon.


Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, yang turut hadir bersama istri, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif PDAR dalam membangun jembatan ukhuwah Islamiyah antarwilayah melalui kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. “Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, melainkan bentuk nyata kontribusi pesantren terhadap masyarakat. Ini menjadi jembatan persaudaraan yang mempererat hubungan Aceh Tengah dengan Darularafah Raya,” ujarnya dalam sambutan.

Salah satu kegiatan sosial utama adalah khitanan massal yang diikuti oleh 40 anak dari keluarga prasejahtera. Pelaksanaan sunat dilakukan oleh tim relawan dari komunitas mantri sunat Bener Meriah yang dipimpin Muhammad Arif, alumni PDAR.

Sementara itu, lomba pidato tiga bahasa menyasar pelajar SD/MI dan SMP/MTs di Aceh Tengah dan sekitarnya. Ketua Panitia Pelaksana, Ansari Siregar, alumni angkatan ke-6 PDAR, menyatakan bahwa lomba ini diharapkan menjadi program tahunan pesantren sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan literasi publik. “Kami ingin menghadirkan nilai-nilai pesantren dalam wujud nyata di tengah masyarakat. Kegiatan ini dirancang untuk mendorong keberanian, kecakapan bahasa, dan nilai-nilai keislaman dalam format yang kreatif dan mendidik,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Pimpinan PDAR, Dr. Harun Lubis, M.Psi., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari misi besar pesantren dalam membina generasi melalui seni dan pengabdian sosial. Ia menyayangkan menurunnya ruang ekspresi seni yang edukatif di era digital dan berharap pesantren dapat menjadi pelopor dalam menghidupkan kembali kreativitas di dunia pendidikan. “Pagelaran ini adalah wujud program ekstrakurikuler kami. Lewat seni, kita ajarkan pesan dakwah dan nilai-nilai akhlak dengan cara yang menyenangkan dan menyentuh. Semoga ini menjadi kontribusi pesantren terhadap masyarakat luas yang berkelanjutan,” tutur Dr. Harun.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, menyisakan kesan mendalam bagi warga Aceh Tengah. Banyak pihak berharap acara seperti ini dapat menjadi agenda rutin tahunan sebagai bagian dari silaturahmi dan kontribusi pendidikan Islam yang berkelanjutan. (Irmi-Takengon)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Minggu, 04 Mei 2025

Alumni Sambut Hangat Kunjungan Pimpinan Pesantren Darul Arafah Raya: Menjalin Ukhuwah, Menguatkan Sinergi, Menebar Manfaat


Rangkang Belajar | Lhokseumawe – Suasana hangat penuh keakraban menyelimuti acara temu ramah yang digelar oleh Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah (IKAPDA) wilayah Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen pada Minggu, 04/05/2025. Acara ini digelar sebagai bentuk sambutan atas kedatangan rombongan Pesantren Darul Arafah Raya (PDAR) Deli Serdang, Sumatera Utara, yang dipimpin langsung oleh Dr. H. Harun Lubis, M.Psi., selaku Mudir (Pimpinan) PDAR.

Kegiatan temu ramah ini mengusung tema "Menjalin Ukhuwah, Menguatkan Sinergi, Menebar Manfaat", sejalan dengan misi kunjungan rombongan PDAR untuk mempererat hubungan dengan para alumni serta memperkuat sinergi antara pesantren dan alumninya dalam meningkatkan citra dan daya tarik pendidikan pesantren di tengah masyarakat. Dalam kunjungannya, Pimpinan PDAR juga didampingi oleh Ust. Novi Alpan, M.Psi (bagian pendidikan dan pengajaran), Ust. Nirwansyah, M.Pd., (Kepala SMP Galih Agung), dan Ust, H. Romi Syafrizal, Lc. (Humas PDAR). 

Acara berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama dilaksanakan di Waroeng Bambu, Kreung Geukueh, Aceh Utara, mulai pukul 16.30 hingga 18.00 WIB. Sesi kedua berlanjut pada malam harinya, pukul 20.30 hingga 22.30 WIB, bertempat di rumah salah satu alumni di kawasan Panggoi, Lhokseumawe.

Sekira 50 alumni (Santri dan Dyah) dari lintas angkatan, mulai dari angkatan pertama hingga angkatan ke-31, hadir memeriahkan acara ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi, seperti guru, dosen, dokter, TNI, pengusaha, wirausahawan, hingga mahasiswa aktif, menunjukkan keberagaman kontribusi alumni PDAR di Tanah Rencong - Serambi Mekah. 


Salah satu alumni yang berdomisili di Lhokseumawe, Mahmud Hamzah, yang juga mewakili tuan rumah penyelenggara, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal yang sangat berarti bagi wilayah Aceh. “Kegiatan roadshow yang dihadiri langsung oleh pimpinan PDAR merupakan gebrakan perdana untuk wilayah Aceh dan menjadi langkah baik dalam meningkatkan kepercayaan serta loyalitas. Untuk itu, kami merasa penting mengundang alumni dari Aceh Utara dan Bireuen sebagai bentuk apresiasi kami terhadap langkah baik ini,” ujar Mahmud.

Tak hanya menjadi ajang silaturahmi, acara ini juga dimanfaatkan sebagai momen sosialisasi tentang perkembangan terbaru kegiatan pendidikan di Pesantren Darul Arafah Raya. Dalam suasana penuh kekeluargaan, sesi diskusi terbuka digelar untuk menampung saran dan masukan dari alumni demi kemajuan bersama.

Kunjungan ini menjadi langkah strategis PDAR dalam memperkuat jaringan alumni dan memperluas dampak positif pendidikan pesantren. “Kehadiran kami ke daerah ini bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar besar membangun koneksi yang lebih erat antara pesantren dan alumninya,” ujar Dr. Harun Lubis dalam sambutannya.

Antusiasme dan semangat alumni dalam menyambut rombongan PDAR mencerminkan kuatnya rasa memiliki terhadap almamater, serta kesiapan untuk terus bersinergi dalam misi dakwah dan pendidikan. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi Alumni di wilayah-wilayah lainnya. (Deas-Lhoks)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Rabu, 06 November 2024

Study Tour Kelas Sains Unggulan Pesantren Darularafah Raya: Pembelajaran Nyata di IPAM Sunggal dan OIF UMSU


Rangkang Belajar | Deli Serdang - Madrasah Aliyah Swasta Pesantren Darularafah Raya, Deli Serdang, siap menyelenggarakan kegiatan study tour untuk kelas 5 Sains Unggulan pada Rabu, 6 November 2024. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi sebuah upaya untuk memberikan pengalaman belajar yang langsung dan mendalam, membantu para santri melihat bagaimana ilmu sains diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam study tour ini, para santri mengunjungi dua lokasi penting: Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Sunggal dan Observatorium Ilmu Falak (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Di IPAM Sunggal, para santri akan belajar langsung tentang proses pengelolaan air bersih yang vital bagi kehidupan. Mereka akan melihat bagaimana teknologi dan metode ilmiah diterapkan untuk menjaga kualitas air bersih, memperkenalkan mereka pada konsep penting bahwa sains memiliki peran besar dalam kebutuhan pokok manusia.

Selanjutnya, mereka menuju OIF UMSU untuk memperdalam ilmu astronomi. Di observatorium ini, para santri mempelajari cara kerja teleskop, mengamati benda-benda langit, serta mendapatkan wawasan tentang pentingnya ilmu falak dalam konteks kehidupan, seperti penentuan waktu ibadah dalam Islam. Dengan adanya peralatan canggih di observatorium ini, para santri dapat merasakan pengalaman langsung yang sulit didapat di ruang kelas.

Ustazah Yenni, wali kelas sekaligus pembimbing kegiatan, menyampaikan harapannya bahwa melalui study tour ini, para santri akan mendapatkan wawasan baru tentang penerapan sains dalam dunia nyata, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap ilmu pengetahuan. "Kami ingin mereka bukan hanya tahu teori, tapi juga memahami bagaimana sains bekerja dalam keseharian," ujarnya.

Agar hasil kegiatan ini lebih maksimal, kami akan melakukan lanjutan pembelajaran yang dirancang untuk memperdalam pemahaman para santri setelah study tour, imbuhnya. Pembelajaran lanjutan yang dimaksud, antara lain:  
  1. Refleksi dan Diskusi Kelompok: Sepulang dari study tour, para santri akan mengikuti sesi refleksi bersama untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Pembimbing akan memandu diskusi tentang hal-hal yang menarik atau mengesankan, serta bagaimana ilmu tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman santri dan membantu mereka menghubungkan antara teori dan praktik.
  2. Pelatihan Presentasi dan Publikasi: Para santri juga akan diberi kesempatan untuk mempersiapkan presentasi yang akan disampaikan kepada teman-teman di kelas lain. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya mempraktikkan ilmu sains, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi dan presentasi. Jika memungkinkan, hasil study tour ini bisa dituangkan dalam bentuk artikel atau laporan singkat untuk dipublikasikan di website pesantren atau di media sosial, sehingga pengalaman ini juga bisa menginspirasi santri lainnya.
Melalui pendekatan ini, Pesantren Darularafah Raya menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya kaya pengetahuan, tetapi juga mampu melihat nilai praktis sains dalam kehidupan sehari-hari. (Zhafir-Deli Serdang)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Minggu, 27 Oktober 2024

Temu Kangen Alumni Latas-Al Dyah Galih Agung: "Merajut Kenangan, Membangun Silaturrahmi" di Pesantren Darularafah Raya


Rangkang Belajar | Deli Serdang – Temu kangen alumni ke-9 Latas-Al (Ladies Tāsi’ah Alumnus) Dyah Galih Agung Pesantren Darularafah Raya berlangsung penuh kehangatan pada Sabtu, 26/10/2024, dengan mengusung tema “Merajut Kenangan, Membangun Silaturrahmi.” Acara ini mempertemukan alumni Angkatan ke-9 yang saat ini berada di berbagai daerah, bahkan Stella Nindy, S.Pd. yang menetap di Rheinland-Pfalz - Jerman turut hadir sebagai koordinator dalam kegiatan ini. Temu kangen menjadi ajang mempererat kembali tali persaudaraan dan memberikan penghargaan kepada para pendidik mereka yang telah berjasa dalam membentuk karakter dan ilmu.

Acara diawali dengan pembacaan sejarah singkat Alumni Latas-Al oleh pembawa acara dan pemutaran video kenangan, yang menghadirkan nostalgia masa-masa berharga selama di pesantren. Sambutan disampaikan oleh Pimpinan Pesantren Darularafah Raya, yang mengapresiasi kontribusi para alumni dalam membangun hubungan erat dengan pesantren. Dalam acara ini, alumni Latas-Al juga memberikan cenderamata sebagai simbol penghormatan kepada Pesantren Darul Arafah Raya. Ustaz Dr. H. Harun Lubis, M.Psi, selaku Pimpinan pesantren menerima penghargaan dari Rafni Wahyun, mewakili alumni dengan haru. 

Pesan dan kesan disampaikan oleh Ustaz Ahmad Rifa’i, S.Ag., Kepala Sekolah SMA Alumni Latas-Al, serta Ustaz Mahmud El-Qudri, M.Ag., yang mewakili para guru (asatizah). Ustaz Rifa’i berharap, alumni dapat menjadi teladan di lingkungan masing-masing dan mengaplikasikan ilmu serta pengalaman yang didapatkan di pesantren dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Ustaz Mahmud El-Qudri, menyampaikan rasa bangga dan bahagia melihat alumni yang telah berhasil dalam berbagai bidang. Beliau berpesan agar alumni tidak melupakan akar pendidikan mereka dan selalu kembali ke pesantren untuk berbagi pengalaman dan ilmu dengan generasi selanjutnya.

Motivasi inspiratif juga diberikan oleh alumni berprestasi, Hj. Ainal Mardiah, S.Km., dan dr. Hj. Silvia Dwi Asti, S.PM. kepada para dyah kelas IX dan kelas XII. Mereka menekankan pentingnya pendidikan yang telah ditempuh di pesantren sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, mendorong Dyah Galih Agung untuk menjadi pribadi mandiri, berdaya saing, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Acara temu kangen ini bukan hanya sekadar ajang reuni, tetapi juga menjadi wujud penghargaan alumni terhadap jasa para guru. Semangat kebersamaan dan apresiasi tinggi kepada para pendidik membuat kegiatan ini sangat bermakna, mempererat tali persaudaraan dan silaturrahmi yang tak lekang oleh waktu. (Nindy)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 04 Oktober 2024

Dayah Ulumuddin Melaksanakan Workshop Optimalisasi Kompetensi Guru Dayah: Mewujudkan Pendidik yang Siap Menghadapi Merdeka Belajar

Lhokseumawe, 4 Oktober 2024 – Dalam upaya meningkatkan kompetensi para pendidik, Dayah Ulumuddin yang berlokasi di Desa Uteun Kot, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe berhasil menggelar workshop bagi kalangan guru dayah di lingkungan Dayah Ulumuddin dengan tema "Optimalisasi Kompetensi Guru Dayah di Era Digital". Acara ini dihadiri oleh ustaz dan ustazah dari berbagai jenjang pendidikan yang bernaung di dayah tersebut, menunjukkan semangat tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin digital dan juga perubahan kurikulum saat ini.

Workshop ini dibuka dengan pengantar dari Ketua Pelaksana, Musdar, M.Pd., yang sering disapa dengan panggilan Abi Musdar, Dalam sambutannya, Abi Musdar, yang juga menjabat sebagai Kepala Madrasah Aliyah mengungkapkan harapannya agar workshop ini menjadi momen penting bagi guru-guru untuk meningkatkan kompetensi mereka, khususnya dalam menghadapi tantangan di era digital dan perkembangan Kurikulum Merdeka. Ia menekankan bahwa pendidikan adalah salah satu kunci untuk membangun generasi yang siap bersaing dan berkontribusi dalam masyarakat. Abi Musdar juga mendorong para pendidik untuk tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang ada, tetapi terus belajar dan berinovasi demi kemajuan pendidikan di dayah.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua sesi, pagi dan siang hari, di mana pada sesi pertama diisi dengan materi tentang “Penerapan Literasi Numerasi Modul Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila”, yang membekali peserta dengan strategi konkret dalam menerapkan profil Pancasila dalam pembelajaran. Ini merupakan langkah penting untuk mendukung program pendidikan nasional yang lebih inklusif dan relevan.

Sesi kedua, yang berlangsung setelah Salat Jumat, menghadirkan Dr. Agus Salim Salabi, M.A., Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam di FTIK IAIN Lhokseumawe, sebagai pembicara utama. Dalam sesi ini, Dr. Salabi mnyampaikan materi tentang “Optimalisasi Kompetensi Guru Dayah (Slide Materi dapat diunduh di sini)”, beliau memaparkan pentingnya mengoptimalkan kompetensi guru di era digital, terutama dalam menghadapi perubahan kurikulum dan tuntutan siswa yang semakin variatif. Pembicaraan berlangsung dalam suasana diskusi santai di musalla santriwati, di mana peserta aktif bertukar pikiran mengenai tantangan yang mereka hadapi dan strategi untuk mengatasinya.
Beberapa poin penting yang diungkapkan dalam workshop ini adalah hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 72,3% guru dayah merasa terpanggil untuk mengabdi. Namun, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya (27,7%), kebutuhan untuk melek digital (38,3%), perubahan kurikulum (57,4%), minimnya pelatihan yang relevan (68,1%), dan kurangnya minat untuk pengembangan diri (21,3%).

Menariknya, para peserta sepakat bahwa pengembangan diri melalui pelatihan berkelanjutan adalah kunci untuk tetap relevan dalam dunia pendidikan yang terus berubah. Mereka juga membahas pemanfaatan media sosial dan platform digital sebagai alat pendukung dalam proses pembelajaran.

Dari hasil refleksi kegiatan, peserta berkomitmen untuk mengoptimalkan berbagai aspek kompetensi mereka. Dalam hal kompetensi pedagogik, mereka akan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif. Untuk kompetensi sosial, mereka berencana meningkatkan komunikasi dengan wali santri dan menjalin hubungan baik dengan rekan kerja. Sementara untuk kompetensi profesional, mereka akan fokus pada pengembangan diri, pelatihan kurikulum, pemanfaatan aplikasi digital, dan pemahaman teknologi. Adapun dalam pengembangan kompetensi kepribadian, mereka akan melakukan muhasabah, eksplorasi online, dan penguatan nilai karakter guru.

Dengan antusiasme yang tinggi, peserta memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan ini dan berharap agar workshop serupa dapat diadakan secara berkala, dengan materi yang lebih spesifik terutama mengenai pengelolaan kelas dan teknologi pendidikan. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dorongan baru bagi para pendidik di dayah untuk terus meningkatkan kompetensi mereka, sekaligus menjawab tuntutan zaman yang semakin menuntut digitalisasi dalam dunia pendidikan. (Musdar)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Kamis, 11 Juli 2024

Workshop Manajemen Konflik Guru Pesantren Terpadu Almuslim: Mengelola Konflik di Lingkungan Institusi dan Asrama Santri


Rangkang Belajar | Matangglumpangdua, Bireuen, Aceh - Pada tanggal 11 Juli 2024, Pesantren Terpadu Almuslim menggelar workshop bertema "Manajemen Konflik: Mengelola Konflik di Lingkungan Institusi dan Asrama Santri". Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman para pendidik mengenai jenis-jenis konflik, membekali mereka dengan strategi manajemen konflik, dan meningkatkan kemampuan menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.

Workshop ini dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari ustaz dan ustazah Pesantren Terpadu Almuslim Matangglumpangdua, dan berlangsung selama satu hari penuh. Acara dimulai pukul 08.00-16.00 dengan pembukaan oleh Wakil Direktur Holis Wahyu Prasetyo, Gr. S.Pd.I., yang menjelaskan tujuan dan agenda workshop. Ustaz Wahyu menyampaikan tentang pentingnya dan manfaat kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan  asatizah (para guru) dalam mengelola konflik serta menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif di pesantren.
Materi workshop disampaikan langsung oleh dua pakar Manajemen Pendidikan Islam, Dr. Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, M.Pd.I dan Dr. Agus Salim Salabi, M.A., yang juga merupakan dosen pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Lhokseumawe, sekaligus orang-orang yang pernah mengalami dan merasakan langsung dinamika konflik di lingkungan pesantren. Kedua narasumber tersebut pernah menjadi santri dan juga tenaga pendidik di pesantren, sehingga memiliki pengalaman langsung yang sangat relevan.

Materi awal terkait "Pengenalan Konflik, Identifikasi, dan Penyebab Konflik di Institusi" disampaikan oleh Dr. Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, M.Pd.I. Sementara materi terkait "Memahami Konflik di Asrama Santri dan Strategi Pengelolaannya" disampaikan  oleh Dr. Agus Salim Salabi, M.A. Para peserta workshop juga disajikan beberapa studi kasus mengenai konflik nyata di lingkungan institusi dan lingkungan asrama santri serta cara penanganannya oleh narasumber.
Untuk mendapatkan umpan balik dari para peserta, dilakukan pula sesi refleksi yang menghasilkan beberapa masukan, antara lain:
  1. Para peserta merasa mendapatkan banyak wawasan baru tentang manajemen konflik. Mereka belajar bahwa tidak semua konflik berdampak negatif; dengan pengelolaan yang tepat, konflik bisa menjadi hal positif. Peserta juga memahami pentingnya menyikapi konflik sebagai tantangan yang memerlukan teori dan pengalaman yang memadai.
  2. Bagian paling menarik dari workshop adalah penggunaan media pembelajaran berupa ringkasan materi (ppt) yang dapat diakses melalui website, serta strategi terbaik dalam mengidentifikasi konflik. Penyelesaian konflik dibahas mendalam, termasuk cara mendengar dan memberikan kesempatan santri menyampaikan pandangan mereka. Kesempatan belajar dari para ahli yang menyampaikan materi dengan gaya humoris, ramah, dan jelas juga menambah daya tarik workshop ini.
  3. Sejauh ini, peserta merasa tidak ada konsep atau topik yang sulit dipahami. Semua materi dapat dipahami dengan baik.
  4. Workshop ini memberikan banyak informasi baru yang mengubah pandangan peserta. Mereka belajar bahwa kegiatan orientasi dalam manajemen konflik di pesantren sangat penting. Sikap yang baik dalam penanganan masalah konflik dan contoh-contoh nyata di pesantren juga menjadi pengetahuan berharga. Pandangan peserta tentang pola asuh yang baik dan perhatian terhadap mereka yang tidak terlibat dalam konflik juga meningkat.
  5. Untuk memperdalam pemahaman, peserta berencana melakukan mini riset untuk memastikan implementasi teori manajemen konflik di pesantren. Mereka akan memahami konflik secara detail, mengoreksi diri dalam menangani konflik, mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, dan melengkapi pengetahuan dengan kajian empiris dan referensi terkait. Membaca jurnal, buku, dan mencari rujukan di media sosial juga menjadi langkah yang akan diambil.
Workshop ini berhasil membekali asatizah dengan pengetahuan dan keterampilan manajemen konflik yang diharapkan dapat diterapkan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif di pesantren. (Salabi)

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 19 April 2024

Model Transmisi Ilmu dan Karakter di Dayah Darul Abrar Blang Reuling, Aceh

Oleh: Hasanul Afkar
Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah, IAIN Lhokseumawe
Pendahuluan
Pendidikan Islam tradisional di Aceh memiliki akar yang panjang dan kokoh dalam membentuk peradaban serta karakter masyarakat. Dayah tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan akhlak, spiritualitas, dan kecerdasan sosial (Azra, 1999; Bashori, Novebri, & Salabi, 2022). Salah satu dayah yang konsisten menjalankan fungsi ini adalah Dayah Darul Abrar Blang Reuling, yang berdiri pada tahun 1999 atas inisiatif Tgk. Sulaiman Ishak, dikenal sebagai Abi Sulaiman, dengan dorongan gurunya, Alm. Tgk. H. Ramli Bencut atau Abati Babah Buloh.

Di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral generasi muda, Dayah Darul Abrar mengusung visi membentuk insan paripurna yang seimbang antara intelektualitas dan kedalaman spiritual. Penelitian ini mengulas sejarah, perkembangan, kurikulum, serta metode pembelajaran di Dayah Darul Abrar sebagai model pendidikan Islam integratif di Aceh.

Tradisi pendidikan dayah di Aceh telah berperan penting sebagai penjaga warisan keilmuan Islam (turats) dan nilai-nilai lokal yang membentuk identitas masyarakat Aceh. Dalam perkembangannya, dayah tidak hanya berfungsi mentransmisikan ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan sosial dan pembentukan karakter. Hal ini menjadikan peran dayah semakin relevan, terutama dalam menghadapi tantangan modern seperti krisis moral, penetrasi budaya global, serta kebutuhan akan generasi muda yang memiliki keseimbangan antara keilmuan, spiritualitas, dan akhlak. Melalui telaah mendalam terhadap pengalaman Dayah Darul Abrar Blang Reuling, penelitian ini juga mencoba melihat bagaimana model pendidikan tradisional dapat tetap kontekstual dan menjawab kebutuhan zaman.

Sejarah dan Perkembangan Dayah
Pendirian Dayah Darul Abrar bermula dari permintaan masyarakat Blang Reuling untuk menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang terstruktur. Awalnya, Tgk. Sulaiman Ishak merasa belum pantas menerima amanah ini. Namun, berkat nasihat gurunya dan dukungan masyarakat, beliau memimpin dayah sejak 1999.

Abi Sulaiman menimba ilmu di Dayah Nurul Islam Babah Buloh selama 13 tahun (1986–1999). Berbekal pengalaman tersebut, beliau mendirikan Dayah Darul Abrar di lokasi sederhana dekat sungai, dengan fasilitas terbatas. Tahun 2000, santri mulai berdatangan dari berbagai daerah. Masa sulit pernah dialami, tetapi terobosan seperti membuka SMK dan memperbolehkan santri sekolah formal sambil mondok membawa perubahan signifikan.

Pada 2014, dibangun komplek baru khusus santri putra di atas lahan rawa yang ditimbun bersama masyarakat. Kendati 8 bilik awal hangus terbakar pada 2023, semangat pengembangan tidak surut. Kini, dengan lahan sekitar 4 hektar dan akreditasi B, Dayah Darul Abrar menjadi salah satu dayah yang diperhitungkan di Aceh Utara, melahirkan santri berprestasi di lomba pidato, baca kitab kuning, dan cerdas cermat tingkat provinsi.

Kesuksesan ini tak lepas dari dedikasi para ustadz dan ustadzah, banyak di antaranya alumni dayah ternama, yang tidak hanya menguasai kitab kuning tetapi juga menjadi teladan akhlak dan pembimbing spiritual santri.

Kurikulum dan Transmisi Ilmu Keislaman
Kurikulum Dayah Darul Abrar mengintegrasikan pelajaran agama klasik dengan nilai-nilai moral dan pembinaan akhlak. Pada jenjang Tsanawiyah (setara SMP), santri mempelajari: Al-Qur’an, Fiqh, Tasawuf, Tauhid, Nahu, Sharaf, Akhlak, Tarikh, Tasref, dan Hadis.

Sedangkan pada jenjang Aliyah (setara SMA), materi diperluas menjadi: Al-Qur’an, Fiqh, Tasawuf, Tauhid, Nahu, Sharaf, Akhlak, Tarikh, Tasref, Hadis, Tafsir, Mantiq, Bayan, dan Ushul Fiqh.

Pembelajaran didasarkan pada kitab-kitab klasik (turats) yang disusun bertahap dari matan (teks ringkas) hingga syarah dan hasyiah (penjelasan mendalam), sesuai tradisi pendidikan Islam (Bruinessen, 1995; Azra, 1999).

Kitab yang diajarkan di Tsanawiyah meliputi:
  1. Fiqh: Matan Ghayah wa Taqrib, Mathal al-Badri, Al-Bajuri, I’anat al-Thalibin jilid 1–2.
  2. Sharaf: Dhammon, Kailani, Matan Bina.
  3. Nahu: Takhrir al-Aqwal, Al-Jurumiyah, Mutammimah al-Jurumiyah.
  4. Tasawuf: Adab al-Insan, Taisir al-Khalaq, Ta’lim al-Muta’allim.
  5. Ilmu rumah tangga (santriwati): Uqud al-Lujain.
  6. Tarikh: Riwayat Nabi, Khulasah jilid 1–2.
  7. Tauhid: Aqidah Islamiyah, Tijan ad-Durar, Kifayah al-Awwam.
  8. Hadis: Arba’in Nawawi.
Di tingkat Aliyah, santri mempelajari kitab lanjutan seperti:
  1. Fiqh: I’anat al-Thalibin jilid 3–4, Syarqawi ‘ala Tahrir, Al-Mahalli.
  2. Nahu: Athar Azhari.
  3. Sharaf: Silsilah al-Madkhal.
  4. Tasawuf: Ta’lim al-Muta’allim, Al-Muraqi.
  5. Tafsir: Tafsir Jalalain.
  6. Ushul Fiqh: An-Nufahat.
  7. Mantiq: Izah al-Mubham.
  8. Bayan: Majmu’ Khamsin.
  9. Hadis: Musthalah Hadis.
  10. Ilmu rumah tangga: Uqud al-Lujain.
  11. Tarikh: Khulasah jilid 3.
  12. Tauhid: Kifayat al-Awwam, Hudhudi.
Struktur kurikulum ini dirancang tidak hanya untuk membekali santri dengan hafalan dan pemahaman tekstual, tetapi juga untuk membentuk nalar kritis dan kedalaman spiritual. Kitab-kitab seperti Matan Ghayah wa Taqrib dan I’anat al-Thalibin mengajarkan fiqh mazhab Syafi’i yang menjadi pegangan mayoritas masyarakat Aceh, sementara kitab Tafsir Jalalain membantu santri memahami makna Al-Qur’an secara lebih komprehensif. Penggunaan kitab Ta’lim al-Muta’allim juga menjadi ciri khas pesantren, karena menekankan pentingnya adab dan etika dalam menuntut ilmu—nilai yang menjadi inti pendidikan pesantren tradisional.

Selain materi keilmuan, kurikulum di Dayah Darul Abrar juga memuat unsur keterampilan hidup seperti ilmu rumah tangga khusus bagi santriwati, sehingga lulusan dayah tidak hanya siap secara intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki bekal praktis untuk peran sosial dan keluarga. Pendekatan pendidikan seperti ini mencerminkan visi dayah sebagai lembaga yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga membina generasi muslim yang utuh: berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Metode Pembelajaran: Halaqah dan Sorogan
Metode utama yang diterapkan adalah halaqah (pengajian bersama dengan penjelasan ustadz) dan sorogan (santri membaca kitab di hadapan guru untuk dikoreksi). Santri diajak menerjemahkan, memahami teks, serta mendiskusikan konteksnya. Pendekatan ini menciptakan keterlibatan aktif santri dalam memahami turats, membangun daya kritis, sekaligus menanamkan penghormatan kepada guru (Salabi & Prasetyo, 2022).

Metode tradisional ini terbukti efektif menjaga kesinambungan transmisi ilmu, menumbuhkan kecintaan pada kitab kuning, dan memadukan teori dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Penutup
Dayah Darul Abrar Blang Reuling menjadi salah satu contoh nyata lembaga pendidikan Islam yang sukses memadukan pengajaran kitab kuning (turats), pendidikan moral, dan pembinaan karakter santri. Sejak berdiri hingga kini, dayah ini tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga pusat transformasi akhlak dan spiritualitas.

Melalui kurikulum klasik yang bertahap, metode halaqah dan sorogan, serta dedikasi para pengajar, Dayah Darul Abrar telah mencetak santri yang cakap dalam ilmu, berakhlak mulia, dan siap menjawab tantangan zaman. Perjalanan dan pengalaman Dayah Darul Abrar menjadi bukti pentingnya pelestarian tradisi pendidikan Islam lokal yang tetap kontekstual dengan kebutuhan masyarakat Aceh dan Nusantara.

Daftar Pustaka
Azra, A. (1999). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Logos Wacana Ilmu.
Bashori, B., Novebri, N., & Salabi, A. S. (2022). Budaya Pesantren: Pengembangan Pembelajaran Turats. Al Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama, 7(1), 67–83. https://doi.org/10.47766/almabhats.v7i1.911.
Bruinessen, M. V. (1995). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan.
Salabi, A. S., & Prasetyo, M. A. M. (2022). The Internalization of Banjaran Cultural Character Values in Musthafawiyah Islamic Boarding School, Purbabaru. MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 46(2), 257–273. http://dx.doi.org/10.30821/miqot.v46i2.900.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Jumat, 08 Maret 2024

Model Pendidikan Integratif di Ma’had Ta’limul Qur’an Utsman bin Affan, Aceh

Oleh: Alfiyyah Rojwaa, Siti Adawiyyah, Siti Audya Jhara
Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah, IAIN Lhokseumawe

Pendahuluan
Pendidikan Islam tradisional di Aceh memiliki akar sejarah panjang sebagai pusat transmisi nilai dan ilmu keislaman (Azra, 2012). Dalam konteks ini, dayah dan pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga membentuk akhlak dan spiritualitas generasi muda (Bashori, Novebri, & Salabi, 2022). Salah satunya adalah Ma’had Ta’limul Qur’an Utsman bin Affan (MATAQU), didirikan pada 2014 oleh Azhar Ibrahim, SQ, M.Pd., yang bercita-cita mencetak penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki wawasan keilmuan luas. Berbeda dengan sebagian lembaga tahfiz lain yang hanya fokus pada hafalan, MATAQU juga mengajarkan kitab kuning serta ilmu umum secara terstruktur.

MATAQU hadir sebagai jawaban atas tantangan modern: bagaimana mengintegrasikan tradisi tahfiz dengan ilmu-ilmu umum dan pengajaran kitab kuning dalam satu kurikulum yang seimbang (Madjid, 1997). Melalui pendekatan holistik, MATAQU menyeimbangkan penguatan iman, ilmu, dan akhlak.

Sejarah dan Perkembangan Ma’had
Bermula dari pengalaman mengelola PPTQ Aceh Utara selama satu dekade, Azhar Ibrahim kemudian mendirikan MATAQU dengan semangat “adab sebelum ilmu, iman sebelum Al-Qur’an”. Terinspirasi dari Madrasah Al-Fatih Bogor, beliau merancang lembaga ini sebagai pusat pendidikan tahfiz yang tetap membuka ruang untuk ilmu umum.

Sejak awal, MATAQU berdiri dengan fasilitas sederhana. Tahun 2016 pindah ke kawasan Arun, hingga akhirnya pada 2020 memiliki kompleks permanen seluas empat hektar di Alue Lim, Lhokseumawe. Proses ini tidak lepas dari tantangan, termasuk saat harus mengosongkan gedung akibat pandemi COVID-19. Namun, tekad pengelola dan santri menjadikan MATAQU tumbuh menjadi lembaga yang kini berakreditasi A, dengan santri yang meraih prestasi di lomba Tahfiz 30 Juz, Hafalan 100 Hadis, hingga kejuaraan Matematika dan Fisika tingkat kabupaten.

MATAQU didukung tenaga pengajar berkompeten, banyak di antaranya alumni kampus nasional dan Timur Tengah, yang tidak hanya hafiz Qur’an tetapi juga menguasai tafsir, hadis, fiqh, ushul fiqh, dan bahasa Arab.

Kurikulum Integratif: Umum, Kitab Kuning, dan Tahfiz
Kurikulum MATAQU memadukan pelajaran umum seperti Matematika, IPA, Bahasa Inggris, PPKn, dan Bahasa Indonesia dengan pendidikan agama yang kuat: Aqidah, Akhlak, Sirah Nabawiyah, Durus Minal Qur’an, dan Hadis Arba’in. Kurikulum ini sesuai dengan tradisi pendidikan Islam klasik: diawali dari kitab matan (ringkas) menuju syarah dan hasyiah (penjelasan dan komentar) untuk memperdalam pemahaman (Bruinessen, 1995; Azra, 1999). Pendekatan ini juga sejalan dengan temuan Bashori et al. (2022) yang menekankan pentingnya mengembangkan pembelajaran turats berbasis budaya pesantren agar tetap kontekstual.

Pada tingkat Aliyah, kurikulum diperluas dengan kitab-kitab klasik, seperti:
  1. Tafsir: Mukhtasar Rawai’ul Bayan
  2. Tauhid: Kifayatul ‘Awam
  3. Fiqih: Hasyiyah al-Bajuri
  4. Ulumul Hadits: Taisir Musthalah al-Hadits
  5. Ulumul Qur’an: Mukhtasar Manahil al-‘Irfan
  6. Ushul Fiqih: Mabadi Awaliyah
  7. Bahasa Arab: Kawakib Durriyah Syarh Mutammimah al-Jurumiyyah
Pola seperti ini mengikuti tradisi pendidikan Islam klasik yang menekankan transisi dari matan ringkas menuju syarah dan hasyiah (Bruinessen, 1995; Azra, 1999).

Metode Pengajaran dan Tahfiz: Halaqah, Sorogan, dan Sabaq-Sabqi-Manzil
MATAQU mempraktikkan metode halaqah, di mana santri duduk melingkar mendengarkan ustadz/ustadzah menjelaskan kitab kuning; dan sorogan, yaitu santri membaca teks langsung di hadapan guru untuk diperbaiki dan dijelaskan maknanya, termasuk gramatika Arab. Selain penguatan kognitif, metode halaqah dan sorogan di MATAQU juga menanamkan nilai kedisiplinan, kesabaran, dan penghormatan kepada guru, sebagaimana dijelaskan Salabi dan Prasetyo (2022) yang menemukan bahwa internalisasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran di pesantren memperkuat karakter dan spiritualitas santri.

Selain itu, metode tahfiznya dikenal dengan pola sabaq-sabqi-manzil:
  1. Sabaq: hafalan baru yang disetor harian
  2. Sabqi: mengulang hafalan sebelumnya agar tetap terjaga
  3. Manzil: menggabungkan semua hafalan untuk menjaga konsistensi
Metode ini terbukti efektif dalam memperkuat hafalan dan pemahaman teks (Hefner, 2009).

Penutup
Ma’had Ta’limul Qur’an Utsman bin Affan menjadi contoh inspiratif lembaga pendidikan Islam kontemporer yang berhasil memadukan tradisi dan inovasi. Dengan kurikulum integratif, ma’had ini tidak hanya melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga santri yang unggul dalam ilmu, berakhlak, dan siap merespons tantangan zaman.

Keberhasilan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan berbasis nilai: menanamkan akhlak, memperdalam pemahaman kitab kuning (turats), serta menguatkan daya pikir kritis dan keterampilan abad 21. Pelestarian tradisi pesantren, dipadukan dengan inovasi kurikulum dan penguatan karakter, menjadi kunci mencetak generasi muslim yang berilmu dan beradab. Dengan model pendidikan yang demikian, MATAQU tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan santri dan masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan transmisi keilmuan Islam di Nusantara.

Dengan demikian, model pendidikan seperti MATAQU dapat menjadi inspirasi bagi lembaga lain yang ingin menggabungkan penguatan akidah, penguasaan turats, serta kesiapan menghadapi perkembangan zaman.

Daftar Pustaka
Azra, A. (1999). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Logos Wacana Ilmu.
Bashori, B., Novebri, N., & Salabi, A. S. (2022). Budaya Pesantren: Pengembangan Pembelajaran Turats. Al Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama, 7(1), 67–83. https://doi.org/10.47766/almabhats.v7i1.911.
Bruinessen, M. V. (1995). Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Mizan.
Hefner, R. W. (2009). Islamic Schools, Social Movements, and Democracy in Indonesia. Making Modern Muslims: The Politics of Islamic Education in Southeast Asia, 55-105.
Madjid, N. (1997). Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.
Salabi, A. S., & Prasetyo, M. A. M. (2022). The Internalization of Banjaran Cultural Character Values in Musthafawiyah Islamic Boarding School, Purbabaru. MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 46(2), 257–273. http://dx.doi.org/10.30821/miqot.v46i2.900.

Sub YouTube Channel Ikuti Channel YouTube Rangkang Belajar untuk mendapatkan konten baru seputar Pendidikan:

Ikuti Channel YouTube

Connect